
Bab 19: Meledak
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Pertengkaran yang cukup indah di depan, ruangan besar, banyak yang menonton kedua pria tersebut dan itu tidak di sadari oleh pelaku.
Suara pukulan satu sama lain saling membalas tinjauan di saksikan Dea, melipat tangan di atas dada, menyipitkan mata dengan tajam mengarah keduanya.
Untuk saat ini Dea belum berniat menegur, dia ingin melihat seberapa lama mereka di kuasai amarah. Sebenarnya muak harus terus menyaksikan. Tapi apa boleh buat.
"Bagaimana kalian tau keberadaan kita?" bisikan Jery pada Evi.
"Dea cemas memikirkan kalian, dan firasatnya mengatakan kalian bertengkar dan ternyata benar semua terbukti," jawab Evi.
"Ya, lalu darimana kalian tau keberadaan kita? cukup jawab itu tidak usah jawab lain yang bukan menjadi pertanyaan," kesal Jery tidak mendapat jawaban, wanita tersebut malah mengatakan hal lain.
"Kenapa?"
"Nada bicara mu biasa saja kali, gak usah ngegas gitu juga. Loh pikir gua gak bisa dengar apa?" marah Evi balik kesal tidak terima.
"Lah, kenapa balik marah? situ PMS?"
"Apa kaitannya beg*! "
"Sudah, kalian ini kerjaan nya bertengkar mulu kalau bertemu. Lihat situasi juga. Saat ini seharusnya kita kerja sama mencari jalan keluar atau kita bisa end," kata Egin menengahi perdebatan tak berfaedah kedua orang tersebut.
"Untuk kalian saja, bukan kita," sahut Julia tersenyum mengejek.
Pandangan para pria semua langsung tertuju pada Julia. Namun yang ditatap santai tak peduli. Dia beranggapan tatapan mereka hanya sekedar fans tidak lebih.
Semua beralih begitu cepat saat mendengar suara percekcokan antara kedua tidak terdengar. Ternyata kesadaran salah satu pihak yang bertengkar telah sadar situasi saat ini tidak mendukung.
Bryan menjatuhkan musuh dalam sekejap, tidak sulit untuk nya melakukan hal tersebut, namun celah yang seharusnya bisa di pakai untuk menghabiskan musuh lebih dari sekarang menjadi sia-sia. Pandangan tajam memojokkan dirinya hingga tak berkutik membuat nya kikuk.
Dari raut wajah sudah menjelaskan amarah begitu besar pada Dea.
__ADS_1
"Dea," gugup Bryan terbata-bata tak bisa bicara. Pikirannya mendadak bleng.
"Bag--"
"Lanjutkan saja, kenapa berhenti? aku hanya datang menonton, apa kau keberatan?" tanya Dea santai cepat memotong perkataan Bryan.
Deg.
Bryan terdiam tidak bisa berbicara apapun lagi, dia bingung ingin menjelaskan apa.
"Aku bisa jelaskan semua padamu. Aku bertindak sejauh ini karena memang mereka pantas, tindakan mereka sudah tidak bisa di toleransi kan," terang Bryan menjelaskan.
"Kenapa?" Dea menaikan alis bertanya.
"Kenapa apanya? aku tidak mengerti," bingung Bryan tidak mengerti dengan sikap Dea.
"Tidak mengerti katamu? apa kau sama sekali tidak merasa bersalah telah berbohong padaku? kau sebenarnya menganggap ku ini apaan? jika tidak penting dalam hidup mu katakan terus terang. Tidak perlu berbelit-belit. Aku mengerti," marah Dea kecewa pada Bryan.
Dia begitu mengkhawatirkan memikirkan keadaan Bryan, tapi di tempat lain kenyataan tidak sesuai. Pria tersebut malah menikmati apa yang dilakukan. Tidak ada rasa bersalah atau penyesalan di wajah.
"Tidak seperti itu. Jangan bicara aneh-aneh Dea. Aku menyayangimu lebih dari hidup ku maka dari itu tidak pernah ku katakan sesuatu yang dapat membuat mu cemas," jelas Bryan menyakinkan Dea.
Dea tidak henti, tidak terima dengan apapun yang di katakan Bryan. Dia sudah terlanjur kecewa.
Melihat lawan Bryan terkapar tak berdaya di lantai membuat hati nya bergerak. Wajah penuh lembab merah, darah di ujung sudah bibir. Dea tidak habis pikir bagaimana Bryan setega ini sampai tak ada belas kasihan.
"Ta--"
"Apa? kau ingin membela diri lagi? apakah kau tidak bosan? aku benar-benar bingung padamu By," Dea berucap langsung meninggalkan mereka dari ruangan dan melangkah pergi.
Dia lelah memarahi, memutuskan tidak peduli. Kepergian Dea yang sedang marah membuat Bryan gelisah takut. Tanpa memikirkan apapun langsung menyusul.
"Kalian urus mereka," ucap Bryan sebelum pergi memperingati sahabatnya meng-handle para manusia tidak berguna yang hanya membuat dunia penuh dengan kejahatan mereka.
"Dan kalian," Bryan menatap kedua wanita yang datang bersama Dea. "Pulang lah, urusan Dea akan saya tangani."
"Kau yakin, bisa menangani nya?" ragu Evi pada kemampuan Bryan.
__ADS_1
Bukan meremehkan atau apapun itu hanya saja dia belum melihat kemampuan Bryan dalam menangani Dea yang terlihat tenang di luar, tapi berbeda dari dalam bisa menjadi harimau.
Dea bisa berubah menyeramkan dan juga menjadi malaikat, tergantung suasana dan keadaan di dekatnya.
"Ada apa? nada bicara mu terdengar seperti tidak percaya," kata Bryan menaikan alis.
"Bukan seperti itu. Hanya sa--"
"Sudah, saya tau arah perkataan mu. Tidak masalah, saya mengerti. Pulang lah tempat ini tidak baik untuk kalian," potong Bryan cepat dapat menebak arah pembicaraan nya.
"Baiklah kalau kau begitu yakin. Kita berdua mempercayai Dea padamu," kata Evi.
"Iya."
.
.
.
"Sayang, tunggu aku bisa jelaskan padamu. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan, yang terlihat bukan berarti itu kebenaran. Aku tidak akan melakukan hal sejauh ini tanpa sebab akibat yang jelas. Dia telah melakukan kesalahan hingga tidak bisa aku diamkan dan memang pantas di beri pelajaran," kata Bryan, yang mana langsung dapat sorotan tajam dari Dea yang kesal mendengar itu.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" marah Dea tidak suka dengan apa yang dikatakan Bryan.
"Aku sadar, bahkan sangat sadar. Sayang ak--"
"By, cukup! aku lelah. Aku tidak tau harus bagaimana lagi menanggapi mu yang tidak pernah mau terbuka padaku?" potong Dea bertanya pada Bryan. Dia malah bertanya-tanya pada diri sendiri dengan sikap Bryan yang seperti ini membuat nya ragu.
"Sayang sudah berulang kali ku katakan alasan yang membuat ku tidak memberitahu, karena aku tidak mau kamu khawatir memikirkan ku," jelas Bryan.
"Lalu apa bedanya sekarang? saat tadi kau berbohong aku begitu khawatir memikirkan mu? tapi lihat kau tidak berpikir sampai ke sana."
Lontaran perkataan Dea membungkam Bryan. Dia tak dapat berbicara selain menyesal. Yang di kata Dea memang benar. Berdiri mematung mulut menutup rapat tidak mengeluarkan suara.
"Untuk beberapa hari ini aku ingin kau merenung. Dan sementara waktu kita jangan bertemu dulu sampai kau menyadari," sambung nya lagi serius menatap Bryan.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
__ADS_1
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...