
Jakarta, Agustus 1999 ...
Sebuah rumah megah dengan segala hal yang seolah mendukung kenyamanan orang yang meninggalinya itu nampak berdiri kokoh di sebuah daerah elite di ibu kota.
"Azkan kemana ma?" Seorang pria dengan tubuh masih tegap dengan seumurannya itu nampak menanyakan sosok putranya. Pria itu nampak hanya mengenakan kaos polos dengan celana olahraga.
Langkahnya nampak berat dan terkesan menggusur kakinya dan sedikit memperlihatkan kegelisahan, namun dari sebuah ruangan nampak sosok wanita yang menggeleng menyaksikan tingkah suaminya.
"Paling juga masih tidur Pa." Isterinya menjawab dengan sangat santai dirinya bahkan kini lebih fokus pada dua gelas tea yang sedang dia aduk.
"Dia gimana sih, kok kayanya kita yang lebih antusias dengan dengan hasil pengumuman UMPTN dari pada pesertanya sendiri yang malah masih tidur." Dumel suaminya yang merasa tidak tenang karena mau bagaimanapun dan kekuasaan sebesar apapun yang paling utama dalam menunjang segala aset dan kepemilikan sekaligus kepemimpinan dan kekuasaan yang paling nomor satu adalah pendidikan.
"Eh itu suratnya datang!" Sang isteri nampak bersemangat termasuk pria itu yang langsung bergegas setengah berlari ke arah depan, mereka berdua kini nampak tengah melakukan balap lari seolah apa yang akan mereka lihat adalah sebuah hal yang hanya akan sekali seumur hidup mereka lihat.
"Ini namanya Ma! Dia masuk!" Kini dua orang yang semula nampak bersaing malah berpelukan dan bersorak kegirangan antara bahagia dan bangga pria itu memastikan sekali lagi bila itu benar benar nama putranya namun di lihat berapa puluh kalipun hasilnya tetap sama dan itu tertera jelas, A-Z-K-A-N dan sebuah kata penentuan L-U-L-U-S.
"Wah kita harus bangunkan Azkan dia harus lihat surat ini." Nampaknya pria itu sangat kegirangan namun isterinya menyela.
"Sudah tidak usah Pa, kasihan beberapa malam ini dia tidak tidur demi membuktikan kemampuannya. Dia bahkan tidak menggunakan kekuasaan mu untuk meraih UMPTN bukankah itu artinya dia memang luar biasa Pa?" Pria itu akhirnya mengangguk dan mengiyakan apa yang di katakan isterinya.
...----------------...
Ada sebuah rutinitas yang sama sekali tidak bisa lepas dari sosok Aylin dia selalu menerbangkan lampion saat dirinya tengah berkeluh kesah, dia merasa saat menatap lampion yang terbang ke angkasa dan memberi cahaya pada gelap malam itu seolah sama dengan membawanya terbang dan hinggap di antara rimbunan bintang.
__ADS_1
Bintang malam itu nampak bercaya penuh terang seolah merestui kepergian Aylin, dia menulis sesuatu dalam lampion yang terbang dan seolah itu sudah menjadi tradisi dirinya dia merasa amat damai.
Dulu kakak Aylin yang paling besar bernama Aiden pernah berkata bila merasa sedih dan tidak bisa mengatakan hal apa apa pada siapapun maka bintang bisa mendengarkanmu, dan saat itu untuk pertama kalinya Aylin yang di temani Aiden menerbangkan sebuah lampion dan benar seolah bebannya yang menumpuk seketika menghilang.
Dan saat itu Aylin menyaksikan lampionnya terbang dan terus terbang hingga nampak sepeti serpihan bintang sebelum akhirnya menghilang di antara rimbunan malam. Dalam suratnya yang di tulis dalam lampion itu Aylin menulis sebuah surat pendek berisi dua baris pendek.
Tang,
Hari ini aku akan pergi ke Bandung, saya titip keluargaku ya? Sampai jumpa lagi di bandung.
...----------------...
Seorang anak laki laki dengan wajah yang tampan namun sangat merah akibat terpaan sinar matahari dan terlalu sering main itu nampak tergesa gesa memasuki taman depan rumahnya sebelum akhirnya menerjang pintu besar itu dan masuk Ke dalam, suaranya melengking hingga seolah menggetarkan seluruh isi rumah yang nampak lengang dan sunyi itu.
"Ada." Anak laki laki itu nampak menghembuskan nafasnya panjang, hingga akhirnya Amza nampak keluar dari tempat persembunyiannya.
"Wah Ma, dekil kucel kumel gitu juga Denis banyak yang naksir ya?" Denis nampak menyembunyikan semburat merah di pipinya. Kini dirinya seolah ketahuan oleh sang kakak entah surat atau foto mana yang di temukan oleh Amza.
"Iya, untung kamu gak di sini. Mama bahkan serasa menjadi resepsionis pribadinya tiap hari ngangkatin telpon buat dia, dan lagi perempuannya gunta ganti terus." Kini wajah Denis nampak semakin memerah.
Mama menatap keduanya dua saudara yang terpaut usia tujuh taun itu memiliki banyak perbedaan dimana Amza yang lebih senang ketenangan, kesunyian dan introver. Dan sisi lain Denis yang diplomatis, senang bergaul dan ekstrover.
Namun meski seperti itu Denis dan Amza selalu saling melindungi dan menjaga seperti sebuah magnet di mana keduanya saling menempel dan sulit terpisahkan, Denis yang menganggap Amza sebagai idolanya dan bintangnya nomor satu sedangkan Amza yang sangat menyangi Denis lebih dari apapun.
__ADS_1
Denis seperti seorang yang sedang patah hati saat mengetahui Amza akan kembali berkuliah di kota lain. Seperti dulu saat Amza harus sekolah di luar negeri Denis merasa belum cukup masa mereka untuk bersama.
"Ma, aku mau bolos sekolah ya? Sehari aja." Nampak wajah Denis yang di buat buat semenggemaskan mungkin. Namun sebuah jawaban berupa gelengan kepala sudah menjadi patokan.
"Ayolah Ma." Denis berharap harap cemas sebelumnya dirinya sudah memohon mohon pada sang ayah namun hasilnya tetap sama dirinya tidak di izinkan.
"Tidak, lagian Mama udah kasih tahu Budi buat jemput kakakmu di stasiun." Seakan mendapat celah Denis tersenyum sumringah.
"Nah kebetulan banget aku juga pengen ketemu sama Kak Budi, boleh ya Ma?" Ibunya menggeleng melihat bagaimana usaha yang kini di lancarkan oleh Dimas.
"Enggak Dim, pokoknya kamu harus tetep sekolah." Dimas berdecak kesal.
"Ma, sebenernya aku juga gak inget gimana mukanya Budi. Dulu kita terakhir ketemu jugakan pas SD."
Amza tersenyum ke arah adiknya sekan bersekongkol.
"Mama udah pesen sama Budi buat bawa tulisan nama kamu, jadi meskipun kalian enggak saling kenal tapi kalian pasti bertemu." Sang Mama kembali membantah bagaimana reaksi kompak dari dua kakak beradik itu.
"Ma, kenapa Kak Amza gak di anterin langsung aja si?" Kini Denis nampaknya kian melemah.
"Soalnya, kakakmu ini tidak mau dan tidak ingin menimbulkan terlalu banyak masalah nantinya. Dia cuma mau jadi mahasiswa dan belajar di sana bukan nyari pacar kaya kamu." Lagi lagi Denis kalah telak dari sang Mama.
"Sudahlah Denis, kamu juga bisa kan ngantar kakak kamu ke stasiun sekarang, jadi sekarang kamu sebaiknya bersiap dan pergi mandi." Dengan langkah gontai akhirnya Denis menaiki anak tangga menuju kamarnya dan bersiap melepas kembali idolanya untuk belajar dan jauh darinya.
__ADS_1
Bersambung...