
Ku terbangun disebuah kamar. Minimalis besar yang hanya bisa ditempati oleh tamu tamu undangan. Tak ku percaya aku akan tinggal disebuah istana dalam tubuh anak kecil ini. Sebenarnya aku berada dimana? sampai aku akan tinggal di sebuah istana asing. Dan ini.. abad ke berapa?
Kupandangi setiap sudut bahkan lukisan yang berada di dalam kamar tersebut. Sebuah pigora dengan gambar wanita didalamnya. Entah gambar siapa itu yang pasti dia lebih ke arah Mona Lisa. Hanya saja dirinya memakai hiasan di kepala.
Ku menginjak lantai dengan kaki telanjang ku, berjalan menuju kamar mandi dan menatap sebuah kolam yang besar. Kemudian aku mengambil air dan membasuh muka ku dengan air hangat dan berlalu keluar meninggalkan kamar mandi.
Berjalan keluar kamar karena perut ku sangat lapar, berjalan entah kemana sembari menatap sekitar. Beberapa pelayan menatap aneh ke arah ku mungkin bertanya tanya siapa aku. Tapi aku tidak bisa mengatakan nya, aku juga tidak tahu siapa diriku. dari mana aku berasal dan aku adalah anak siapa?
Kaki mungil ku berhenti disebuah kamar, lebih tepatnya sebuah pintu yang besar di hadapan ku. Hanya ada pintu itu dan ketika kaki ku hendak membuka pintu itu. Tangan ku ditarik dan menatap pria kedua yang menatap ku dengan alis mengerut.
"Apa yang kau lakukan disini?" ucapnya.
"Aku lapar paman.. di kamar aku tidak ad makanan." ucap ku dengan memelas.
"Kau bisa memintanya kepada pelayan, kenapa kau mau masuk ke dalam? apa kau tahu didalam ada rapat yang penting. Jika kau menganggu, pangeran akan kesulitan menghadapi pertanyaan tamu-tamunya." ucap nya.
"Mana aku tahu! yang aku tahu aku sedang mencari dapur, aku mau memasak!" ucap ku dengan kesal.
"Pfft-"
Aku menatap tajam ke arah Ji dengan bingung. Kenapa dirinya menahan tawa?
"Pelan kan suara mu dan ikut dengan ku!" ucap nya menggandeng tangan ku menuju dapur.
Dirinya terus berjalan dengan cepat dengan tangannya yang menarik diriku sampai disebuah pintu besar. Dirinya membuka dan menatap para koki yang sedang sibuk memasak. Dirasa sebuah cahaya masuk dari luar para koki itu kemudian menoleh dan menatap Ji kemudian membungkukkan badannya hormat.
Kenapa dia sangat dihormati? aku bahkan tidak bisa mengenalinya dengan baik. Kenapa mereka selalu tunduk kepada orang ini? ucap ku bertanya-tanya.
"Kau bisa memasak disini, dan ingat jangan kemana-mana sampai aku menjemput mu. Mengerti?" ucapnya.
Aku mengangguk. "Jaga dia dengan baik." ucap Ji mengacak rambutku kemudian keluar meninggalkan dapur.
"Apa anda membutuhkan sesuatu nona?"
Tubuh tinggi perawakan besar adalah seorang pria! di dagunya juga terdapat jenggot Hitam yang menyeruak memenuhi dagunya. Mana bisa dirinya memasak jika ada rambut di dagunya? bagaimana jika masakannya terdapat rambut mereka. Itu hal yang sangat menjijikkan bukan? Setiap koki di istana ku dulu semua koki wajib mencukur rambut mereka atau menutup rambut mereka. Jadi semua masakan tidak ada yang ribet dengan alasan rambut para koki. Tapi dulunya aku yang memasak seorang diri hehe...
"Nona?" ujarnya memukul punggung ku pelan. Hingga aku sadar dari pikiran ku
"Ah iya? a-ada apa? apa yang perlu saya bantu?" ucap ku spontan.
Para koki saling memandang satu sama lain. Kurang lebih jumlah koki di ruangan ini hanya tiga seorang. Dua pria dan satu wanita. Lama kelamaan diriku hanya bisa pasrah dan bisa diam menatap mereka. Dapur sebesar ini hanya berisi tiga orang? bahkan dapur ini dua sampai tiga kali lipat dapur istana ku dulu. Ternyata zaman sekarang kekayaan sungguh penting! Wajar saja, dibanding aku yang sendirian memasak dulu untuk kerajaan. Mending tiga orang satu sama lain membantu bahu membahu. Jika urusan mengantar makanan bisa kutebak para pelayan yang ada di ruangan sebelah..
"Aku lapar.. aku mau memasak." ucap ku dengan memelas.
"Nona bisa mengatakan anda ingin makan apa, biar saya buatkan." ucap koki perempuan.
"Aku tidak mau! aku mau membuat sendiri.." ucap ku.
"Tidak bisa nona, semua peralatan disini sangat berat untuk usia seumuran dengan dirimu. Kau akan jatuh atau terluka jika mengangkat benda benda disini." ucap nya lagi.
"Aku.."
"Lebih baik anda mengatakan apa yang anda inginkan, bisa kami buatkan sesuai instruksi anda." ucap pria satunya lagi.
Aku menghela nafas kemudian mengangguk saja. Karena aku tahu ada yang berbeda dari dunia ini, maka aku hanya mengatakan. "Terserah"
__ADS_1
Kemudian ketiga koki itu sibuk menyiapkan makanan dan minuman yang akan dimakan oleh ku menunggu mereka itu membosankan sampai aku mengetuk jari ku dimeja. Ku menoleh ke kanan dan ke kiri seolah memperhatikan setiap sudut dapur ini.
Mata ku memang sangat jeli dan mengatur strategi adalah sebuah kehebatan ku. Hanya saja aku sedikit kesusahan di umur ku Yang kecil. Stamina ku memang penuh dan jauh lebih sehat dibanding orang dewasa pada umum nya. Tapi usia ku hanya sekitaran 2-3 tahun saja hingga aku tak boleh banyak bergerak atau tidak beberapa tulang ku akan patah karena mereka masih tulang susu.
Tuk tuk tap tap tuk
Gelas dan piring sudah tersedia di meja bundar yang aku tempati tadi.
"Makanan sudah siap nona! silahkan anda nikmati.." ucap mereka serempak.
Aku berbalik badan dan buru-buru duduk diatas kursi. Kemudian menatap meja yang penuh makanan. Ketiga orang itu menatap ku dengan harapan di mata mereka.
"Kalian melihat apa! segera duduk bersama ku." ucap ku mengambil piring dan sendok.
"Tidak perlu nona, sekarang kami sibuk membuatkan makanan untuk para tamu pangeran. jadi anda bisa menikmati makanan seorang diri dan jangan menunggu kami." Mereka membungkukkan badan dan berpisah diri menyiapkan makanan sesuai bidang masing-masing.
Aku memotong daging sapi yang sudah di masak dengan memandang mereka.
Pria yang masih sedikit muda itu membuat makanan dessert dan makanan pencuci mulut. Perlahan ku pandangi seorang wanita yang sedang membuat makanan berat dan pria tua berjanggut itu.. adalah seorang koki yang membuat makanan pembuka dan minuman.
Setelah selesai aku menatap ke arah mereka dan berdiri di meja.
"Apa aku boleh membantu?" ucap ku. Tangan ku gatal sekali tolong! aku tidak bisa diam saja.
"Tidak perlu nona, biar saya bantu bereskan." ucap wanita itu melihat piring yang sudah bersih diatas meja.
Aku memandanginya dengan seksama. kemudian muncul ide yang terlintas di benak ku. Aku menatap mereka dan diam-diam mengambil buah yang sudah di cuci bersih di atas meja.
Memakannya. "Apa kalian punya sebuah tusuk?" ucap ku.
"Anda membutuhkan sesuatu?" ucap nya.
"Nona tolong jangan menganggu kami. Tak ada waktu banyak menyiapkan makanan untuk tamu." ucap koki itu. Wanita, koki wanita yang hanya berbicara banyak dengan ku. Para lelaki itu tak menggubris ucapan ku!
"Kalau begitu aku keluar saja.." ucap ku turun dari meja.
"Ada tusuk nona, ini bermain lah.. tetap disini saya mohon." ucap wanita itu.
Aku mengangguk dan kembali naik ke atas meja. Aku pun menyeret piring dan mulai menusuk satu persatu buah dan ku letakkan di atas piring. Blueberry, nanas, ceri dan semangka yang berbentuk bulat ku tusuk menjadi satu dalam 4 varian rasa.
"Jangan mengganggunya.. biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Atau tuan Ji akan memecat kita kau tahu.." bisik wanita itu ketika melihat rekannya menatap ku tidak suka.
Akhirnya dia pasrah dan melakukan pekerjaan lain. Ku melirik jus jeruk yang telah siap diletakkan tak jauh dari ku.
"Itu jus apa?" tanya ku menatap Koki janggut itu.
"Jus jeruk nona.. anda ada bagiannya. Jangan mengambil yang itu ya.." ucap nya.
"Oh." ucap ku.
Aku tetap menusuk buah dan membentuknya layang-layang di atas piring. Setelah ku pandangi nampak rapi dan bagus. aku kemudian mengambil coklat yang entah mereka lupa atau bagaimana di atas meja. Kemudian menempelkannya pada bagian sisi atas pinggiran pada gelas. setelah itu menempelkannya buah-buahan diatas coklat itu dan ku lakukan berulang.
"Astaga nona!" Pria janggut itu terkejut menatap ku.
Rekan koki yang lain pun membalikkan badan menatap ku.
__ADS_1
"Apa yang telah kau lakukan? kenapa kau menghancurkan usaha kami..." Pria Jenggo itu menarik tubuh ku menjauh dari gelas gelas dan meja.
Wanita dan pria muda itu malah berbisik dan menatap ku dengan pandangan kesal.
"Jangan menganggu kami!" ucap pria jenggot itu.
"Ada apa ini?" Ji datang dan menatap kerusuhan yang telah terjadi karena ulah ku.
"Paman... paman..." ucap ku memeluk kakinya dan menyembunyikan tubuh ku dibalik nya.
"Ada apa ini? apa yang terjadi?" tanya nya menatap pria jenggot itu.
"Nona muda merusak makanan yang telah kita siapkan untuk perjamuan tuan. Kami tidak tahu dan ceroboh, maafkan kami!" ucap pria janggut itu.
"Apa yang dikatakan mereka itu benar?" tanya Ji kepada ku. Aku menggeleng dan mengusap wajah ku di pakaiannya.
"Lagian dia masih kecil, cepat lanjutkan buatkan makanan atau kalian akan di hukum!" ucap Ji.
"Baik!" mereka pun kembali melakukan tugasnya.
Ji menarik tangan ku dan berjongkok menatap diriku.
"Aku hanya menyuruh mu untuk memasak disini.. kenapa kau menganggu mereka." ucap Ji.
"Aku tidak menganggu! aku hanya membantu, aku tidak bisa tahan diam diri di kursi menatap mereka yang memasak." ucap ku dengan terisak. Suara ku berat melirik mereka yang bekerja, kemudian menekuk wajah ku menyesal.
"Tidak apa-apa, sudahlah jangan menangis." ucap nya mengusap air mata dan merapikan pakaian ku.
"Tuan! gelas di dapur sudah habis, bagaimana kita menggantikan gelas-gelas ini?" ucap wanita itu kebingungan.
"Apa? stok di gudang apakah sudah tidak ada?" ucap Ji mendekat ke meja.
"Tidak ada tuan. Kami sudah menyuruh orang kesana, tapi semua gelas juga sudah di sewa ke kerajaan." ucap Wanita itu lagi.
"Hahhh.. ya sudah kalian coba bawakan minuman ini ke perjamuan. Jika ditanyakan kalian bilang menu baru di istana. Dan ingat, jangan mengatakan apapun mengenai Lala." ucap Ji.
"Baik tuan." ucap wanita itu.
Kemudian wanita itu pun menyerahkan nampan yang berisi menu untuk perjamuan kepada pelayan.
Ji mendekati ku dan menarik tangan ku keluar dari dapur. Ku pandangi ketiga koki itu yang sibuk menyerahkan dessert menu makanan kepada pelayan.
Setelah selesai, dua koki itu duduk di kursi dengan mengibaskan tangannya seolah kelelahan sembari mengusap keringat dengan kain.
"Heh, dimana buah mainan nona muda? Apakah terbawa?" ucap koki pria muda itu yang tengah terhenti aktifitas nya karena kehilangan buah yg sudah dibuatkan oleh ku tadi.
"Sudah jelas-jelas buah itu ada disini tadi!" ucap nya geram
"Gila jika sudah sampai di aula!" ucap pria Jenggot itu panik.
"Aku akan pergi menghentikan pelayan." ucap pria muda itu melepaskan penutup rambutnya.
"Hey tunggu..." ucap wanita itu.
"Sudahlah, apabila mencegahnya juga tidak bisa. Lagian kita harus mencegah buah itu.." ucap pria Jenggot itu yang sudah berumur.
__ADS_1
"Mencegah apanya.. konspirasi buah itu juga sangat baik dan bagus. Aku hanya khawatir dirinya berbuat kesalahan di aula karena mengkhawatirkan buah itu." ucap wanita itu pergi meninggalkan pria jenggot tersebut.
Episode kedua bersambung...