
Kutub berkali-kali melirik ke arah Salju yang melamun di bangkunya saat mata pelajaran. Sejak pagi tadi, gadis itu terlihat berbeda. Ia datang pagi, juga tak membuat masalah, bahkan di kelaspun ia hanya duduk diam, membuat teman sekelasnya heran. Tampilannya pun tak sekusut biasanya, hanya wajahnya saja yang tak enak dilihat.
Kutub tahu persis apa yang menyebabkan gadis itu bertingkah seperti itu. Ia mencari cara mengganggu Salju. Kutub takut nanti tuh cewek kerasukan gara-gara banyak diam. Kan kalau Ratunya hantu kerasukan hantu lagi kan serem pake banget. Tapi ia tak menemukan cara apapun untuk mengganggu Salju.
"Sal, kamu kenapa sih? sakit?" tanya Rika khawatir. Salju menggeleng. "terus kenapa? putus cinta?" kali ini Rasti yang bertanya, membuat Kutub yang mendengarnya mengulum senyum geli. Mana ada putus cinta? pacar aja Salju nggak punya! batin Kutub.
Salju lagi-lagi hanya menggeleng menjawab pertanyaan dua sahabatnya. Kutub menghela nafas kasar, meski Salju musuhnya, ia lebih suka melihat raut kesal di wajah tersebut dibanding raut kesedihan.
Diamnya Salju bahkan sampai bel istirahat berbunyi. "makan yuk, Sal!" ajak Rasti.
"nggak! kalian pergi aja. Aku nggak lapar" tolaknya.
Rasti dan Rika hanya mampu menghembuskan nafasnya kasar. Dengan tak ihlas, mereka meninggalkan Salju di kelas karena perut mereka sudah minta di isi.
__ADS_1
"ya udah deh. Kita ke kantin yah! Kalau berubah pikiran, cepatan nyusul yah!" Salju hanya mengangguk.
Kutub sedari tadi hanya diam di bangkunya. Setelah teman-teman Salju pergi, ia mendekati gadis itu. Di kelas tersebut tinggal mereka berdua, jadi tak masalah jika ia dan Salju terlihat dekat.
"Kenapa nggak ke Kantin?" tanya Kutub. Salju terperanjat kaget, karena mendengar suara Kutub. Mungkin gadis itu berfikir kalau di kelas ini tak ada orang selain dia.
"Nggak lapar!" ujarnya.
Kutub mendengus. "Aku tahu kamu belum makan sejak pagi. Jadi, ke kantin sekarang!" Kutub memang mengetahui sejak pagi Salju belum makan. Tadi subuh ia dan keluarganya memang ikut mengantarkan orang tua Salju ke Bandara. Dan sepulang dari sana, mereka tak sempat sarapan.
Kutub lagi-lagi mendengus. Kenapa Tikus Got satu ini sangat manja sih? baru juga beberapa jam orang tuanya pergi, udah galau kayak gini aja. Kutub akhirnya memilih menyerah, ia meninggalkan Salju tanpa mengatakan apapun.
Salju menghela nafas legah karena Kutub tak mengajaknya tarik urat seperti biasanya. Ia menidurkan kepalanya di atas lengan tangannya yang berada di meja. Kenapa juga hatinya harus sesedih ini? Salju keliatan lebay nggak sih? Pasti siapapun yang melihatnya akan mengatakan lebay jika tahu alasannya galau seperti ini.
__ADS_1
Salju tersentak kaget saat sebuah kantung plastik di letakkan dengan kasar di atas mejanya. Ia mendongak, dan mendapati Kutub dengan wajah datarnya.
"apaan ini?" tanya Salju.
"Makan. Aku nggak mau kamu mati kelaparan. Entar kalau kamu mati, aku nggak punya lawan untuk berdebat lagi" jawab Kutub datar.
Salju mendengus. Mana ada, nggak makan sehari langsung mati? lagipula kalau dipikir-pikir ini belum sehari, baru beberapa jam ia nggak makan. Dasar memang Kutub aneh!
"aku bilang nggak lapar, ya nggak lapar Kutub!" tolak Salju.
"Makan sendiri atau aku suapi?" tanya Kutub penuh penekanan.
Salju akhirnya menyerah. Membuka plastik yang ternyata berisi bungkusan nasi goreng dan sebotol air mineral. Ancaman di suap Kutub itu baginya sangat menakutkan. Karena bisa jadi cowok itu menyuapinya dengan kaki, bukan dengan tangan.
__ADS_1
"kok cuma satu? kamu nggak makan?" tanya Salju.
"Aku nyuruh nasinya disatuin aja di situ, tuh liat, banyakkan isinya? jadi, ayo kita makan!" ujarnya santai membuat Salju terperangah karena tingkahnya.