KUMPULAN CERPEN REMAJA

KUMPULAN CERPEN REMAJA
CERPEN #7 Istri Pangeran #1


__ADS_3

( 2214 kata!)


“Bagaimana jika menikah dengan ku, Putri?” tanya pangeran William dingin kepada wanita angkuh didepannya. Wanita yang meminta agar William bercinta dengannya tanpa ikatan. Jelas saja William tidak mau. Alasan apa yang akan ia katakan kepada Raja apabila dirinya menghamili Putri kerajaan musuhnya dari seberang. Tapi suatu kronologi membuat pangeran William meminta agar wanita didepannya ini menikah dengannya.


Apakah kronologi itu? Akankah wanita didepan pangeran William ini mau menikah dengan nya?Dan apakah Putri itu bisa hamil dengan cinta satu malam nya dengan William nantinya?


Cerita ini hanya ada pada akun ini tanpa niat plagiat karya siapapun!


(Karya ini Hiatus di sini, dan akan diterbitkan di lapak sebelah.)


...****...


“Ayah!” Viola memandangi Ayahnya dengan tajam. Lelaki di hadapannya ini, merupakan pangeran Harry putra mahkota kerajaan sebelah. Dan pangeran ini di utus untuk menikahi anak gadis sulung nya. Dengan alasan jaminan hidup keluarga Viola akan aman dibawah pengawasan keluarga pangeran Harry.


Tapi Viola tak setuju. Umurnya baru menginjak 17 tahun dan sekarang? bahkan pendidikannya belum tamat dan tuntas tapi dirinya disuruh menikah. Apa-apaan ini!


“Viola kau akan tetap menikah dengannya. Ayah akan bantu kamu menyimpan rahasia ini baik-baik.” ucap Ayah Viola.


“Aku tidak mau ayah! Aku akan menikah pada umur 21 tahun dan apa? Ayah menjodohkan aaku dengan dia!” Tunjuk Viola.


“Jaga sikap kamu, Viola! Kau menurunkan martabat ayah sebagai pimpinan negara ini.” ujarnya menatap tajam Viola.


“Haha ... tapi aku sedang berbicara dengan ayah ku. Bukan pimpinan negara,” Hardik Viola dengan rahang mengeras. Matanya memanas menatap sikap ayahnya yang egois.


“Viola!!!” Teriak Ayah nya dengan sekuat tenaga geram menatap putri sulung nya itu. Dada nya kembang kempis menatap Viola dengan kecewa dihatinya.


“Saya permisi dulu, tuan. Mungkin lainkali lagi saya kesini,” ucap pangeran Harry sembari menunduk.


“Tidak perlu kau pergi dari sini! Saksikan pertengkaran ini dengan pelajaran bahwa kau tidak bisa sembarang menikahi anak orang!” ujar Viola tajam.


Pangeran Harry diam. “Itu bukan salah pangeran Harry, Viola! ini atas dasar permintaan ku untuk menikahkan mu dengannya. Bersikap sopanlah sedikit dengan tamu!” ucap nya dengan menatap tajam Viola.


“Tamu?” ucap Viola kepada ayahnya. Ia tertawa dengan keras diruangan itu hingga menggema.


“Awalnya tamu, tapi jadi suami?” Viola menggeleng. Viola terdiam sebentar, Menatap pangeran Harry dengan ayahnya yang fokus menatap dirinya. Didalam ruangan itu hanya terdapat tiga orang, dirinya, ayahnya dan pangeran Harry.


“Kau ingin menikah dengan ku kan?” ucap Viola kepada pangeran Harry. Ia berjalan mendekat, Harry langsung melirik ke arah Viola heran. Apa lagi yang akan dilakukan gadis didepannya ini?


Viola kemudian duduk bersimpuh dengan menunduk. Yang langsung saja membuat Harry dan ayahnya melotot terkejut ke arah Viola.


“Nona ...”


“Tidak! jangan menyentuh ku,” Menepis tangan Harry.


“A-aku hamil...”


Deg


Ayah Viola langsung syok dan sempat mundur kebelakang. Sementara Harry hanya diam ditempat walau dirinya juga sama terkejutnya.


“Aku mohon bebaskan aku, aku tidak mau kau menjadi kedua! aku.. aku memberikan mu kesempatan untuk tetap menikah dengan ku atau tidak di kondisi seperti ini ... jika kau tetap menikahi ku-”


Brugh


Viola menoleh kesamping dimana ayahnya pingsan ditempat. Viola melotot kan matanya.


“Ayah?”


Glek


Menelan ludah dengan kasar, ketika ia hendak berdiri tiba-tiba kakinya lemas. Ia benar-benar jatuh dan tumbang kali ini.


“Ayah!!!!” Teriak Viola mengguncang tubuh ayahnya yang tergeletak dilantai.


Viola menangis. ”Maafkan aku ayah... aku mohon bangunlah. aku akan menikah, aku akan memaksa pangeran Harry menikahi ku didepan mu. Bukalah mata mu!” ucap Viola menekan dada ayahnya. Sakit, ia merasakan sakit didalam hatinya melihat ayahnya lemas.


“Uhuk-uhuk!!” Tiba-tiba ayah Viola bangun. Ia membuka matanya sebelah melirik Viola.


“Kau benar akan menikahi pangeran Harry saat aku bangunkan?” ucap ayahnya.


Viola mundur. Ia menggelengkan kepalanya, “Kalian menjebak ku!” ucap Viola mengusap air matanya.


“Lalu bagaimana kau yang hamil anak orang itu hah! Kau pikir kau bisa mengelabui ayah?” ucap nya dengan senyum tipis.


“Ayah jahat!” ucap Viola berdiri


“Resepsinya bulan depan!!!” teriak ayahnya dengan terkekeh menatap putrinya pergi. Ia melirik ke pangeran Harry dan tersenyum. Ide konyol ini sudah diduga oleh ayahnya karena ia paham sifat putrinya bagaimana. 17 tahun ia hidup dengan putrinya itu tidak singkat. Jadi ia paham betul bagaimana sifat putri nya itu.


-


Sementara Viola, gadis itu duduk di taman kerajaannya. Menatap ke depan dengan menerawang hidupnya. Ia akan menikah bulan depan, ide konyol yang ia buat waktu malam pertama bersama suami yang ia sayangi gagal total. Ia tidak dapat menolak lagi sekarang, ide ayah nya untuk berpura-pura mati membuat Viola takut dan trauma. Ia mau tak mau harus menyetujui ucapan ayahnya untuk menikahi. Setidaknya ia membantu ayahnya untuk hidup sementara waktu. Kalau bisa, dengan serakahnya Viola meminta kepada tuhan sampai anaknya besar. Supaya mereka dapat bermain dengan bahagia dan memenuhi istana dengan teriakan bahagia dari keluarga kecilnya.


“Apa yang aku lakukan,” ucap Viola nanar.


“Nona, jadwal anda untuk berkunjung ke kota setelah pangeran Ilham.” ucap bawahannya kepada putri Viola.


“Hem, siapkan kereta untukku.” ucap Viola.


“Baik. Saya permisi,” membungkukkan badan pergi kemudian menyiapkan kereta kuda untuk Viola mengeliling beberapa kota tujuannya.

__ADS_1


Viola pun berdiri dan berjalan, sesekali ia menendang batu yang menghalangi jalannya. Dengan Elegan serta Kharisma nya ia menghampiri kuda putih miliknya dan menunggangi nya.


Dengan beberapa pengawal di belakangnya sebagai bawahan, Viola mengelilingi kota dengan pelan. Ia hanya bisa diam diatas kuda karena ia sedang menjadi putri sekarang. Ia hanya bisa melihat dan diam tanpa melakukan apapun, tak ada yang berani membuat kericuhan apabila keluarga Viola yang melewati mereka. Selain dikenal dengan kejam, keluarga Viola juga memiliki sikap tegas untuk mendidik putra dan putri kerajaan menjadi kuat.


Sudah beberapa jam Viola duduk di atas kuda tanpa tujuan. Hingga ia lelah dan memutuskan untuk beristirahat disalah satu Cafe disana. Ia turun dari kuda dan menghampiri Cafe itu dengan rombongan nya.


“Kalian disini saja, aku akan masuk. aku tidak ingin diganggu, ingat itu.” pesan Viola mengusir bawahannya.


“Baik nona.” ucap mereka.


Tak lama pemilik Cafe berjalan mendekat. Namun dengan sigap pengawal atau bawahan Viola menghadangnya.


“Kalian ini apa-apaan, aku hanya ingin bertemu dengan putri Viola datang menyapa.” ujarnya dengan tak suka.


“Tapi putri Viola sedang lelah dan tidak mau diganggu.” ucap mereka dengan bariton.


Viola menarik dan menghembuskan nafasnya dengan berat. “Pergilah! untuk hari ini biarkan aku menikmati Cafe mu ini seorang diri.” ucap Viola.


”Baik.” ujarnya pasrah. Karena terlihat sekali Viola sedang pucat tak enak badan.


DOR


DOR


DOR


Viola menoleh ke arah jalan dimana ada pangeran William sedang menembak musuhnya tepat didepan matanya. Bukannya takut, Viola malah memandangi William dengan diam dan sejuk. Ia tak ada niat untuk beranjak membantu pangeran William atau kabur dari tempatnya. Walau terdapat kericuhan akibat suara tembakan itu, Viola merasa sedang membuat dunia nya sendiri dengan William yang fokus menembak musuhnya berulang kali dan suara pedang pun nyaring disana.


Ketika William mengusap darah akibat hantaman kuat musuhnya diwajahnya lebih tepatnya di rahang dagunya. Matanya tak sengaja menangkap Viola yang menatapnya. Hingga akhirnya Viola memalingkan muka dsn berbicara dengan bawahannya.


SRINGGG


William kembali menyerang, “Urus mereka, aku ada keperluan!!” Teriak William kepada bawahannya.


Entah ada badai apa yang membuat hati William gusar dan tidak enak setelah mendapatkan kecuekan dari seorang Viola yang sebelumnya mengejar-ngejar nya bahkan sampai gila.


Ia sedikit berlari menghampiri Viola yang hendak pergi. “Tunggu!!” Teriak William membuat Viola berhenti.


Tolong pergilah, pangeran ... Batin Viola merasa berat apabila ia harus berbicara dengan pangeran William.


“Bisakah aku berbicara dengan putri?” izin pangeran William kepada pengawalnya.


“Putri sedang tidak enak badan, tuan. Ia ingin sendirian,” ucap nya dengan sopan menjawab.


“Benarkah? hanya 10 menit saja, ku mohon?” ucap pangeran William.


Berhenti membuat ku berharap kepada mu, William! Bentak Viola dari dalam hati.


“Aku tidak ingin berbicara dengannya.”


JEDER


Bagaikan anak panah serta petir yang menghantam, ia tidak terima dengan ucapan Viola dan segera menghampirinya. Dimana gadis ceria yang selalu menginginkan waktunya untuk Berbicara berdua?


“Tuan, tolong pengertiannya putri tidak mau diganggu.” ucap bawahannya kepada pangeran William yang tidak bisa lepas dari pengawalnya.


“Viola!!” teriak pangeran William memanggil Viola. Viola langsung mencengkram kuat gaun yang dikenakan nya. Ia menutup matanya berusaha menenangkan dirinya.


“Ayo kita pergi.” ucap putri Viola dan menaiki kudanya.


“Tuan mohon pengertiannya untuk tidak menganggu putri. Atau kita akan bertindak tegas kepada anda,” ucap nya menatap William.


“Tapi viola-”


“Tuan.” bawahannya Viola menaruh pedang nya dibahu William sebagai ancaman.


“Hufft baiklah, pergi.” ucap William.


“Maaf. Saya permisi,” ucapnya membungkukkan badan kemudian naik ke kuda menyusul Viola.


Mengapa kamu berubah, Viola? Batin William menatap tidak terima ke arah rombongan Viola.


Ini kan yang kau mau? aku menjauhi mu pangeran. Aku Sudah melaksanakan tugas ku dengan benar kan, kau pasti bangga dan tenang sekarang. Tak ada gadis yang mengajak kau bermalam sekarang. ucap Viola dalam hati.


“Apa kita akan pulang,nona?” tanya bawahannya kepada Viola yang mengarahkan kudanya ke jalan pulang.


Langsung saja Viola berhenti. Ia menatap ke sekitar.


“Aku membutuhkan waktu seorang diri. Kalian pulanglah,” ucap Viola.


“Tidak nona. Kami akan menemani anda,” ucap bawahannya kekueh.


Viola menarik nafas. “Pergi.” ucap Viola dengan menghembuskan nafas. Pertanda ancaman bagi mereka.


“Tapi- Nona!!!” teriaknya ketika menatap Viola pergi dengan melajukan cepat kuda putih balap miliknya.


Rencana sudah matang sejak awal, ia ingin melaksanakan tugasnya sebagai putri. Sekaligus jalan jalan seorang diri, tapi malah bawahannya ikut membuat Viola nekat kabur dari mereka.


-

__ADS_1


Tak disangka pangeran William mengikuti Viola secara diam-diam dan fokus dengan apa yang sedang dilakukan Viola diatas kuda.


Viola menangis, ya. Ia menangis dengan terisak dan diam. Ia menutup kepala nya dari cahaya matahari didepannya. Sementara kuda nya ia biarkan bebas pergi entah kemana. Yang ia butuh kan saat ini hanyalah udara segar dan waktu seorang diri.


“Kenapa ini berat, tuhan!!! kau merencanakan ini untuk apa, Hah. Kau pikir aku bahagia dengan ini, kau memberikan kekuatan setengah-setengah kepada ku kenapa coba! Kenapa kau memberikan ku ujian, kenapa kau tidak menutup saja hati ku dan pasrah!!” Teriak Viola mengamuk dan melempar bebatuan hingga dirinha terjatuh dan terluka sendiri.


Pangeran William bahkan saja sampai terkejut menatap Viola dari atas pohon. Ia sedikit menggelengkan kepalanya menatap kondisi Viola. Entah beban apa yang sedang menimpanya bahkan Viola sampai terisak dan lemah dimata nya sekarang.


Gadis ini ... Batin pangeran William iba. Eh? sejak kapan William setan ini iba kepada gadis? entahlah.


“Kenapa kau membuat ku jatuh cinta dengan pangeran keparat itu, mukanya standar. Badannya kecil, dasar tulang lunak.” Ucap Viola.


Apa dia sedang mengejek ku sekarang? Batin William melotot.


“Hehe tapi dia masih tampan di mata ku,” terkekeh dengan ucapannya.


Viola diam. William menunggu kalimat selanjutnya dari gadis itu. Dengan setia walau dirinya di gigit nyamuk ia berusaha untuk tidak bersuara.


“Seandainya ... seandainya ia mencintai ku, aku bisa berbagi beban dengannya. Aku ingin meringankan beban ku sebagai putri, aku capek berjuang seorang diri. Aku tidak mau berharap kepada siapapun lagi sekarang.” Menoleh ke kiri. Menatap ujung hutan itu dengan menghela nafas. Ia duduk di atas batu, didepannya terdapat danau yang jernih yang membantunya untuk menghilangkan stress.


”Biarkan aku memiliki keluarga kecil yang bahagia sekarang.” Viola menarik nafas dalam-dalam.


“Viola. Kau tidak perlu mengemis jatah satu malam kepada wajah standar itu. Kau akan memiliki suami sekarang, fokus untuk menciptakan keluarga kecil saja.” Berkacak pinggang merapikan pakaiannya. Ia berdiri celingak-celinguk mencari kuda nya.


“Bar-ni ... ” Viola diam ketika ia menoleh ke belakang menatap William yang menatapnya dingin.


Viola berbalik, tapi langsung William cegah dan memegang erat tangan gadis didepannya.


“Kau akan menikah?” tanya William.


“Bukan urusan mu,” ucap Viola dengan bibir bergetar. Sebisa mungkin dirinya tak lemah di depan wajah standar itu. Julukannya yang dituju untuk pangeran William.


”Sakit ... lepas!” bentak Viola meronta.


”Jawab dulu, kau akan menikah dengan siapa?” tanya William.


“Bukan urusan mu, ku bilang.” ucap Viola dengan meringis merasakan cengkraman itu semakin kuat.


Grep!


William dengan berani memegang pinggang gadis itu dan menariknya. Keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain dengan badan Viola yang masih ogah-ogahan menempel.


“Kau tidak menjawab pertanyaan ku, huh? kau sudah berani dengan ku sekarang,” Memegang dagu Viola menahan gadis itu mengalihkan pandangannya


“Pangeran, jaga jarak mu .. kau..”


“Apa?”


“Jangan membuat ku marah..” ucap Viola menatap tajam mata elang William.


“Kau yang mulai duluan gadis kecil, kau harus mendapatkan hukuman.” ucap William.


“Pangeran aku-”


Cup


William menempelkan bib*rnya dengan bibir Viola membuat gadis itu kaget. Ciuman pertamanya, bagaimana bisa berada di bib*r William?!


William melepaskan tautan bibirnya dengan pelan dan menatap ke arah Viola yang menutup matanya. Dengan cepat William langsung mendorong tubuh Viola hingga jatuh.


“Aaaaa ....”


Brukh!


Viola meringis dan memegang ******nya saking keras nya dorongan William itu.


“Kau! tak tau malu,” Emosi Viola.


“Aku?” William menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, siapa lagi kalau bukan kau! Seta*.” ucap Viola.


“Memang apa yang aku lakukan, hah!” ucap William menantang gadis itu untuk berbicara padanya.


“Kau berani mencuri ci*man pertama ku dan mendorong ku. Bagaimana kau-”


Viola terdiam menatap William yang tersenyum miring. “Manis.” komentarnya membuat Viola melempar batu yang ada dibawahnya ke arah William.


“Hahahaha ...” William tertawa terbahak-bahak ketika menatap wajah emosi Viola.


“Nona!!!” Teriak bawahannya kepada Viola.


“Kita akan berbicara lagi lain kali.” ucap William serius.


“Tapi, kau-”


Bagaikan diterpa angin, Viola menatap William yang langsung menghilang entah kemana. Begitu melihat nona mudanya dihadapan matanya, bawahannya pun langsung menghampiri Viola.


“Nona, ands tidak papa? ayo pulang nona, hari sudah menjelang malam.” ucap bawahannya.

__ADS_1


Viola dengan kecewa karena tak dapat melihat William lagi pun hanya bisa mengangguk. Menuruti kata pengawalnya dan Viola baru sampai di kerajaan tengah malam karena jauhnya hutan dengan kota yang ditempati Viola.


Bersambung...


__ADS_2