
Aryan Arsigeo duduk pada sebuah batu. Aliran tenaga mengalir berputar disekitar lokasi yang ia duduki. Ini adalah awal menjadi seorang seniman beladiri.
Tubuh Aryan yang memang sudah dilatih didunia tentara bayaran. Menjadikan pondasi yang kokoh sebagai seniman beladiri. Garis garis meridian telah sepenuhnya terbuka.
Putaran tenaga semakin cepat, dalam lautan jiwa Aryan satu cincin terbentuk melayang.
Wuung,,..
Wuung,,..
Wuung,,..
Enam cincin tenaga dalam....
Perlahan Aryan membuka mata. Tatapan matanya terasa jauh lebih tajam dan jernih. Aryan bahkan merasa tubuhnya melayang Saking ringan. Aliran darah dan tenaga terasa lancar.
" Bagaimana, apa yang kau rasakan " ucap Pria tua. Dengan santainya tiduran tepat disamping Aryan.
Dia adalah Pertapa Agung Huangye.
__ADS_1
" Ingat yang aku ajarkan gunakan seluruh nadi dalam tubuh. Serap energi yang ada disekitar haluskan, murnikan, salurkan, alirkan " Ucap kakek gila pertapa agung huangye.
" Dalam dunia seniman beladiri ada tiga hal. Kualitas kepadatan tenaga dalam, meridian, dan jiwa sejati. Sebagai seniman beladiri sejati harus memiliki ketiganya, tidak boleh hanya salah satu. Sangat jarang seniman beladiri yang mampu dalam ketiganya 1/100 ".
" Tentu tidak mudah mendapatkan ketiganya. Kualitas kepadatan tenaga dalam tergantung pada seberapa halus dan banyaknya tenaga dalam. Seperti yang dijelaskan tenaga dalam berupa cincin. Satu kualitas kepadatan tenaga dalam terbaik akan kalah dengan 1.000 tenaga dalam kualitas biasa ".
" Meridian adalah garis kekuatan fisik yang dimiliki seniman maupun petarung beladiri. Walaupun garis meridian telah terbuka masih dapat ditingkatkan ketingkat yang lebih tinggi, bahkan tak ada batasan. Itu semua tergantung pada diri sendiri ".
" Yang terakhir jiwa sejati tidak bisa dilatih. Itu adalah takdir, jiwa sejati sudah ada sejak lahir. Tidak setiap orang memiliki jiwa sejati. Belum ada cara untuk membangkitkan jiwa sejati itu tergantung diri sendiri. Walaupun ia memiliki jiwa sejati sejak lahir namun sulit membangkitkan jiwa sejati "
" Untuk meningkat kualitas kepadatan tenaga dalam dan meridian dapat dilakukan dengan sumber daya tertentu khusus untuk para seniman atau petarung ".
Aryan kembali menutup mata. Sekarang ia tahu apa yang harus dilakukan. Tubuh perlahan memancarkan cahaya terang. Enam titik cahaya menyebar pada tubuh Aryan.
Memadatkan tenaga dalam menghaluskan. Aliran sehalus mungkin perlahan masuk. Tubuh memurnikan menyalurkan kegaris-garis meridian. Salurkan keseluruh tubuh.
Satu titik terang padam diganti cahaya terang seluruh badan. Begitu seterusnya, cahaya semakin terang kemudian menyusut kearah perut membentuk satu titik namun lebih besar.
Wung,,..
__ADS_1
Wung,,,..
Wung,,..
Satu energi cincin namun dengan kepadatan yang jauh lebih tinggi.
_____________________________________________
Suasana dipuncak tebing sembilan warna terasa sejuk, dengan pemandangan yang menyuguhkan mata siapa saja. Setelah asyik bercengkrama sepanjang malam Aryan dan Adolf pamit pulang kekota, villa pheonix.
Sebelum mereka pergi kakek tua menyerahkan dua kitab, masing-masing diberikan satu. Ditangan Aryan kitab dengan keadaan lusuh, jurus 10 perubahan jari. Sementara ditangan Adolf sebuah kitab berwarna coklat, Tabib racun kematian.
Keduanya membungkuk memberi salam, sebelum pergi. Aryan sendiri sempat menyerahkan beberapa majalah dan komik. Mengetahui sifat gurunya kakek gila huangye ini.
Kakek tua gila hanya terus memandang kearah kepergian murid begundal itu dengan seksama, tampak enggan memalingkan sedikitpun. Sampai hilang dari pandangan kakek tua gila.
" Aryan, bagaimana pelatihanmu " ucap Adolf bertanya.
" Lumayan, sedikit menambah kekuatan, sudahlah ayo cepat pergi ". Ucap Aryan mulai mempercepat langkahnya.
__ADS_1