
I am a princess in the kingdom of Sasrah. Namun kehidupan ku bukan selayaknya seorang putri. Itu kesalahan besar apabila kalian mengira bahwa aku adalah seorang princess yang hidup dengan mewah dan kebahagiaan didalamnya.
Aku dijebak dan berc*nta satu malam dengan seorang pangeran, adik tiriku sendiri. Hingga membuat ku hamil.
Di suatu hari... Aku berjalan dengan tenang di lorong istana. Langkahan ya ku terhenti dikala adik tiri ku itu menatap tajam ke arah ku. Ia mendekati ku dengan aura dinginnya. Kemudian berdiri dihadapan ku, setengah meter dari posisiku sekarang.
"Anak ku.. dimana?"
Glek!
"A-anak siapa yang kau maksud! Kenapa kau bertanya kepada ku? kita ada hubungan apa?"Elak ku berusaha menghindar dan pergi dari nya
Namun dirinya langsung menarik tangan ku dan mendorong ku ke tembok. Matanya berubah menjadi tajam saat melihat ku dan ku lihat rahangnya mengeras menatap diriku.
"Aku tidak merasakan aura anakku didalam rahim mu. Kenapa kau membunuhnya!?" Bentaknya dengan mata melotot.
"Pelan kan suara mu! atau aku tidak akan mengatakan dimana anak mu berada." ucap ku.
"Sekarang katakan dimana anak ku.." ucap nya mundur dan menatap diriku dengan tegak.
"Sebelum itu, aku tidak menginginkan seorang anak dari mu." ucap ku memalingkan muka.
Plak!
"Bodoh! sampai kapan kau akan berpikir sempit?!" ucap nya dengan emosional yang besar menatap ku.
Aku menoleh ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak menginginkan anak dari mu karena wajar! Kau,bukan anak dari ibu ku! Kau hanyalah anak darah daging ayah ku..."
Plak!
"Seharusnya kau sudah beruntung karena bisa tinggal disini, Laura. Asal kamu tahu, tinggal disini bukanlah suatu hal yang mudah. Ibu mu, yang merupakan selingkuhan ayah ku hanyalah sampah! Jika bukan karena ku, kau tidak akan bisa tinggal disini!" ucap nya dengan penekanan.
"Ku berterima kasih karena itu, baik. Mulai sekarang, kau bisa mengusir ku dari istana. Aku tidak peduli dengan hidup ku yang menjadi gelandangan di luar sana, itu lebih baik daripada menjadi ibu dari anakmu brengsek!"
"Laura!" Joy mengangkat tangannya hendak menamparku kembali. Namun tangannya hanya sampai diatas angin saja, dirinya memukul tembok sebagai pelampiasan.
"Ingat, kau tidak akan bisa pergi setelah kau membunuh anakku!" ucap Joy sebelum pergi.
"Aku tidak peduli!!" Teriakku tapi tidak dihiraukannya.
Aku berdiri kemudian pergi ke kamar dan terisak di kamar mandi. Tamparannya tak keras, namun penghinaan dirinya terhadap ibuku yang membuat ku mati-matian tidak boleh menjatuhkan air mataku. Atau aku akan disebut lemah olehnya. Ku mengelus singkat perut ku. Sungguh, sebelum meminum pil kontrasepsi itu.. aku pun sudah berpikir berulang kali dan siap menerima semua konsekuensinya. Tapi mengingat Joy yang menginginkan anak dari rahim ku, membuat ku kembali merasa bersalah. Tak seharusnya aku mengugurkan nya.. lagipula dia adalah anak kandung ku.
Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Joy vampir brengsek itu membuat ku kehilangan kesucian dan seorang anak. Diancam nyawa ku selamanya tidak dapat melahirkan anak karena mengugurkan kandungan.
"Itu bukan kesalahan mamah nak..." ucap ku sebelum aku menutup mata di bath up.
***
Ketika aku bangun, nampak dengan jelas suara gemericik air di samping kanan dan kiri ku. Aku sayup membuka mata ku dengan pelan dan mengedarkan pandangan. Cahaya matahari.. dan air terjun? ada apa ini!?
Aku kemudian langsung terduduk dan mendapati tubuh ku sedang berada diatas batu yang besar. Tiba-tiba muncul seorang pria dengan mengusap air dari rambutnya keluar dari sungai air terjun ini.
Wajahnya bak pangeran dengan hidung mancung serta bibir yang tipis. Matanya yang besar menatap ke arahku. Matanya membesar dikala aku memandanginya tanpa kedip.
"Kau!" Dirinya langsung mengguyur tubuh ku dengan air kemudian dirinya menghilang setelah beberapa kedipan mata.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri setelah kehilangan dirinya. Ah itu tidak penting, yang penting dimana aku?apa aku dibuang dari kerajaan dan diasingkan? kenapa aku bisa berada disini?
Kaki ku menyentuh atas air dan melangkah ke tepi danau sembari berjalan keliling mencari jalan keluar dari hutan ini.
Tubuh ku, pakaian ku.. berbeda? tangan ku sangat mungil dan kaki ku juga kecil. Wajah ku...
"Hey!"
Aku menoleh dan menatap lelaki dengan perawakan tubuh besar menatap ke arah ku.
"Kau sedang apa disini? kenapa kau bisa bermain disini?" tanyanya.
__ADS_1
Aku?
Ia mengangguk. Aku mengedikkan bahu ku tidak tahu. Ia berjongkok menyeimbangi tinggi tubuh ku
"Dimana orang tua mu? apa kau punya keluarga yang bisa dihubungi?" ucap nya.
Aku menggelengkan kepala ku. "Apa kau bisu?" ucapnya dengan tertawa kecil.
"Aku tidak bisu. Aku malas berbicara dengan orang seperti mu." ucap ku.
Eh? ada apa dengan pria didepan ku ini. Dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Suara mu lucu sekali, bocah kecil."
Apa!!?
Aku masih terbengong dan tak sadar dirinya mengacak rambut ku dengan tangan besarnya.
Eh eh!!
Tubuh ku tiba-tiba mengambang dan dirinya mengangkat tubuh ku rupanya. Membawaku ke pelukannya.
"Kau baik-baik saja, hm? kenapa kau bisa bermain disini, ini sangat berbahaya kau tahu." ucap nya dengan mengambil baju nya.
Kemudian dirinya berjalan entah kemana. Aku masih mengedarkan pandangan ku di air terjun itu. Tepat ditengah sungai itu, aku tertidur diatas batu. Dan ini? kenapa badanku bisa sangat kecil!??
"Biarkan aku merawat mu sampai kau menemukan keluarga mu, ya?" ucap nya mengelus punggung ku sampai kepala ku mentok ke bahunya.
Apa apaan sih!??
Ku terus bergerak sampai suara pria asing terdengar kembali.
"Tuan.. apa yang anda bawa?" tanya nya.
Benar saja, lelaki yang menggendong ku ini mengangkat tubuh ku dihadapannya. Bibirnya ditarik ke samping membentuk senyuman pedofil.
"Kelinci baru.. pergi dan rawat dia sampai keluarganya ketemu." ucap nya menyerahkan aku di pria lain..
"Jangan tidak sopan. Jika kau masih mau selamat ayo ikut kami." ucap nya berjalan terlebih dahulu meninggalkan aku.
Aku berlari tapi sepertinya aku berjalan? semakin aku berlari semakin dirinya menghilang. Haishh aku menghentakkan kaki ku diatas tanah dengan kesal.
"Pfft.."
"Apa yang anda ketawai?" tanya ku.
Ia hanya menggeleng dengan senyuman. "Bocah.." ucapnya mengangkat tubuh ku dan menaiki kuda bersamanya.
"Tuan meminta ku untuk menjaga mu sebagai kelinci kecilnya. Baiklah, kurasa setelah kau besar akan ku goreng hidup-hidup dirimu." ucap nya.
Apa!!
"Jangan bergerak atau kau akan jatuh, entah darimana tuan mendapatkan mu. Kau lucu sekali!" ucapnya dengan gemas sepertinya.
Ia kemudian melajukan kudanya meninggalkan area hutan yang dipenuhi pohon dan akar yang merambat kemana-mana sudah. Aku lelah!
Ku rasa pria pertama yang ku temui tadi sudah berjalan terlebih dahulu. Kuda putih didepan terdengar nyaring suara langkahannya dari jarak dekat. Ku pastikan seseorang yang berada diatas kuda itu adalah seorang pria yang kutemui tadi.
"Apa dia seorang pangeran?" tanya ku.
"Tentu! dia pemilik kerajaan Hanz Leonie. Dia mempunyai wibawa yang kuat, tapi kau jangan mengusiknya. Atau kau akan kena tebas dalam sekali ayun." ucap nya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Aku tidak percaya." ucap ku.
"Dasar bocah, mana tau kau hal yang seperti itu." ucapnya.
__ADS_1
"Aku tau! aku hanya heran, jika dirinya adalah orang yang mempunyai wibawa kuat, kenapa dia memiliki bawahan seperti mu?" ucap ku.
"Hey, kau mengejek ku? bocah!" ucapnya memukul pantat ku.
WTF!?
"K-kau! pria mesum!"ucap ku.
"jangan berbicara lagi atau aku akan menjatuhkan mu nanti." ucap nya.
Aku terus menekuk wajah ku sembari menatap sekitaran. Pasar dan rumah warga sudah dilalui. Sekarang sudah sampai di gerbang istana kerajaan. Diatasnya tertulis aula utama istana Leonie.
"Dimana Hanz nya?" tanya ku.
"Kau melihat apa?" tanya nya turun dari kuda.
"Hanz..kau bilang dia pemilik kerajaan Hanz Leonie. Tapi papan itu hanya ada nama Leonie saja." ucap ku sembari menyentuh lengannya tuk membantuku turun dari kuda.
"Bocah berumur seperti mu mana tahu tulisan latin seperti itu!" ucap nya kemudian berjalan ke arah prajurit dan berbicara dengannya.
Nampak beberapa orang menatap ku, terlebih lagi seorang wanita datang dengan para pelayannya di belakang.
"Ji. Dia siapa?" tanya nya.
"Nona muda. Dia keponakannya pangeran Leon." ucap nya menghampiri ku.
"Keponakan ya." ucap nya menatap ke arah ku.
Aku kemudian tersenyum dan menyapanya. "Halo bibi..." ucap ku melambaikan tangan menyapa.
"Halo.." ucapnya dengan tersenyum.
Ia mendekati ku dan berjongkok menatap ke arah ku, hal yang sama seperti dilakukan oleh pria pertama tadi sewaktu di sungai.
"Siapa namamu?" tanyanya.
Aku terpengaruh kemudian melirik ke arah pria itu.. namun dirinya kebingungan dengan lirikan mata ku.
"A-aku.. Laura." ucap ku.
"Lau..la? la ga?" ucapnya seolah tak bisa mengucapkan huruf R.
"Oh gini bibi.. aku Laura, panggil saja Lala." ucap ku.
Mumpung masih bocah, tubuh ini kecil tak memungkinkan aku bisa mengajari wanita ini berbicara R kan? ucap ku dalam hati menatap ke arahnya dengan tersenyum paksa
"Nama mu lucu sekali.." ucapnya dengan tertawa pelan.
Aku menoleh ke arah pria itu yang juga sama, dengan menahan tawa memalingkan muka ke arah lain.
Sedangkan aku hanya nyengir saja. Kemudian wanita di depan ku ini berdiri dan menatap ke arah Ji.
"Dimana pangeran?" tanya nya.
"Pangeran berada di ruang baca, nona." ucap Ji.
Wanita itu mengangguk kemudian meninggalkan tempat. Bersama pelayan dan dayang mereka.
"Hey Lala, kemari." ucap nya.
Aku mendekat dan mendongak menatap nya, ia membungkukkan badannya dan mencubit hidung ku.
"Setelah masuk, berbicara akrab dengan yang lain. Jangan sampai mengacuhkan dan bertindak berlebihan dengan orang lain. Mengerti?"ucapnya.
"Iya.. paman. Tapi apakah aku terlihat seperti bocah nakal?"tanya ku.
"Tidak, kamu baik. Wajah mu juga imut, tubuh mu lucu sekali." ucapnya
"Tidak perlu seperti itu.." ucap ku memalingkan muka.
__ADS_1
"Ya sudah ayo masuk." ucap nya dengan tertawa.
Episode satu bersambung..