Kisah Bayaran Pendatang

Kisah Bayaran Pendatang
09.Ch 09 Kamp Pelatihan


__ADS_3

Deru angin melaju kencang. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Dua orang pemuda masuk asyik bercengkrama. Mengingat kenangan masa lalu yang ada dibenak masing-masing.


Aryan memakirkan beglok pada sebuah kampus dengan disain minimalis dengan gedung tinggi berbentuk kerucut.


" Wah, suasananya sejuk sekali. Memang benar kampus terbaik kehijauan sekota " ucap Adolf menghirup nafas panjang. Pikirannya lepas rasanya tenang.


Aryan hanya memanggut, tak ingin melanjutkan. Ia hanya mencari seseorang yang ia kenal.


Mereka berjalan memutari kampus. Seperti biasa banyak sorot mata tertuju pada mereka. Adolf hanya membalas dengan seutas senyuman sederhana. Disisi lain Aryan hanya menghiraukan berjalan seperti angin lalu.


" Ganteng banget idola banget, liat tuh senyum yang satu acuh tapi keren banget " ucap salah seorang dari sekian sorot mata.


Adolf terkekeh ia menepuk pundak sahabatnya itu. " Dengar itu, sang pemikat senyum sedikit " ucapnya memasang wajah meledek.


Sedikit terjadi keributan dimana tempat mereka berada. Sekumpulan berandalan mahasiswa, maju menghadang. Membuat Aryan maupun Adolf tak senang akan kejadian tersebut. Mereka jelas ingin membuat masalah.


" Pak tua, jangan membuat masalah disini. Terutama wanita kampus " ucapnya menunjuk Aryan dan Adolf. Sedikit melotot dengan memainkan jari seolah seorang petinju hebat.


" Jadi pak tua ini menggangu, mahasiswa ini tidak laku sampai menghalangi yang tua ini " ucap Aryan dengan nada merendahkan.


Nada merendahkan tersebut membuat sekumpulan mahasiswa tersebut lebaran jenggot, jelas tak terima dihina didepan publik. Salah seorang yang paling depan berusaha melayangkan pukulan. Tertahan oleh pria yang dari tadi diam.


" Turunkan tanganmu atau kubuat kau cacat. Siap dengan julukan keturunan terakhir menjadi kasim tetangga " ucap Adolf ikut menimpali. Sebagai orang yang lebih senior ia harus mengajarkan sopan santun.

__ADS_1


Muncul seorang wanita dengan kacamata hitam. Seorang dosen muda berjalan menghampiri. Tatapan matanya tegas bibirnya mengkantup.


" Ah, maaf dokter Xiao atas perilaku murid yang kurang ajar. Mungkin mereka tidak mengenalimu bubar sekarang ". Ucap bu dosen terdengar lantang. Memasang senyum dingin kearah para mahasiswa brandalan.


Ya mereka mengenalinya dengan baik. Dosen muda yang paling galak dan tegas. Memiliki wajah cantik dengan bagian dada yang sudah mengambang jelas. Dengan kaki jenjang dan bagian pinggul yang sedikit besar.


Selain itu ia juga seorang yang perfeksionis dalam berbagai hal. Pakaian, gaya, dan segala urusan. Terutama dalam setiap mata pelajaran bahasa Inggris yang ia tampung tak boleh ada kesalahan sedikitpun. Apabila melanggar sebuah hukuman melayang bagi masasiswa.


Bu Clara Audilion sekaligus anak kepala rektor kampus. Sementara pamanya adalah walikota Allon city. Banyak masasiswa yang takut berurusan bahkan menyinggung mereka memilih mundur.


" Bu Clara, tidak apa masalahnya sahabatku ini baru datang ia ingin mengunjungi adiknya Anjani " ucap Adolf Xiao. Ia sebagai salah satu dokter yang ditugaskan mengajar pengobatan tradisional dibidang kedokteran.


" Aryan Arsigeo " ucap Aryan.


" Clara Audilion " melakukan jabat tangan sederhana.


Mereka melanjutkan perjalanan ditemani Bu Clara. Sebuah fakultas terbaik bidang kedokteran. Gedung putih sepuluh lantai dengan tanda palang kesehatan.


" Lumayan bagus, untuk sebuah fakultas terbaik " ucap Aryan. Mengamati fakultas kedokteran didepanya.


University Multi Brigade merupakan satu dari lima universitas terbaik Huaxia. Salah satu fakultas terbaik dibidang kedokteran. Banyak melahirkan dokter berbakat dan terbaik.


" Jangan salah disini ada dokter terbaik " ucap Adolf membusungkan dada berusaha menunjukan bahwa ia yang terbaik.

__ADS_1


" Ya, untuk dokter magang pengobatan tradisional. Karena cuma dia satu-satunya disini " ucap Bu Clara mengklarifikasi.


Mencuri pandang sesekali melirik kerah Aryan. Diam-diam ia menaruh rasa saat pertama kali. Tatapan matanya membuatnya luluh sebagai seorang wanita.


" Ya, lumayan sebagai sahabatku harus jadi yang terbaik. Begitukan Bu Clara, bagaimanapun orangku kenal juga harus tak biasa ". Ucap Aryan. Menunjukan bahwa setiap orang yang didekatnya bukan orang biasa. Ia percaya garis takdir tak biasa ada pada dirinya.


" Emm, iya " ucap Bu Clara sedang pipi merona. Kemudian ia pamit pergi jadwalnya mengajar. Sebenarnya ia tak tahan lagi etrsipu malu.


Adolf mengenalkan beberapa ruangan fakultas. Sebenarnya Aryan tak peduli, tapi ia tetap mendengarkan. Mereka tiba disebuah kelas. Melihat seorang gadis muda yang sangat dikenali Aryan.


" Anjani " ucap Aryan.


Sebuah sorot mata kehangatan memancar jelas. Menampik memancarkan kecantikan Anjani. Senyuman dari Bibis titis terurai.


Sebelum semua keindahan tersebut dialiri sorot titik kesedihan. Dalam hati jiwa Anjani bergejolak. Pikirannya melayang, jauh dari sadarnya.


" Kakak... "


Aryan memandang wajah adiknya. Ia mengelus rambut gelombang milik adiknya. Ia mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Aryan masih bersikap tenang.


" Ya, kakak hanya mengunjungimu saja. Ada undangan pihak kampus ". ucap Aryan mengeluarkan senyum manis yang biasa ia tunjukan kepada adiknya.


Anjani hanya mengangguk ringan. Anjani baru saja selesai mata kuliah. Ia berniat kekantin. Berhubung ada kakaknya ia berniat mengajak. Sang kakak masih ada keperluan dalam memenuhi undangan. Ia hanya ditemani teman sekelasnya.

__ADS_1


Aryan dan Adolf memenuhi undangan datang kesebuah ruangan kepala kampus. Seorang wanita paruh baya menor menyambut kedatangannya. Disana sudah ada Bu Clara berdisi disampingnya.


" Baik, karena sudang datang langsung saja. Pihak kampus akan mengadakan kamp pelatihan militer baik medis. Pihak kampus meminta saudara Xiao dan Aryan sebagai mentor sekaligus penanggung jawab dan akan ditemani Bu Clara " ucap wanita paruh baya.


__ADS_2