
(4754 kata!)
Alexa Gavanza Petir eorang perempuan berparas cantik dengan body yang tak kalah dengan artis lainnya. Kulitnya yang sehalus sutra membuat dirinya memiliki garis keturunan orang tuanya. Menjadikannya seorang model terkenal yang sedang naik daun di dunia entertainment.
Alexa sendiri merupakan anak pertama dari sepasang kekasih yang bernama Jonathan Petir dengan Hamza Gavanza Petir. Adik keduanya bernama Viola Gavanza Petir dan adik ketiga nya bernama Hanna Gavanza Petir.
Alexa sendiri kini sudah berusia 25 tahun dan menduduki dunia permodelan setelah 7 tahun lamanya. Impiannya terwujud ketika paras nya berubah waktu umur 18 tahun yang menduduki bangku SMA.
Sedangkan Viola berstatus sedang kuliah di Jepang cuman cuti dikarenakan hari lahirnya yang saat ini mendekati sehingga dirinya pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan keluarga besarnya.
Sedangkan Hanna masih menduduki bangku SMP, putri paling terakhir yang biasanya disebut anak bungsu. Paling disayangi oleh Hamza dengan Jonathan.
Keesokan paginya...
Setelah merayakan hari ulang tahun Viola yang dihadiri beberapa rekan bisnis terdekat Jonathan. Teman dekat Hamza dan beberapa orang tua teman Hanna dan Viola. Akhirnya acara sudah selesai malam harinya.
Dan sekarang setelah sarapan bersama, Jonathan mengumpulkan semua anggota keluarga nya yang menempati rumah mewah itu di ruang kerjanya.
Termasuk Alexa yang memang menghadiri acara birthday Viola kemarin malam yang saat ini terpaksa menginap karena kemalaman membuatnya masuk ke acara rapat besar kali ini.
Dengan malas Alexa bersandar di sofa dengan adik keduanya. Ia memang tidak dekat dengan kedua orang tuanya dikarenakan dirinya yang selalu di tuntut mengalah kepada kedua adiknya memutuskan untuk pergi dari rumah dan memilih tinggal di apartemen nya.
Hanna tidak ikut acara meeting kali ini, ia secara mendadak dikabarkan harus ikut PTM sekolah.
"Apa sudah terkumpul semuanya?" ucap Jonathan yang baru saja masuk tanpa melihat mereka.
"Kalau bicara matanya kesini dulu pah. Jangan hape mulu yang dilihat." Ujar Alexa yang langsung membuat Jonathan melirik ke anak pertamanya itu.
"Sudah sudah, Alexa perhatikan nada bicara mu itu. Papah juga memiliki kepentingannya sendiri kan." ucap Hamza melerai.
"Aku yang setiap hari sibuk gak pernah megang hape kalau dekat sama keluarga. Pengertian kan? gak kayak papah." ucap Alexa.
"Alexa!!" ucap Jonathan.
"Udah sudah pah! jangan membentak Alexa gitu, ini kan mau rapat. Jadi canggung nanti suasananya." ucap Hamza menasehati Jonathan suaminya.
Jonathan menghela nafas kasar. Kemudian dirinya kembali menatap ponselnya sembari mendengarkan Hamza yang menasehati Alexa.
"Alexa, bisa tidak sih kamu itu sedikit saja kasih waktu buat tidak berdebat? enggak kasihan mamah yang pengen kamu dekat sama kita berdua?" ucap Hamza.
Alexa hanya diam, ia melirik dengan ketus ke arah lain.
"Tuh dengerin apa omongan mamah, kak. Aku aja selalu dengerin omongan mamah mangkannya aku jadi anak kesayangannya." ucap Viola.
"Anak kecil jangan ikut campur, kamu gak ngerti apa-apa." ucap Alexa menatap tajam ke arah Viola.
"Dih udah kuliah juga masih di anggap anak kecil!" Elak Viola dengan tidak suka.
"Bodo amat, kamu kecil Dimata kakak." ucap Alexa menjulurkan lidah.
"Huuuhh!!" Bersidekap dada menatap papah nya membuang muka dari wajah Alexa.
"Huh ngambekan.." ucap Alexa dengan tertawa.
Hamza hanya menggelengkan kepalanya menatap pertengkaran kedua anaknya. Selama tidak memakai tangan, ia masih bisa memaklumi karena cara berpikir mereka juga berbeda.
"Pah, katanya mau ngomong. sibuk terus sih dari tadi?" ucap Hamza melirik Jonathan.
"Iya mah ini nanti ada meeting." ucap Jonathan.
"Yaudah sekarang ngomong selesai ngomong nanti meeting." ucap Hamza.
"Iya-iya." Sejenak Jonathan masih bermain ponsel kemudian mendongak menatap ketiga wanita yang ada di samping depannya.
"Alexa.."
Alexa melirik ke arah nya dengan sinis. "Apa?" tanyanya ketus.
Jonathan menghela nafas. "Papah mau kamu menikah sekarang juga." ucap Jonathan yang langsung membuat mereka semua kaget. Terutama Alexa yang langsung tersedak karena air liur nya sendiri
Untung disana ada air putih yang siap siaga disediakan dibeberapa ruangan yang sering di huni. Sehingga dengan cepat Alexa menjawab ucapan Papahnya.
"Papah apa-apaan sih? kenapa nyuruh aku nikah?" tanya Alexa dengan mendelik.
"Karena usia kamu udah 25 tahun, mau sampai kapan kamu mau kerja enggak bener diluaran sana hah? papah juga gak muda lagi buat kerja, papah udah mulai capek sama keadaan. Papah juga pengen punya waktu buat mamah. Kamu gak kasihan sama mamah kesepian dirumah terus tanpa papah?" tanya Jonathan.
"Maksud papah ngatain aku kerja diluar sana enggak bener gimana? aku kerja nyari duit supaya gak miskin! Kalian mana ada ngasih duit ke aku kalau aku gak minta?" ucap Alexa dengan emosi.
"Alexa, intinya papah mau kamu menikah. Papah janji bakalan ngasih duit ke kamu setiap bulan 500juta asalkan kamu mau menikah dengan orang pilihan papah." ucap Jonathan.
"Enggak mau, pah! Alexa mau kerja." ucap Alexa berdiri.
"Alexa!!" Jonathan berteriak dan menarik tangan putrinya.
"Apa pah!? keputusan aku udah bulat aku gak mau menikah sama orang pilihan papah!!"
Plakkkk
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Alexa yang membuat Viola dan Hamza melebarkan matanya sembari menutup mulutnya dengan tangan
"Papah tega!! Alexa benci sama papah, Alexa benci!!" Teriak Alexa sekuat tenaga dengan mata berkaca-kaca dan keluar dari ruangan kerja Jonathan dengan membanting pintu.
Mendengar teriakan amarah dari putrinya seketika membuat tubuh Jonathan melemas. Penyakit jantungnya kambuh yang langsung dihampiri kedua bidadari nya.
"Pah.. papah kenapa? papah.." Hamza berusaha menahan tubuh suaminya dengan tenaga yang ia punya saat ini.
"V-viola.. kamu mau menggantikan posisi Alexa nak?" tanya Jonathan dengan mata yang penuh harap.
"Viola enggak mau pah.. Viola masih kuliah." ucap Viola dengan getir.
"Jika tidak ada diantara kalian yang menikah.. kita akan jatuh miskin nak. Karena rekan bisnis papah meminta salah satu dari kalian menikahi putra nya." ucap Jonathan dengan melemas dipangkuan istrinya.
Ia sudah tak mampu menopang tubuhnya sendiri karena efek keterkejutannya kepada bentakan Alexa.
"Viola enggak mau, pah. Viola sudah hamil dengan Rio." ucap Viola yang langsung membuat Hamza dan Jonathan melotot ke arahnya.
"Maaf pah, tapi Viola tidak bisa.." Viola meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja.
"Viola..."
Brak
Hamza langsung terisak mendengar tuturan kata dari Viola yang membuat nya sakit hati. Dibebaskan kuliah seorang diri diluar sana malah hamil. sungguh Hamza kecewa dengan kedua anaknya itu.
"Maaf pah, mamah tidak bisa mendidik anak kita dengan baik.." Hamza menatap Jonathan dengan air mata berlinang.
"Tidak apa." Jonathan bahkan sama terkejutnya hingga terpaksa tersenyum untuk membuat Hamza tidak khawatir.
"Tapi mamah akan memaksa Alexa untuk menikah dengan anak rekan bisnis papah, ya? Papah yang kuat.." ucap Hamza.
Jonathan tersenyum kemudian mengangkat tangannya mengelus pipi istrinya.
"Terima kasih mah.." ucap Jonathan dengan tulus.
Hamza mengangguk kemudian membantu Jonathan untuk beristirahat dikamarnya.
***
Sementara Alexa kini sudah berada di mobil dengan kecepatan penuh. Ia menangis merasakan perih yang amat luar biasa di pipi kanannya. Bahkan sempat ia menengok ke kaca untuk melihat hasil tamparan papahnya yang nyatanya sampai membekas 5 jari disana.
"Papah tega banget sih, gak sayang sama aku? Sekalinya pulang bukannya mendapatkan perhatian dari mereka malah disuruh nikah. Apa-apaan coba, dasar orang tua egois." ucap Alexa menatap jalanan tol didepannya.
Berulang kali dirinya mengusap air mata yang jatuh dipipinya. Alexa kemudian melirik ke arah ponselnya yang bergetar di bangku sebelahnya.
"Siapa coba yang nelpon!" gemas Alexa sembari memelankan laju mobilnya.
"Halo?" ucap Alexa.
"Halo nak.. ini mamah. Pulang lah nak, papah mu terkena serangan jantung..mamah mohon sekali ini aja kamu pulang buat ngobrol dengan papah. Mamah kasian sama papah mu yang sakit-sakitan.." ucap Hamza dengan tangis .
"Itu karmanya mah, buat apa mamah kasian sama orang tua egois kayak dia? Segala nyuruh aku nikah lagi. aku gak mau pulang!" ucap Alexa dengan tegas.
"Mamah mohon nak, sekalipun itu mamah bersedia berlutut kepada mu supaya kamu mau pulang mama rela lakuin. Mamah mohon pulang nak.." ucap Hamza.
"Tapi mah.. Alexa sakit hati karena papah nampar Alexa. Papah jahat," ucap Alexa dengan Isak menatap ke depan.
"Mamah minta maaf atas nama papah mu. Tapi tolong pulang nak.. pulang ya?" ucap Mamah yang akhirnya meluluhkan hati Alexa.
"Iya mah." ucap Alexa.
"Baik, mamah tunggu cepat ke rumah." ucap Hamza
Alexa tersenyum. "Iya mah secepatnya, see you.."
"See you." balas Hamza kemudian mematikan teleponnya.
Alexa kemudian melempar hape nya yang entah jatuh kemana di kursi belakang. Ia kembali menancap gas untuk berbelok arah kembali ke rumahnya.
***
Dan disinilah Alexa berada. Dirinya pulang yang sudah memang ditunggu oleh Hamza di depan pintu utama. Hamza mendekat ke arah putrinya sembari memeluknya.
"Ayo nak, papah udah menunggu.." ucap Hamza lembut.
"Alexa takut mah.." ucap Alexa menatap mamahnya.
"Jangan takut sayang, papah kan lagi sakit." ucap Hamza dengan mengedipkan matanya.
Alexa tersenyum kemudian membiarkan Hamza menuntunnya masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan papah nya.
Dan benar saja ketika Alexa dan Hamza sudah berada di depan kamar. Dokter keluar yang langsung membuat Hamza mengantarkan dokter itu keluar
"Maaf Alexa, mamah gak bisa menemani kamu. Mamah mau mengantar dokter sendiri aja gapapa?" tanya Hamza.
Alexa dengan terpaksa mengangguk. "Enggak apa-apa mah." ucap Alexa.
"Terima kasih sayang, nanti mamah akan naik secepatnya kalau udah selesai bicara dengan dokter. Oke?" ucap Hamza yang dapat anggukan oleh Alexa.
Setelah mendapat jawaban, Hamza segera mengantar dokter ke bawah untuk berbincang mengenai kondisi Jonathan yang memang sudah tua.
Alexa perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Memang disana terdapat banyak sekali foto masa kecil nya hingga masa remaja sampai sekarang. Tapi Alexa seolah buta dan enggan melihat foto itu, ia tidak ingin luluh karena orang tuanya memajang foto nya dan kedua adiknya di dalam kamar. Walaupun ia rasa banyak melebihi foto keduanya.
"Ada apa, pah?" tanya Alexa.
Jonathan melirik ke arah Alexa, ia terkejut namun dirinya berusaha bersikap biasa saja. Ia menunduk dengan nanar tanpa melihat ke arah putrinya.
"Maafin papah karena sudah main tangan ke kamu. Papah sadar papah egois, enggak sepantasnya papah ngelakuin itu dan memilih bisnis daripada keluarga papah." ucap Jonathan.
Alexa tertegun. Ia memalingkan mukanya.
"Papah benar benar minta maaf dari hati, nak. Entah kamu percaya atau tidak, papah sayang sama kamu. Papah egois karena kamu tidak ingin celaka seperti Viola." ucap Jonathan.
"Maksud papah?" tanya Alexa tidak mengerti
"papah gagal mendidik Viola, dia hamil diluar nikah." ucap Jonathan yang langsung membuat Alexa melebarkan matanya. Ia bahkan sempat mundur ke belakang sangking tidak percayanya. Menggunakan meja untuk menahan tubuhnya.
"A-apa.. Viola hamil? dengan siapa pah?" tanya Alexa
"Kamu tidak usah tahu nak, itu tidak penting. Papah masih kecewa dengan Viola.." ucap Jonathan.
"Tapi Viola pantas mendapatkan hukuman, pah!" dada Alexa naik turun menatap Jonathan.
"Dia sedang hamil Alexa, papah tidak mau menyakitinya.." ucap Jonathan.
__ADS_1
"Kenapa pah? bukankah papah pernah membiarkan aku di gudang sampai sakit? papah pernah nengok aku kesana? enggak kan? Bahkan mamah pun sendirian datang menjenguk aku." ucap Alexa.
"Papah minta maaf.." ucap Jonathan lirih yang membuat Alexa tidak tega.
"Bakal Alexa maafkan. Tapi tidak dengan satu ini," Alexa pergi yang membuat Jonathan menutup matanya seolah enggan melihat keributan kembali terjadi.
"Alexa mau kemana?" tanya Hamza.
"Mau ketemu Viola. Minggir mah," ucap Alexa.
"Tapi Viola baru aja pergi..." ucap Hamza yang membuat Alexa melirik mamahnya.
"Kemana?" tanya Alexa.
"Tidak tahu.. mungkin kembali lagi ke Jepang." ucap Hamza seakan masa bodoh.
"Mah... Viola lagi hamil!!" ucap Alexa tak habis pikir dengan sikap Hamza.
"Mamah tahu, tapi mamah tidak peduli. Biarkan dia tersesat dengan jalannya karena ulahnya sendiri." ucap Hamza berjalan dengan tenang meninggalkan Alexa.
"CK, mamah ish!" ucap Alexa mengikuti langkahan Hamza dari belakang.
"Jijik banget punya adik kandung kayak dia.." ucap Alexa lirih.
"Itulah pergaulan bebas, kamu gak mau kan kayak dia?" ucap Hamza menatap Alexa.
Alexa menggeleng kan kepalanya. Ia cemberut menatap lantai seolah lesu.
"Kenapa lemas kayak gitu?" tanya Hamza.
"Alexa takut hamil mah, Alexa juga pernah..."
Hamza kemudian menatap ke arah Alexa. "Pernah apa? jangan bilang kamu pernah..."
"Enggak mah, pah! itu enggak benar, cuman Alexa hanya pegangan tangan. Tapi dia selingkuh mah, diam-diam Digo berselingkuh di belakang aku sampai main berdua di apartemen. Alexa sendiri yang memergoki mereka, Alexa takut mah.." ucap Alexa lesu.
"Kamu punya kami, Lexa. Kami ada untuk mu, kami selalu memberikan dukungan kepada mu. Menyemangati mu dan yang lain, jangan menganggap dirimu seorang diri ya? anggap kami berdua teman." ucap Hamza.
Alexa mengangguk menatap Hamza didepannya. Ia segera memeluk mamah nya dengan erat. Jonathan haru menatap keduanya, namun deringan telepon membuat Hamza dan Alexa melepaskan pelukannya sembari menatap Jonathan.
Jonathan melirik ke arah Hamza setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Tuan Erick." ucap Jonathan yang langsung membuat Hamza menutup matanya menghela nafas.
"Lexa, kebawah yuk?" ucap Hamza.
Alexa menggeleng dan melepaskan tangan Hamza yang hendak menariknya pergi. Pandangannya lurus ke arah Jonathan.
"Enggak mah, Alexa mau tau kenapa papah sedih?" ucap Alexa
"Lexa.." Hamza menatap putri pertamanya itu.
Tapi percuma, jika Alexa tidak mau. Mau tak mau dirinya dan Alexa membiarkan Jonathan menerima telepon dari rekan bisnis nya itu.
Mendengar suara bentakan dari sebrang telepon walau tak jelas Alexa merasa tidak enak sendiri karena papah nya panik berusaha menenangkan.
"Papah kenapa mah?" tanya Alexa menatap Hamza.
"Papah mu pasti dimarahin oleh rekan bisnisnya. Dan ekonomi kita akan merosot kebawah nak." ucap Hamza menatap lekat mata hitam milik Hamza.
"Tapi kenapa? kenapa ekonomi kita bisa merosot?" tanya Alexa.
"Perjanjian diantara papah mu dengan tuan Erick gagal. papah mu tidak memilih kamu ataupun Viola untuk dinikahkan kepada putra tuan Erick. Karena itu tuan Erick akan mencabut investigasi uangnya kepads perusahaan kita." ucap Hamza.
"Apa!?" Alexa menautkan kedua alisnya.
"Kenapa.." Alexa langsung terdiam dengan kondisi kepala kacau. Dirinya kemudian mendekat ke arah papahnya.
"Iya tuan maaf, maaf sekali aku tidak bisa-"
"Pah berikan ponselnya.."
"Apa? sebentar sayang.." ucap Jonathan kembali berbicara kepada tuan Erick.
"Pah cepetan!" ucap Alexa tak sabaran.
"Tapi.. eh.."
"Halo, dengan Alexa Gavanza Petir. salam kenal om Erick, saya putri dari tuan Jonathan Petir dengan Hamza Gavanza Petir. Iya betul, saya anak perempuan pertama mereka. Iya.. iyaa saya yang akan menikah dengan putra bapak, jadi tolong jangan menarik kerja sama kepada perusahaan papah saya ya. atau saya akan melakukan demo besar-besaran di perusahaan anda. Iya sekali lagi saya minta maaf dan terima kasih karena menggunakan waktu anda untuk marah-marah. BYE!" Alexa mematikan teleponnya secara sepihak sembari membanting ponsel itu di ranjang.
Jonathan menatap lekat ke arah Alexa. "Kenapa? kenapa liatin aku begitu?" tanya Alexa.
"Alexa papah enggak meminta kamu untuk menikahi putra tuan Erick. dia cacat, papah enggak mau!" ucap Jonathan.
"Apa? kenapa papah enggak bilang dari tadi sih!" ucap Alexa kesal.
"Barusan tuan Erick yang bilang kepada papah. Lagian juga kenapa kamu marah-marah begitu? tuan Erick hanya meminta bantuan dari papah untuk segera datang ke rumah sakit menemui putra nya yang baru saja kecelakaan. Ia mengalami kelumpuhan pada kakinya.." ucap Jonathan.
"WHAT!? PAPAH!!!" Teriak Alexa terkejut setengah mati.
Jonathan seketika tertawa mendengar teriakan kesal dari Alexa. Hamza bahkan menggelengkan kepalanya.
"Mamah bangga sama kamu." Mengacungkan jempol nya.
"Mamah ish!!" ucap Alexa dengan mengerucutkan bibirnya.
Hamza tertawa. "Tapi kalau kamu mau maksa menikah sama anaknya om Erick sih papah setuju-setuju aja." ucap Jonathan dengan tersenyum menggoda.
"papah, gak mau ah. batalin aja," ucap Alexa malu setengah mati.
"Ya gak bisa begitu dong sayang, mau taruh dimana muka papah nanti?" tanya Jonathan dengan menggelengkan kepalanya.
"Ya kan muka papah disitu situ Mulu. dengan membatalkan pernikahan ini gak akan membuat wajah papah lepas kok dari kepalanya." ucap Alexa polos.
****
Pak Erick sungguh senang mendengar kabar secara langsung dari orangnya. Putra nya yang sedari tadi hanya diam di ranjang menggelengkan kepalanya menatap ayahnya itu yang terlihat bahagia.
"Kenapa, yah?" tanya Tuan Oliveer.
Tuan Erick langsung menggelengkan kepalanya. "Kamu istirahat saja disini. Jangan kemana-mana." ucap Tuan Erick.
"Iya." ucapnya menurut.
Tuan Erick pun pergi. Sekarang hanya tertinggal tuan Oliveer dengan tablet ditangannya sendiri. Oliveer adalah seorang pria yang sudah berbisnis. Berumur 2 tahun lebih tua daripada Alexa.
Saat ini kepergian Tuan Erick tertuju kepada pintu rumah sakit. Dan benar saja, Tuan Jonathan dengan istrinya menghampirinya setelah melihat tuan Erick di depan pintu rumah sakit menunggu mereka.
"Tuan Erick, senang melihat anda dalam keadaan sehat." Jonathan menyakini tangan tuan Erick.
Hamza juga menjabatkan tangannya sekilas kepada tuan Erick.
"Saya juga senang melihat kalian berdua mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk putra saya." ucap Tuan Erick.
"Tidak usah sungkan, apapun untuk anda." ucap Jonathan kepada Erick.
"Baik, silahkan masuk. Putra ku sedang beristirahat di kamarnya, kata dokter kakinya mengalami pendarahan luar biasa akibat tertindih oleh mobil. Karena itu mau tak mau kakinya harus di amputasi oleh mereka supaya penyakitnya itu tidak membahayakan organ lain." Jelas tuan Erick sembari berjalan mengantarkan mereka ke ruangan Oliveer.
"Benarkah? kenapa itu sampai terjadi?" tanya Jonathan.
"Biasalah, bahaya pasti akan datang dimana saja. kebetulan putra ku baru saja pulang dari Canada, ia tidak tahu jika didepannya ada truk. Hingga dirinya kehilangan keseimbangan dan mobilnya tertabrak truk sampai mobilnya terguling ke samping beberapa meter." ucap Tuan Erick.
"Benarkah, tragis sekali." Jonathan melirik ke arah istrinya.
"Apa boleh saya bertanya?" tanya Hamza kepada tuan Erick.
"Boleh nyonya, katakan saja." ucap Tuan Erick.
Hamza tersenyum tipis. "Kejadiannya berada dimana?" tanya Hamza.
Tuan Erick terlihat memikirkan sesuatu. "Tol apa ya.." Tuan Erick berusaha berpikir keras mengingat nama tol yang membuat putra nya celaka itu.
"Tol Hajar?" tebak Hamza.
Tuan Erick langsung mengangguk. "Kau benar sekali, daerah situ. Susah sekali mengingat namanya," ucap tuan Erick dengan terkekeh.
Hamza langsung memaksakan senyum nya dan menatap suaminya penuh misteri.
"Ini ruangan anak saya, mari masuk." ucap tuan Erick membuka pintu kamar.
"Veer, ada rekan bisnis papah." ucap Tuan Erick kepada Oliveer.
Oliveer kemudian menoleh dan mendapati tuan Jonathan dan Hamza mendekat ke arahnya.
"Selamat siang Tante, om. Maaf tidak bisa menyambut dengan baik dan seadanya." ucap Oliveer dengan sopan.
"Tidak apa-apa, bagaimana kabar mu? apa kau sakit HM?" tanya Jonathan.
Hamza menaruh makanan di atas meja yang sengaja ia beli tadi waktu di perjalanan kemari. Kemudian menatap Oliveer
"Haha ini tidak sakit, om. Hanya nyeri saja." katanya.
"Nah itu baru pria tangguh." ucap Jonathan.
Tuan Erick tersenyum mendengar kata-kata dari Jonathan.
"Veer, selain mengunjungi mu tuan Jonathan dan istrinya juga mau berbicara dengan kamu." ucap Tuan Erick.
Oliveer kemudian menoleh ke arah papahnya. "Iya boleh, mau bicara apa Tante, om?" tanya Oliveer.
"Sebenarnya papah mu dan keluarga ku sudah menjodohkan mu dengan salah satu putri kita. Ini syarat sejak dulu, sejak ayah ku dan tuan Liam masih hidup. Mereka telah membuat kesepakatan untuk menjodohkan anak ku dengan mu." ucap Jonathan.
Oliveer langsung terdiam mencermati satu demi satu perkataan yang keluar dari mulut Jonathan.
"Maksud om saya mau di jodohkan dengan putri on? Tapi apakah dia mau?" tanya Oliveer.
Jonathan hendak menjawab, namun keduluan tuan Erick.
"Tentu saja, tadi putri pertama tuan Jonathan sendiri yang bilang kepada papah waktu di telepon. Dia mau menikah sama kamu." ucap Tuan Erick yang membuat tuan Jonathan tersenyum paksa.
"Benarkah itu om? kalian enggak sedang bercanda kan?" tanya Oliveer.
"Kamu ini! masalah perjodohan di buat candaan, tidak boleh seperti itu." ucap Tuan Erick.
"Iya itu benar, Putri kita sudah setuju untuk menikah dengan mu." ucap Jonathan.
Oliveer menghela nafas. "Baiklah kalau begitu,"
"Pernikahan mu akan di adakan Minggu depan." ucap Tuan Erick spontan.
"Apa!?" tanya Oliveer tajam ke arah papahnya.
"Sebaiknya kita pertemukan mereka dahulu untuk kenal satu sama lain. Jangan gegabah, mungkin Veer juga membutuhkan ruang untuk mengenal gadis itu." ucap Hamza.
"Iya--"
"Nanti saja kenalannya, pernikahan akan dilaksanakan Minggu depan sesuai tradisi keluarga kita berdua. Lagian jika kalian sudah kenal harus tetap bersama, karena sebaiknya kau harus tetap menikah dengannya walau kau tidak suka." ucap Tuan Erick kepada Oliveer.
Oliveer menghela nafas ia hanya diam saja. "Aku akan cuti dari pekerjaan ku seminggu, ada asisten ku yang menangani perusahaan. Hanya untuk mempersiapkan semuanya agar terjadi kelancaran di acara besok." ucap Tuan Erick.
"Pah, aku kan lagi sakit. Bagaimana mau menikah?" tanya Veer.
"Hanya beberapa rekan terdekat papah, tidak banyak. Hanya 100 orang, jadi jangan capek-capek ya." ucap tuan Erick kepada putra nya.
__ADS_1
Tok tok tok
"Permisi, mah buburnya.." ucapan Alexa seketika terpotong melihat kehadiran Oliveer didalam ruangan dengan satu orang asing yang tidak ia kenali.
Oliveer sang idola nya, laki-laki kaya dan tampan itu akan menjadi calon suaminya. Mendadak Alexa langsung bergemetar ketika berjalan dibimbing Hamza masuk ke dalam.
"Alexa, ini tuan Erick dan Oliveer. Calon keluarga kamu."Jelas Hamza.
Oliveer menatap gadis itu lekat, dari wajahnya sepertinya Oliveer tidak menyukai gadis didepannya.
"Kau Alexa yang model yang sedang naik daun itu kan?" tanya Alexa.
Alexa mengangguk. Oliveer mengangguk pelan menanggapi.
"Salam kenal, om." ucap Alexa kepada tuan Erick.
"Iya iya.. kau masih ingat om? dulu kau pernah bertemu dengan Om dan Oliveer saat masih kecil." ucap tuan Erick.
"Oh.. Alexa tidak ingat om." ucap Alexa.
Tuan Erick mengangguk saja, wajahnya sumringah menatap Alexa.
"Kebetulan ada meeting yang harus aku lakukan di perusahaan, Erick." ucap Jonathan.
"Oh iya.. kami pergi dulu." ucap Erick kepada yang lainnya.
Setelah kedua manusia itu pergi, sekarang giliran Hamza yang berpamitan pulang.
"Mamah akan pulang, Alexa kau jaga calon suami mu disini ya. sudah mamah bawakan baju ganti untuk mu disini. Jika mau makan nanti kau pesan saja secara online." ucap Hamza mengambil tasnya.
"Iya mah.." ucap Alexa.
"Hati-hati Tante." ucap Oliveer.
"Kau jaga kesehatan ya." ucap Hamza menatap Oliveer lekat.
"Iya Tante, tenang saja mengenai anak gadis Tante." ucap Oliveer.
Hamza mengangguk. "Dia sedikit cerewet harus sabar." bisik Hamza sebelum pergi dari sana.
Sekarang Alexa duduk diam di sofa tak jauh dari ranjang. Alexa membuka laptop yang entah ia bawa dari mana. Yang jelas gadis itu menekuk lengan panjangnya sedikit dan membungkukkan badan mengetik di laptop.
Hening, tak ada yang membuka suara. Sesekali Alexa mengangkat telepon dari rekan bisnisnya dan Oliveer berisitirahat. Ia melirik ke arah Alexa yang nampak sibuk di sofa.
"Bisakah kau diam? jangan bekerja di ruangan orang yang sakit." ucap Oliveer kepada Alexa.
Alexa melirik ke arah Oliveer. "Maaf." ucap Alexa singkat.
Ia berusaha tetap tenang dan melanjutkan pekerjaannya. Jangan lupa ia silent hp nya agar tidak menganggu bila ada yang menelpon.
Sesekali gadis itu berdecak ketika seseorang berusaha menelponnya. Tak lama suster datang dan mendekat ke arah Alexa.
"Kopi anda nona." ucap nya.
Alexa mengangguk tanpa berbicara. Setelah suster itu pergi, Oliveer benar-benar muak dengan keberadaan Alexa yang berisik di sofa.
"Aku ingin jalan-jalan." ucap Oliveer sebal.
"Oh iya sebentar.. aku akan membantu mu." ucap Alexa kemudian terlihat menutup teleponnya mendekat.
"Tidak perlu, menjauh lah! jangan dekat-dekat." Ancam Oliveer.
"Kalau kau jatuh yang disalahkan siapa? apa kau kira kau bisa jalan dengan satu kaki seperti itu?" ucap Alexa.
"Kau-!!" Oliveer melotot tajam ke arah gadis didepannya. Omongannya pedas sekali.
"Aku tidak jadi pergi." ucap Oliveer kembali menarik kakinya berselonjor di ranjang.
Alexa kemudian berbalik badan berjalan ke laptop nya. Mengambil cemilan dan duduk tenang di atas sofa. Membuka kembali laptop nya dan duduk tenang menatap layar laptopnya.
Oliveer tahu bahwa Alexa sedang menonton terbukti beberapa teriakan dari laptopnya dapat ia dengar.
"Kau sedang melihat apa?" Tanya Oliveer terlihat kepo.
"Kau mau lihat?" tanya Alexa.
"Tidak." ucap Oliveer.
Alexa tidak lagi menjawab, ia sibuk menonton adegan film mengerikan di laptopnya. Sejenak Oliveer menatap lekat ke arah wajah gadis itu yang mulus bak bidadari.
Ia kemudian mencari ponselnya dan membuka saluran utama. Oliveer terkejut dikala melihat postingan seseorang Alexa menutupi setengah wajahnya dengan tangan ketika hendak masuk ke dalam mobil.
Ketika sadar bahwa pipi kanan yang ditutupi seketika Oliveer langsung menatap ke arah pipi kanan Alexa yang pas dengan matanya.
"Kenapa bisa merah seperti itu?" tanya Oliveer.
"Apa?" Alexa menoleh menatap Oliveer karena mendengar sesuatu.
Oliveer menggelengkan kepalanya, Alexa kemudian menatap kembali film di laptop nya.
Apa dia menikah karena paksaan? tanya Oliveer dalam hati menatap Alexa.
Karena artikel di sosmed membuat Oliveer menatap wajah Alexa yang sebelumnya terasa berbeda. Ia dapat melihat hidung merah dan mata sedikit sembab. Namun karena kulit putihnya dan make up membuat wajah Alexa nampak biasa-biasa saja.
Seminggu kemudian. Oliveer dan Alexa sudah memakai pakaian pengantin. Tak bisa di pungkiri bahwa Oliveer menyukai Alexa yang kini memakai baju kebaya dengan make up tipis.
Alexa duduk di sebelahnya, kemudian Hamza duduk di belakang kursi pak penghulu. ijab kabul akan segera dilakukan dan beberapa orang sudah siap dengan kegiatan yang akan di laksanakan sekarang.
Pak penghulu sudah menjabat tangan Oliveer, dengan sekali helaan nafas akhirnya mereka sudah menjadi suami istri yang sah dalam agama.
Oliveer memakaikan cincin pernikahan mereka di jari manis Alexa begitu juga sebaliknya.
"Alexa.." Begitu selesai foto. Alexa dan oliveer langsung menuju orang tua masing-masing secara bersama-sama. Mereka memeluk satu sama lain untuk melepas tanggungjawab mereka sebagai orang tua kepada anaknya.
"Jaga anak ku baik-baik, jangan menyakitinya. Dia memang kuat, tapi dia rapuh juga di dalam." ucap Jonathan kepada Oliveer.
"Iya pah, bakal Veer jaga baik kok." ucap Oliveer.
Jonathan mengangguk, kemudian Oliveer dan Alexa bertukar posisi. Alexa memeluk papahnya dengan sangat erat.
"Jaga dirimu baik-baik, sekarang ada seseorang yang menjaga mu tanpa mamah dan papah." ucap Jonathan.
"Iya pah.. jaga diri papah juga. Jangan marah terus," ucap Alexa.
Jonathan tersenyum. Kemudian mereka berdua menuju ke arah tuan Erick, karena hanya satu. Tuan Erick secara langsung memeluk keduanya.
"Jaga diri kalian baik-baik dan jangan ribut terus. Ingat, masa pernikahan akan terjalin lama apabila sepasang kekasih cocok satu sama lain." ucap tuan Erick.
"Iya pah." ucap Oliveer.
Kemudian mereka pun duduk di kursi kebesarannya masing-masing. Menatap tamu undangan tuan Erick dan rekan bisnis Jonathan serta teman dekat Hamza.
"Apa kau bahagia?" tanya Oliveer tanpa menatap istrinya itu.
Alexa menoleh menatap suaminya. Kemudian menatap ke arah Hamza.
Ia tidak berniat menjawab kemudian Oliveer berkata lagi.
"Waktu di rumah sakit, aku melihat pipi mu merah. Apa waktu itu kau bertengkar dengan orang tuamu?" tanya Oliveer.
Alexa sebenarnya ingin sekali menjawab ucapan Oliveer. Namun ia memilih diam karena dirinya sedang emosi kali ini. Menurut nya Oliveer hanyalah suami yang tak di inginkan nya. Karena itu dirinya tidak mau Oliveer sampai mencampuri urusan keluarganya hingga dirinya menahan emosinya sendiri.
Hening, sepertinya Oliveer tidak akan membuka suara lagi. Kemudian para rekan kerja pun diperintahkan untuk menjabat tangan kepada pengantin baru sebelum pulang.
Sontak Oliveer dan Alexa langsung menyambut mereka. Banyak yang mendoakan agar pernikahan tanpa cinta itu berjalan lama. Alexa hanya tersenyum saja menanggapi doa doa mereka di hadapannya.
Setelah selesai para tamu pun pamit pulang karena mereka tak bisa lama-lama disebabkan banyak urusan tersendiri.
Kemudian Alexa pun menghampiri mamah nya dan meninggalkan Oliveer.
"Mah, Alexa capek." ucap Alexa mengeluh.
"Kenapa minta ke mamah? kan kamu udah ada suami. Minta ke suami mu sana," ucap Hamza
"Enggak mau.. Alexa takut." ucap Alexa memeluk mamahnya.
"Takut apa, hm?" ucap Hamza tersenyum menggoda.
Alexa menghela nafasnya. "Tidak bisa kah aku menginap disini saja, mah?" tanya Alexa nanar.
"Boleh." ucap Jonathan tiba-tiba.
"Suami mu juga sedang sakit, sebaiknya kita izinkan saja mereka menginap disini beberapa hari. Setelah itu baru mereka boleh pulang untuk melanjutkan harinya." ucap Jonathan.
"Tapi.." Alexa melirik ke arah suaminya.
"Biar papah yang berbicara dengan nya." ucap Jonathan
"Terima kasih, pah." ucap Alexa tersenyum. Ia memeluk erat mamahnya karna bahagia bisa tinggal beberapa hari. Setidaknya dirinya bisa di bimbing oleh mamahnya walau hanya sebentar.
Sementara Jonathan berbicara dengan Erick, Oliveer menatap ponselnya untuk melihat lihat email yang di kirim asistennya kepadanya. Banyak berkas yang harus ia kerjakan saat ini, namun dirinya hanya bisa menghela nafas sembari memikirkan pekerjaan itu bagaimana dengan cepat selesai ketika masa-masa pengantin baru.
Sudah seminggu dirinya tak mengerjakan tugas, walau ada waktu luang pun dipakai untuk istirahat dan tidur.
"Nak, kamu dan Alexa akan tinggal disini beberapa hari. Baik-baik ya kamu, jangan merepotkan mertua." ucap Erick.
"Tinggal disini?" tanya Oliveer.
"Iya."
"Berapa hari?" tanya Oliveer.
"Seminggu." jawab Jonathan
Oliveer mengangguk setelah melirik ke arah Alexa yang nampak berbincang akrab dengan Hanna adiknya.
"Baiklah kalau begitu." ucap Oliveer.
"Bagus, ingat pesan papah. Jangan merepoti istri dan mertua mu." ucap Erick.
"Haha kau ini apa-apaan sih, tidak apa-apa jangan sungkan-sungkan mencari bantuan kepada kami. kami siap melayani mu." ucap Jo.
"Iya pah. Terima kasih." ucap Oliveer.
"Baiklah kalau begitu, aku ada kerjaan. Lain kali waktu saja aku menginap ya, aku tidak bisa meninggalkan kerjaan ku." ucap Erick.
"Iya, titipkan saja anak mu disini. Akan kami jaga dengan baik kok." ucap Jo.
Erick mengangguk dan berpamitan dengan Alexa serta Hamza. Setelahnya ia keluar dari pekarangan rumah dan Jonathan mendorong kursi roda Oliveer ke arah anaknya.
"Antar suami mu ke kamar nak." ucap Jonathan.
"Iya pah." ucap Alexa.
Kemudian dirinya melirik ke arah Oliveer, mau tidak mau demi menjaga nama baik. Alexa mendorong kursi roda milik Oliveer menuju lift dan meninggalkan Hamza serta Jonathan.
"Semoga kedua anak itu dapat menyadari perasaan mereka dengan baik." ucap Hamza.
"Aamiin." ucap Jonathan.
Hanna pun menghampiri Hamza. "Mah ayok tidur." ucap Hanna.
Hamza mengangguk. Kemudian cerita ini di tutup ketika mereka bertiga pergi ke kamar untuk beristirahat dan tersisa ruangan gelap karena semua sedang beristirahat.
__ADS_1
Waiting bab two-! Thank you