
"Assalamualaikum Jeng." sapa Wulandari, mama dari Arjuna pagi itu yang sedang menelpon besanan.
"Wassalamu'alaikum, eh jeng Wulandari. Tumben pagi-pagi sudah menelpon. Ada apa jeng?" jawab Retno, mama Kailani. Yang pada pagi itu menerima sambungan telepon dari Wulandari Ibu dari Arjuna.
"Nggak ada apa-apa jeng. Cuma kangen saja sama jeng Retno. Sudah lama kita tidak saling mengobrol."
"Eh iya jeng, apa kabar?" sapa Retno pada sang besan.
"Kabar baik jeng, suami juga baik. Seperti biasa para suami pasti sibuk di kantor kan pasti. Kan sedang pada sibuk urus proyek yang ada di Bandung itu." jelas Wulandari.
"Oh iya, bagaimana dengan Kailani? Apa dia di rumahmu bersikap baik? Apakah dia menjadi menantu yang baik?" tanya Retno yang menanyakan Kailani putrinya. Yang kini telah menjadi menantu dari Wulandari ibu dari Arjuna.
"Jangan tanyakan itu. Kailani dari kecil sudah aku anggap sebagai anak sendiri. Aku sangat menyayanginya. Dia bersikap sebagai menantu yang baik. Kay akan wanita yang luar biasa. Tidak hanya smart, dia juga punya attitude bagus serta sopan santun yang baik. Pokoknya semuanya luar biasa. Tidak ada yang cacat dari Kailani. Tapi jujur, aku tuh mengkhawatirkan sesuatu." ujar Wulandari, yang kemudian membuat Retno penasaran.
"Khawatirkan apa jeng?"
"Kailani dan Arjuna kan memang menikah tidak saling suka sama suka sebelumnya. Mereka selama ini dekatkan sebagai teman. Lalu mereka tiba-tiba harus menikah karena dorongan kita. Otomatis, mereka sampai saat ini sepertinya masih berusaha untuk bisa saling belajar menerima satu sama lain. Dan belajar untuk bisa saling mencintai. Ini sudah sebulan lebih loh jeng. Aku melihat dari gelagat mereka itu, kok sepertinya gimana gitu."
__ADS_1
"Gimana begitu bagaimana maksud jeng Wulan? Saya tidak paham. Soalnya kan sehabis menikah Kailani langsung tinggal di rumah jeng Wulandari, tidak tinggal sama saya lagi."
"Iya maksud saya, gimana gitu Itu maksudnya mereka itu nggak greget gitu loh jeng. Kalau pasangan suami istri yang saling ada rasa itu kan seperti kita dulu waktu awal-awal pertama menikah. Yang pasti kemana-mana itu lengket kayak perangko. Kailani dan Arjuna ini sepertinya tidak seperti itu. Mereka tuh kaya masih asing."
"Yaitu wajarlah jeng, mereka kan masih proses untuk bisa saling menerima satu sama lain."
"Iya, saya juga menyadari itu, tapi kok rasanya saya tuh tidak sabar melihat mereka mesra. Melihat mereka kaku saya ngk jeng ngelihatnya. Apalagi saya ini sudah pengen banget nimang cucu. Target saya itu sebulan mereka menikah, Kailani sudah bisa positif hamil. Tapi ini sepertinya belum ada tanda-tanda."
Mendengar aduan Wulandari, ditanggapi tertawa oleh Retno. Karena keinginan itu ternyata sama. Ia pun juga sudah sangat ingin meminang cucu.
"Oalah jeng, kok kita satu pemikiran ya. Saya pun juga sama. Saya pengen Kailani cepet-cepet hamil. Supaya saya ini cepat bisa nimbang cucu. Apalagi orang seusai kita itu kan sudah pantas untuk menggendong cucu. Dan itulah yang kita harapkan dari anak-anak kita."
"Apa benar begitu jeng?" Retno kini makin penasaran.
"Ya saya sih nggak tahu, cuma tebakan saya saja. Say nggak tahu apa yang mereka lakukan di kamar."
"Tapi mereka tidur dalam satu kamar kan jeng?"
__ADS_1
"Ya pastinya mereka tidur satu kamar. Tetapi Arjuna sudah memperawani Kailani atau belum kan saya tidak tahu."
"Oalah jeng, jeng. Kita ini kok jadi orang tua kepo!" seru Retno.
"Ya nggak apa-apa kepo. Kita ini orang tua mereka. Apalagi kita kan memikirkan masa depan anak-anak. Arjuna itu sudah menemukan pasangan yang pas. Yaitu Kailani. Kemarin waktu di meja makan. Saya dan suami sudah menawarkan pada Kailani dan juga Arjuna untuk pergi bulan madu. Tapi mereka malah nolak. Katanya nggak perlu lah ada bulan madu segala. Karena Mereka sibuk dengan pekerjaan."
"Waduh, mereka berkata seperti itu jeng." tanya Ratna tidak percaya.
"Benar, katanya mereka malah nggak butuh bulan madu. Dan jujur saja ya jeng. Saya ini sebenarnya sedang merencanakan sesuatu."
"Merencanakan apa jeng." lagi lagi Retno, mamanya Kailani di buat penasaran dengan berbagai gosip yang di sampaikan besannya.
"Saya ini punya niatan untuk melakukan perjalanan jalan-jalan bersama. Saya dan suami sudah membicarakan ini semalam. Dan suami bilang, dia akan menyewa pesawat untuk membawa kita berlibur ke Bali. Suami sudah menyewa sebuah villa di Bali. Lokasinya ada di sebuah pulau. Saya lupa namanya pulau apa. Tapi suami sudah buat rencana itu. Dan jeng Retno beserta suami juga harus ikut. Ini demi misi kita jeng." jelas Wulandari, memaparkan rencananya pada sang besan.
"Ide yang bagus jeng. Saya setuju, atur saja waktunya. Saya ngikut aj." Tutur Retno.
"Bagus, kalau begitu, nanti akan saya infokan kapan dan harinya kita akan berangkat bersama-sama."
__ADS_1
"Oke jeng, saya tunggu kabarnya." jawab Retno antusias.
Jika anak-anaknya saja tidak mau bertindak, biarlah orang tua yang bertindak.