Kisah Bayaran Pendatang

Kisah Bayaran Pendatang
11.Ch 11 Kakek Gila


__ADS_3

Aryan Arsigeo duduk pada sebuah batu. Aliran tenaga mengalir berputar disekitar lokasi yang ia duduki. Ini adalah awal menjadi seorang seniman beladiri.


Tubuh Aryan yang memang sudah dilatih didunia tentara bayaran. Menjadikan pondasi yang kokoh sebagai seniman beladiri. Garis garis meridian telah sepenuhnya terbuka.


Putaran tenaga semakin cepat, dalam lautan jiwa Aryan satu cincin terbentuk melayang.


Wuung,,..


Wuung,,..


Wuung,,..


Enam cincin tenaga dalam....


Perlahan Aryan membuka mata. Tatapan matanya terasa jauh lebih tajam dan jernih. Aryan bahkan merasa tubuhnya melayang Saking ringan. Aliran darah dan tenaga terasa lancar.


" Bagaimana, apa yang kau rasakan " ucap Pria tua. Dengan santainya tiduran tepat disamping Aryan.


Dia adalah Pertapa Agung Huangye.


_____________________________________________


Sebelumnya.....


Pengobatan Tradisional Tangkun. Adolf Xiao dengan setelan jas putih panjang berdiri disalah satu koridor. Menatap lurus kearah ruangan tempat ia bekerja. Disebelahnya ada sosok Aryan dengan kaos dan celana jeans panjang.


" Bagaimana, ini hasil kerja keras yang kudapat " ucap Adolf Xiao.


" Lumayan, untuk dokter magang " ucap Aryan santai. Tanpa mempedulikan ekspresi Adolf. Aryan lebih memilih berkeliling, selain menyediakan jasa pengobatan Tangkun juga menjadi pemasok berbagai macam bahan obat maupun pill.


Aryan sebenarnya cukup kagum pada pengelolaan Tangkun. Mampu menarik minat pengunjung dalam bersaing dengan rumah sakit ternama, yang didalamnya banyak teknologi canggih.


Mungkin ada alasan tertentu yang menjadikan Tangkun tidak dapat berkembang menjadi lebih besar.


Sepuas Aryan berkeliling Adolf menunjukan ruangan tempat ia bekerja. Tidak terlalu luas hanya cukup untuk menampung kursi meja serta sofa kecil.

__ADS_1


" Istirahat lah disini, apa rencanamu selanjutnya " ucap Adolf Xiao.


Aryan terdiam sejenak. " Rencana ya, mungkin akan ku buat kelompokku sendiri. Melawan keluarga Zhao dan menyelamatkan Anjani ". Tatapan matanya penuh kebencian.


" Hem, apapun keputusanmu. Sebenarnya Anjani ingin merahasiakan ini darimu, tapi aku tak bisa melihat adik dari kawanku menderita " ucap Adolf mengingat kembali perkataan Anjani. Anjani tak ingin menyusahkan Aryan setelah apa yang ia lakukan. Meninggalkan sang kakak seorang diri saat dalam kesusahan.Cika asisten Adolf mengetuk pintu.


Tuk tuk tuk


Pintu terbuka menampilkan sosok gadis muda. Dengan setelan jas abu-abu, kacamata hitanm yang membuatnya semakin imut. " Permisi dokter, ada pasien menunggu ". Ucapnya tak kalah lembut.


" Ya nanti tunggu sebentar, Oe komplikasi tunggu disini atau terserah nanti kita pergi bersama " ucap Adolf kemudian berlalu pergi mengikuti Cika.


Adolf terus mengikuti Cika sang asistennya. Mereka terhenti pada saat melewati kamar pasien.


" Silahkan dok, segera diperiksa ". Ucap Cika.


Adolf Xiao melihat seorang lelaki muda dengan bagian perut membengkak layaknya orang hamil. Cika mengunggu instruksi sang dokter.


" Organ hati tidak berjalan dengan baik, ditambah penyakit diabetes. Cika Ambilkan jarum perak, siapkan obat yang saya tulis campurkan rebus 120 ml air tunggu 15 menit sampai airnya terkuras setengah " ucap Adolf Xiao.


Didalam ruangan Adolf mengalirkan tenaga biru atau tenaga dalam. Biasanya untuk seorang dokter tenaga biru karena lebih positif dibandingkan yang lain.


" Sepuluh Tusukan Hongmeng ".


Semua tusukan mampu meredakan aliran darah menjadi lebih lancar, sekarang memulihkan fungsi hati seperti sedia kala.


" Tusukan Pemulih Hongmeng ".Akhhh~~ Akhhhh~~~


Perlahan perut yang membengkak semakin menyusut mengecil seperti sebelumnya. Hanya meninggalkan bekas kerutan pada sekitar area perut.


" Bagaimana dok, apa sudah sembuh " ucap pasien.


" Tinggal dipijat biar kulitnya gak kendur, terus ditambah minum obat pasti sembuh asalkan teratur " ucap Adolf tersenyum.


Adolf melakukan pijatan demi pijatan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian...


Disisi lain bertepatan dengan pengobatan yang dilakukan Adolf Xiao. Cika berlari tergesa-gesa. Dengan sekatung obat ditangan.


Tanpa disadari Cika seseorang berjalan ditengah jalan. Membuat Cika menabrak dan hampir terjatuh. Sebelum sebuah tangan merangkul pinggangnya dengan cepat.


Saat Cika mendongak kepala keatas. Tatapan mata keduanya bertemu. Sebuah mata biru itulah yang pertama kali.


" Maaf tuan, saya terburu-buru ada keadaan darurat " ucap Cika mengantupkan kedua tangan didepan dada.


" Tak apa silahkan, lain kali hati-hati Cika ". Ucapnya.


" Akh iya, siapa nama tuan kalo boleh tahu ". ucap Cika gugup karena pria yang ia tabrak teryata mengenal ya. Padahal ia belum pernah bertemu sebelumnya.


" Aryan Arsigeo, cukup panggil Aryan saja tidak perlu ada kata tuan " ucap Aryan.


" Sekali lagi maaf Aryan saya permisi " ucap Cika. Sebelum pergi dengan tergesa-gesa mengingat keadaan darurat.


Cika langsung saja menghampiri dokter Xiao ini. Melihat situasi Adolf dan Cika langsung bergegas keruang operasi. Baru saja terjadi kecelakaan mobil yang hebat, namun lokasi yang memang jauh dari rumah sakit terpaksa membawa ketempat terdekat.


Tiga jam kemudian


Operasi berlangsung lancar....


Aryan dan Adolf melanjutkan ketempat kakek gila. Setelah menunggu Adolf beristirahat sejenak. Ditemani secangkir kopi buatan Cika.


Cika sempat tersipu malu teryata pria yang ditabraknya ada disini. Tenaga duduk dihadapannya. Ia tak menduga sama sekali.


Mereka tiba disebuah tebing bernama sembilan warna. Tebing tertinggi di Huaxia pada saat ini. Tebing sembilan warna sendiri pada bagian utara dan selatan jauh lebih terjal dibanding timur dan barat.


" Ada satu pesan, lewat sisi utara atau selatan ambil setiap bendera yang terpasang " ucap Adolf berlalu pergi ke sisi timur tebing, sudah ada tangga batu menuju puncak.


" Apa " ucap Aryan kaget.


" What, cepat kake gila sudah menunggu diatas tebing " ucap Adolf.

__ADS_1


__ADS_2