
Keanehan Salju bahkan terlihat sampai malam hari. Gadis itu menjadi lebih pendiam, berbeda jauh dengan biasanya. Tika dan Dio saling melirik memberi kode. Tika berdehem pelan, "Salju kenapa?" Tanya Tika.
Salju tersentak. Ia memandang Tika, lalu beralih pada Dio dan Kutub yang sama-sama memandangnya penasaran. Ia berdehem pelan, lalu menggeleng. "Enggak apa-apa kok Ma"
Ketiga orang itu masih menatapnya curiga, membuat Salju menghela nafasnya kasar. "Salju cuma kangen Mama sama Papa kok!" Ujarnya berbohong.
Tika dan Dio mengangguk mengerti, namun berbeda dengan Kutub yang hanya diam saja. Ia memandang Salju lamat-lamat. Memperhatikan wajah gadis itu yang tengah gusar, mungkin karena takut ketahuan bohong.
"Kamu mau Papa nelpon orang tua kamu? Biar kangen kamu sedikit mereda" tawar Dio. Salju menggeleng, memaksakan senyumnya. "Enggak usah.....Pa! Salju cuma belum terbiasa aja!" Tolaknya.
"Kalau gitu Salju ke atas dulu. Salju udah ngantuk!" Pamitnya, lalu pergi tanpa menunggu jawaban tiga orang tersebut.
"Esa juga pamit!" Tika dan Dio saling melirik, menatap aneh pada dua remaja tersebut.
"Mereka lagi bertengkar?" Tanya Tika. Dio terkekeh pelan, menghilangkan aura keanehan yang masih sedikit tersisa. "Bukannya tiap waktu yah, mereka bertengkar?"
Tika menghela nafas pelan. "Aku lagi serius loh Mas! Tapi, keanehan Salju sudah terlihat semenjak aku nyuruh dia manggil Esa di kamarnya. Ada apa yah?"
__ADS_1
"Kamu udah tanya sama Esa?" Tanya Dio.
Tika mengangguk. "Iya. Tapi Esa juga nggak tahu! Bahkan ia ikutan heran ngeliat Salju tiba-tiba aneh gitu"
"Kita biarin aja dulu. Semoga besok dia balik lagi ke sikapnya semula. Mungkin ini hanya masalah anak remaja. Kita kan tahu, di umur seperti mereka itu adalah masa-masa labilnya. Jadi kita jangan terlalu bertanya dan membuat Salju tak nyaman. Biarkan dia bercerita dengan sendirinya" ujar Dio menenangkan. Tika mengangguk menyetujui perkataan Dio.
"Ya udah! Mending sekarang kita tidur, udah larut malam juga"
.............................................................
Kutub mendekat ke arah Salju yang saat ini tengah duduk di atas ranjang sambil melamun. Bahkan gadis itu tak menyadari kedatangannya.
Kutub mendudukkan dirinya di samping Salju, membuat gadis itu tersentak karena ranjang yang tiba-tiba bergoyang.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Salju bingung.
"Nyadarin tikus got yang lagi kerasukan!" Sindir Kutub.
__ADS_1
Salju hanya diam, tak membalas sindiran Kutub. Padahal kalau biasanya, pasti mereka akan adu mulut setelah itu.
"Kamu sebenarnya kenapa sih?" Tanya Kutub jengah.
"Enggak apa-apa! Keluar sana! Aku mau tidur" Salju membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan berbalik membelakangi Kutub.
Kutub yang melihat itu tak tinggal diam. Dia menarik kembali selimut yang menutupi tubuh Salju, sehingga gadis itu mendelik kesal.
"Aku bilang aku ngantuk Kutub, nggak usah nyari gara-gara deh!" Marahnya.
"Kamu pikir aku nggak tahu kamu bohong?" Desak Kutub. Salju berdecih pelan. "Ckk. Nggak usah sok tau deh! Udah sana keluar, aku ngantuk Kutub. Benaran deh!" Rengeknya.
Kutub mendengus tak percaya. "Enggak usah bohong Salju!" Tekannya.
"Aku benaran ngantuk Kutub. Ya udah, kalau kamu nggak mau keluar. Aku akan tetap tidur. Kalau udah bosan di sini dan kamu akan keluar, jangan lupa tarik pintunya!" Salju mengalah. Bahkan Selimut yang tadi ditarik Kutub ia biarkan tetap berada di tangan pria itu. Ia berusaha memejamkam matanya, sekaligus berusaha menghilangkan bayangan penyebab keanehannya seharian ini.
'Maaf jika aku egois, membuat hubungan kita jadi aneh seperti ini' batinnya.
__ADS_1