
Setelah kembali dari hutan. Lihatlah, banyak orang yang menunggunya pulang. Terlebih lagi pangeran Harry ikut untuk menunggunya sampai tengah malam.
Setelah turun dari kuda, Viola menghampiri ayahnya dan menundukkan badannya memberi hormat. Ia juga memberikan hormat kepada yang lain termasuk pangeran Harry.
“Kau dari mana saja? kenapa baru pulang sekarang?” tanya ayahnya.
“Berkeliling ...” ucap Viola pelan.
“Ah sudahlah, masuk dan istirahat! besok kau harus pergi dengan pangeran Harry menunjukkan hubungan mu di publik.” ucap ayahnya membuat Viola mendongak.
“K-kenapa di publik ayah? bukankah pernikahan ini sembunyi-sembunyi?” tanya Viola getar.
“Ayah tidak mau merahasiakan hubungan kalian. Sudah masuk sana,” ucap Ayahnya mendorong putri nya masuk ke dalam.
Setelah mendapatkan dorongan dari ayahnya. Viola terdiam sebentar ditempatnya, apalagi ini? hubungan di publik? Sakit rasanya mendengar keputusan ayahnya yang cukup harus dipatuhi. Viola tersenyum getir dan melewati para pangeran lainnya dengan berlari.
“Seharusnya anda tidak membiarkan Viola menangis, menteri.” ucap pangeran Ilham kepada Ayah Viola.
“Aku terpaksa melakukannya ...” ucap Ayah Viola yang seharusnya dikatakan olehnya untuk pangeran Ilham.
Tapi ia hanya diam ketika pangeran Ilham mengatakan itu. Mau tak mau pangeran Ilham pun pergi dengan helaan nafasnya. Dengan pangeran lainnya karena mereka tau mereka tak mendapatkan apapun dari ini ketika protes. Yang ada kasta mereka akan turun karena berani membantah ucapan ayah Viola tanpa unsur yang jelas.
Jangan tanya kenapa pangeran Ilham berani mengatakan itu. Ia adalah putra mahkota yang baru ditobatkan beberapa bulan yang lalu. Umurnya masih menginjak 25 tahun dan ia tak ada niatan untuk menikah dan memiliki selir disampingnya. Ia tidak tertarik dengan perempuan selain Cynthia, putri cantik yang sudah memiliki suami karens perjodohan. Bisa dibilang, pangeran satu ini belum move on dari putri Cynthia.
“Hamba pamit undur diri yang mulia ...” ucap pangeran Harry.
“Oh iya. Pakailah kuda putih milik putri ku, besok datanglah kemari pagi sekali. Oke,” ucap ayah Viola memukul pelan bahu pangeran Harry.
Pangeran Harry hanya mengangguk dan tersenyum. Sesuai perintah dirinya pun naik kuda putih milik Viola lalu pergi meninggalkan halaman kerajaan.
-
Disisi pangeran William. Dirinya tengah menulis sebuah puisi dengan tinta ditangannya diatas sebuah kertas. Ia baru saja mandi dan berfikir untuk melanjutkan puisi yang sempat tertunda. Entah apa yang membuat William berkeinginan menulis puisi sampai sekarang.
“Selesai.” Tersenyum tipis melihat Maha karya nya yang rapi.
Ia pun menggulung kertas itu dan memberikannya pita supaya tidak terbuka lagi. Ia berdiri, berjalan menuju ranjang nya setelah mematikan beberapa lampu kamarnya. Hanya tersisa lampu dekat kamar nya saja yang menyala.
William hanya merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa menutup mata. Entah kenapa pikirannya terus tertuju kejadian sore tadi. Ia tersenyum tipis dan tanpa sadar William tidur dengan terus tersenyum mengingat wajah merah padam Viola di hutan. Tanpa disadari oleh Viola, William juga baru pertama kalinya nekad melakukan nya dengan seorang gadis. Dan bisa dibilang keduanya baru melakukan First kiss.
Lain hal nya dengan Viola sekarang. Ia menjatuhkan dirinya di ranjang setelah mengganti gaunnya yang menyebalkan itu dengan baby doll. Ia mendengus di atas ranjang, pernikahan.. kenapa harus pernikahan?Ia benci pernikahan dini karena itu akan mengekangnya tanpa kebebasan seperti biasanya.
“Kenapa harus pangeran Harry sih, aaaaaaa!!!” teriak Viola frustasi didalam kamar.
Ia pun mencaci maki pangeran Harry hingga dirinya tertidur karena kelelahan. Sepanjang perjalanan dari siang sampai malam. Karena paginya ia gunakan untuk sarapan serta berdebat dengan ayahnya. Dan ia melupakan kejadian sore tadi dipikirannya karena pangeran Harry seorang. Sangking bencinya ia bahkan melupakan first kiss nya bersama pangeran William.
-
Keesokan paginya.
Srekk
Viola menggerakkan kepalanya ketika suara gorden terbuka. Benar, siapa gerangan orang yang berani menganggunya tidur? Viola menggertakkan giginya dan bangun duduk menoleh ke arah jendela. Dimana sudah ada pangeran Harry disana.
“Kau lagi!” ucap Viola terkejut.
“Selamat pagi.” ucap pangeran Harry tersenyum.
“Sejak kapan kau masuk ke kamar ku, Hah! Pergi!!!!” Bentak Viola mengusir pangeran Harry.
“Nona, tenanglah. Saya hanya membantu membangun kan mu, saja.” ucap pangeran Harry menatap Viola takut karena Viola sepertinya marah.
“Aku tidak suka pria masuk ke dalam kamar ku. Setelah bertahun-tahun hanya kau yang berani masuk! Dasar,” Viola marah dan langsung turun ranjang. hal itu membuat pangeran Harry mendelik dan berlari kabur keluar kamar yang masih dikejar oleh Viola karena membuatnya kesal dan marah.
“PANGERAN HARRY!!!!” Teriak Viola mengejar Harry dengan sekuat tenaganya.
“Aaaaaaaa tolooonggg!!!!” Teriak pangeran Harry juga kepada seisi rumah.
Pelayan yang kebetulan lewat dengan kegiatan sehari-hari nya terhenti karena melihat pangeran Harry dan Viola saling bermusuhan dengan saling kejar kejaran. Wajah panik pangeran Harry terlihat jelas dan wajah merah padam karena emosi di Viola pun terlihat dengan jelas. Karena kulit putih nya itu terganti dengan warna merah.
Kadang pangeran Harry bersembunyi dibelakang pelayan namun Viola langsung menarik pelayan itu dan hendak memukul pangeran Harry, Namun gagal, karena pria itu langsung berlari lagi mencari tempat aman disekelilingnya.
“Putri saya meminta maaf karena saya tidak tau. Damai saja, ya?” tanya pangeran Harry kepada Viola. Jarak mereka hanya dibatasi oleh sofa besar di tengah-tengah mereka. Viola ngos-ngosan tapi ia menatap tajam ke arah pangeran Harry.
Sebenarnya ia tidak se kesal ini, hanya saja melihat pangeran Harry dikamar ketika pagi hari membuat otaknya pecah dan membuat mood nya buruk seperti sekarang. Terlebih lagi ia mengharapkan pagi yang indah terbebas dari wajah pangeran Harry.
“Aku tidak akan melepaskan mu, Kemari kau!!!” teriak Viola lagi kembali mengejar pangeran Harry yang berteriak takut.
“Pangeran Harry!!” Teriak Viola hingga dirinya terkejut ketika lengannya ditarik sampai mundur ke belakang. Mentok di dada bidang pangeran Ilham.
“Jaga image mu putri.” Bisik pangeran Ilham.
“Kakak!!” Viola terkejut.
Pangeran Ilham pun langsung membawa Viola ke belakang tubuhnya. Eh? kenapa Viola yang dilindungi.
“Si s*tan k*parat itu menganggu tidur ku,” ucap Viola dengan tersirat amarah di pembicaraannya. Pangeran Ilham sempat terkejut dengan ucapan Viola.
“Ehm, maaf ... a-aku hanya kesal saja.” ucap Violla menundukkan kepalanya di ketiak pangeran Ilham. Ia merasa bersalah karens berbicara yang tidak pantas mengenai pangeran Harry. Pangeran Ilham hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan penyesalan adik kecil kesayangannya.
Para pelayan yang sudah puas melihat aksi pertengkaran di pagi hari pun hanya menggelengkan kepalanya kecil dan kembali berjalan meninggalkan mereka diarea. Karena pekerjaan lebih penting dari pada melihat dan menghabiskan waktu. Bisa-bisa waktu berharga milik mereka akan dipenuhi ceramah dari kepala pelayan yang terkenal galak. Namun bisa membuat mereka mandiri hingga bekerja profesional seperti sekarang.
Tak lama pangeran Harry membungkukkan badan hormat kepada pangeran Ilham.
__ADS_1
“Selamat pagi pangeran,” ucap pangeran Harry. Ilham hanya mengangguk saja menanggapi.
“Kenapa kalian ribut-ribut?” tanya pangeran Ilham.
“Saya hanya diutus untuk membangunkan putri oleh menteri, pangeran.” ucap pangeran Harry.
“Apa kau tau putri tidak suka diganggu kalau tidur?” tanya pangeran Ilham.
Pangeran Harry menggelengkan kepalanya. “Tidak.” ujarnya pelan.
“Putri ...”
“Aku tidak salah!” ucap putri Viola menatap tajam ke arah pangeran Harry.
Pangeran Ilham hanya menarik nafas nya dalam dalam dan menghembuskan nya secara perlahan melihat keributan pagi hari yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Karena mereka menjaga image nya masing-masing dan menjaga nama baik kerajaan. Jadi keributan semacam ini jarang dilakukan oleh mereka. Apa lagi sampai dilihat oleh para pelayan.
“Bersihkan diri mu dan turun untuk sarapan.” Suruh pangeran Ilham kepada Viola.
“Tidak perlu! aku makan dikamar saja.” ujar Viola kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
“Tenanglah, putri hanya marah. ayo sarapan,” ajak pangeran Ilham menghibur Harry yang terlihat terdiam dengan sikap Viola.
Pangeran Harry tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan berdua ke meja makan, disana sudah terlihat menteri yang menunggu mereka.
“Kemana putri? oh ya, suara apa tadi sampai terdengar disini? kau bertengkar dengan putri?” ucap ayah Viola.
"Hanya keributan kecil saja. Putri sarapan di kamar, ayah.” ujar pangeran Ilham kepada ayahnya.
“Maafkan hamba yang mulia, saya disini membuat keributan.” ucap pangeran Harry malu dan merasa bersalah.
“Hahaha itu benar ternyata..” tertawa senang. Karena pangeran Harry ternyata melakukan tugasnya dengan baik walau sempat bertengkar dengan Viola.
Pangeran Harry hanya tersenyum kikuk mendengar tawa ayah Viola dengan beberapa pangeran lainnya. kemudian pangeran Harry pun langsung duduk disana ikut sarapan.
Jangan bertanya se kesal apa Viola sekarang. Ia membersihkan dirinya hanya mengguyur tubuhnya saja dengan air shower kemudian menaruh wewangian di bak mandinya. Ia tiduran disana dengan menatap langit-langit.
“Kapan aku ikhlas dengan takdir ku, tuhan?” ucap Viola mengeluh.
Viola menutup matanya menikmati dunia. Hampir dia tertidur dikamar mandi apabila tak ada ketukan di luar pintu kamar mandinya.
Tok Tok tok
“Nona, sarapan anda.”
“Taruh dimeja!! Aku akan keluar sebentar lagi,” ucap Viola kepada pelayan.
“Baik.” ucapnya pelan yang masih didengarkan oleh Viola dan menata makanan dimeja kemudian pergi.
Kakinya berjalan ke arah meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan Hair dryer. Setelah menyisir rambut nya ia mengganti pakaiannya dengan dress panjang berwarna biru. Jangan lupa perhiasan sedikit, menambah kesan nya sebagai seorang putri kerajaan dan itu wajib digunakan di setiap kerajaan.
Ia keluar dan menatap sarapan itu datar. Ia hanya mengambil roti dengan makanan penutup puding. Ia tak berselera makan banyak hari ini dan hanya mengambil secukupnya makanan dimeja yang ia sukai.
Tok Tok Tok
Viola menoleh ke pintu dan berjalan pelan.
Klek
Viola mengerut menatap pangeran Harry yang sedang bersembunyi di belakang pangeran Ilham.
“Kamu lagi, ada apa!” Ketus Viola.
Pangeran Harry terlihat jelas memukul pelan bahu pangeran Ilham sebagai kode.
“Apa kita menganggu kamu, putri?” tanya pangeran Ilham memulai tujuan mereka datang.
Viola menggeleng. “Tidak kak. Aku baru saja selesai sarapan, ada apa?” tanya Viola.
“Begini. Ayah meminta kamu dengan pangeran Harry untuk menunjukkan hubungan kalian didepan publik.” ucap pangeran Ilham.
“Ah aku hampir lupa, sebentar lagi aku menyusul kebawah, kak.” ucap Viola.
“Baiklah,” ujar pangeran Ilham kepada Viola.
Pangeran Ilham pun pergi dari hadapan Viola. Viola menatap tajam ke arah pangeran Harry dan menunjukkan aura permusuhan kepada nya. Sontak saja pangeran Harry mendelik dan langsung terbirit-birit kabur.
Viola pun menutup pintu kamarnya mendengus. Ia melapisi kulit wajahnya dengan bedak dan lipstik sebagai pewarna bibir. Jangan lupa dirinya pun menunjukkan sulam alis hingga membuat wajah Viola nampak sehat.
Setelahnya ia menguncir rambutnya dengan kepang satu diatas. Dengan poni panjang yang ia biarkan tergerai dipinggiran wajahnya. Ia pun keluar dengan menggunakan jaket berbulu miliknya yang ia ambil dari ruangan pakaian.
-
“Apa-apaan ini!” Ayah Viola terlihat protes dengan gaya putrinya.
Ketika sampai didepan pintu utama dan bersiap berangkat tapi malah dihentikan oleh ayahnya membuat Viola kebingungan dan baru 'ngeh' apabila ayahnya tak suka menatap selera sederhana darinya.
Viola mendengus ketika Ayahnya mencopot kunciran rambutnya. Satu pelayan maju membawakan jepit rambut dan langsung disambar oleh ayahnya.
“Ayah....” ucap Viola merengek tidak suka ketika ayahnya merapikan rambutnya dengan gaya sesukanya. Padahal tadi adalah gaya sederhana tapi aura seorang putri masih nampak di dirinya. Dan ayahnya tidak setuju, dasar manusia egois. Batin Viola dengan kesal.
“Sudah. Sana pergi, pangeran Harry sudah menunggu mu diluar.” ucap Ayahnya setelah menatap rambut Viola sesuai ekspetasinya. Dan ia puas melihatnya.
Tak ada pergerakan dari putrinya membuat ayahnya menarik tangan Viola membuat Viola merengek manja kepada ayahnya. Jujur, ia tak suka kebanyakan rakyat menatapnya karna penampilannya.
__ADS_1
Dengan didampingi pangeran Harry, Viola menaiki kuda kesayangannya. Ia melambaikan tangannya kepada Ayahnya dan beberapa kakaknya.
Kemudian rombongan Viola pun meninggalkan area kerajaan. Mereka berputar - putar di beberapa kota bahkan desa mereka lalui dengan hening. Ah, lebih tepatnya hanya pangeran Harry yang berkomentar mengenai persawahan dengan beberapa petani disana membuat pandangannya segar. Dan Viola yang hanya diam mendengarkan, alias menahan kesal ucapan demi ucapan pangeran Harry.
Ia juga heboh ketika melihat sapi lewat membuat Viola lelah karena mendengar ocehan demi ocehan pangeran Harry yang tidak penting itu.
“Berhenti!” Teriak Viola kepada seluruh rombongannya.
Ia menoleh kepada pangeran Harry. Kemudian ia tersenyum getir menatapnya. Wajah polos sang pangeran Harry tanpa dosa itu.
“Pangeran, apabila kau tidak bisa diam akan ku tinggalkan kau disini. Mau?” ancam Viola merasa muak dengan pangeran kurang waras disebelahnya.
“Maaf, apakah aku menganggu mu?” ucap pangeran Harry.
Viola diam dengan malas. “Maafkan aku .. kau tidak bilang sedari tadi. Sudah 100kg kita berjalan dan kau baru bilang sekarang? Aku-”
“Intinya terlihatlah wibawa didepan masyarakat dan jadi calon suami ku yang baik, Ya. Aku tidak mau keluarga ku malu dengan sikap kanak-kanak mu,” ketus Viola.
Pangeran Harry mengangguk sumringah. “Tegakkan punggung mu, taruh kedua tangan mu dengan benar di tali kuda. Dan tatap ke depan dengan datar dan tunjukkan aura mu sebagai pangeran. Itu adalah tutorial kau mendapatkan aura kebesaran, mengerti?” ucap Viola.
“Mengerti.” ucap pangeran Harry.
Viola kembali melajukan kudanya ke depan melewati masyarakat yang tentunya sudah paham bahwa Viola dan Harry adalah pasangan yang akan menikah. Karena kebanyakan putri dan pangeran akan berkeliling terlebih dahulu memperkenalkan wajah calon mereka di hadapan masyarakat untuk kebaikan mereka.
Mitos nya dulu, ketika seorang putri dan pangeran akan menikah sebelum jalan-jalan mereka terpisah karena tiba-tiba ada orang yang tidak setuju dengan pernikahan mereka hingga mereka tumpah darah satu sama lain.
Dan sekarang mitos itu dipercaya sampai sekarang apabila seorang putri dan pangeran harus jalan-jalan untuk memperkenalkan calon mereka ke kota asal mereka masing-masing. Untuk mengetahui kesan rakyat apakah ada yang tidak setuju.
Dan mitos lain akan menganggap mereka mempunyai hubungan gelap karena secara tiba-tiba tanpa unsur yang mereka ketahui mereka menikah. Itulah mitos yang dipercaya dari kebanyakan kerajaan. Tapi beberapa kerajaan ada yang tidak percaya dan menikah saja tanpa peduli dengan ketidaksukaan masyarakat.
-
“Hah, aku lelah!” Gusar Viola di Cafe sebelumnya ia beristirahat. Tentu saja hari ini sama seperti kemarin ketika Viola berkunjung, para pembeli akan dibubarkan karena tidak mau mereka menganggu obrolan atau istirahat keduanya. Terlebih lagi ada seorang pangeran menambah kewaspadaan para bawahan untuk berjaga - jaga. Tidak peduli dengan mereka yang berani protes karena mereka pun mengusir mereka dengan secara halus. Tapi namanya musuh ya musuh, sebaik apapun mereka kepada musuh, musuh itu tidak akan pernah baik kepada mereka sebelum penyesalan tiba.
“Mau minum sesuatu?” tawar pangeran Harry.
Viola menggeleng. “Kau saja,” ucap Viola. Ia menatap ke luar dengan menopang dagu. Ia rindu bertemu dengan pangeran William di sini. Itu adalah alasan mengapa Viola sepanjang jalan hanya diam dan merasa bahwa pangeran Harry berisik. Dan itu juga salah satu alasan mengapa Viola ingin berkunjung 2× ke Cafe dengan harapan bertemu dengan William lagi.
Bagaimana William dan Viola bisa bertemu hari ini? sedang suatu kebetulan William lewat dan tiba-tiba diserang oleh bawahan musuh terbesar di kerajaan nya dijalan. Dan sekarang William entah kemana tanpa mau bertemu dengannya lagi.
Bersabarlah Viola, dia akan bertemu dengan mu kapan-kapan. Batin Viola dengan masih menaruh harapan dihatinya.
“Kau sedang melihat apa?” tanya pangeran Harry mengagetkan Viola hingga tubuh Viola terkejut.
“Ah kau ini mengagetkan ku saja! Aku tidak melihat apa-apa,” ucap Viola.
“Kau sedang pms?” ucap Harry menatap Viola.
Viola tertegun dengan ucapan pangeran Harry. “Ah m-maaf, habisnya aku tidak habis pikir kenapa kamu seharian marah-marah dengan ku. Apa aku ada salah?” tanya pangeran Harry kepada Viola.
Viola mendengar itu sontak tersedak ludahnya sendiri. “A-apa?” ucap Viola.
“Aku ada salah apa?” tanya pangeran Harry mengulangi pertanyaannya.
“Pangeran, apa kamu tersinggung?” ucap Viola menatap wajah murung Harry. Satu persatu rasa bersalah muncul dihatinya.
Harry menggeleng, ia diam. “Pangeran?” panggil Viola.
“Pangeran jangan diam, jawab..” ucap Viola mengguncang tangan pangeran Harry.
Viola pun menarik nafas. “A-aku.. sebenarnya... a-anu.. aku..” Viola meneguk ludahnya sendiri ketika ia tidak bisa menjawab ucapan Harry mengenai kejadian hari ini.
“Sebenarnya aku..”
“Ayo pulang, hari sudah sore.” ucap Harry dingin kepada Viola.
“Tapi pangeran, Aku-”
“Lupakan kejadian hari ini putri, lupakan aku tadi menanyakan sesuatu. Kita pulang sekarang,” Harry berjalan terlebih dahulu. Diikuti Viola dibelakang.
“Nanti malam kau harus bersiap-siap untuk ke kota ku. Karena besok aku akan memperkenalkan mu kepada rakyat ku.”
Hap
Membantu Viola duduk diatas kuda nya dengan tiba-tiba. Tanpa bisa berbicara apapun lagi karena tiba-tiba Harry duduk dibelakang Viola.
“Aku dan putri akan pergi duluan ke kerajaan kalian menyusul lah.” ucap Harry menunjukkan sikap nya sebagai pangeran sebenarnya.
“Baik!”
“T-tapi aku...”
“Kuda mu kemarin ku pinjam, ia membutuhkan istirahat karena seharian telah dipakai. Jadi kau bersama ku saat ini.” ucap pangeran Harry.
“Apa!? kau meminjam kuda ku?” ucap Viola dengan menatap Harry. Ia begitu terkejut sampai melebarkan matanya menatap wajah Harry yang dekat dengannya. Tapi Harry langsung menoyor dahi Viola menjauh dari wajahnya.
“Diamlah putri, jangan bergerak demi kenyamanan bersama.” ucap pangeran Harry kemudian melajukan kudanya dengan cepat membuat Viola memegang tangan pangeran Harry dengan erat.
Sepertinya tuhan menakdirkan mereka bersama, Harry dapat berdua dengan Viola akibat permintaan menteri alias ayah Viola kemarin malam. Yang meminta pangeran Harry untuk membawa kuda putih sebagai sarana transportasi perjalanan pulang. Jangan tanya dan heran mengapa Harry mau pulang dengan cepat setelah melihat Viola pulang dengan aman tanpa luka yang dilihatnya. Tentu saja, Viola menyembunyikan luka biru yang ia buat ketika sedang mengamuk di hutan. Lebih tepatnya di bagian kaki bawah lutut. Gaunnya yang panjang membuatnya beruntung untuk menutupi luka dikakinya.
Pangeran Harry ada urusan di kerajaan dan telah disampaikan kepadanya sejak siang. Melewati surat yang datang dari kerajaan nya, Tapi karena Viola yang belum pulang, membuat Harry tidak enak karena tidak izin dengan calon istrinya. Hingga terpaksa ia harus menunggu calon istrinya itu, dan tanpa diduga Viola datang tengah malam hingga Harry sempat dimarahin habis-habisan oleh kakaknya yang sangat tegas dengan urusan Kerajaan ketika sampai disana.
Bersambung
__ADS_1