
Plak! Bruk! Bugh,bugh,bugh!
Nama ku Jenika Santosa. Hidup dalam keluarga kaya bukan berarti aku harus menghadapi kehidupan yang bahagia bukan?
aku terlahir dari ibu yang berbeda dari saudara tiri ku. Bisa di bilang ini adalah kehidupan antara dua ibu yang bersaing mendapatkan cinta sang ayah. Ayah merantau jauh dari negara yang aku tempati ini. Ibu tiri ku memukuli ku ketika ibu ku sedang rapat. Ia tak menyukai ku yang selalu mendapatkan perhatian sang ayah. Di balik sibuknya ibu ku di perusahaan sang ayah, ibu tidak peduli dengan kondisi Rasya dengan kondisi anaknya. Hal ini membuat ku hanya bisa pasrah dengan kedua orang tua ku yang tidak mempedulikan ku.
Pergilah ke kamar mu! Jangan sampai kau keluar dengan darah yang dimana-mana.
ia melemparkan tongkat baseball nya ketika Reyna pulang. Aku menghindar dan keluar lewat pintu belakang dapur. Sedikit berlari kecil karena aku di larang memberitahu Reyna. Aku nafas lega ketika Reyna tak melihat ku dan langsung mengunci pintu. Bergegas melepas pakaian dan membasuh darah ku dengan air hangat.
"Sshhh sakit..." ucap ku merintih dengan menahan sakit.
Tok tok tok! Reyna memanggil nama ku dari luar. Aku pun langsung menyembunyikan pakaian ku dan memakai baju baru dan merapikan wajah ku sebentar. Kemudian membuka pintu. Ia bersorak dengan tersenyum dan memeluk ku. Tanpa aku sadari matanya melihat ke sekeliling. Kemudian ia melepaskan pelukannya. Bertanya soal kabar ku, aku membalas dengan baik-baik saja. Dia tersenyum dan menarik tangan ku memasuki kamar. Ia berjalan ke suatu tempat setelah aku duduk di kasur. Mengeluarkan baju ku yang ku sembunyikan di bawah meja. Kemudian berdiri di sebelah baskom. Ia menatap ku dengan mencincingkan mata.
"Kau salah karena telah berbohong mengenai kondisi mu, Jen. Aku tidak bisa di bohongi, ini ulah mama kan??" Ucap Reyna.
Aku diam dengan menunduk. Reyna mendekat dan memegang tangan ku.
"Aku akan menjaga mu, bertahanlah. Kelak ketika aku besar tak akan ada yang berani menganggu mu." Ucap nya.
Aku mengangguk. Kemudian kami saling berpelukan. Sudah hampir 10 tahun aku terus berdiam diri ketika ibu tiri ku terus memukuli ku ketika Reyna bersekolah. Berusaha mengingat ucapan Reyna dan terus bersabar. Selama kesabaran ku masih ada aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan.. ibu tiri ku tak terima dan kembali memukul ku bahkan ia menarik-narik kerudung ku.
Cukup! Aku memandang nya dengan tatapan melotot dengan ketidaksukaan.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Kamu mau melawan saya, hah!! Kamu mau marah karena saya telah melepas kerudung mu itu?" Ucapnya dengan sinis.
__ADS_1
"Ya!!" Bentak ku dengan air mata.
"Kau!"
"Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajar ku, Bu!. Bahkan dengan bibir ku saja keluh memanggil mu ibu. Ayah memang membiarkan mu bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaan mu. Walaupun aku mati, harta tak akan berpindah ke tangan mu." Ucap ku dengan dada berdebar.
"Sudahi pukulan mu sekarang giliran ku."
Ini lah diri ku sekarang, air mata yang kering. Hati yang sudah rapuh, ditambah terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan dengan menggenggam pisau perlahan berjalan ke arah nya. Ia mundur dan ia berteriak kepada ku. Dann..
Jlebb!
Aku menusuk diri ku sendiri di depannya. Tepat ketika reyna datang.
"Jenika!!!" Teriak Reyna melotot ke arah ku dan melirik ke arah ibunya dengan tatapan tak percaya.
Aku terjatuh dengan tatapan keluh, menunggu ajal ku tiba. Reyna melepaskan tas nya dan berlari ke arah ku.
"Jen.. bangun!!" Reyna memukul pipi ku pelan.
"Tak ada harapan lagi untuk mu, Rey." Jenika berbicara dengan perlahan.
Reyna menangis dengan histeris menatap ku.
"Maafkan aku yang tidak bisa bersabar." Jenika merosot ke bawah dan menutup matanya perlahan.
__ADS_1
Reyna menggeleng. "Ini semua salah mama." Memalingkan muka ke belakang menatap ibunya yang terdiam kaku.
"Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri begitu. Kau melihatnya kan?" Tanyanya.
"Ia! Aku melihatnya, dia bunuh diri karena mama! Mama tahu? Ia mengalami kanker ginjal karena tongkat baseball mama!" Ucap Reyna
Deg!
"Jika ada apa-apa dengan jenika, mama tidak akan tenang aku buat. Lihat saja, mama akan di selimuti rasa bersalah yang sangat besar.." ucap Reyna kemudian memapah Jenika keluar.
"Ini semua bukan salah ku.." wanita itu mundur.
Reyna terus berteriak kepada Jenika agar wanita itu bangun. Nafasnya bahkan sudah cepat kerika di perjalanan.
Hingga, ketika sampai di rumah sakit. Tepat ketika tangan Jenika langsung merosot ke bawah dengan kepala yang menoleh ke samping. Bibirnya perlahan memutih di pangkuan Reyna.
Deg deg.. deg deg.. deg deg...
"Ini gak mungkin! Jenika!! Bangun hey, aku sudah besar aku akan melindungi mu, maafkan aku. Aku bersalah, Jenika aku mohon bangun.. aku akan menuruti semua permintaan mu." Ucap Reyna dengan histeris.
Harapan ku hanyalah mendapatkan kasih sayang dari orang sekeliling ku. Sejak kecil aku tidak mempunyai teman selain Reyna. Aku tidak membencinya karena ia menyayangi ku. Aku tahu itu karena ia selalu menolong ku ketika ibunya mau berbuat jahat. Reyna adalah wanita yang pertama dan terakhir yang menyayangi ku.
3 hari kemudian... Reyna memutuskan untuk tidak lagi bersekolah. Ia memutuskan persekolahan nya dan fokus dalam belajar di bidang kedokteran. Ia akan menjadi dokter psikiater dan psikolog bagi anak kecil. Baginya, semua awal masalah dari kondisi psikolog anak kecil. Hingga semua akan menjadi tenang ketika anak kecil itu bahagia.
Sedangkan orang tua, Jenika. Mereka terpukul, istri pertama ayah Jenika dan Reyna di ceraikan dan di masukkan kedalam penjara karena banyaknya bukti penyiksaan terhadap anak kecil. Hukuman penjara seumur hidup. Tertinggal sisa ibu tiri Reyna dengan ayah Jenika. Serta Reyna yang memilih menghabiskan waktu dengan pekerjaannya dibandingkan dengan keluarganya. Begitu sakit ketika menatap mereka tersenyum sedangkan Jenika tak pernah tersenyum bersama kedua orang tuanya. Sesekali, ibu Jenika menyusul Reyna untuk sekedar menanyakan kabar.
__ADS_1
Tamat