KUMPULAN CERPEN REMAJA

KUMPULAN CERPEN REMAJA
CERPEN #15 WHAT ABOUT LOVE?


__ADS_3

Iniyaa Karana. Wanita dingin dengan pesona yang menawan membuat kaum Adam terpesona. Hanya saja sifatnya sedikit blak-blakan membuat mereka mengagumi tanpa berniat mengharapkan besar pada seorang Iniyaa.


Perawakannya yang feminim namun dirinya tidak bisa ditaklukan membuat seorang pria tertarik kepada gadis itu. Tentu saja pria itu adalah incaran para wanita di sekolah. Indra Ibrahim namanya, kelas XI A satu gedung dan satu lantai dengan Iniyaa. Memasuki jurusan yang sama mempermudah Indra mendapatkan informasi atau bertemu secara langsung dengan Iniyaa.


Di kantin


Iniyaa memakan makanannya dengan memasang headset ditelinga nya. Sesekali dirinya terdiam dengan mengunyah makanan dimulutnya sembari menyimak gibahan yang dilakukan dengan teman-teman nya. Rambutnya di biarkan tergerai di sapu oleh angin kencang siang ini.


Indra tetap sesekali mengawasi Iniyaa walau ada teman-teman sebangkunya.


“Lo ngapa liatin cewek itu Mulu bro? suka Lo ya?” tanya Bray.


“Gue tertarik sama gadis itu.” menunjuk Iniyaa dengan dagunya. Bray seketika menolehkan pandangannya dan tertawa lebar. Membuat teman sekolahnya disana memperhatikan mereka kecuali Iniyaa yang bodo amat.


“Sorry sorry, kalian boleh melanjutkan makan kalian. Hey, ndra! Lo gak akan bisa dapatin gadis itu bro. Udah berapa cowok yang di tolaknya di publik. bahkan Gyo primadona sekolah ditolak gadis itu, sampai Gyo kapok pernah mencintai gadis itu.” ucap Bray dengan menggelengkan kepalanya sedih.


Naas, ucapan Bray seketika tak berarti apapun untuk Indra. Lelaki itu memakan makanannya dengan fokus menatap Iniyaa.


“Aku ke toilet dulu.” ucap Iniyaa melepaskan headset nya dan meninggalkan kantin sekolah.


Di dalam toilet Iniyaa mencuci tangannya dan menyeka mulutnya dengan tisu. Kemudian dirinya yang akan keluar seketika dibuat kaget dengan kehadiran Indra di hadapannya.


“Kamu?salah toilet. Toilet cowok ada di sebrang.” ucap Iniyaa datar.


“Gue mau Lo. Jadi pacar gue sekarang ” ucap Indra.


“Gak.”


Buehh


Tak tahu sesakit apa hati Indra sekarang, hanya saja Indra sekarang malah lebih tertarik dengan cewek didepannya yang berdiri diam dengan memandang dirinya datar.


“Lo harus jadi cewek gue, klo gak--”


“Lo mau ke kantin? biar gue anterin.” ucap Iniyaa.


“Asal Lo mau jadi pacar gue, gue setuju.” ucap Indra dengan tersenyum miring.


“Gak jadi, gue mau berak dulu.” ucap Iniyaa masuk ke dalam toilet dan melepas celana nya.


Sesuai dugaan, Indra mengintip kaki Iniyaa yang terlihat ****** ***** gadis itu. Bibir Indra ditarik dan membentuk lekukan garis lurus pada wajahnya.


Plung


Indra kaget. Suara apa itu.


“Ehm..”


Plung


Indra lagi-lagi dibuat kaget dengan suara itu. Ia langsung berdiri dan menoleh ke kanan dan ke kiri.


Sepi. Hanya dirinya dan Iniyaa saja di toilet cewek ini. Apa jangan-jangan...


Dan benar saja Iniyaa memencet tombol manual pada WC dan menarik ****** ******** setelah membersihkannya dengan tisu dan air.


Iniyaa keluar dari toilet dan lagi-lagi membersihkan tangannya.


“Kau habis?..”


“Ya berak.” ucap Iniyaa.


Indra mengigit bibirnya kemudian keluar dari kamar mandi perempuan membuat iniyaa tersenyum puas.


“Enak aja maksa, dasar cowok gak mudal.” Sindir Iniyaa mem-pause video di ponselnya.


Ya, tadi Iniyaa hanya berpura-pura mengeluarkan suara seraya dirinya benar-benar berak. Tapi nyatanya gadis itu sudah sadar dari awal bahwa Indra memperhatikannya dan alasan mengapa Bray tertawa terbahak-bahak.


Jika kalian tanya alasan kenapa Iniyaa membawa ponsel di toilet. Jelas saja, Iniyaa sudah membuat jebakan dan hanya melepas headset nya saja kecuali ponselnya yang masih ia genggam pada dirinya.


Iniyaa keluar dari toilet dan menuju bangku nya tadi. Disana masih ada teman-temannya, dan Indra menatap ke arah Iniyaa dengan tatapan sulit di artikan.


Bel masuk kelas sudah berbunyi, beberapa orang berlarian masuk ke kelas atau pasukan babu sekolah akan datang dan memarahi mereka dan membawa mereka siapapun yang tertangkap ke dalam ruangan bk berakhir menyikat lantai toilet.


Iniyaa melepas headsetnya buru-buru ketika temannya menarik tangannya dan berlari kecil menuju kelas.


Bruk!


Iniyaa tak sengaja menabrak badan orang ketika mendongak setelah mengambil headsetnya yang jatuh.


“Gue gak liat, sorry.” ujar Iniyaa tanpa melihat siapa yang ia tabrak.


Indra membawa Iniyaa keluar dari sekolahan membuat Iniyaa mengerutkan dahinya dan memberontak.


“Lo apa-apaan sih, mau bawa gue kemana!?” marah Iniyaa.


Indra menarik bibirnya, “Sikap Lo bisa ganti juga kalau marah.” sindirnya.


“Bukan urusan Lo.” ucap Iniyaa tajam.


“Gue mau Lo, Anya!” ucap Indra seketika membuat Iniyaa membeku ditempat


dirinya berbalik badan, “Lo sebut gue apa tadi?” tanya Iniyaa menatap ke arah Indra.


“Sorry, gue reflek. Maksud gue--”


“Gue gak mau liat muka Lo lagi, atau lo habis ditangan gw kalau Lo ganggu gue lagi. Ngerti Indra?” potong Iniyaa kesal kemudian berlari ke kelasnya dengan buru-buru.


“Mengapa modelan cewek kayak Lo yang harus gue sukai.” ujar Indra terdiam.


Skip pulang sekolah...


Iniyaa memakai Hoodie hitamnya keluar dari sekolahan dengan memakai permen di mulutnya. Berjalan santai melewati murid-murid nya menuju halte untuk menunggu busway.


Indra menatap Iniyaa di halte seketika menghentikan mobilnya dan menatap Iniyaa yang sesekali menoleh ke kanan dimana arah datangnya busway datang.


“Anya!” panggil Indra.


Iniyaa tak menghiraukan dan tetap memainkan ponselnya.


“Iniyaa...”


Gadis itu mendongak dengan mata tajamnya kepada Indra ketika pria itu memukul pelan pundaknya. Iniyaa berdiri dan menatap Indra marah.


“Sudah gue bilang, gue gak mau Lo ganggu Indra! menjauh!!!” Teriak Iniyaa kesal kemudian berlari pergi dari halte.


Indra menatap bingung ke arah teman nya itu, kemudian Indra dengan kecewa atau sakit hati dengan bentakan Iniyaa masuk ke dalam mobilnya.


Iniyaa bersembunyi di balik tembok dengan nafas yang tersengal-sengal. Perasaan kesal, marah dan sedih bercampur aduk membuat mood gadis itu sangat buruk dan berjalan menuju rumahnya walau jauh.


Pukul 6 sore, barulah gadis itu sampai dirumah dan disambut dengan keluarganya. Iniyaa tak dekat dengan keluarganya pun langsung melepas sepatunya dan menaiki anak tangga menuju kamarnya di loteng.


Ya, di loteng terdapat ruangan kecil yang menjadi saksi bisu atas tangisan dan lirihan Iniyaa sejak kecil yang selalu dibuang dan tak di anggap oleh keluarganya.


Namun sekarang Iniyaa langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan kaos oversize dan celana pendek se paha. Rambutnya ia kuncir dan bermain ponsel di kasur.


*Buehh awalnya cinta, pandangan pertama tetapi cinta tak dapat berubah sejuta kali.. memandang kamu.. ku tetap jatuh cinta setiap waktu...


hanya kamu kamu kasih ku kamu kamu cinta ku sang juara di hati ku*...


Ting


Iniyaa mengerutkan dahinya ketika ada pesan masuk menganggu pendengarannya. Karena penasaran dirinya pun membaca pesan dari nomor asing.


Tentu saja pesan dari nomor asing itu membuat Iniyaa segera beranjak dari ranjang dan membuka jendela keluar. Tak ada siapapun disana. Kemudian dirinya membalas.


+62 85416-----


Gue ada di luar


*Anya


Mn?


+62 85416-----


Mengetik....


+62 85416


Lihat lagi*


Anya pun menghela nafas dan tak menghiraukan pesan itu. Kemudian dirinya langsung menaiki ranjang dan mendengarkan musik favorit nya lagi.


Tok tok tok


“Anya keluar! ada teman kamu.” Teriak ibunya.


“Iya sebentar!” ucap Iniyaa setengah berteriak.


Kemudian dirinya langsung memakai celana panjang keluar dari kamarnya. Iniyaa melewati keluarganya yang sedang makan malam itu di meja makan. Dan membuka pintu yang nyatanya Indra datang dengan rantang makanan ditangannya.


Iniyaa menatap Indra datar. “Mau masuk?” tanya iniyaa.

__ADS_1


Indra mengintip sekilas. “Boleh?” tanya Indra.


Iniyaa mengangguk dan indra pun tersenyum. Mereka berdua memasuki rumah.


“Selamat malam Tante, om.” ucap Indra.


“Duduk aja disitu. Sini rantang nya.” ucap Iniyaa.


Indra memberikan rantang makanan yang memang sengaja dibawa untuk keluar Anya.


“Malam, kamu siapanya Anya?” tanya om Hendri.


“Saya cuman temannya om. Maaf menganggu.” ucap Indra tidak enak.


“Gapapa, udah makan?” tanya Om Hendri.


“Belum om.” ucap Indra mantab.


“Sini sekalian makan bersama om dan Tante. Anya buatkan es jeruk untuk temen kamu.” ucap Om Hendri.


Brak


Iniyaa meletakkan piring plastik di meja makan dengan sedikit keras, kemudian menatap indra tajam yang hanya dibalas senyuman saja oleh pria itu.


“Iya yah.” jawab Iniyaa malas.


“Oh iya, Iniyaa tidak makan om?” tanya Indra.


“Nanti dia makan sendiri biasanya. Kamu kelas berapa? sekelas sama Anya?” tanya Om Hendri.


“Enggak om, saya kelas XI A. Tapi selantai juga sama Anya.” ucap Indra.


“Ohh begitu. Ayah kamu kerja apa?” tanya Om hendri.


“Kerja manager di perusahaan Xxc.” ucap Indra.


“Udah berapa tahun? perusahaan yang berjaya itu?” tanya Om Hendri kaget.


“Iya om. Sekitar 12 tahun.” ucap Indra.


“Ini minuman kamu.” ucap Iniyaa.


Perempuan itu dengan wajah dinginnya menarik kursi untuk nya dan membuka piring dan menyuapkan nasi serta beberapa lauk.


“Om dulu juga kerja disitu, cuman beberapa bulan aja soalnya harus menemani istri Om yang melahirkan. Kayaknya om kenal ayah kamu deh, namanya siapa? mungkin satu devisi sama om.” ucap om Hendri setelah melihat Iniyaa.


“Namanya Lan Joanna. Biasanya dipanggil pak Jo sama rekan-rekan lainnya.” ucap Indra menatap piring yang sudah terisi penuh dengan lauk di depannya. Kemudian melirik ke arah Iniyaa.


“Oalahh pak Jo! pak Jo dulu juga sempat membantu om masuk ke perusahaan, Indra. Om juga kenal sama pak Jo, dia sangat baik dan om berhutang Budi banyak sama pak Jo! Ternyata kamu adalah anaknya.” ucap Om Hendri dengan tertawa.


“Hehe iya om.” ucap Indra.


“Ya sudah kalian makan saja, om mau cuci tangan dulu.” ucap Om Hendri meninggalkan keluarganya.


“Makan Tante..” ucap indra sopan.


“Iya makan saja. Maaf, suami saya memang suka sok akrab.” ucap Bu Hanna.


“Gapapa Tante.” ucap indra tersenyum.


Indra melirik ke arah iniyaa yang sedang fokus dengan makanannya. Gadis itu cukup cantik juga jika dilihat dari jarak dekat. Kulit wajahnya yang mulus, bibir tipis dan bulu mata lentik membuat Indra sekali lagi dibuat terpesona.


“Gak usah liatin aku gitu, waktumu cuman dua puluh menit disini.” ucap Anya pelan sembari mengunyah makanannya.


Indra berdahem pelan kemudian fokus dengan makanan yang di ambilkan oleh Anya. Semenit kemudian Anya berdiri dan membawa piring kotornya ke wastafel dan mencucinya.


Di susul oleh Bu Hanna dan adiknya. Sekarang hanya tinggal indra semata di dapur dan Iniyaa. Gadis itu membawa piring kotor ke wastafel dan sekalian mencucinya.


“Kamu Sepertinya kurang dekat dengan keluarga kamu, Anya. Maaf jika aku merepotkan mu.” ucap Indra sungkan.


“Gak usah dibahas. Makan aja.” ucap Iniyaa dingin.


”Iya.” ucap Indra.


Anya meletakkan piring-piring bersih ke rak piring. Kemudian mengantarkan indra tuk berpamitan.


“Om Tante.. saya pamit pulang dulu, sudah malam tidak enak terlalu lama.” ucap Indra menyalami tangan keduanya.


“Iya nak. Sering-sering bermain ya.” ucap om Hendri.


“Hati-hati dijalan.” ucap Bu Hanna.


indra mengangguk kemudian memakai sendalnya dan Anya menatap Indra dengan bersandar.


Anya mengangguk. Hening beberapa menit.


“Kenapa gak pulang?” tanya Anya.


Indra menggeleng. Rasanya sangat menyayangkan momen ini jika harus pulang meninggalkan Iniyaa.


“Oh iya rantang makanan ku...” ucap Indra.


Iniyaa menatap Indra sekilas kemudian kembali ke dapur membawakan rantang makanan milik Indra.


“Makasih makanannya.” ucap Iniyaa.


“Iya sama-sama, enak gak? aku sendiri yang masak.” ucap indra.


“Enak. Jangan kesini lagi.” ucap Iniyaa kemudian menutup pintu rumahnya dan mengunci nya.


Ia berjalan hendak kembali ke kamarnya. Namun om Hendri menghentikan langkah nya.


“Dia udah pulang?” tanya om Hendri.


“Iya.” jawab Anya.


“Kamu pacaran sama dia?” tanya Om Hendri yang jelas tertuju pada dirinya.


“Gak yah. Cuman temen.” ucap Anya.


“Jangan sampai ayah lihat kamu pacaran sama dia.”


“Aku tau.” jawab Iniyaa kemudian berlari kecil meninggalkan ruang tamu dan bergegas ke kamarnya.


Ting


Baru saja iniyaa membuka celana panjangnya ia mendapatkan pesan. Kemudian ia meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk.


+62 85416-----


Udah tidur? aku pulang dulu, titip salam sama mertua


“Apaan sih, najis.” ucap Anya melempar ponselnya di atas ranjang dan berbaring di sebelahnya.


Tapi lagi-lagi Anya mendengar notifikasi pesan lagi. Dan dirinya terkejut.


+*62 85416-----


Besok aku kesana lagi bawain makanan.


Anya


Terserah, klo aku bsok gk ad jgn salahin aku.


+62 85416-----


Kenapa? kmu kemana memang?


Anya


Ke tempat yang gk akan bisa kamu temukan


+62 85416-----


Kamu dimana pun aku akan tetap menemukan mu, Anya. Rumah kamu saja aku tahu, sedikit lagi aku mau melamar mu.


Anya*


Read


+62 85416-----


Izinkan aku membahagiakan dan menggantikan posisi keluarga kamu dengan menciptakan keluarga kecil bersama mu, Anya.


Iniyaa langsung mematikan ponselnya dan menggeleng cepat.


“Besok aku harus bicara dengan dia.” ucap Iniyaa kemudian memejamkan matanya.


Keesokan harinya..


Iiniyaa tidak bertemu dengan Indra hari ini. Bahkan gadis itu sangat menginginkan Indra datang di sekolah dan bertemu dengannya tuk berbicara mengenai pesan WhatsApp kemarin di ponselnya.


Iniyaa kecewa, sudah beberpa hari berlalu. Indra tak kunjung masuk, kata teman-teman sekelas Indra, dirinya izin beberapa hari karena ada urusan keluarga.

__ADS_1


Dan iniyaa pun sudah tak terlalu berharap Indra datang ke sekolah. Hari ini adalah hari Jumat. Iniyaa tiba-tiba melihat indra bercanda dengan teman-temannya. Iniyaa mengerutkan dahinya dan mereka saling menatap dengan arah yang berlawanan sampai mereka saling melewati satu sama lain. Iniyaa dengan teman perempuannya dan indra bersama dengan teman cowok nya.


“Aku ketoilet dulu.” ucap Iniyaa berbalik badan.


grep


Iniyaa mencekal tangan Indra yang hendak masuk ke kelasnya. Indra menatap tangannya dan beralih menatap Menik mata Iniyaa.


“Kenapa?” tanya Indra.


Iniyaa hanya menatap Indra misterius dan membawa lelaki itu ke atap sekolahan. Disana iniyaa melepaskaan tangan Indra dan menatap jalanan di daerah sekolahnya.


“Aku tidak tahu harus berbicara apa padamu.” ujar Iniyaa tanpa mengalihkan pandangannya.


“Lantas mengapa kau membawa ku kemari?” tanya balik Indra.


“Meminta penjelasan.” ucap Iniyaa menatap indra intens.


“Untuk?”


“Apa maksud dengan pesan mu di WhatsApp? mengapa kau mengirimkannya padaku.” ucap Iniyaa.


“Aku serius Anya aku akan benar-benar melamarmu.” ucap Indra seketika membuat pernafasan iniyaa tercekat. Ia terkejut.


“Kita masih sekolah! kau mau menikah muda?” ucap Iniyaa heran.


“Aku... beberapa hari ini sibuk mengurus semuanya, akan mengecewakan jika aku membatalkan semua acara yang sudah dibuat keluarga ku.” ucap Indra.


Plak


Tamparan mendarat di pipi kanan indra.


“Aku tidak bilang ini lucu, jadi hentikan semuanya atau--”


Indra menatap Iniyaa dengan kecewa dimatanya.


“Aku tidak mengharapkan apapun padamu, Indra! Jadi berhenti berharap kita akan menikah. Kau sudah tidak waras ya?” ucap Iniyaa.


“Ya! aku ingin memiliki mu seutuhnya.” ucap Indra menarik tangan Iniyaa dan masuk ke dalam pelukannya.


Iniyaa meronta, sungguh dirinya hampir meneteskan air matanya dan trauma itu muncul ketika disaat kecil dirinya pernah hampir di perkosa oleh orang. Iniyaa lemas, ia terisak dengan menundukkan pandangannya.


“Maaf jika aku memaksa mu, aku akan meminta izin kepada ke keluarga mu. Akan ku pastikan.. kita akan sah di agama dan di negara.” ucap Indra mengelus punggung Anya.


Dan benar saja setelah pemberi harapan indra pada Anya. Malam harinya indra datang dengan orang tuanya. Hal itu cukup membuat ibu anya yang membukakan pintu terkejut dengan kedatangan mereka.


“Permisi..” ucap Indra dengan tersenyum.


“I-iya, nyari Iniyaa ya? tapi dia tidak ada di rumah. Silahkan masuk dulu.” ucap Bu Hanna.


Indra masuk dengan diikuti kedua orang tuanya. Kedatangannya cukup mengagetkan adik Anya dan ayahnya yang sedang makan di ruang tamu.


“Eh pak Jo, anda datang?” ucap pak Hendri cepat-cepat mengibaskan tangannya dan menyalimi mereka.


Pak Jo dan istrinya di sambut dengan ramah oleh mereka. Kemudian Indra mengatakan kedatangannya kepada pak Hendri secata terang-terangan.


“Saya memang kesini ada tujuan kepada Iniyaa. Tapi saya lebih membutuhkan kalian berdua untuk merestui kedatangan saya yang bermaksud melamar putri sulung kalian. Saya dan keluarga sudah mempersiapkan semuanya, jadi.. di mohon untuk kalian berdua membicarakan ini dengan Iniyaa berpikir dengan kepala dingin menyambut saya menjadi menantu.” ucap Indra.


“Apa? kalian ada hubungan?” tanya Pak Hendri.


Indra menggelengkan kepalanya menjawab.


“Tidak.. putri saya tidak akan bisa menikahi mu. Dia tidak bisa mendapat kan keturunan untuk kalian..” ucap pak Hendri


Indra terkejut, dirinya kaget menatap mereka berdua tak percaya.


“Apa benar Bu?” tanya Bu Gia. Ibu dari Indra bertanya kepada Bu Hanna, ibu dari Anya.


Ia mengangguk pelan. Kemudian kedua orang tua Indra menghela nafas.


“Bagaimana kalau saya bilang ada junior Indra di dalam rahim Anya?” tanya Indra menatap mereka berdua.


Seketika saja pak Hendri mengerutkan dahinya emosional.


“Saya serius. Jika anda tidak merestui kami, maka akan ada Indra junior di dalam perut anya..” ucap Indra.


“Indra apa-apaan si...” Pak Jo menatap Indra intens.


“Maaf pah..”


“Jadi itu tujuan kamu melamar putri saya? karena kamu sudah membuat Anya hamil?” ucap pak Hendri.


Indra menggeleng.


“Saya bukan lelaki bejat pak.” ucap Indra.


“Terserah kamu! kamu mau menikahi anak saya, silahkan!saya restui kalian. Tapi jangan pernah membuat Anya menangis kembali kemari.” ujar pak Hendri kemudian melenggang pergi.


“Terima kasih pak!” ucap Indra.


Indra tersenyum dengan penuh kemenangan. Kemudian orang tua Indra berbincang dengan ibu Anya sampai larut malam, karena indra mau semuanya harus di urus sekarang. Karena Indra sudah membuat pernikahannya dan undangan yakni lusa. Ia dan Anya akan hadir.


Indra melupakan anya yang tak terlihat dari tadi karena bahagianya. Di sisi Anya.


Gadis itu menenangkan diri di salah satu toko, Anya tidak yakin akan keputusan yang akan diberikan orang tuanya kepada Indra. Karena anya sendiri tahu, orang tuanya tidak akan semudah itu memberikn restu kepada indra apalagi dirinya pernah di ancam akan posisinya dikeluarga jika berhubungan dengan Indra.


Ponsel Anya kali ini berdering panjang di meja depannya. Kemudian Anya menatap nama yang tertera di layar ponselnya.


“Kau dimana? aku tidak melihatmu dirumah.”ucap Indra di sebrang.


Anya menunduk. Ia ragu dan khawatir.


“Apa aku boleh pulang sekarang?” ucap Anya.


“Kau dimana? biar aku susul.” ujar Indra.


“Supermarket dekat halte sekolah.” ucap Anya.


“Apa? kenapa kau bisa sampai kesana? aku kan menjemput mu sekarang. Sudah malam keluyuran jauh lagi.” ucap Indra protes dan kaget.


Indra langsung masuk ke dalam mobil sambil membawa ponselnya kemana-mana karena panggilan masih terhubung.


“Aku hanya khawatir, kau diapakan oleh mereka? tadi aku berpikir seperti itu sampai tak sadar kakiku berjalan ke sekolah. Mungkin karena terlalu sering pergi ke sekolah?” ucap Anya.


“Tidak di apa-apakan oleh mereka.” ucap Indra santai.


Hal itu membuat Anya tenang. “Lusa kita akan menikah.” lanjut Indra.


Anya malah kaget sampai terbatuk ludah ny sendiri.


“L-lusa?” ucap Anya.


“Aku ingin segera menjaga mu. Sepenuh hati dan jiwa ku, syang..” ucap Indra.


Anya langsung terdiam mendengar hal itu. “Apa kau masih ragu? jika kamu masih khawatir mengenai pernikahan kita katakan padaku, aku selalu berada di samping mu.” ucap Indra.


“Indra.. kau tidak masalah kita menikah SMA?” ucap Anya.


“Kenapa tidak? yang penting kita sudah sepakat dan siap menjalani rumah tangga. Tentunya juga akan merawat anak kita kelak..” ucap Indra.


Anya tersenyum tipis. Kemudian tiba-tiba panggilan terputus. Anya mengerutkan dahi.


“Halo? Indra?” Ucap Anya.


Anya memeriksa ponselnya berulang kali, kemudian anya langsung tegang ketika dirinya dipeluk dari belakang. Ketika dirinya menoleh ke samping Indra tersenyum menatap mata anya.


“Kita pulang sekarang?” ucap Indra.


Anya mengangguk. Indra mengantarkan calon iatrinya ke rumah dan jangan lupa kecupan di kening pertanda perpisahan mereka dua hari ke depan. Kata orang dulu, jika pasangan kita dipertemukan sebelum menjelang H-1. Kesetiannya diragukan.


“Jaga diri baik-baik, aku tidak akan melihat mu dua hari ke depan. Fokus lah untuk mengurus dirimu sendiri, semua sudah aku siapkan, Hm?” ucap Indra.


Anya mengangguk. Ketika anya hendak meninggalkan mobil Indra, Anya berbalik badan dan memeluk Indra.


“Terima kasih... diam-diam inilah yang aku impikan.” ucap Anya.


Indra yang semulanya terkejut langsung tersenyum. “No problem sayang, masuklah. Hari sudah malam.” ucap Indra.


Anya mengangguk dan memberikan senyum manisnya sebelum keluar dari mobil. Indra masih menatap rumah Anya sampai kamar Anya itu dinyalakan sesaat dan kemudian dimatikan.


Senyuman bidadariku... Indra tersipu dan malu-malu sembari perjalanan menuju rumahnya sendiri. Setiap detik pikirannya hanya Anya.


POV ANYA


aku lahir di Sumedang, tanggal lahir ku 22-04-2004. Menduduki bangku menengah atas kelas 2. Diriku tak menyangka aku benar-benar menikah dengan Playboy kelas kakap di sekolah ku. Aku yang dikenal pribadi introver di sekolah malah justru mendapatkan pasangan cerewet namun romantis, tapi selalu ngeselin setiap saat.


Dua hari kemudian sejak kejadian dimana kita berdua pertama kali memasuki mobil yang sama.. Kami resmi menikah di mata negara dan sah di mata agama. Kami sudah menduduki usia ke 2 tahun menikah. Dan mendapatkan bayi mungil yang diberikan nama Athena. Kami hidup bahagia dan sederhana, walau suamiku memiliki harta yang berlimpah namun aku hanya ingin menjadikan Anna berkepribadian hemat dan selalu bersyukur. Walau ia hidup di keluarga sederhana, aku dan suamiku ingin menjadi orang tua yang bisa membahagiakannya..


Hingga pada akhirnya... aku dan suamiku pergi berlibur dengan Anna ke Bali. Mengambil beberapa gambar untuk dikenang apabila anna sudah menikah. Good bye penderitaan, welcome untuk kebahagiaan.


Selalu bersyukur dengan keadaan yang ada. Karena dibalik kesusahan tuhan mengajarkan kita untuk bersabar. -Anya2022


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2