
Tebing sembilan warna....
Seorang kakek tua duduk di atas puncak sebuah batu pada salah satu sudut tebing.
Diatas tebing terdapat sebuah pondok kayu dan sebuah atlar suci dari batu. Setiap batu atlar memiliki gambar formasi unik berbentuk alam. Terdapat sebelas batu dengan formasi yang berbeda.
" Ooh, datang juga " ucap sang kakek. Sesekali mengelus janggut yang sudah berubah warna putih.
Sisi utara tebing sembilan warna bagian bawah...
" Apa " ucap Aryan.
" What , cepat panjat kakek gila sudah menunggu diatas ". ucap Adolf. Menghilang dibalik tebing.
Aryan berjalan mendekati sisi tebing. Memanjat tebing, tapi terasa ada yang janggal menurut Aryan. Benar saja setiap bendera dipasang berjauhan disisi kanan dan kiri tebing.
Aryan mulai mengangkat sekuat tenaga tangan kanannya keatas mencengkram. Sementara Tangan kiri masih menggenggam erat pada permukaan tebing. Kedua kakinya digunakan sebagai pijakan dan tumpuan mendaki tebing.
Lima jam telah berlalu dari waktu mereka tiba. Baru seperempat jalan menuju puncak tebing. Ditambah ia harus mengambil bendera yang dipasang saling berjauhan. Sehingga harus kesamping kiri kanan tebing. Membuatnya seolah ia harus berkeliling pada permukaan tebing yang menjulang tinggi ini. Menyebabkan ia harus menambah waktu serta konsentrasi tinggi agar tidak terjatuh.
Adolf telah lebih dulu sampai dua jam yang lalu. Ia langsung memberi hormat pada kakek tua gila yang tak lain gurunya dan juga Aryan.
" Hem, sini ambil ramuan disana lalu pijat saya pegal rasanya sudah tidak dipijat lebih dari sebulan ". ucap kakek tua gila.
__ADS_1
" Iya kakek gila, sekalian majalahnya tidak " ucap Adolf tersenyum licik. Berusaha meniru senyuman kucing jalanan Aryan.
" Tidak usah repot, ya sekalian juga boleh. Tapi majalah lama tau kan" ucap kakek tua gila.
" Ya nanti Adolf berikan yang baru " ucap Adolf.
Suasana hening terjadi beberapa saat selepas Adolf pergi mengambil ramuan. Kakek gila mengangkat tongkat kayu miliknya yang sudah ada sejak dari tadi. Tongkat yang biasa ia gunakan sebagai kaki ketiga maupun senjata. Dalam sekali lompatan ia sudah berada disisi Utara tebing.
Kakek gila melakukan satu hentakan tongkat ketanah yang ia pijak.
Kraaaakk,,..
Kraaaakk,,,..
Kraaaakk,,..
Retakan lebih besar terjadi kali ini disusul runtuh. Bagian retakan sebelumnya juga tebawa jatuh kebawah. Menyembabkan batu yang dibawahnya ikut tertarik kebawah. Menghasilkan hujan batu dari atas tebing.
Kakek gila kembali ke posisi semula dengan kecepatan tak masuk akal. Tubuhnya seolah menghilang kemudian muncul ditempat semula.
Lokasi Aryan saat ini ia terus perlahan naik. Cengkraman dan pijakan pada sisi dinding semakin kuat. Kecepatan Aryan berkali lipat dari awal pertama. Dengan sedikit gerakan sudah mampu berpindah tempat kesisi lain tebing. Sudah lebih limapuluh bendera ia kumpulkan.
Puncak tebing sudah terlihat jelas. Begitu juga suara gemuruh, puluhan batu jatuh kebawah.
__ADS_1
Dungg,,.
Dungg,,..
Dungg,,..
Salah satu sudut mata Aryan berdenyut. Ia menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan, dan kaki kanan sebagai pendorong. Kedua tangannya siap mencengkram. Aryan melompat kesisi kiri kiri.
Beberapa batu jatuh tempat mengenai posisi Aryan barusan. Bahaya masih datang, batu berukuran jauh lebih besar dengan material tipis berupa tanah halus. Membuat Mata birunya terkena debu halus tersebut
Hampir membuat Aryan kehilangan kendali. Tangannya dengan cekatan kembali mencenggam dinding.
Melihat adanya cekungan dibagikan bawah posisi Aryan saat ini. Aryan mengurangi cengkraman, membuatnya turun kebawah pada lokasi cekungan.
Aryan mengayunkan kaki kanan menghantam didinding. Membuat cekungan bagian bawah jauh lebih dalam. Disusul pukulan keras menggunakan tangan. Kejadian sama dimana dengan atas menjadi lebih dalam.
Selelah dimana Aryan merasa tubuhnya dapat sembunyi dibalik cekungan. Ia mengeluarkan pedang putih patah, kemudian ditancapkan dengan posisi miring kebawah.
Dungg,,..
Dungg,,..
Dungg,,..
__ADS_1
Aryan bernafas lega, untung saja ia berhasil selamat. Aryan mengatur nafasnya sejenak. Sebelum memanjat lebih jauh. Tak ada kesulitan berarti selepasnya. Aryan akhirnya sampai pada puncak tebing, dengan sedikit memakan waktu disana ia sudah sudah ditunggu Seorang Kakek tua gila yang tengah dipijat Adolf.