
Kutub terlihat gelisah duduk di bangkunya. Pasalnya, Salju sama sekali belum kembali. Entah ke mana perginya gadis itu. Bahkan sampai bel pulang berbunyi, Salju juga tak kunjung datang membuat Kutub semakin khawatir.
"Salju ke mana sih? ini udah jam pulang loh. Apa dia udah balik ke rumahnya yah?" Rasti bertanya pada Riska. Dua gadis itu juga terlihat gusar sama halnya dengan Kutub. Hanya saja, Kutub mampu menyembunyikan di balik wajah datarnya.
"Iya nih. Aku coba telfon dia dulu, siapa tahu diangkat" ujar Riska sambil mengutak-atik ponselnya.
sejenak Riska menempelkan Ponsel tersebut di telinganya. sebuah deringan ponsel di dekat mereka membuat keduanya memukul jidat secara bersamaan karena gemas pada Salju. Ternyata gadis itu meninggalkan ponselnya di dalam tas. Kutub yang juga masih belum beranjak dari tempatnya ikut melihat hal itu. "ceroboh!" gumamnya pelan.
"Salju nggak mungkin pulang deh. Dia pasti masih di sekolah ini. Kan biasanya dia bakal bawa tasnya kalau mau bolos" ujar Rasti diangguki oleh Riska.
"apa jangan-jangan Salju diculik yah?" tanya Riska dan sukses mendapat pukulan dari Rasti di bahunya.
"ckk! sembarangan! Lagian, mana ada orang yang bisa nyulik cewek sebar-bar Salju? yang ada, mereka nyerah duluan dan lebih memilih mencari target lain!"
__ADS_1
Kutub tersenyum simpul mendengar perkataan Rasti tentang Salju. Ternyata bukan cuma dia yang mengatakan Salju itu bar-bar, sahabatnya juga.
"ya terus ke mana dong? masa ke Toilet?"
"Daripada kita sibuk menebak, mending kita keliling Sekolah aja nyari tuh anak! huh! ngerepotin banget sih, tu mahluk satu. Untuk sahabat!" gerutu Rasti. Ia menarik tangan Riska keluar dari kelas. Tak lupa, membawa tas Salju juga.
Setelah kepergian mereka, Kutub baru beranjak dari tempat duduknya. Ia juga ingin mencari Salju. Tapi......di mana?
Hal pertama yang Kutub kunjungi adalah Kantin. Kantin terlihat lengang, tinggal beberapa penjual yang sedang membereskan peralatan mereka. Kutub bergidik, jangan sampai di sana ada Julia dan melihat Kutub. Buru-buru pria itu pergi dari sana karena tak melihat keberadaan Salju.
Kutub menghembuskan nafasnya legah saat melihat sepatu Salju yang teronggok di rak sepatu dekat pintu perpustakaan. Berarti gadis itu berada di dalam sana.
"permisi Bu!" sapa Kutub pada Bu Nani, penjaga perpustakaan.
__ADS_1
"Kutub? Mau minjam buku?" tanya wanita berkaca mata itu.
"cari Salju!" kata Kutub seperti biasa. Singkat!
Bu Nani memandangnya heran. Ia juga tadi tak sempat memperhatikan apa gadis itu masuk ke sini atau tidak. Jadi ia hanya mengangguk saja saat Kutub mulai menyusuri rak-rak buku di tempat itu.
"pas ada bertengkar, nggak ada di cari! Dasar anak muda jaman sekarang!" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
Kutub menyusuri satu persatu rak tersebut. Gotcha! Kutub menemukannya. Salju sedang tertidur dengan kepala menelungkup di atas meja. Tapi....di depan gadis itu siapa? Kutub mendekat dan menemukan dua manusia yang masih asik di alan mimpi itu. Keduanya sama-sama menutupi Kepala mereka dengan buku.
Kutub memilih terlebih dahulu membangunkan pria yang berada di depan Salju. Raut terkejut seketika tergambar di wajah Kutub saat si pria mendongak sambil mengucek matanya. Bagaimana bisa Salju bisa berada di sini dengan pria ini? padahal setahu Kutub mereka tak saling mengenal. kalaupun kenal, paling cuma saling tahu nama doang. Tapi posisi tidur mereka tadi, seakan-akan mereka sangat akrab seperti di drama-drama korea, di mana si pria tak sengaja tertidur ketika menunggu pacarnya yang tidur di perpustakaan.
Pria itu juga sama terkejutnya dengan Kutub. Sayangnya, dengan cepat keduanya mampu menutupinya dengan wajah datar khas mereka.
__ADS_1
"ngapain di sini?" tanya Kutub datar.
"bukan urusanmu!" balas Banyu sambil beranjak meninggalkan Kutub. Kutub Kutub menangkap sekilas tatapan pria itu jatuh ke Salju lalu kembali melanjutkan jalannya. Ia mengangkat bahu tak peduli, pria itu lebih memilih membangunkan si tikus got yang salah tempat untuk tidur daripada memusingkan Banyu.