
Kutub tersenyum dalam diam membayangkan jika Salju tinggal di rumah ini. Bukan! Kutub bukan senang dalam artian baik. Tapi dia senang, karena selama Salju tinggal sini, Kutub sudah merencanakan apa saja yang akan ia lakukan untuk mengerjai gadis itu.
Kutub benar-benar dendam pada Salju. Bayangkan saja kemarin, si Julia memeluknya di Kantin. Gila aja! Di depan banyak orang lagi! Asal kalian tahu saja, Kutub itu benci di sentuh selain orang yang ia izinkan. Dan dengan seenaknya Salju nyuruh Julia memeluknya dengan tiba-tiba. Pakai alasan Kutub ulang tahun segala lagi.
Kebencian di antara kedua orang tersebut memang sudah lama mengakar, entah penyebab awalnya adalah apa keduanya sudah lupa.
Ketukan di pintu kamarnya membuat Kutub tersadar dari pemikirannya tentang Salju. Ia mendekat ke arah pintu dan membukanya, tampaklah sosok Tika yang membawa segelas susu di tangannya.
"minum dulu, Sayang!" ujarnya sambil memberikan gelas tersebut pada Kutub.
Kutub menerimanya dengan senang hati, keduanya lalu memilih masuk dan duduk di atas tempat tidur Kutub.
"Ada yang mau Mama katakan sama kamu" ujar Tika pada Kutub yang sedang menyesap Susu yang ia bawakan tadi.
"ngomong aja Ma" ujarnya.
"Tentang Salju" katanya santai, membuat Kutub tersedak Susu seketika.
Tika menggeleng pelan melihat respon anaknya. "Mama apaan sih, nyebut nama tuh Tikus Got waktu aku lagi minum" kesal Kutub.
Tika menghela nafas pelan, padahal baru nama aja yang keluar dari mulutnya. "emang Mama mau ngomongin apa tentang Tiku... maksud aku Salju" tanya Kutub meralat sebutannya pada Salju karena melihat pelototan Tika.
__ADS_1
"Mama harap, selama Salju di sini kamu bersikap baik ke dia. Walau bagaimanapun, kamu adalah tuan rumahnya dan Salju adalah Tamu di sini" ujar Tika. Kutub mendengus, justru karena ia adalah tuan rumahnya, makanya ia berencana mengerjai perempuan itu tiap waktu.
"Esa? kamu dengar Mama kan?" Kutub akhirnya hanya mengangguk malas. Kutub memang dipanggil Esa oleh keluarganya karena namanya adalah Kutub Mahesa Persada. Sedangkan panggilan Kutub itu adalah panggilan dari teman-temannya sejak TK dulu karena itu adalah Suku kata pertama dinamanya.
"Ya sudah, Mama keluar dulu! jangan tidur terlalu larut. Selamat malam!" ucap Tika sebelum menutup pintu kamar anaknya itu.
"hmm! malam" balas Kutub.
"Si Tikus got udah tidur belum yah? intip rumahnya ah!" gumamnya, lalu melangkah ke pintu balkon. Mengintip apa lampu kamar yang tepat bersebelahan dengan kamarnya itu sudah padam atau belum.
Senyumnya mengembang saat melihat lampu kamar Salju masih menyala, bahkan pintu balkonnya juga terbuka.
Dengan iseng, ia menyebrangi pagar pembatas balkon keduanya dengan mudah.
Salju mendekat ke arah Kutub, "ngapain di sini sih Beruang Kutub? walau bagaimanapun juga, aku ini cewek loh! nggak sopan banget malam-malam nyamperin ke tempat aku" marahnya, namun suaranya berusaha ia kecilkan.
"AU! malah ngejitak lagi" cibirnya karena Kutub menjitak kepalanya.
"berisik!" ujar Kutub.
"ngapain ke sini! ini udah terlalu tengah malam kalau kamu ke sini cuma untuk ngerjain aku" Salju benar-benar kesal pada Pria dingin di depannya ini.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Kutub malah tersenyum membuat Salju merinding disko.
"Butuh pundak?" tanyanya tak jelas. Salju menatapnya malas. "enggak! pundakku baik-baik aja, nggak ada cedera. Jadi nggak perlu pundak kamu" cibir Salju.
Kutub menarik tangan gadis itu untuk duduk di dekat pembatas balkon, lalu menarik kepala Salju menjadi bersandar di pundaknya.
"Aku tau kamu sedih karena akan ditinggal Om sama Tante besok" Salju mendengus karena kepekaan Kutub akan kondisinya. Ini memang baru pertama kalinya Mama dan Papanya pergi tanpa mengajaknya. Biasanya, hanya Papanyalah yang sering pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan sedangkan Mamanya tetap di rumah menemaninya. Kalaupun Mamanya ikut, jelas mereka akan membawa Salju. Tapi kali ini berbeda.
Tanpa ia tahan, air matanya menetes. Ya..... Salju menangis. Dan itu..... tepat di pundak Kutub sang Musuh bebuyutannya. Salju memang secengeng dan semanja itu.
"Udah tenang?" tanya Kutub saat suara sesegukan Salju sudah tak terdengar. Salju hanya membalasnya dengan gumaman, Kutub mengelus puncak kepala gadis itu.
"Udah! Sekarang udah tengah malam! Sekarang masuk! besok nggak usah sedih lagi, karena aku nggak mau rumah aku kotor karena air mata seekor Tikus Got" Nah, liatkan keduanya tak akan pernah benar-benar berdamai.
Dengan kasar, Salju mendorong Kutub ke samping, membuat pria itu terguling.
"rasain!" ujarnya sambil memeletkan lidahnya.
"udah, sana tidur! siapin mental kamu, karena kita kembali musuhan lagi mulai besok" ujar Kutub sambil tertawa. Salju memilih tak menjawab, gadis itu memasuki kamarnya dan tak lupa mengunci pintu balkon miliknya.
Kutub tersenyum, lalu kembali melompati pagar pembatas dan memilih langsung tidur setelah itu.
__ADS_1
Ya.... itulah Kutub! Terkadang, ia akan terlihat berbeda ketika bersama Salju.
Gimana? lanjut enggak?