Kisah Bayaran Pendatang

Kisah Bayaran Pendatang
07.Ch 07 Seringai kucing jalanan


__ADS_3

Mereka menikmati hidangan yang tersaji. Hubungan diantara ketiganya terjalin layaknya keluarga. Ikatan mereka jauh lebih kuat dari sekedar paman angkat maupun keponakan angkat.


Usai sarapan Aryan dan Adolf berencana pergi kediaman keluarga zhao. Beglok melaju menembus jalanan lalu lintas kota Allotus city. Kota terbesar ketiga Huaxia tempat pondasi ketiga negara. Allotus city merupakan pusat dagang terbesar sekaligus kota terpadat. Banyak sekali transaksi terjadi di Allotus city.


Mobil Beglok berjalan pelan mengitari setiap inci kota. Sepasang mata menatap penuh kekaguman. Melihat sipengendara mobil, dua orang pria tersebut.


Pria yang duduk dikursi depan. Pria berambut legam, hitam menawan. Ditambah mata birunya yang memancarkan aura yang mendalam. Dengan wajah sehalus giok disertai sorot tatapan mata yang tajam. Menambah daya tarik sang pria.


Sementara disampinya juga tak kalah. Berambut putih seputih salju. Dengan wajah serta dagu mekansolis, tatapan mata hitamnya. Membuat siapa saja jatuh kedalam pelukannya. Ditambah keduanya seolah memiliki satu aura khusus pemabuk wanita.


Dalam setiap tatapan mereka seolah acuh melanjutkan beglok jauh kedepan. Kemudian mendadak berhenti.


Sebuah perempatan jalan lampu merah. Beglok berhenti ditengah jalan. Suasana macet. Beberapa garis polisi terpampang jelas didepan. Sebuah insiden pembunuhan baru saja terjadi.


Sebuah kerumunan masal dilokasi kejadian. Memperlihatkan seorang gadis muda tengah memangku pria paruh baya. Pria paruh baya terjatuh tergeletak, sebuah tusukan benda tajam menusuk perut sang pria. Para Polisi yang sudah ada ditempat kejadian hanya bisa menunggu ambulans. Sementara pelaku kabur tanpa jejak.


Dalam sebuah kerumunan terdapat seseorang yang mencurigakan, menggunakan sebuah penutup wajah. Ikut mengamati kejadian. Salah seorang pria berjas putih melangkah kedepan. Dengan raut wajah tenang. " Saya dokter Lu jung, harap nona jangan khawatir. Senior dapat disembuhkan kita tunggu ambulan datang " ucap sang dokter sambil tersenyum licik.


" Tolong dokter, kakek saya dia... ". Ucap sang gadis sambil menangis sesenggukan. Ia masih mengkhawatirkan kondisi sang kakek tak sanggup melanjutkan perkataannya.


Raut wajah kakek sedikit berubah hitam. Darah yang mengalir juga menghitam akibat luka tusukan. Kondisi tubuhnya mulai terasa dingin.

__ADS_1


Dokter Lu Jung hanya mengerutkan dahi dikepala polosnya. Ia mengira hanya sebuah tusukan benda tajam. Menurutnya tidak membahayakan pasien.


Ia hanya ingin merauk keutungan dengan membawanya kerumah sakit. Meminta bayaran yang besar. Jika pasien meninggal sebelum ambulans datang maka usahanya sia-sia.


Lokasi mobil beglok Adolf memicingkan mata, berusaha melihat kedalam kerumunan. Ia menoreh kearah Aryan yang sedari tadi sibuk menghadap cermin. " Apa, micin "ucap Aryan membalas lirikan Adolf. Aryan ikut menoreh kerah kerumunan. " Kau urus saja sendiri, saya tunggu " ucap Aryan acuh.


Sifat Aryan yang cendrung acuh, ia hanya akan peduli pada orang yang ia kenal. Satu nyawa yang ia kenal jauh lebih berharga dari seratus orang asing. Berbeda dengan Adolf, sebagai seorang dokter ia mementingkan orang banyak. Adolf adalah seorang dokter pengobatan tradisional, keahliannya ia dapat dari seorang pertapa gunung.


Adolf memasuki kerumunan seorang diri, Aryan masih stay duduk dibangku beglok.


Pemandangan yang terjadi didepan matanya, membuat jiwa dokter dalam dirinya meronta-ronta. Ia langsung menghampiri sang gadis. " Hei, aku dokter sepertinya kakekku harus cepat diobati akibatnya bisa fatal ". Ucap Adolf lembut.


Gadis itu menoleh saat kedua tatapan matanya menatap pria yang barusan mengaku dokter. Jantungnya berdetak kencang, perasaan tenang menyambar hatinya. Rasa sedih yang ia alami seolah sirna, sepenuhnya percaya pada pria tersebut.


" Maaf dia pasienku, sebaiknya kamu pergi " ucapnya marah. Matanya melotot urat kepalanya keluar bersiap memaki. " Maaf, keselamatan lebih penting. Dan jika dia pasienmu apa yang kamu lakukan dari tadi ". Menekan kalimat terakhir yang ia ucapkan. Berlalu pergi menghadap kakek sang gadis yang tergeletak.


" Baiklah aku akan memulainya ". Menekan denyut nadi si kakek. Sekantung jarum perak ia keluarkan. Ia tekan luka tusukan sebuah tenaga biru keluar dari telapak tangannya. Tenaga tersebut hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki inti tenaga.


" Sepuluh Tusukan Homeng "


Keringat mengalir dari pelipis dan kening. Ia menghembuskan nafas lega. Adolf menyeka keringat yang mengalir. Tubuh sang kakek bergejolak batuk mengeluarkan cairan hitam. Kondisinya berangsur membaik. Mukanya kembali jernih seperti biasa.

__ADS_1


Semua orang tersenyum lega. Berbeda dengan dokter Lu Jung menatap sekilas kemudian pergi dengan perasaan getir. Namun beberapa mobil hitam berusaha masuk. Pria dengan setelan jas keluar diikuti pria berbadan besar yang kemungkinan adalah pengawal sang pria.


Kerumunan lenyap seketika seolah enggan terlibat masalah." Susan Li kau tak apa, dimana kekekmu ". Ucap Li Yuner


" Kakek sudah membaik Paman Yun dokter ini yang telah membantu " ucap Susan Li gadis yang tadi bersama kakek sementara sang kakek Li Bao. Mereka adalah Keluarga perak bermarga Li. Kekuatan mereka hanya terletak di Huaxia mereka menyatu. Tidak tersebar seperti keluarga Zhao maupun Situ. Namun sebab itu mereka manjadi keluarga perak no satu Huaxia.


" Maaf, paman terlambat, Terima kasih dokter atas bantuannya ". Ucap Paman Yun yang hanya dibalas anggukan singkat Adolf.


Sebelum Adolf pergi meninggalkan Susan Li dan Paman Yun. Sebuah pisau melesat cepat kearah Paman Yun. Sebelum tepat mengenai tenggorokan Paman Yun. Benda lain tak kalah cepat menghantam laju pisau. Membuat laju pisau terhenti jauh ketanah.


Disusul benda lain melesat lebih cepat. Namun bukan kerah Paman Yun melainkan sosok lain.


Jleepp,,..


Sosok pria terjatuh dengan penutup wajah. Belum lama sosok ini tumbang muncul sosok lain. Melihat itu Paman Yun dan pengawalnya akan siap melakukan sesuatu.


Namun langkah mereka jauh lebih cepat. Lesatan jarum jauh lebih cepat menusuk setiap pengawal Paman Yun. Sebelum lesatan lain mengarah Paman Yun dan Susan Li.


Ditangkis jarum lain. Adolf Xiao menangkis serangan barusan menggunakan jarum yang ia miliki.


Sebuah raungan keras, beglok menyisir melewati beberapa mobil. " Cepat naik, disini tempat umum " Aryan malajukan beglok dengan kecepatan tinggi. Setelah semuanya sudah naik. Aksi saling kejar tak terelakan para pria penutup wajah ternyata sudah menyiapkan semua. Entah berapa banyak jumlah mereka setidaknya puluhan orang dengan sepeda motor dan tiga mobil jep.

__ADS_1


Aryan terus melaju kemudian berhenti disebuah jembatan kondisinya sepi dari keramaian. Ia memutuskan menghentikan laju Beglok. Beglok menggesekan roda memutar berhenti menghadang jalan. " Sudah cukup jalan- jalanya. Kalian salah buruan " ucap Aryan. Seringai muncul disertai sorot mata tajam menatap mangsa didepannya.


" Dasar kucing jalanan ". Ucap Adolf mengamati seringai Aryan.


__ADS_2