Ku Izinkan Suamiku Mendua

Ku Izinkan Suamiku Mendua
Saran berbulan madu


__ADS_3

Saat Arjuna sudah masuk di kamar mandi. Barulah ia menyadari. Jika saat itu Kailani tidak sedang mengenakan pakaian.


Ia hanya menutupi tubuhnya dengan selembar handuk kecil. Yang jika di perhatikan dengan seksama. Handuk itu hanya menutupi tubuh Kailani bagian atas. Sehingga paha mulus Kailani terexpose jelas. Begitu pula dengan bagian dada Kailani. Semua terlihat begitu jelas.


Dan, mata Arjuna sedikit terbelalak ketika melihat tubuh mulus wanita yang sudah halal baginya itu. Tapi ia enggan untuk mengakui bahwa dia adalah istri yang sesungguhnya bagi dirinya.


"Arjun, apa-apaan kamu!" seru Kailani yang kaget dengan masukannya Arjuna ke kamar mandi. Padahal ia masih ada di dalam.


"Tidakkah kau bisa bersabar sedikit. Sembarang saja masuk." imbuh Kailani lagi. Kemudian ia langsung berkumur. Dan segera menyelesaikan acara gosok giginya.


"Aku sudah tidak tahan lagi. Perutku mulas." Jawab Arjun sambil memegangi perutnya.


"Kenapa kamu tidak pergi ke kamar mandi yang lain." sergah Kailani dengan nada gusar.


"Sudahlah, aku tidak terpikirkan soal kamar mandi lain. Cepatlah keluar, aku sudah benar-benar tidak tahan."


Dengan sedikit kesal, Kailani kemudian keluar dari kamar mandi.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Kailani yang saat itu sudah siap dengan pakaian kantornya yang melekat pas di tubuhnya yang ramping. Masih duduk santai di depan cermin untuk menyelesaikan berdandannya.


Arjuna sendiri yang saat itu juga baru saja keluar dari ruang ganti. Nampak terlihat sibuk dengan kegiatannya untuk bersiap ke kantor. Kala itu ia tengah duduk di sisi tempat tidur sambil memasangkan kaos kaki di kakinya.


Pasangan suami istri itu terlihat sibuk dengan dirinya masing-masing.


Kailani yang melihat Arjuna dari pantulan cermin yang ada di harapannya. Merasa sedikit kesal. Karena pria itu sudah melihat tubuhnya. Meskipun ia tadi masih mengunakan handuk kecil untuk menutupi dadanya. Tapi tetap saja, Kailani merasa kesal.

__ADS_1


Kekesalan Kailani bertambah manakala Arjuna tidak meminta maaf padanya. Atas kejadian tadi di kamar mandi. Yang menurut Kailani itu adalah tindakan yang sangat lancang.


Setelah Arjuna selesai dengan kegiatannya Arjuna kemudian pamitan untuk keluar dari kamar duluan.


"Cepatlah sedikit, jangan lama-lama. Aku tunggu di meja makan." ucap Arjuna, yang bicara sambil berlalu dari hadapan Kailani.


Dasar menyebalkan, ucap Kailani membatin.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


"Pagi Ma, Pa." sapa Kailani kepada kedua mertuanya


Saat ia baru saja bergabung di meja makan.


"Pagi Kay." sapa balik Wulansari.


"Terimakasih Ma." jawab Kailani, tersenyum tipis ketika mendengar pujian dari mama mertuanya.


"Kailani kan memang cantik Ma. Dari kecilkan juga dia sudah menggemaskan. Memiliki kecantikan yang natural. Apalagi dia juga cerdas, dan pintar dalam urusan bisnis. Semuanya menambahkan nilai cantik dalam diri Kailani." imbuh Mario, yang juga memuji Kailani.


"Biasa saja Om, eh...maksud aku Pa." Jawab Kailani yang kadang masih suka salah memangil Mario dengan sebutan Om. Padahal sekarang sudah jadi papa mertuanya.


Arjuna nampak tidak terlalu ikut nimbrung dengan perbicangan ringan kala itu dia meja makan.


Ia nampak fokus pada makanannya. Dan seperti biasa Arjuna bersikap dingin.


Untuk beberapa saat, mereka berempat fokus pada makanannya masing-masing. Wulandari nampak memindai wajah Kailani dan juga Arjuna. Yang sepertinya terlihat sama sama saling diam.

__ADS_1


Dari awal pernikahan mereka memang Wulandari sudah menyadari jika ada kecanggungan antara Arjuna dan Kailani.


Hal itu wajar, karena awalnya mereka adalah teman. Dan sekarang mereka tiba-tiba menjadi sepasang suami istri. Wulandari menyadarkan dan memahami jika mungkin mereka berdua perlu waktu untuk bisa saling menerima.


Tetapi makin ke sini, pasangan suami istri itu terlihat seperti semakin dingin saja. Seperti tidak ada peningkat hubungan.


Tentu saja itu membuat Wulandari curiga.


"Arjun, Kay, kenapa kalian sampai sekarang belum merencanakan untuk pergi bulan madu. Ambillah cuti beberapa hari atau beberapa minggu dan pergilah bulan madu." ucap Wulandari memecah keheningan.


Dan ucapan Wulandari langsung membuat Arjuna terkesiap.


"Nah betul itu, benar apa kata mama. Pergilah untuk berbulan madu. Sudah sebulan kalian menikah tapi kalian belum sempat bulan madu kan. Pergilah untuk bulan madu." imbuh Mario setuju.


"Tidak perlu bulan madu lah pa, ma. Pekerjaan kantor sedang banyak. Arjuna banyak urusan. Papa tau sendiri kan proyek yang ada di Bandung itu sudah berjalan. Belum lagi pekerjaan-pekerjaan yang lain juga sudah menunggu untuk Arjuna urus." Ucap Arjuna, yang sepertinya tidak ingin ada acara bulan madu segala.


"Kalian bisa saja kok untuk menunda proyek itu untuk beberapa hari. Dan tidak akan ada masalah dengan proyek Kalian ambil saja cuti dan untuk berbulan madu. Tidak apa-apa, itu bagus untuk kalian. Supaya kalian juga lebih bisa saling bertambah chemistry-nya. Kalian butuh privasi." imbuh Mario setuju.


Kailani hanya diam tidak menjawab. Dia tidak punya kata-kata untuk bisa mengimbangi perkataan sang mertuanya. Apalagi Arjuna sudah mengatakan jika mereka tidak butuh bulan madu. Lagian juga untuk apa bulan madu. Tidak ada gunanya, pikir Kailani.


"Bagaimana menurutmu Kay, kenapa kamu diam saja." ujar Wulandari, meminta pendapat Kailani tentang bulan madu untuk mereka.


"Sebenarnya apa yang dikatakan Arjuna ada benarnya Ma, Pa. Tidak perlulah kami pergi bulan madu. Karena bulan madu kemanapun sama saja. Paling kami hanya akan berada di tempat tidur." jawab Kailani asal. Dan hal ini sedikit membuat Arjuna tertawa kecil.


Apa yang kau tertawakan Arjun. Kau pasti sedang menertawakan aku kan. Meskipun kita misal mengambil bukan madu itu. Rasanya percuma saja. Karena kita juga tidak akan melakukan apapun. sergah Kailani, yang kala itu melirik ke arah Arjuna yang nampak sedang tertawa kecil itu.


"Tu kan, Kailani saja juga tidak mau bulan madu. Jadi tidak lah ada bulan madu segala Ma, Pa. Bukan madu kita cukup beristirahat di dalam kamar setelah lelah bekerja di kantor seharian." pungkas Arjuna.

__ADS_1


__ADS_2