
"Kamu tahu sendiri kan. Pernikahan kita ini bukanlah pernikahan atas dasar suka sama suka. Atau kita saling mencintai. Kita hanya menjaga perasaan orang tua kita. Bukankah kita sudah pernah berunding, jika suatu saat kita akan berterus terang kepada mereka." jelas Arjuna, mencoba untuk mengingatkan Kailani dengan kesepakatan mereka kala itu.
"Kita jalani saja seperti air mengalir. Dan kedepannya akan seperti apa kita hadapi saja. Sampai pada waktu yang tepat kita akan bilang pada mereka jika kita sudah tidak bisa bersama lagi dan kita bercerai. Pada saat itulah kita bisa hidup masing-masing kembali." tutur Arjuna.
"Sudah malam Kay, ayo kita tidur." ajak Arjun, kemudian ia kembali memiringkan tubuhnya dan nampak bersiap untuk tidur.
Kailani yang saat itu masih duduk bersandar pada headboard tempat tidur. Hanya bisa menghela nafas dengan berat. Ketika ia mendengar penuturan Arjuna tentang arti pernikahan mereka.
Mungkin sebagai seorang perempuan, cara pikir Kailani berbeda dengan cara pikir Arjuna.
Arjuna menganggap pernikahan mereka adalah sebuah permainan. Pernikahan mereka hanya pura-pura. Meskipun pernikahan itu sendiri sejatinya terjadi secara resmi dan juga sah baik agama dan negara.
Cara pikir Arjuna yang menerima pernikahan mereka. Yang seolah-olah bisa dipermainkan. Sedikit menggelitik hati Kailani. Dan ia tidak sepenuhnya sependapat dengan cara pikir Arjuna.
Meskipun pada kenyataannya, Kailani memang sama sekali tidak ada perasaan terhadap Arjuna.
Pada awal-awal pernikahan mereka. Kailani juga sudah setuju dan kesepakatan untuk menjalani pernikahan mereka dengan pura pura.
Tapi semakin ke sini, saat pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih satu bulan. Membuat Kailani sedikit merasa ada sesuatu yang salah. Dengan kepura-puraan yang mereka yang berating menjadi sepasang suami istri yang bahagia.
Karena tidak hanya Wulandari sang Mama mertua yang selalu memberikan dia petuah-petuah dan nasehat-nasehat tentang pernikahan. Kailani juga sering menerima nasehat dari papa dan juga mamanya mengenai sebuah status pernikahan. Apalagi ia sudah berstatus sebagai seorang istri.
Dan terlebih, kedua orang tuanya dan juga mertuanya sudah memberikan Kailani kode. Jika mereka sudah sangat menginginkan kehadiran seorang cucu dari rahim Kailani. Dan tentu saja itu harus ia dapatkan dari Arjuna. Tetapi hal itu tidak mungkin terjadi.
Karena baik dirinya dan Arjuna sampai sekarang pun belum pernah bersentuhan sama sekali.
Meskipun mereka berada dalam satu kamar. Mereka tidak pernah bercampur.
__ADS_1
Dan bahkan, selama sebulan ini. Mereka juga tidak pernah saling bersentuhan.
Mereka benar-benar seperti seorang teman. Walaupun mereka tidur dalam satu ranjang.
Tidak ingin terlalu berlarut-larut dalam pikirannya. Kailani kemudian memposisikan tubuhnya untuk rebahan di sisi tempat tidur.
Ia meletakkan kepalanya di atas bantal dan kemudian menarik selimut sampai ke leher.
Mungkin cara pikir seorang wanita dan cara pikir seseorang pria itu berbeda.
Aku paham dengan apa yang dipikirkan oleh Arjuna.
Saat aku juga ingin sepemahaman dengan dirinya. Entahlah, jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku seolah-olah mengingkari pemikiran Arjuna. Tentang pernikahan yang kami jalani dengan penuh kepalsuan ini.
Apalagi saat mama Wulandari sudah membicarakan tentang hak-hak seorang suami. Dan juga kewajiban seorang istri.
Apakah salah, jika aku merasa sedikit berdosa. Karena aku tidak menjalankan kewajiban ku sebagaimana mestinya. Kailani mulai gusar.
Kenapa juga aku harus berpikir menjalankan kewajiban ku?
Sedangkan Arjuna saja tidak pernah meminta.
Dia saja hanya menganggap ku tidak lebih sebagai seorang teman.
Aduh, kenapa aku jadi berfikir terlalu jauh.
Tidak mau di buat resah dengan apa yang ia pikirkan. Kailani kemudian mencoba untuk memejamkan matanya dan beristirahat.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Pagi harinya
tok tok tok tok tok
Arjuna nampak penggedor pintu kamar mandi di pagi hari itu. Ketika ia ingin juga segera masuk ke kamar mandi. Karena perutnya sudah terasa sangat mulas.
Sedangkan Kailani sendiri yang saat itu belum selesai dengan kegiatannya di kamar mandi merasa tidak nyaman karena di buru buru oleh Arjuna yang sudah menggedor pintu kamar mandi.
"Kay, cepatlah sedikit! Aku sudah tidak tahan. Perutku sudah mulas sejak tadi.".seru Arjuna dari luar kamar mandi. Sambil memegangi perutnya.
Sedangkan Kailani yang saat itu masih menggosok giginya pun kemudian bersuara menjawab seruan Arjuna.
"Sebentar lagi aku selesai. Aku sedang menggosok gigi." ucap Kailani menjawab, yang saat itu masih belum selesai melakukan kegiatan menggosok giginya.
Dan ketika itu ia hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Cepat sedikit Kay. Aku sudah tidak tahan." ujar Arjuna lagi.
"Sebentar lagi Arjun. Bersabarlah."
Sedangkan Arjuna yang saat itu sudah tidak tahan lagi dengan sakit perut yang semakin lama menderanya.
Akhirnya membuat ia langsung menyelonong masuk saja ke dalam kamar mandi.
Saat Arjuna sudah masuk di kamar mandi. Barulah ia menyadari. Jika saat itu Kailani tidak sedang mengenakan pakaian.
__ADS_1
Ia hanya menutupi tubuhnya dengan selembar handuk kecil. Yang jika di perhatikan dengan seksama. Handuk itu hanya menutupi tubuh Kailani bagian atas. Sehingga paha mulus Kailani terexpose jelas. Begitu pula dengan bagian dada Kailani. Semua terlihat begitu jelas.
Dan, mata Arjuna sedikit terbelalak ketika melihat tubuh mulus wanita yang sudah halal baginya itu. Tapi ia enggan untuk mengakui bahwa dia adalah istri yang sesungguhnya bagi dirinya.