
"Sayang, besok Papa sama Mama kan mau ke kampung jengukin Nenek, jadi kamu kami titipin ke rumah Om Dio sama Tante Tika yah!" perkataan Tiara--Mamanya Salju--membuat dua anak remaja di ruangan itu membulatkan mata tak percaya.
"Nggak! Salju nggak mau Ma! Masa Salju harus tinggal satu atap sama Kutub sih!" bantahnya tak terima.
Inilah susahnya jika kalian bermusuhan namun orang tua kalian sahabatan, terlebih lagi rumah mereka tetanggaan.
"sayang! nggak boleh gitu!" Peringat Lorenz pada anaknya.
"Lagian Papa sama Mama kenapa tega banget sih! Kenapa Salju nggak dititipin sama Om Rossi aja?" nama yang disebut mendelik. "ogah! entar kosan aku malah jadi kacau kalau ada penghuni modelan kayak kamu" Rossi memang tinggal di kos-kosan yang tak jauh dari Kampusnya. Jangan berfikir kalau Rossi itu sudah tua, kenyataannya dia masih berumur dua puluh satu tahun. Dan untuk panggilan Om, sebenarnya Rossi keberatan dipanggil seperti itu, tapi emang dasar Saljunya aja yang kampret! mana mau ia mengubah panggilan itu padanya.
__ADS_1
"Benar Salju, apa kata Om kamu. Lagian, emangnya kamu mau tinggal di kosan? Di sana kamu harus masak sendiri loh, nyuci sendiri juga, nyapu sendiri, semuanya serba sendiri. Di sana kan nggak ada pembantu" bujuk Tiara.
"Ya udah, Salju boyong Bi Jum aja ke sana" ujarnya santai namun langsung mendapat jitakan dari Kutub yang memang sengaja di tempatkan duduk di sampingnya oleh para orang tua.
"itu kosan, bukan apartemen!" cibirnya.
"Udah, terima aja tinggal di rumah aku! Di tempat lain nggak ada yang mau bukain pintu untuk tikus got kayak kamu" ujarnya pedas. Tika memelototi anaknya yang berbicara keterlaluan, terlebih di depan Tiara dan Lorenzo yang tak lain adalah orang tua Salju.
Tak dapat dipungkiri, penampilan Salju memang tak seindah namanya. Jika pada dasarnya Salju itu putih, maka ia adalah kebalikannya. Kulitnya coklat kehitaman, karena seringnya terkena mata hari saat dihukum di sekolah. Jika Salju itu lembut, maka berbeda dengan dirinya. Sikapnya bar-bar luar biasa.
__ADS_1
"Udah ah! Kalian ini! Salju tinggal sama Tante aja yah, Tante sering kesepian tau di rumah. Om kamu sering pulang telat dari tempat kerja, sementara anak Tante yah.... kamu tahu sendirikan, kalau ngomong sama dia terasa kayak ngomong sama tembok" Tika mulai membujuk Salju sekaligus sedikit menyelipkan nada sindiran untuk Kutub.
Memang kedua pasangan Orang Tua tersebut seperti terbalik. Mama Papa Salju sering membela Kutub, sementara Mama Papa Kutub seringnya membela Salju.
"Ya sayang, yah! Kalau ada kamukan Tante bisa punya teman untuk mengobrol" tambahnya.
"Benar, Salju. Kamu juga bisa hemat uang jajan jika tinggal di rumah, kan setiap hari bisa barengan sama Kutub ke Sekolah" kali ini Dio yang buka suara.
Kutub melotot tak terima, "nggak mau Pa! Si Salju kan suka bangun telat, entar Kutub ikutan dihukum tiap hari bareng dia lagi" tolak Kutub.
__ADS_1
"Nah itu dia! karena Salju sering telat bangun, makanya kalau di rumah dan ada kamu, kamukan bisa bangunin dia. kalian berangkat sama-sama agar Salju nggak dihukum lagi" Kedua remaja tersebut akhirnya hanya pasrah. Percuma menolak, toh orang tua mereka tak terbantahkan.