Kisah Cinta Salju Dan Kutub

Kisah Cinta Salju Dan Kutub
XIII


__ADS_3

Tika menatap Salju dan juga Kutub yang diam-diaman di meja makan. Dua anak tersebut ternyata belum juga berbaikan. Astaga, anak remaja zaman sekarang memang egonya selalu tinggi.


"Kalian pulang sekolahnya tadi, barengan kan ke sini?" tanya Tika.


Salju mengangkat kepalanya, kemudian mengangguk. "Iya, Tante."


Tika menatap Kutub dengan mata memicing curiga. Jangan-jangan keduanya malah berbohong, mereka pulang sendiri-sendiri dan saling menunggu di depan rumah untuk masuk bersama agar dirinya tak curiga.


"Astaga, Ma. Kenapa malah natap.aku kaya gitu? Kita benaran pulang bareng, kok!" Kutub mendengus. Mamanya ini terlalu banyak meragukannya. Lagipula, meskipun Salju menyebalkan, mana ada Kutub tega pada gadis itu.


"Baguslah! Terus, kenapa sekarang kalian malah diam-diaman? Oh ya, kalian juga tadi pulangnya terlambat dari jam biasa loh," ujar Tika lagi.


"Mama gimana, sih? Orang debat sama Salju, salah. Diam-diaman juga salah," cibir Kutub.


Tika menatap anaknya tajam. "Kamu ini, jawab terus kalau diberi tahu. Lagian, sejak kapan kamu jadi cerewet gini?"

__ADS_1


Kutub terdiam. Ia baru menyadari, kalau sedari tadi dia malah terlalu banyak bicara, sedangkan Salju yang menggantikan posisi diamnya. Mungkin saja dia lagi kerasukan roh cerewet Salju.


"Salju cuma lagi kepikiran Mama sama Papa aja Tante. Nggak ada tenaga buat ladenin Kutub."


Tika menatap Salju kasihan setelah mendengar ucapan gadis itu. "Udah video call atau telfon?" tanya Tika.


"Entar malam aja, Tan. Paling jam segini Papa lagi kerja."


Setelah selesai makan, dua anak itu berjalan beriringan menaiki anak tangga untuk ke kamar mereka masing-masing.


"Salju!" panggil Kutub tiba-tiba. Salju menghentikan langkahnya, dan menoleh.


"Permintaan maaf aku tadi, aku serius. Aku pasti banyak salah sama kamu."


Salju mengangguk pelan. "Oke, maaf diterima. Besok sebagai gantinya, turutin semua permintaan aku. Gimana?" Mood Salju seolah sudah kembali. Keinginannya untuk saling beradu omongan dengan Kutub juga telah kembali. Dia yakin, Kutub yang memiliki ego tinggi mana mau mengikuti kemauannya.

__ADS_1


"Asal jangan berkaitan dengan anak si penjaga kantin."


Salju tertawa. Ternyata Kutub masih takut pada gadis itu.


"Oke. Janji, ya? Kalau kamu ingkar, berarti maafnya aku tarik lagi."


Kutub mendengus. Mana ada orang yang memberi maaf seperti Salju. Diberi dan ditarik sesuka hatinya. Dasar gadis menyebalkan.


"Hmm," jawabnya pelan.


"TOS dulu, dong!" Salju menyodorkan tangannya yang sudah mengepal ke arah Kutub, dan hanya dibalas tatapan malas pria itu.


"Ogah. Entar badanku gatal-gatal lagi, karena sentuhan sama tikus got." Setelah mengatakan itu, Kutub berjalan duluan meninggalkan Salju. Dia yakin, sebentar lagi gadis itu akan berteriak marah.


"KUTUB NGESALIN! KAMU BARU MINTA MAAF UDAH NYARI GARA-GARA LAGI!"

__ADS_1


Kutub tak membalas, pria itu tetap berjalan lurus menuju kamarnya. Namun, sepanjang jalan, bibirnya tak berhenti tersenyum karena merasa senang. Saljunya, sudah kembali seperti biasa. Kehidupannya yang beberapa hari ini kembali sunyi karena Salju yang tiba-tiba berubah jadi pendiam, kini pasti akan ramai kembali dengan tingkah gadis itu. Tak apa Salju bertingkah menyebalkan padanya, asal jangan mendiaminya seperti kemarin. Kutub tak suka, karena itu membuatnya tak nyaman.


Sementara Salju, gadis itu mengelus dadanya pelan berusaha sabar. Astaga, Kutub itu tipe-tipe manusia menyebalkan yang dikasih hati mau ginjal. Definisi pria yang ingin Salju lemparkan ke planet Mars.


__ADS_2