
New York, Juni 1999 ...
Tidak ada alasan untuk meninggalkan NYC saat musim panas berlangsung. Karena inilah masa terbaik yang ada di New York Cify, karena di saat itulah Beberapa atraksi paling populer di New York menyediakan daftar hal yang tak ada habisnya untuk dilakukan di luar dari film di atap dan pesta dansa gratis hingga festival musik.
Sambil mengosongkan baris terakhir dari rak buku yang semula tertata rapi dan besar di sekitar kamar yang terkesan biasa saja itu. Pertanyaan yang sama seminggu terakhir seolah berputar dalam kepalanya dan terus saja pertanyaan itu seolah menjadi hantu gentayangan dalam benaknya: usiaku baru jalan sembilan belas, tapi kenapa aku merasa sudah sangat tua dan lelah menjalani hidup yang seolah berputar putar ini? Kenapa?
Pintu di balik punggungnya berderit amat pelan bahkan hampir tidak mengeluarkan suara namun Amza yang sudah merasakan hal itu menghentikan aktifitasnya yang semula dan berbalik.
Nampak di ambang pintu Oma yang tengah tersenyum lembut ke arahnya.
"Amza, jangan bebani barang bawaanmu terlalu banyak, biar Oma yang kirim semua buku-bukumu itu ke Jakarta."
Amza tersenyum tipis, dirinya urung membereskan buku-buku tadi, hati Amza terasa terusik. Oma mengatakan hal demikian seolah dirinya tidak akan pernah kembali ke rumah ini.
Amza mengerti dan sadar bila saat ini akan hadir tidak terelakkan. Hanya keajaiban yang bisa membatalkannya kembali ke Indonesia. Bertahun tahun Amza berharap dan berdo'a semoga keajaiban yang di nantikannya selama ini akan datang namun apa yang menjadi khayalannya itu tak pernah ada, dan keajaiban itupun tidak pernah datang menyapa dirinya.
Hanya ada sesekali telpon dari Mama yang memuji nilai nilainya yang sering Omanya kirim, tak ada ucapan tambahan yang menyiratkan bila dirinya bisa tinggal jauh lebih lama di New York dan tinggal bersama dengan Omanya, yang berjuang tua untuk tetap hidup sendiri.
Keajaiban yang di miliki Amza memiliki masa kadaluarsa. Cukup hanya tujuh tahun saja. Orang tuanya bertengkar hebat saat dirinya memutuskan untuk tinggal bersama sang Oma, sang ayah kurang setuju bila anaknya itu di lepas ke negri orang. Padahal Amza tidak merasa di negri orang. Bukankah di kota ini juga Mamanya di besarkan dan menjadi seorang sastrawan, hingga akhirnya pergi ke Indonesia dan berhenti menjadi sastrawan? Amza tidak tahu persis apa yang terjadi.
__ADS_1
Bagaiamana mungkin bakat sang ibu yang begitu pandai merangkai kata dan puisi yang mengalir dalam darahnya, justru ingin memendamkan apa yang mereka warisi?
Papa khawatir bila New York akan menghidupkan seorang seniman dalam diri anaknya. Kenapa papa takut? Amza dulu bertanya. Karena otakmu terlalu pintar bila hanya menjadi seorang penulis, jawab ayahnya, yang seketika menghentikan pertanyaannya yang selanjutnya.
Amzapun bertanya tanya haruskah dirinya menyabotase nilai-nilainya sendiri agar orang tuanya terutama sang ayah keliru? Namun sebelum hal itu terjadi Papa dan Mama sepakat dirinya diizinkan bersekolah di New York untuk tujuh tahun, hanya tujuh tahun. Semenjak dirinya menginjakkan kakinya di kelas enam dirinya akhirnya bisa bersama sang Oma, hanya tujuh tahun.
Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari berlalu dan Amza merasa tujuh tahun itu sesingkat kedipan mata.
"Mungkin ini saja yang seharusnya kamu bawa, nak." Oma menyerahkan dua buku soal latihan UMPTN.
"Ya, Oma." Amza menyambut dua buku tebal itu dan dirinya berencana akan meninggalkan buku itu di kolong tempat tidur saat Omanya keluar nanti.
"Oma akan tunggu kamu di meja makan ya, nak." Perempuan itu merapikan blusnya yang nampak meriut dan mengencangkan jepit rambutnya yang sudah putih tapi masih lebat.
"Oma jadi masak?"
"Sesuai pesananmu nak, Oma tidak akan pernah lupa makanan kesukaanmu. Nak, Oma selalu pegang janji."
Satu malam pada musim dingin dan cuaca saat itu memang sangatlah dingin, malam itu pemanas ruang mereka rusak. Oma mendekap Amza dalam balutan selimut tebal bersama. Seolah seorang sahabat yang saling menjaga dan pada malam itu juga Oma sudah berjanji bila dirinya tidak akan menangis saat Amza harus pulang ke Jakarta, dan Amza pun ikut berjanji dalam dekapan yang sekan kehangatan itu masih terasa sampai hari ini, dan tanpa Amza tahu sesulit apa memegang janji itu.
__ADS_1
Amza memandangi Omanya yang berjalan ke arah meja makan. Sudut bibirnya selalu tersenyum sehingga memberi kesan ramah pada wanita itu. Namun sebuah cairan bening nampak tergenang di sudut matanya. Dengan cepat nampak Oma mengusapnya dan hidung wanita tua itupun nampak memerah membuat Amza kian merasa tidak tenang.
Amza menutup pintu kamar, tak lama nampak seluruh kamar yang sudah di tinggalinya selama tujuh tahun ke belakang itu nampak kabur. Berkali kali Amza mengerjapkan matanya tapi air di pelupuknya seolah tak ingin berhenti.
Jakarta, Juni 1999 ...
Cewek bertubuh mungil itu tak henti hentinya berjingkrak, menendang dan sesekali mengangkat tangannya ke atas dan melompati udara di sekelilingnya. Padahal kegiatannya kala itu hanya sedang merapikan buku.
Namun agar lebih mengefesiansikan waktu dia mengkombinasikannya dengan berjoget dan hilir mudik seperti orang yang baru saja menjadi gila.
Kupingnya tersumbat earphone yang mengumandangkan suara musik dari era '80 itupun adalah koleksi musik sang abang. Dia baru saja lulus SMA beberapa minggu yang lalu, tapi selera musiknya sama dengan anak SMA sembilan belas tahun lalu. Semua orang sering bilang bila yang namanya Aylin itu luarannya saja up-to-date, tapi dalam-nya out-of-date.
Aylin yang di katai malah cuek dan anehnya cenderung bangga dengan perkataan itu, Aylin selalu bersikeras bila musik '80 itu luar biasa keren dan genius.
Aylin mengipas ngipaskan sebuah buku, sambil menandak-nandak. Dirinya berusaha keras dalam agar dirinya tidak melihat pantulan dirinya dan hanya kelebatan-kelebatan dirinya saja yang terlihat seperti bayangan yang terus hilir mudik tak henti-hentinya. Dan saat tak sengaja menatap pantulan dirinya di depan cermin dirinya akan terpingkal-pingkal dan berkata. Jiah Jelek banget.
Dari luar adik perempuannya Ainun terdengar mengetuk pintu, setelah beberapa saat tidak mendapatkan hasil, akhirnya Ainun yang tidak sabar mulai menggedor-gedor.
"Wei! Aylin ada telpon tuh!" Terdengar suara dewasa di belakang Ainun seketika Ainun terkejut.
__ADS_1
"Kak Aylin!" Teriak Ainun dirinya melakukan penekanan pada kata Kak, karena kakak perempuannya yang satu itu tidak pantas menyandang titel sebagai seorang kakak.
Bersambung...