Ketua Geng Motor Jatuh Hati

Ketua Geng Motor Jatuh Hati
Bab 6: Salah tingkah


__ADS_3

Bab 6: Salah Tingkah


🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Duduk menikmati makan bersama di satu meja. Dea tidak banyak menggubris yang di bicarakan teman-teman Bryan katakan.


Mulutnya sudah lelah menanggapi perkataan mereka. Biarkan sebentar meski tidak lama dia ingin tenang.


Dea berniat beranjak bangun, tapi tangan nya terlebih dahulu di tahan. Menoleh ke samping pria tersebut menaikan alis.


"Kemana?" tanya Bryan.


"Mengambil minum, kenapa? apa kau juga mau ku ambilkan?" tawar Dea berdiri menoleh.


"Aku ikut," Bryan ikut bangun.


"Untuk apa? aku hanya ambil minum bukan mau kabur. Lagi pula kita satu kampus, sudah duduk lah jangan berlebihan seperti ini," tegur Dea menggeleng kepala menanggani sikap Bryan.


"Kenapa? tidak boleh aku ikut?" tidak terima Bryan malah balik bertanya.


Dea memijit kepala yang mendadak sakit. Dia tidak tau harus mengatakan apa. Pria tersebut ternyata keras kepala melebihi batu sesungguhnya.


Belum terlalu mengenal sifat Bryan, Dea di buat menebak-nebak karakter yang di miliki.


"Tidak. Terserah," pasrah Dea jalan terlebih dulu di depan.


Bryan cepat mengejar Dea mensejajarkan langkah mereka. Langkah kaki Dea sengaja di panjangkan dan dia menyadari itu. Dia segera menarik Dea agar tidak cepat meninggalkan nya.


Sontak kaget, Dea menoleh pada pria tersebut, namun tatapan nya di balas senyum santai tanpa rasa bersalah.


Menarik nafas dalam, Dea mencoba sabar. Mereka masih saja menjadi sorotan hingga sekarang. Para wanita tidak menurunkan pandangan pada Bryan.


Namun semua tidak membuat Dea cemburu pria di samping nya menjadi idola para kaum hawa di kampus. Rasa di hati biasa saja. Malah dia akan memberikan pada wanita manapun dengan suka rela.


Dea membuka frezer mengambil air dingin.


"Kau ingin apa?" tanya Dea beralih pada pria di sebelah nya.


"Tidak, aku minum bekas mu saja," jawab Bryan santai.


"Kenapa? apa minuman di sini tidak ada yang enak selain minum bekas ku?" bingung Dea kesal, habis lama-lama jika terus seperti ini.


"Bibir mu manis sayang. Jadi aku suka bekas mu," bisik Bryan tersenyum.

__ADS_1


Dea mendorong Bryan jauh darinya. Perkataan pria tersebut benar-benar membuat nya kaget. Bisa-bisa nya berkata hal tidak pantas seperti itu.


Kejadian satu minggu lalu malah kembali teringat di benak nya.


"Awas kalau berani melakukan hal itu lagi. Aku tidak segan menjauhi mu," ancam Dea memperingati Bryan.


"Tidak akan. Tapi jika kamu menginginkan juga, bagaimana?" goda Bryan mencolek dagu Dea.


"Hanya ada pada mimpi mu," tegas Dea pergi meninggalkan Bryan pria menyebalkan.


Menjadi kekasih bukan berarti dia harus bersikap manis dan baik pada pria tersebut.


Ada kala sikap baik kita nanti di salah artikan. Mungkin juga di katai yang buruk tidak pernah di pikirkan.


"Sayang... "


"Bisakah kau tidak memanggil ku seperti itu di tempat umum? aku tidak melarang mu memanggilku sayang, tapi lihat situasi dan keadaan di sini tidak lah sama, Bryan. Mengerti lah," ucap Dea berhenti, berbalik menatap nya.


"Bisa, tapi ada syaratnya."


"Katakan apa syarat nya? jangan aneh-aneh aku tidak bisa mewujudkan itu, kau tau, bukan."


"Hmmm, mengerti sayang. Ini tidak aneh yang ku minta juga sudah sering kamu lakukan bahkan."


"Apa itu?"


"Aku? kenapa harus aku?" protes Dea tidak terima.


Dia masih belum mengetahui siapa Bryan. Pikir nya Bryan adalah teman dari anak pemilik rumah atasan Ayahnya bekerja yang sedang bertamu.


Saat itu di sana sangat banyak pria dan dia tidak tau mana anak pemilik perusahaan Ayah nya bekerja.


"Kenapa? tidak mau?" tanya balik Bryan melihat reaksi penolakan.


"Huft... Oke baiklah aku terima. Tapi tepati janji tidak memanggil ku sembarangan di tempat umum. Dan kau bisa kirim alamat apartemen di Whatsapp ku," ujar Dea terpaksa mengiyakan daripada pria tersebut makin ngotot.


"Tidak. Menginap lah di apartemen ku," tawar Bryan.


Cit...


"Sakit sayang," ringis Bryan kesakitan lengannya di cubit.


"Rasain siapa suruh asal bicara. Awas kalau bicara ngasal depan orang-orang, bukan hanya cubitan yang ku berikan," kata Dea.


Lalu pergi tidak peduli pada Bryan. Dia meninggalkan pria tersebut dan kembali duduk bergabung dengan yang lain.

__ADS_1


Bryan di tinggal Dea langsung menyusul. Dia tau saat ini sang kekasih sedang kesal padanya. Tapi tidak mengurungkan niatnya untuk tidak membujuk.


"Ada apa? berantem lagi?" tanya Julia melihat wajah Dea terlihat suntuk.


"Tidak," jawab Dea.


"Hmmm... "


"Safri, ini hari kita bisa main ke tempat nongkrong kalian kan?" Julia menatap pria idola nya.


Belum ada jawaban apapun. Pria tersebut menoleh minta persetujuan pada sahabat lainnya. Dia tidak bisa memutuskan sendiri, apalagi dia bukan ketua.


Melihat semua menaikan bahu melirik Bryan. Mata langsung menoleh mengerti maksud tersebut dan orang di lihat menganggukkan kepala setuju tidak keberatan tanpa mendengar omongan nya terlebih dahulu.


"Boleh, nanti dari sini kita bisa langsung pergi," ucap Safri.


"Iya, kalian ikut, kan?" Julia menoleh kedua sahabat nya.


"Pasti dong," jawab Evi tidak mungkin menyiakan kesempatan, kapan lagi bisa dekat dan terkenal seperti anggota All Stars.


"Dea?" panggil Julia menaikan alis bertanya.


"Tidak, kalian saja. Aku harus bantu dosen ngisi kelas nya," ucap Dea.


"Gak asik deh... " lesu Julia, anggota akan berkurang tanpa adanya Dea.


"Ya sudah kalau begitu kita pergi setelah Dea habis kelas. Kita juga gak sedang buru-buru, gimana?" saran Jery.


Semua serempak setuju, apa yang di kata nya benar. Terlebih Bryan, dia yakin Dea terus mencari alasan agar bisa menghindari nya, tapi tak semudah itu bisa terjadi. Apapun akan dia lakukan untuk terus bersama.


Dea memegang botol minum meremas kuat, menarik nafas dalam-dalam. Dia berdiri dan Bryan pun ikut berdiri.


"Aku mau ke kelas, apa kau akan ikut?" tanya Dea kesal, sabar banyak-banyak saat ini.


"Aku ingin angkat telpon. Kamu pikir aku apaan?" tanya Bryan balik menggeleng kepala menunjukkan ponsel di genggam nya.


Dea malu sudah salah menuduh, pikir nya pria tersebut akan membuntuti nya lagi, ternyata dugaan tak terbukti.


Mereka yang melihat itu tersenyum menahan tawa, Dea terlihat salah tingkah dan Bryan tidak menyadari itu.


"Aku pergi. Kalau terlalu lama kalian pergi saja tidak perlu menunggu ku," ujar Dea beranjak pergi.


"Hahaha... gemas deh Dea. Lihat tadi wajah nya merah malu banget. Pikir nya Bryan mau ngikutin... eh, taunya angkat telpon," tawa Evi merasa lucu dengan tingkah sahabat nya itu.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2