
"Kay, kenapa melamun?" tanya Arjuna ketika mereka telah sama-sama berada di dalam mobil menuju pulang ke rumah pada sore hari kala itu. Saat Arjun telah menjemput Kailani.
"Tidak ada, aku sedang memikirkan pekerjaan. Pasti kamu juga tahu kan, perusahaan kita sedang menjalin kerjasama untuk pembangunan villa di Bandung?" ujar Kailani, memastikan jika informasi yang ia tangkap dari papanya tadi benar.
"Oh, soal pembangunan Villa itu. Iya...papa menyerahkan proyek itu padaku. Om Indrawan pasti juga menyerahkan proyek itu padamu kan?" tanya Arjuna mematikan.
Mendengar perkataan Arjuna barusan membuat Kailani tertawa kecil.
Untuk sejenak, Arjuna nampak mengerutkan dahinya bingung. Karena tiba-tiba saja wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya yang saat ini duduk di sampingnya di kursi penumpang bagian depan itu terlihat tertawa.
"Kamu kenapa Kau? Ada yang lucu?" tanya Arjuna penasaran, saat mendengar Kailani terkekeh.
"Entah ini lucu atau tidak. Tapi sejauh ini aku selalu menyebut papamu dengan sebutan Om, dan kamu pun sama. Kamu masih menyebut papaku dengan sebutan Om juga. Padahal kalau dipikir, Om Mario itu sekarang sudah menjadi papa mertuaku. Dan papaku itu adalah mertuamu. Seharusnya kau manggil papa ku itu papa, dan aku memangil papa mu juga papa. Tapi kita malah tetap asik memanggil mereka Om." jelas Kailani yang kembali terkekeh.
Mendengar apa yang dipikirkan oleh Kailani membuat Arjuna ikut terkekeh.
"Bener juga ya, itu sangat lucu sekali. Entahlah, sulit bagiku untuk memanggil papa, pada papamu. Aku sudah terbiasa memangil papa mu Om Indrawan." tutur Arjuna. Dan mereka pun kemudian sama-sama tertawa-tawa.
"Tapi kita harus belajar untuk memanggil mereka dengan sebutan papa. Saat kita sudah menikah, aku harus membiasakan lidahku untuk memanggil Om Indrawan itu papa. Dan kamu juga beberapa kali aku sudah mendengar memanggil papaku dengan sebutan papa."
"Entahlah, aku terkadang bingung dengan apa yang sudah terjadi diantara kita. Padahal sejak dulu sampai sekarang. Aku selalu menganggap mu teman. Tidak lebih daripada itu." tutur Arjuna, dan kata-kata Arjuna sedikit menggelitik perasaan dan hati Kailani.
Berarti kamu benar-benar tidak merasakan apapun tentang pernikahan ini Arjuna.
Bahkan kamu sampai detik ini masih beranggapan bahwa kita itu teman biasa. Padahal pada hakekatnya kita ini adalah sepasang suami istri. Yang sudah sah secara agama dan juga negara.
Tapi ya sudahlah, apa mau dikata. Kita memang berteman sejak dulu, bahkan sampai sekarang.
Dan saat sekarang kita sudah menjadi suami istri pun. Kita tetap bersikap sama.
Seperti apa yang kamu katakan. Kita harus tetep berakting. Sampai batas waktu yang telah kita bisa sepakati bersama.
Aku hanya bisa menyerahkan ini semua kepada Waktu.
Waktunya yang akan menjawabnya. Aku tidak mau ambil pusing dengan semua apa yang terjadi sekarang ini. Ucap Kailani membatin.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Empat puluh menit kemudian. Kailani dan juga Arjuna telah sampai di rumah besar, di rumah kediaman keluarga Utomo.
Sampai sejauh ini, papa dan mamanya Arjuna belum mengizinkan Arjuna dan Kailani untuk tinggal terpisah dengan mereka.
Itu karena Arjuna adalah anak satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga Utomo. Dan hal itu mengharuskan bagi Arjuna dan Kailani untuk tetap tinggal bersama mereka di rumah besar itu.
Sesampainya sepasang suami istri itu di rumah. Mereka sudah disambut oleh Wulandari mamanya Arjuna.
Rasa sayang yang dirasakan Wulandari terhadap Kailani membuat Wulan memperlakukan Kailani seperti anak perempuannya sendiri.
Bahkan jika diperhatikan, Wulandari cenderung lebih terlihat menyayangi Kailani daripada Arjuna. Sebab Wulan sudah kenal Kailani sejak wanita itu masih kecil.
"Anak-anak mama sudah pulang. Kalian cepatlah cuci tangan. Dan ayo kita makan malam bersama. Mumpung masakannya masih hangat." tutur Wulandari, menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Baik Arjuna dan Khairani pun hanya bisa menurut apa kata Wulandari.
Malam itu, mereka pun menikmati makan malam bersama dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan yang terlihat dari raut wajah mereka semua.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Menjalani rutinitas pekerjaan di kantor membuat keduanya lelah. Arjuna dan Kailani sama-sama memiliki jabatan penting di perusahaan. Sehingga banyak pekerjaan yang harus mereka urus.
Sama-sama melepaskan rasa letih dan lelah. Arjuna dan Kailani nampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Yang saat ini mereka sudah berada di dalam kamar.
Kailani memilih untuk langsung bersantai di atas tempat tidur setelah ia melepaskan blazer kerjanya.
Sedangkan Arjuna tengah bersiap untuk mandi.
Dan mereka selalu bergiliran untuk memakai kamar mandi.
"Mandilah Kay, agar badan mu segar." ucap Arjuna, setelah ia baru saja keluar dari kamar mandi sambil masih mengusap usap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Ya, sebentar lagi." jawab Kailani, yang masih asik dengan gadgetnya.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Kini, Arjuna dan Kailani sudah sama-sama tiduran di ranjang yang sama.
Biasanya, mereka akan menaruh guling di tengah tengah mereka sebagai penanda batas.
Dengan saling tiduran dalam posisi membelakangi. Baik Arjuna dan Kailani nampak sibuk dengan pemikiran mereka setiap malam.
Jika mereka sudah berada di dalam kamar dan berada di atas ranjang yang sama.
Arjuna yang saat itu tengah tiduran miring, nampak masih membuka matanya. Ia nampak berfikir dan memendam sebuah rasa.
Sebuah perasaan yang entah ia tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya yang sebenarnya.
Di lain sisi, Kailani pun melakukan hal yang sama.
"Arjun, apa kamu sudah tidur?" suara Kailani yang memecah keheningan, yang memanggil Arjun membuat Arjuna terkesiap.
Ia kemudian menoleh ke arah Kailani. Yang ternyata pada saat itu ia sudah terduduk dan tengah bersandar pada headboard tempat tidur.
"Ada apa Kay?" tanya Arjun dengan suara serak. Arjuna kemudian melipat kedua tangannya dan meletakkannya di bawah kepalanya. Sambil terus memandang ke arah Kailani. Arjuna nampak menunggu apa yang hendak di sampaikan pada dirinya. Karena Kailani telah memanggilnya tadi.
"Terimakasih karena kamu sudah menjaga semuanya. Sejauh ini, kamu juga tidak menyentuhku. Tapi bolehkah aku jujur padamu?" ujar Kailani, sambil menatap mata Arjuna.
"Jujur saja Kay, apa yang ingin kamu katakan dan ungkapkan pada ku." jawab Arjun lembut.
"Aku merasa terbebani menjadi seorang istri. Meskipun kata mu kita bisa saja berakting. Aku bisa saja menjadi istri yang baik dalam akting ku. Dan kamu juga bisa berakting sama sekali aku. Tapi entahlah, menjadi seorang istri yang sesungguhnya dengan status yang sudah resmi dan terikat ini membuat aku merasa terbebani. Dan semua itu sulit untuk aku jelaskan kepada dirimu. Apa karena itu kita menikah dengan cara yang resmi. Maksudku, janji janji dan akad itu semua tidak akting. Kadang itulah yang membuat aku merasa berat menjalani kepalsuan hubungan ini Arjun."
"Kamu pikir apa? Kamu mau, dan ingin kita menjalani pernikahan ini sungguhan? Jika maksudnya kamu seperti itu. Sudah sejak lama aku meminta hak ku pada mu Kay. Kau itu halal untuk ku. Tapi kan aku tidak berfikir seperti itu. Buktinya aku tidak menyentuh mu kan." ujar Arjun tegas.
"Kamu tahu sendiri kan. Pernikahan kita ini bukanlah pernikahan atas dasar suka sama suka. Atau kita saling mencintai. Kita hanya menjaga perasaan orang tua kita. Bukankah kita sudah pernah berunding jika suatu saat kita akan berterus terang kepada mereka." jelas Arjuna, mencoba untuk mengingatkan Kailani dengan kesepakatan mereka kala itu.
"Kita jalani saja seperti air mengalir. Dan kedepannya akan seperti apa kita hadapi saja. Sampai pada waktu yang tepat kita akan bilang pada mereka jika kita sudah tidak bisa bersama lagi dan kita bercerai. Pada saat itulah kita bisa hidup masing-masing kembali." tutur Arjuna.
"Sudah malam Kay, ayo kita tidur." ajak Arjun, kemudian ia kembali memiringkan tubuhnya dan nampak bersiap untuk benar-benar tidur.
__ADS_1