KUMPULAN CERPEN REMAJA

KUMPULAN CERPEN REMAJA
CERPEN #14 PELAYAN WANITAKU


__ADS_3

Leo alfard. Pengusaha kota yang terkenal dengan usia mudanya bisa menaungi banyaknya perusahaan membuat dirinya disegani dan menjadi inspirasi bagi pemuda dan pemudi ditahun ini. Peningkatan kepopuleran ditahun ini disebabkan oleh kehebatannya dalam meeting dan berbicara beberapa bahasa dengan rekan bisnisnya.


Beberapa bahasa sudah ia kuasai tahun ini, diantaranya bahasa Mandarin, China, Arab, Indonesia, dan Inggris. Tentu saja pengusaha sepertinya patut dijadikan apresiasi bagi pemuda-pemuda yang ingin sukses sepertinya.


Leo berjalan dengan membawa berkas ditangannya. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Dirinya benar terlambat karena tadi terjebak masalah dengan seorang perempuan dijalan. Dirinya langsung menaiki lift dan menunggu didalam lift itu dengan gelisah.


Meeting room dilakukan pada pukul 8.30 pagi. Namun, seharusnya Leo sudah sampai setengah jam sebelum meeting dimulai. Namun karena seorang wanita berhasil membuatnya bertekuk lutut dan mengalah. dan tidak menjadikan Leo sebagai seorang lelaki yang mengalah kepada perempuan, hanya menjadikan dirinya mempersingkat waktu saja hari itu.


Brak!


Semua orang menoleh ke arah pintu, Leo mengatur nafasnya dan memberikan hormat kepada mereka semua. Sontak mereka berdiri dan membungkukkan badannya.


Sang sekretaris sudah ada menggantikan dirinya, menganggukkan kepala nya kepada Leo ketika dirinya sudah ada di kursi nya sendiri.


"Maaf atas keterlambatan ku hari ini, meeting boleh dilanjut. silahkan." ucap Leo. Pada sekretarisnya, Josen.


Josen mengangguk dan kembali menjelaskan bisnis yang akan segera dibuka sebagai tempat wisata di salah satu daerah yang keindahannya bisa menarik warga asing tuk datang. Memanfaatkan keindahan alam untuk memperolah uang ialah bisnis yang sedang dijalankan oleh Leo.


Sebijaksananya Leo ketika menyampaikan pendapat, dan langsung disetujui oleh kepala devisi karena menarik dan mudah dipahami tanpa berpikir keras.


"Makanan pokok pada restoran ini juga harus segera dikembangkan. Bagi siapapun yang ingin masuk lomba memenangkan pilihan makanan terbaik untuk restoran, dirinya akan diberikan kesempatan memegang restoran itu selama lima tahun. Sekian dari saya, semoga kita dapat bekerja sama. Dan bagi yang tanya silahkan menghubungi sekretaris saya. Terima kasih." ucap Leo membungkukkan badan.


Prok Prok Prok


Tepuk tangan terus terdengar keras sampai Leo menghilang dari balik pintu. Leo meregangkan dasinya dan menghela nafas masuk ke dalam ruangannya.


Sekretaris Leo, Astrid datang dan memberikan data anak magang yang ingin masuk pada perusahaan.


"Maaf tuan, saya mengantarkan berkas yang anda minta kemarin. Ini datanya." ucap Astrid.


"Baik, kamu boleh pergi. Untuk sementara, tunda pendaftaran anak magang. Karena saya masih harus fokus pada bisnis yang akan dijalankan dalam waktu dekat ini." ucap Leo.


"Baik. Saya akan mengatur ulang jadwal untuk anda." Astrid membungkukkan badan dan keluar dari ruangan Leo.


Leo menggeser tumpukan data dari calon anak magang perusahannya. Dan membuka laptop melihat email. Ditengah kesibukannya, Leo mendengar ponselnya berbunyi panjang.


Ia langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Halo?"


"Leo!! Kau kemana sajaa, cepat pulang. Dasar anak durhaka, hari ini kau harus menemui calon istri mu kan? kau lupa!" ucap seorang wanita paruh baya disebrang.


"Maaf Bu, aku akan menemuinya nanti sore. Aku janji, tunda pertemuan pagi ini dengannya."ucap Leo memelas.


"Ok,karena kamu sudah berjanji maka ibu akan memohon untuk dirinya datang dan menunggu mu nanti sore. Awas jika tidak datang." ucap ibu Leo di ujung.


"Baik.." ucap Leo.


Tut


Panggilan di selesaikan membuat Leo menggelengkan kepalanya dan menekuk lengan kemejanya.


Tok tok tok


"Maaf tuan, anda ada pertemuan dengan klien sekarang." ucap Josen.


"Baiklah." ucap Leo.


"Hari ini aku minta kosongkan jadwal ku untuk nanti sore. Jika ada pertemuan dengan klien hari ini, minta segera bertemu dengan ku di perusahaan atau tempat sesuai janji." pinta Leo kepada Josen.


"Baik." ucap nya.


"Tuan, anda harus menandatangani berkas ini dulu supaya disetor ke kepala devisi art." ucap Astrid.


Leo segera menandatangani berkas dimeja Astrid.


"Hanya ini kan? apa ada yang lain?"


"Nanti akan saya simpan diruangan anda. Saya harap hari ini anda harus menandatangani semua berkas. Karena itu mengarah ke kelancaran proyek kita tuan." ucap Astrid.


"Baik." ucap Leo.

__ADS_1


Kemudian Josen dan Leo menuju lift dan segera menuju lobby.


"Tadi pagi kenapa anda sampai telat tuan?" tanya Josen di lift.


"Hanya masalah kecil dijalan." ucap Leo singkat.


"Saya harap anda tidak apa-apa, apakah ada yang rusak atau anda terluka?" tanya Josen.


"Tidak." ucap Leo menarik ujung jasnya menutupi lengannya.


Josen mengangguk walau sebenarnya tahu ada yang disembunyikan dibalik bajunya. Kemudian lift terbuka dan mereka berdua segera keluar perusahaan untuk bertemu dengan klien.


Tanpa disadari oleh Leo karena berbicara banyak dengan Josen sepanjang perjalanan menuju mobil.


wanita yang tadi membuat masalah dengan Leo di jalan memandangnya dan segera memanggilnya.


"Hei tuan sombong!!" ucap nya.


Leo mengerutkan dahinya. Ia seperti mengenali suara yang nyaring itu.


"Mungkin hanya anak perusahan tuan. ayo, kita sudah terlambat." ucap Josen.


Leo mengangguk. Tapi lagi-lagi suara itu berteriak seolah menyuruh dirinya berbalik badan dan menatap seorang perempuan. Benar saja, Leo langsung berdiri tegak seolah menatap wanita itu dari ujung kaki hingga rambut dengan tajam.


"Kau! sedang apa kau kesini?" tanya nya.


"Maaf nona, anda tidak berhak berteriak kepada atasan. silahkan anda pergi atau--"


"Atau apa hah? kau mau melaporkan ku? mengusir ku? heh, tanya dulu pada orang yang kau sebut atasan itu. Dirinya menghamili seorang perempuan tapi tidak mau mengaku, Cih." ucap nya seketika membuat Leo kaget.


"Hey nona, kau siapa? jangan membuat masalah dengan saya." ucap Leo.


"Kau mengelak? ohhh, kau takut ketahuan ya? Hahahaha... sayangnya aku sudah berbicara." ucap nya setengah mengejek Leo. Tersenyum dan mencodongkan badannya.


"Tuan bagaimana ini, kita sudah sangat terlambat." ucap Josen menatap jam tangan.


"Kita pergi saja, jangan ladeni orang gila sepertinya. Ayo." ucap Leo buru-buru ke mobil.


Walau wanita dibelakang Leo itu tetap mengoceh namun tetap saja, setelah masuk ke dalam mobil mereka berdua meninggalkan perusahaan. Membuat wanita tadi marah setengah sadar.


"Awas saja kalau ketemu." Mengibaskan tangannya songong dan menuju lobby untuk berbicara mengenai pekerjaan.


***


"Maaf atas keterlambatan saya, dan terima kasih karena anda mau menunggu. Saya janji akan memberikan keuntungan dua kali lipat kepada Mr.Dani." ucap Leo.


"No problem, anyway mengapa wajah sekretaris anda menekuk?" ucap Mr.Dani.


Leo terdiam dengan ucapan Mr.Dani. "Maafkan saya tuan," Josen membungkuk kepada Mr.Dani dan Leo.


"Mungkin tanggungan perusahaan, sudahlah. Saya juga ada pertemuan lagi, say good bye untuk mu Mr.Dani." ucap Leo.


"Good bye." ucap Mr.Dani melambaikan tangannya dan tersenyum.


Diluar ruangan..


"Lainkali usahakan untuk segera mengatur mood mu dan wajah mu sebelum bertemu dengan klien. Jangan membuat ku malu, Josen." ucap Leo melirik ke arah Josen yang hanya menundukkan pandangannya.


"Iya tuan, maaf." ucap Josen.


Leo mengangguk. Di lift mereka saling diam dengan Leo yang sesekali terdengar mengetik di ponsel dan Josen dengan pikirannya.


Hingga sampai kembali di perusahaan, Leo dibuat terkejut dengan wanita yang tadi marah di perusahaan memperhentikan mobil Leo dengan seorang anak kecil yang berlumuran darah di gendongannya.


"Wanita itu.."


"Biar saya tangani tuan." ucap Josen.


Leo membiarkan Josen keluar dan berbicara dengan wanita itu beberapa saat. Karena menurut Leo lama, hingga membuat Leo bermain ponsel sembari mengecek email nya.


Ceklek

__ADS_1


Brak!


Leo kaget dengan wanita di sampingnya. terlebih lagi wajah wanita itu juga sama terkejutnya dengan dirinya.


"Kakak...." Leo menundukkan pandangannya ke arah anak kecil itu.


"Sabar Celly, kita ke rumah sakit sekarang ya? saya tidak ada waktu lagi, tolong antar saya ke rumah sakit. Adik saya.."


"Baik, Josen ke rumah sakit." potong Leo memandang wanita di sebelahnya tanpa kedip.


Josen mengangguk dan menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Diperjalanan wanita di sebelahnya itu sudah berantakan dan memeluk adiknya sambil menangis. Sesekali ia juga memperhatikan jalanan dan menyuruh Josen agar lebih cepat lagi mengendari mobil.


"Dia..." ucap Leo pelan menatap gadis kecil itu yang terengah-engah bernafas.


Hiks hiks, bertahan Celly.


Hanya itu yang terus di dengarkan oleh Leo. Leo memalingkan mukanya ke arah lain, tidak menunjukkan wajah iba nya ke siapapun.


Ckiittt..


Wanita itu segera membuka pintu dan lupa menutupnya. Ia langsung berteriak dan seorang suster membantu membawakan ranjang untuk adiknya. Dan mereka berdua pergi meninggalkan Leo dan Josen sampai menghilang dari pandangan


"Bagaimana ini tuan?"


"Kita tunggu dia disini saja." ucap Leo menutup pintu mobilnya.


Josen mengangguk. Leo dan Josen sama-sama sedang bergulat dengan layar ponsel mereka masing-masing. Josen yang sibuk menghubungi klien hari ini, dan Leo yang sibuk membenarkan berkas yang di kirim dari sebagian orang perusahaannya.


Hingga pukul 13.00, Josen menatap jam tangannya dan menatap ke arah pintu rumah sakit. Tak ada tanda-tanda kemunculan seorang wanita yang tadi diselamatkan oleh mereka. Wanita itu belum bilang terima kasih dan entah kenapa Leo rela menunggunya sampai siang ini.


"Tuan, ini sudah siang. Satu jam lagi kita akan bertemu dengan tuan Ferdi di restoran Xc. dan anda belum sarapan, Bagaimana jika saya membeli sesuatu untuk anda dulu?" tanya Josen menatap Leo dari kaca spion.


Leo mengangguk. "Pergilah." ucap nya.


Josen pun keluar dari mobil dengan menggunakan kaca mata hitamnya dan mencari sesuatu untuk makan siang. Sementara Leo terus menghubungi beberapa klien yang meminta tolong untuk meminjam dana kepadanya. Jelas saja Leo membantu mereka, karena ia juga pernah di posisi orang-orang yang membutuhkan dana untuk perusahaan kecil seperti mereka. Perusahaan Leo berjaya karena kerja keras dan tingkat kepercayaan dirinya dalam meminjam uang di bank maupun di rekan kenalannya. Hingga dirinya bisa mengganti uang mereka dengan cepat sebab bantuan mereka.


Tak lama ketika Leo keluar karena bosen di dalam mobil sembari berbicara di ujung telpon. Wanita itu datang dengan wajah pucat menghampirinya.


"Tuan, apakah anda menunggu saya disini daritadi? maafkan saya dan terima kasih." ucap wanita itu membungkuk sopan membuat Leo membalikkan badan dan menatap wajah wanita itu.


"...."


"Aku akan menelpon ibu nanti." ucap Leo memutuskan sambungan.


"Adikmu tidak papa?" tanya Leo.


Wanita itu menggeleng, tersenyum getir. Leo menatap kasihan ke perempuan didepannya.


"Aku akan meminta sekretaris ku mengurus administrasi." ucap Leo.


Wanita itu menggelengkan kepalanya, sebulir air mata menetes kemudian mengusapnya, tersenyum menatap Leo.


"Tidak usah tuan. semua sudah saya urus, sekali lagi terima kasih." ucap nya.


"Tidak usah sungkan, aku--"


Hiks.. hiks


Wanita itu menatap ke samping dengan menundukkan badan menutup wajahnya dengan tangan. Leo mengambil sapu tangan di sakunya dan memberikannya kepada wanita itu.


"Tuan." ucap Josen datang.


Ia menatap wanita didepannya itu dengan bingung mengapa menangis?


"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Josen memegang pundak nya.


Leo menarik tangan Josen dari pundak wanita itu dan menggelengkan kepalanya. Josen mundur tapi wajahnya tetap melekat ke gadis itu


Bruk!


"Nona..." Teriak Leo dan Josen bersamaan.

__ADS_1


Episode akan dilanjut ke part #2...😁🙏


__ADS_2