
Di sebuah ruangan terdengar bunyi telpon dengan nyaringnya Keisya mengangkat telpon dan terdengar suara pria sampai akhirnya Keisya berteriak memanggil orang yang pria itu cari.
"Aylin telpooon!" Aylin dengan rambut basah dan suara sedikit serakpun menerima telpon, kaos yang basah dan tubuhnya yang menggigil terdengar jelas di telpon.
"Hai sayang.." Sapaan dari telpon terdengar suara pria yang memanggil Aylin.
"Hai juga Oy?" Aylin tersenyum mendengar suara kekasihnya, setelah beberpa hari tinggal di bandung itulah kali pertama Roy menelponnya.
"Kamu baru jogging ya? Tumben rajin." Roy bertanya setengah merasa heran pada kekasihnya itu.
"Bukan, habis dorong mobil." Aylin menjawab dengan bantahan namun nada yang cukup santai.
"Hah?" Roy setengah bertanya dan berteriak mendengar pengakuan kekasihnya.
"Hujan hujanan lagi kaya film India, hujannya gede banget lagi." Tutur lagi Aylin.
"Hah, kok bisa?" Roy kini bertanya dengan nada yang tidak habis pikir dan heran.
"Bisa, si Tarzzan lagi penyakitan sementara Budi mesti jemput sepupunya ke stasiun yang dari Amerika itu lho, terus mereka butuh aku kalo kalo mogok. Eh dasar si Tarzzan ya beneran mogok dia." Aylin menuturkan perihal sebab dan asalmu asal dirinya harus mendorong mobil.
"Gila ya si Budi! Gak ada orang lain, apa? Masa iya kamu yang mereka andalkan. Di stasiun kan banyak kuli. Modal dikit kek. Nanti kalo kamu flu gimana coba?" Kini nada Roy sudah terdengar khawatir terhadap Aylin, Aylin tersenyum sekilas.
"Oy, gak papa kok yang beneran ngedorong kan si Budi sama sepupunya, aku cuma nyumbang spirit sama acting ngedorong doang." Aylin berusaha memberikan penjelasan lain agar kekasihnya itu tidak terlalu khawatir pada dirinya.
"Tapi tetep aja, kamu hujan hujanankan sayang.."
"Heheh, iya sih..."
Banjiran kalimat berikutnya sudah hampir tidak terdengar lagi oleh Aylin, kata kata yang terus tanpa jeda membuat Aylin sedikit memanyunkan bibirnya, dan memeras ujung ujung kaosnya yang basah kuyup.
Aylin memang tidak akan pernah menang bila harus beradu mulut dengan Ooy panggilan kesayangan Aylin untuk Roy, dimana nama indah Roy di rusak oleh mahluk bernama Aylin.
Bagi Aylin sendiri istilah ungkapan dari opposite attract adalah yang paling sempurna untuk menggambarkan bagaimana hubungannya dengan Ooy.
__ADS_1
Dulu, tak ada satupun temannya yang percaya bila Roy berpacaran dengan Aylin karena memang keduanya sangatlah bertolak belakang dalam hampir segala hal. Ooy yang necis dan jago basket adalah pujaan banyak cewek di sekolah karena kegantengannya, terutama sikapnya yang sesuai dengan perimbon Prince Charming.
Sedangkan Aylin juga orang yang sangat terkenal di sekolah namun dari kutub yang berbeda, Aylin lebih seperti orang yang cuek dan gampang berteman dan tidak mementingkan rupa namun dia lebih suka dengan seseorang yang memiliki keteguhan yang kokoh. Namun sikap cuek itulah yang justru menarik Ooy untuk ingin tau lebih banyak tentang Aylin.
Awalnya Aylin ragu menerima Ooy namun setelah melihat bagaimana perjuangan pria itu Aylin akhirnya membuka hati dan membiarkan pria itu berada di hatinya sampai saat itu dimana hubungan mereka sudah memasuki tahun ke dua.
Bagi Aylin Ooy adalah pria yang sangat cerewet dan perhatian kadang kadang berfungsi sebagai pengingat akan dirinya yang harus menginjak tanah setelah terlalu lama berada di dunia khayal.
Sedangkan di mata Ooy, Aylin adalah sosok yang bisa membuatnya sadar bila segala sesuatu harus di lakukan dengan santai saat menghadapi kejutan kejutan dalam hidupnya.
Cukup banyak yang mereka pelajari selama dua tahun itu, dan mereka cukup nyaman dalam posisi tidak aman menurut pandangan orang orang.
"Sayang?" Aylin tersadar dan langsung menjawab.
"Iya, sorry tadi keresak keresek soalnya baju aku basah."
"Ah yasudahlah, mendingan sekarang kamu mandi dan hangatin tubuhnya." Aylin tersenyum lebar.
"Baik Pak, laksanakan. Bye Oy.."
"Dimarahin Ooy ya?" Keisya bertanya dengan rambut basah dan handuk yang siap di lemparkan ke arah Aylin.
"Hahah, biasalah diakan Lo dalam bentuk laki laki" Aylin nyengir lebar menerima handuk yang di lemparkan Keisya.
"O, ya nanti Budi mau traktir kita makan mau ikut gak?" Aylin menelan ludahnya.
"Pake si Tarzzan?" Aylin bertanya setengah ragu.
"Tarzzan tewas, kemungkinan mereka bakal naik angkot ke sini." Aylin akhirnya bisa bernafas lega setelah mendapatkan keterangan demikian dari Keisya.
"Terimakasih tuhan, kau beri aku makan tanpa harus dorong mobil." Keisya yang melihat kelakuan sahabatnya itu hanya terkekeh.
"Udah gih mandi, gue tunggu!" Keisya kembali ke kamarnya setelah melambaikan tangan.
__ADS_1
"Siap Bu Key."
Di sebuah ruangan sederhana nampak dua box pizza yang sudah menganga dan ludes isinya. Empat orang tengah melakukan perkumpulan dan berbincang hangat melakukan sebuah permainan.
"Dah, sekarang giliran lo Ay, mau apa yang akan lo ajuin pertanyaan dalam lingkaran kejujuran ini?" Keisya bertanya dengan kening di kerutkan.
"Oke! Apa hal paling aneh yang pernah kalian lakukan?" Semua orang melongo.
"Bentar deh, pertanyaan itu gak relevan buat lo Ay, secara apa aja yang di lakuin lo kan aneh aneh!" Keisya protes dengan pertanyaan yang di ajukan oleh sahabatnya itu.
"Ini bagian gue kan? Nah jadi suka suka gue dong pertanyaannya." Semua orang menggeleng.
"Oke gue dulu, yang paling aneh yang pernah gue lakuin adalah percaya kalo Aylin itu peri laut." Semua orang melongo mendengar penuturan Keisya.
"Maksudnya?" Budi mulai penasaran dengan apa yang di katakan pacarnya.
"Jadi gini dulu gue sama Aylin tetanggan dan kebetulan rumah kita deket laut, tiap hari Aylin suka bilang kalo di laut itu ada monster besar dan Aylin adalah peri laut, hampir tiap hari Aylin berkata kaya gitu. Sampe sampe gue percaya dengan apa yang di katakan Aylin." Aylin yang mendengar itupun akhirnya tertawa terpingkal pingkal, sedangkan Budi menganga hampir tidak percaya.
"Nah sekarang giliran lo Am?" Amza mulai berpikir dan tersenyum.
"Aku pernah di suruh joget K-pop" semua orang diam sekan menanti penjelasan.
"Oke, jadi gini. Dulu pas gue lulus SMP ada sebuah perayaan kesenian dan kebetulan gue satu satunya dari Asia gue di suruh bawain jogetan Korea." Semua orang diam sebelum akhirnya bertepuk tangan.
"Sekarang giliran lo Ay." Aylin terdiam bener kata Keisya hampir semua yang di lakukannya aneh, dia bingung kalo harus pilih salah satu.
"Cepetan dong Ay?" Aylin terdiam dan masih berpikir.
"Bentar bentar, gue masih bingung nih mau milih."
"Tuh kan apa gue bilang pertanyaan ini gak relevan buat lo Ay." Keisya protes. "Mau gue bantuin?" Kemudian Keisya memberikan anjuran.
"Please.." Aylin memohon dengan wajah di buat buat.
__ADS_1
Bersambung...