
Sama seperti dugaan Dio semalam, gadis itu bersikap kembali seperti biasa pagi ini. Bahkan saat ini ia tengah adu mulut dengan Kutub, karena Kutub mengganggu tidur cantiknya dengan cara mengguyurnya menggunakan segayung air.
"......keterlaluan banget tau nggak sih! Nggak kasihan apa sama Bik Nunung, yang harus nyuci selimut setebal itu. Padahal kamu bisa bangunin aku dengan cara baik-baik!"
"Cara baik-baik? Ckk. Bangunin kebo kayak kamu ya harus pakai cara seperti tadi. Enggak butuh cara baik-baik!"
"Kamu itu benar-benar yah...."
"Sudah, sudah! Kalian itu yah, hobi banget adu mulut. Jodoh baru tahu rasa" potong Tika saat Salju berniat membalas Kutub.
Salju dan Kutub lantas membulatkan mata mereka. "Ogah jodoh sama cewek dekil kayak dia. Udah dekil, bodoh, manja, sikapnya bad lagi!" Bantah Kutub sambil melirik Salju.
Salju terdiam, seolah dejavu. Ia meremas tangannya yang berada di bawah meja. Berusaha mati-matian agar wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Tanpa membalas ucapan Kutub, ia memakan sarapannya yang sidah disiapkan Tika di atas piringnya.
Tika menatap Kutub tajam. Ia tahu perkataan anaknya itu sangat keterlaluan. Walau Salju tak mengucapkan apapun, ia yakin sudut hati gadis itu pasti tercubit. Kutub juga terdiam, kaget akan perkataannya sendiri. Ia memperhatikan wajah Salju yang tak mengekspresikan apapun. Gadis itu terlihat lahap menyendokkan makanan ke mulutnya. Tanpa ia tahu, kalau Salju merasa makanan yang masuk ke tenggorokannya bagaikan duri.
Salju buru-buru menelan makanannya, lalu meminum susu yang diperuntukkan untuknya.
"Kok udahan sayang?" Tanya Dio melihat Salju yang sudah berdiri.
__ADS_1
"Iya Om. Ponsel Salju sedari tadi getar mulu, mungkin Rasti udah di depan" ujarnya sambil merogoh tasnya. Ia melangkah sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
"Iya, iya! Udah ke sana kok!"
Sayup-sayup ketiga orang di meja makan itu mendengar suara Salju. Sepeninggal Salju, Dio menatap putranya tajam.
"Papa nggak suka kamu ngomong kayak tadi Esa. Walau bagimu itu biasa saja, tapi perempuan itu sangat sensitif ketika kekurangannya diungkapkan" ujarnya tegas. Ia berdiri, kemudian berpamitan pada sang istri.
Kutub memandang ke arah Tika. Namun wajah ibunya itu terlihat datar. Wanita yang melahirkannya itu malah dengan santai membereskan piring bekas mereka makan, lalu beranjak meninggalkannya sendirian tanpa mengucapkan apapun. Kutub merutuki dirinya sendiri. Ia tahu, kalau Mamanya juga kecewa padanya. Kutub juga tahu, kalau ucapannya tadi benar-benar keterlaluan. Pasti Salju menahan sakit hati karena hinaannya itu. Padahal sikap Salju baru saja kembali seperti biasa, tapi Kutub malah mengatakan hal-hal yang menyakitkan gadis itu.
Kutub meninggalkan rumahnya setelah berpamitan, yang hanya ditanggapi dengan dingin oleh Tika. Kutub mengerti, pasti Mamanya itu benar-benar kecewa dengan sikapnya.
Perlahan, Kutub mendekat ke arah Salju. Ia kemudian berhenti tepat di depan gadis itu, lalu membuka kaca mobilnya.
"Masuk!" Serunya pada Salju.
Salju tersentak melihat Kutub. Ia ketahuan, batinnya merutuki. Ia berusaha membuat wajahnya terlihat biasa saja.
"Nggak usah! Aku bilang aku bareng sama Rasti" tolaknya.
__ADS_1
Kutub mendengus. "Nggak usah bohong, rumah Rasti berlawanan arah dengan kita. Jadi mana mungkin dia ke sekolah lewat di sini" ujar Kutub telak. Kutub baru ingat kalau rumah sahabat Salju itu berbeda arah dengan mereka.
Salju gelagapan. Lagi-lagi ia ketahuan. Namun ia tetap memasang wajah datarnya. "Duluan aja! Aku lagi malas berangkat pagi"
"Kamu mau bolos lagi? Atau mau terlambat lagi seperti biasa?" Tanya Kutub dengan tatapan tajam.
"Menurut kamu? Bukannya itu termasuk dari sifat Bad aku yah?" Salju berujar menantang, membuat Kutub melembutkan tatapannya seketika.
"Ayo, berangkat! Sebentar lagi bel masuk, aku nggak mau kamu dihukum!" Ia berujar lembut. Padahal biasanya mereka saling tarik urat.
"Apa pedulimu?" Tanya Salju dingin.
"Sal?!"
"Duluan aja! Kata kamu bel sebentar lagi bunyikan? Ya udah silahkan pergi. Aku nggak mau kamu ikut-ikutan dicap Bad gara-gara aku!"
Kutub menunduk, merasa bersalah. Ia menyesali perkataannya tadi pagi. "Ss...!"
"Pergi, atau aku nggak akan pernah berbicara sama kamu selamanya!" Dan ancaman Salju seketika membuatnya menurut.
__ADS_1