
"Saya letakkan koper anda di sini ya. Jika ada yang anda butuhkan atau kalian minta bantuan. Anda bisa hubungi kami. Kami akan segera melayani anda. Kami ada dan siap 24 jam." jelas sang pelayan cottage.
"Oke," jawab Arjuna.
"Terimakasih dan selamat berbulan madu." imbuh lagi sang pelayan itu, kemudian ia membungkukkan badannya dan pamit pergi.
Arjuna dan Kailani sama sama terdiam. Sejak mereka saling pandang. Mereka sama sama membeku saat melihat sebuah rajang mewah yang ada di hadapan mereka. Yang sejujurnya membuat jantung dan hati Arjuna serta Kailani berdebar debar.
Pasalnya, rajang yang ada di hadapan mereka saat ini sangat sempurna untuk pasangan suami-istri yang sesungguhnya.
Sedangkan Arjuna dan Kailani, mereka hanyalah pasangan suami-istri palsu. Meskipun mereka menikah sah secara agama dan hukum.
"Aku benci ini." ucap Kailani, yang kemudian ia melenggang berlalu dari kamarnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Berlalu dari kamar, Kailani kemudian bergegas untuk menuju ruang bersantai yang ada di sisi kamarnya.
Saat melihat ada lemari pendingin di pojok ruangan. Kailani kemudian membuka lemari pendingin itu dan mencari sesuatu untuk bisa ia teguk. Untuk bisa menenangkan dirinya kala itu yang di landa bad mood.
Kailani sama sekali tidak menyukai liburan keluarga ini. Karena liburan ini tidak membuatnya bahagia. Tapi sebaliknya, ia justru tersiksa.
__ADS_1
Kailani lebih suka menghabiskan waktunya untuk bekerja dari pada liburan untuk saat ini.
"Liburan konyol, aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian berada di pulau ini daripada bersama Arjuna dan keluarga yang lain." gerutu Kailani.
Kemudian ia mengambil satu botol minuman kaleng dari lemari pendingin dan langsung meneguknya.
"Haus!" seru Arjuna.
Kedatangan Arjuna yang tiba-tiba mengagetkan Kailani.
"Jangan mengikuti ku. Tidak bisakah kamu nikmati sendiri waktu mu." ujar Kailani, sambil memegang minuman kaleng yang ada di tangannya.
"Jangan culas Kay, aku juga haus. Aku mau ambil minuman." ujar Arjuna yang kemudian ia juga membuka lemari pendingin dan mencari sesuatu di sana.
"Iya, aku sudah tahu itu. Tapi tetap saja liburan konyol ini membuat aku bad mood. Semuanya benar-benar membuat aku jengkel. Kenapa hanya ada satu tempat tidur di cottage semewah ini. Seharusnya mereka menyediakan dua atau tiga empat tidur. Sehingga kita bisa tidur terpisah. Aku tidak mau lagi tidur satu ranjang denganmu. Karena kita bukanlah suami istri yang sebenarnya. Jika di rumah it's oke kita bisa tidur satu ranjang. Dengan tetap menjadikan guling sebagai pembatas. Tapi di sini, bahkan mereka tidak menyediakan guling. Yang ada hanya bantal. Dan Jangan harap aku akan tidur di ranjang. Kalau kamu mau, ambil saja ranjang itu. Aku bisa tidur di sifa dan itu lebih baik buat ku." ujar Kailani panjang lebar, meluapkan sedikit kekesalannya.
Mendengar ocehan Kailani, hanya membuat Arjuna tersenyum.
Karena perempuan yang ada di hadapannya ini ternyata bisa juga bersikap judes.
"Aku yang akan tidur di sofa. Kamu akan tidur di ranjang. Mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa. Sudahlah, nikmati saja liburannya. Kita bisa menikmati liburan ini seperti kau menghabiskan waktu sendirian di pulau ini. Aku tidak akan mengganggumu. Dan kamu pun juga tidak akan menggangguku. Kita masing-masing saja. Sudah, nikmati liburan mu, aku mau mandi dulu. Badanku lengket." ucap Arjuna yang kemudian meletakkan minuman kaleng yang ia baru saja minum ke makan. Kemudian ia berlalu dari hadapan Kailani.
__ADS_1
Dan, Kailani pun menjadi semakin geram dengan sikap Arjuna. Karena dia semakin bersikap santai dan seolah-olah ia tidak punya beban.
Berbeda dengan Kailani. Yang belakangan ini semakin di buat kesal dengan sikap Arjuna.
Karena dalam pernikahan yang mereka jalani. Arjuna seolah olah sang pemegang kendali. Dia seperti yang berhak memutuskan harus begini dan harus begitu.
Padahal menurut Kailani, dirinya yang sangat di rugikan. Kailani merasa menjadi korban dari sebuah ambisi Arjuna untuk menerima pernikahan pura-pura mereka hanya demi menyenangkan hati orang tuanya.
Padahal, sejak awal Kailani menerima proposal perjodohan itu. Kailani tidak ingin berpura-pura soal menikah. Tapi ia ingin menjalani pernikahan dengan serius.
Tetapi setelah Arjuna menjelaskan bahwa pernikahan itu hanyalah pernikahan yang pura-pura setelah mereka resmi menikahi. Dan alasan Arjuna kala itu untuk menyenangkan kedua orang tua. Sontak saja hal itu membuat Kailani kecewa. Padahal niat Kailani tidak seperti itu.
Tapi Kailani bukanlah tipe wanita yang merendah ataupun memohon mohon.
Kailani memiliki prinsip, jika ia sudah ditolak maka dia tidak akan pernah memohon.
"Ya sudahlah, mungkin ini sudah nasibku. Aku akan menjadi seorang janda dengan status masih perawan." guman Kailani, yang merasa frustasi dengan apa yang ia hadapi saat ini.
Mencoba meluapkan kekesalannya. Kailani kemudian menatap keluar. Ke arah lautan yang terhampar luas di hadapannya.
Dengan menggunakan kacamata hitamnya. Wanita yang paras cantik itu keluar dari cottage dan ia mencoba untuk menikmati pemandangan yang tersaji di pulau tersebut.
__ADS_1
"Oke, seperti kata Arjuna. Nikmati sajalah liburan ini. Seolah aku sedang berada sendirian di pulau terpencil. Daripada frustasi memikirkan ke depannya membuat aku pusing."
Kailani kemudian berjalan-jalan menyusuri pinggiran pantai dan menikmati deburan ombak yang pecah ketika air ombak itu pecah di kaki telanjangnya.