Kisah Bayaran Pendatang

Kisah Bayaran Pendatang
08.Ch 08 Menyingkirkan jalan


__ADS_3

" Dasar kucing jalanan " ucap Adolf mengamati seringai Aryan.


Mendengar pernyataan temanya itu Aryan semakin melebarkan seringainya, membuat Susan Li sedikit takut. Sementara Paman Yu dan kakek Li Bao masih menatap gelombang didepan. Pikiran mereka campur aduk.


" Oe, micin jaga beglok jangan sampai lecet " ucap Aryan. Kemudian melakukan gerakan memutar diudara, berdiri tepat didepan beglok. Adolf turun seperti biasa berdiri disamping Aryan.


" Okeh, tiga menit kurasa cukup akan kulakukan sesuai keinginanmu " ucap Adolf memberi waktu tiga menit menjaga beglok. Aryan melirik keraha Adolf.


" Apa, bukanya kau bisa. Jangan melirikku seperti itu " ucapnya. Adolf mundur memilih bersender pada bagian depan beglok. Ia tahu maksud Aryan meminta tambahan waktu.


" Ayolah, demi beglok " ucap Aryan sedikit memelas.


Didepan Aryan kumpulan para pria penutup wajah berjejer rapi membentuk sebuah pasukan. Mereka semua bersenjata baik benda tajam atau benda keras.


Aryan tak gentar sama sekali. Ia mengeluarkan sebuah pisau kecil yang biasa ia bawa kemana saja.


Pertarungan satu lawan banyak tak terelakan. Aryan melakukan gerakan cepat dengan tangan kiri ia menghalangi pandangan musuh. Tangan kanan siap menikam leher musuh.


Sesekali juga ia harus menghindari jarum ataupun pisau kecil yang dilesatkan kearahnya. " Mau main lempar senjata, makan nih senjata makan tuan ". Dengan gerakan tangan Aryan menangkap salah satu pisau. Tangannya cukup cekatan dalam hal menangkap.


Ia juga menjadikan salah satu dari mereka sebagai tameng hidup. Gerakannya semakin cepat langkah yang ia buat tak beraturan membuat pihak lawan kebingungan.


Jleep,,..

__ADS_1


Jleep,,..


Jleep,,..


" Apakah kalian hanya ingin melihat, akan ku ajari cara membunuh yang sebenarnya. Kalian disini hanyalah umpan kecil yang dilakukan bos kalian. Mengukur kekuatan lawan dan target kalian nyatanya sudah tau ".


Melanjutkan menatap paman yuner. Dan Pak tua Li Bao dia cukup beruntung bertemu seorang dokter. Daripada dokter kiriman paman yuner Lu Jung. Melempar pisau yang tadi dipegangnya.


Slaassh,,..


Slaassh,,..


Slaassh,,..


Menyisakan hanya satu orang, tengah berdiri dengan kaki bergemetar. Paman Yuner sedikit bergetar hatinya seolah nyawanya terancam. Namun ia masih menampakan wajah tenang.


" Cepat jawab siapa yang menyuruhmu, cukup keterlibatanku dalam urusan orang lain ". ucap Aryan dengan dingin. Dilema didalam dirinya, tubuhnya kian bergetar hebat. " Baik, akanku jawab dia Li Bo.. "


Jleepp,,..


Paman Yuner melempar pisau kecil membunuh yang tersisa. " Tak perlu, aku sudah tau pelakunya. Sebelum itu terima kasih atas bantuanya ".


Aryan mendengus berlalu pergi. Sebelum suara paman yu menghentikannya " Sebelumnya aku mohon maaf telah menyelidiki identitasmu yang sebenarnya dan sedikit merepotkanmu barusan ". ucapnya ragu.

__ADS_1


" Ya, sebenarnya masalah ini bukan urusanku . Kedepannya urus sendiri masalah keluargamu, anggap saja barusan menjaga pasien temanku " ucap Aryan.


Aryan berjalan pelan menuju mobilnya beglok. Aryan menghampiri Adolf yang masih bersender. " Oe, micin minggir ketabrak bau tahu rasa " ucap Aryan agak meninggi. " Iya, komp " jawab Adolf santai.


Sebelum keduanya masuk kedalam beglok. Suatu suara membuat keduanya menoreh. " Kami turun saja disini, saya ucapkan terima kasih atas tumpangannya ". ucap Paman yu.


" Tidak apa paman, kami antar sekalian takut terjadi sesuatu " ucap Adolf. Ia menghentikan Aryan yang akan berbicara. Aryan hanya pasrah tak ingin berdebat.


" Terimakasih dokter Xiao atas bantuanya ". Adolf mengerutkan kening padahal ia belum menyebutkan namanya. " Ah, maaf saya Li Yuner dari keluarga Li panggil saja paman yu " ucap Paman yu memperkenalkan diri.


" Oh, saya Adolf Xiao dan itu Aryan Arsigeo ". Menunjuk sosok Aryan. Paman yu hanya mengangguk. " Dan itu... ". Paman yu terhenti suara lain lebih dulu.


" Saya Susan Li dan ini kakek saya Li Bao, sekali lagi terimakasih ". Ucap Susan Li dengan raut wajah girang. Menunjukan bahwa ia tertarik pada sang dokter.


" Sudah, jalan enggak " ucap Aryan datar. " Iya, mari paman " ucap Adolf memasang senyum setanah mungkin. Mencaba mencairkan suasana.


Sibeglok meraung menelusuri jalanan kota. Menjadi daya tarik tersendiri. Mereka menuju sebuah daerah mewah gedung tinggi dan rumah menjulang. Sebuah area khusus keluarga Li. Membentang puluhan hektar. Beglok terhenti didepan sebuah rumah bak istana, semua nuansa perabotan kelas tinggi.


Paman yu meminta Aryan dan Adolf mampir namun mereka menolak, karena masih ada keperluan. Paman yu hanya memberikan dua kartu emas bertuliskan Li Zheng Group sebagai tanda terimaksih. Walaupun sempat menolak tapi berkat paksaan paman Yu akhirnya mereka menerimanya.


Sebuah tebing puncak tertinggi. Seorang kakek tua mengelus dadunya memandang kearah bawah tebing. Matanya tertutup hanya suara desiran angin yang lewat memecah keheningan. Sayup matanya perlahan terbuka.


" Huaxia akan terguncang. Mengubah tatanan yang berlaku bahkan lima negara sekalipun dan dunia lain yang tersembunyi ". Kemudian ia tertawa lantang namun suara tawanya menggema keseluruh tebing. Beberapa batu ikutan runtuh.

__ADS_1


" Kakek tua, harap kau lebih menunggu beberapa waktu. Sosok pengguncang langit akan datang ketempatmu nanti ".


__ADS_2