
Pagi ini, seperti biasa aku akan bersekolah tetapi sebelum bersekolah aku harus olah raga dahulu. Biasanya aku lari pagi pukul 05.30 sampai selesai. Setelah aku lari pagi akupun mandi. Lalu seperti biasa makan roti yang ada di meja makan dan meminum susu. Selesai itu baru aku berangkat ke sekolah. Di sekolah aku melihat sekumpulan anak buah Dei akan mendekatiku aku kira mereka akan membuat masalah denganku taunya Dei sendirilah yang meminta maaf kepadaku, ia bilang kalau tidak akan menjahili Jhony lagi.
"kenapa kau tiba-tiba minta maaf kepadaku? Dan.... apakah ini tulus?" Vandypun bertanya kepada Dei
"a-- aku tulus ten...... tu saja aku tulus. maaf tapi.... jangan keluarkan aku ya aku mohon.... kau---- kau kan pangeran yang baik" kata Dei dengan gugup
"apa maksudmu?" kata Vandy kebingungan
"ah---- ah maaf se--- sebetulnya kau---- kau ini anaknya Pak--- Pak Wijaya kan direktur sekolah ini dan juga pangeran kan?" balas Dei dengan gugup
"emmm..... Jhony sialan anak itu hihhh dia melakukan senjata terakhir" batin Vandy
"oh... ya tapi.. kau jangan bilang siapa-siapa ya" kata Vandy
"oo---- oke ka--- kalau gitu saya permisi dulu ya Tuan...." kata Dei
"emm oke tapi..."kata Vandy
"tolong jangan hukum saya yang berat-berat tuan..."
"saya belum selesai bicara"kata Vandy kepada Dei
"baik tu--- tuan"
"haish kita ini kan teman sederajat pula kita kan juga manusia spesial yang sama jadi panggil saja aku Vandy jangan pakai tuan. Entah kenapa aku jijik dengan panggilan ini" Kata Vandy sinis
__ADS_1
"ba---baik Vandy maaf"
"sudahlah aku tidak ada waktu lagi aku harus ke kelas"
"ba---baik Vandy"balas Dei yang masih gugup
Di perjalanan ia menggerutu soal Jhony yang bohong kepadanya karna menggunakan senjata terakhir di pertarungan ini. Lalu tak lama kemudian ia sampai ke kelasnya disitu ada Jhony yang sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kemarin. Lalu aku menghampirinya dan berkata.
"heiiii yo bro, wah kayanya ada yang habis bohong ini, gua tau lu bohong kan.... soal Dei" kata Vandy sinis
"eh kaget gua. So---- sorry Van habisnya kalau nggak pakai senjata terakhir Dei bakal ribut terus" kata Jhony menjelaskan
"ok ok karna ini demi kebaikan gua, gua maklumin tapi jangan sampai bocor lagi ok"kata Vandy sinis
"o---ok Van"kata Jhony
Akhirnya Vandy pergi meninggalkan Jhony. Ia kemudian menghampiri Monica dan memberikan dua coklat untuknya dan dua coklat untuk teman-teman Monica.
"gimana suka nggak coklatnya" kata Vandy dengan muka manis
"suka sih enak kok" kata Monica yang membuat Vandy meleleh
"ok thanks. Balas Vandy
Tak lama kemudian bel masuk berdering. Kamipun masuk ke kelas, sebelum memulai pelajaran kamipun berdoa. Setelah berdoa salah satu dari teman kami menyiapkan kelas, tak disangka pelajaran itu adalah jam perwalihan. Bu Tina, ya dia adalah wali kelas kami di kelas ini dia membicarakan tentang pemilihan pengurus kelas dan petugas piket juga arsip-arsip penting yang harus ada di dalam kelas. Akhirnya pemilihan pengurus kelas pun tiba. Dan aku yang terpilih menjadi ketua kelas. Sebenarnya aku tidak mau tetapi akibat Jhony dan teman-temanku menyuruhku menjadi ketua kelas akupun menyanggupinya. Akhirnya semua pengurus kelas telah berbentuk saatnya jam pelajaran pun dimulai. Jam pelajaran pertama adalah matematika,karena aku tidak pandai dalam matematika maka aku pun mulai bertanya-tanya pada salah satu teman kelasku yang pandai matematika. Ternyata orang itu adalah Monica. Setelah jam pelajaran matematika berakhir, akhirnya pelajaran yang aku tunggu-tunggu dimulai yaitu pelajaran bahasa Indonesia. Akupun mengikutinya dengan lancar sampai guru itu memberikan soal yang menurutku lumayan sulit. Untungnya kami boleh bekerja sama karena aku bersebelahan dengan Monica aku bekerja sama dengan dia ternyata dia tidak begitu mahir pelajaran bahasa Indonesia, ini menjadi kesempatan untukku supaya bisa lebih dekat lagi dengan Monica. Tak lama kemudian jam istirahat pun tiba. Seperti biasa aku berjalan menuju kantin dengan temanku Jhony. Dalam perjalanan menuju kantin, aku bertemu dengan Dei yang sedang asyik berbicara dengan teman-temannya, aku pun mendekatinya dan menyapanya.
__ADS_1
"Hai Dei apa kabarmu?" apa Vandy menyapa Dei
"a...... aku baik" kata Dei gugup
"tidak usah gugup seperti itu kita ini kan teman jangan takut seperti itu padaku memang aku ini akan memukulmu kalau kau sekali salah, tentu saja tidak, sudahlah anggap aku temanmu. Ah aku salah kita ini memang berteman" kata Vandy
"Van... ini yang dari kemarin aku ingin tanyakan kepadamu apakah aku boleh ikut gengmu?" balas Dei
"ah sangat boleh tidak usah sungkan-sungkan gabung saja kalau mau" kata Vandy
"ah terimakasih" kata Dei
Vandy tidak menjawab ia hanya tersenyum. Setelah ia selesai makan, jam istirahat pun berakhir. Vandypun masuk ke kelas dan duduk tidak lupa ia menyiapkan para murid. Tak lama kemudian pelajaran pun dimulai. hari itu berangsur dengan cepat. Tak terasa sudah waktunya pulang. Vandy segera pulang ya keluar dari pintu gerbang sekolah menuju ke mobilnya yang sudah tiba di depan gerbang sekolah. Ia berpapasan dengan adik-adiknya mereka berebut tempat duduk. Vandy maunya duduk di depan tetapi Shandy tidak mau mengalah. Akhirnya terpaksa Vandy duduk di belakang bersama Nadia. Setelah ia masuk mobil ia melihat Monica sedang berbincang-bincang dengan temannya, ia pun menyapa Monica dengan ramah. Tak disangka Monica membalasnya dengan senyuman. Vandy tersipu-sipu malu saat melihat Monica. Lalu tak lama kemudian Pak Nico sopir pribadi kami menjalankan mobilnya.
"hei hei kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih" kata Nadia menggoda kakaknya
"apaan sih anak kecil tau apa?" kata Vandy bercanda
"ciee cieee yang lagi jatuh cinta ehem ehem" kata Nadia
"diem lu ah, nggak tau apa-apa juga. Ini tuh urusan orang dewasa anak kecil nggak boleh ikut-ikut"kata Vandy
"iya deh iya, eh tapi tadi beneran cocok sama kakak lho?" kata Nadia
"oh.. ya thanks" kata Vandy
__ADS_1
"you ' re welcome" kata Nadia
Di sepanjang perjalanan aku hanya bermain HP dan sesekali menatap jendela. Tidak mempedulikan sekitarku aku hanya terus sibuk dengan hp-ku. Sedangkan Nadia dan Shandy terus bercanda begitu pula dengan Pak Nico sopir pribadi kami. Tak lama kemudian ibu menelponku katanya nenek datang. Yang datang adalah ibu dari ayahku. Akupun ingin segera pulang karena kangen dengan nenekku.