Kutub Cinta

Kutub Cinta
Suasana Mencekam


__ADS_3

"Aku setuju." Amza berseru dengan suara yang terdengar cukup kecil membuat Aylin tersenyum dan kembali pandangan mereka beradu. Ada sebuah denyutan aneh pada dada mereka.


"Aku ke luar lagi takutnya Budi sudah nunggu di luar." Aylin mengangguk namun saat Amza berada di ambang pintu Aylin menghentikan langkah pria itu.


"Tunggu!" Aylin bergegas mengambil sesuatu dalam sebuah kotak.


"Ini adalah kumpulan tulisan milik Aylin Alien dan ini belum pernah ada yang baca selain gue, sekarang gue pinjemin ke lo. Jaga baik baik. " Amza menerima sebuah kertas dengan tebal hampir dua ruas jari.


"Terimakasih, saya pasti akan jaga buku ini dengan baik."Aylin tersenyum sebelum akhirnya Amza meninggalkannya sendirian.


Aylin seolah masih merasakan getaran aneh yang semula dirinya rasakan. Aylin melemparkan tubuh mungilnya ke atas kasur dan mendekap dadanya yang masih bergetar hebat.


Malam itu Amza terjaga hingga larut dirinya seolah terbawa pada sebuah kisah anti gravitasi sebuah khayalan yang di buat Aylin, dirinya seolah terbawa pada seorang pangeran hiu, peri laut dan raja paus ada penyihir gurita dan si kembar ikan pari.


Amza sekan merasakan sebuah rasa yang cukup kuat dirinya sekan di bawa pada sebuah dunia yang penuh akan kepercayaan dan haru seketika terbersit di hatinya melihat bagaimana usaha Aylin membuat ilustrasi. Kertas dengan tebal dua ruas jari itu adalah harga berharga Aylin di penuhi dengan hasil ketik dan hasil tulisan tangan Aylin.


Sepanjang malam ada sesuatu yang mendorong Amza untuk terjaga di depan komputer dengan tangan terus berusaha menggambar sesuatu hingga hasilnya dirinya dapati. Untuk pertama kalinya dalam hidup Amza dirinya membuat sebuah ilustrasi untuk orang yang baru di kenalinya tadi sore.


Beberapa minggu berlalu dan sudah lama Aylin mencari sosok yang dia tunggu hingga seorang pria dengan jaket dengan emblem di punggungnya dengan huruf A.


"Hai Author Ay.." Amza menyapa Aylin dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Hai juga Za.." Aylin menyapa Amza dengan senyum yang mengembang di pipinya.


"Baru mandi ya?" Amza mengacak-acak rambut Aylin yang terlihat masih basah.


"Kelihatan banget ya?" Aylin langsung manyun.


"Oh, jelas sekali. Rambut kamu masih basah dan kamu kelihatan agak cemerlang dari biasanya." Amza berkomentar dan Aylin manyun lagi.


"Tumben aku ketemu kamu di kamus, biasanya boro boro liat orangnya liat bayangannya aja enggak. Lagi sibuk ya?" Amza tersenyum mendapati pertanyaan itu dari Aylin.


"Iya, saya di kampus hanya seperlunya aja gak terlalu suka nongkrong-nongkrong." Aylin menganggukan kepalanya mengerti, hampir Aylin keceplosan kalo dia mikir Amza masuk Universitas Terbuka karena selama beberapa hari terakhir dirinya menunggu di sana Aylin tidak pernah melihat Amza.


"Kalo makan siang di kampus masih minat?" Aylin bertanya dengan sedikit mengangkat wajahnya karena tubuh tinggi Amza yang menurutnya sangat tidak adil.


"Tergantung siapa yang ngajak." Aylin tertawa mendengar jawab Amza.


"Salah, yang bener itu tergantung siapa yang bayar." Amza mengangkat keningnya sebelah.

__ADS_1


"Oh jadi saya akan di traktir nih?" Mendengar pertanyaan itu Aylin mengangguk.


"Jangan ngaku anak kampus dan kosan deh kalo belum pernah nyoba makan disini." Amza merengut.


"Enak banget ya?" Aylin berdehem sejenak hingga ledakan tawa terdengar.


"Hahah bukan tapi murah banget.." Amza ikut tertawa.


"Pantes traktir." Merekapun melaju menuju tempat yang di katakan Aylin sebuah tempat yang sangat padat manusia yang berjejal dan berjajar memilih makanan yang berbaris rapih seperti perasmanan.


"Pilih aja. Yang mana aja." Aylin memberi saran, Amza mengangguk. Untuk pertama kalinya dalam hidup Amza makan di tempat seperti itu.


Amza mengikuti langkah Aylin dan menyaksikan piring besar dengan segunung makanan bahkan terkesan hampir tumpah memenuhi piring Aylin, mereka akhirnya memilih sebuah pojok ruangan di sana ada begitu banyak gorengan. Aylin dengan santai mencomot sebuah gehu dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Kecil-Kecil makannya banyak juga ya?" Amza berkomentar hampir tidak percaya bila Aylin mampu menghabiskan makanan sebanyak itu.


"Heheh, menurut surpei selain narik becak dan nguli, menghayal juga memerlukan banyak kalori. Mereka masih napak kalo penghayal harus terbang." Amza tertawa mendengar itu dan kembali Aylin mencomot sebuah gehu.


"Suka banget ya sama gehu?" Aylin tersenyum dan langsung memasukan sesendok besar makanan ke dalam mulutnya membuat Amza melongo hampir tidak percaya dengan apa yang di tangkap retinanya, sebuah gehu di tambah satu sendok makanan. Amza menggeleng dan terus memperhatikan Aylin tak terasa makanan Aylin dan Amza sudah habis.


"Oh ya aku juga punya kejutan buat kamu." Amza mengangkat alisnya saat Aylin kembali bersuara dan nampak mengambil sesuatu dari tasnya.


"Jreng-jreng-jreng ini dia. Karyaku berhasil di muat di majalah." Aylin tersenyum lebar dan memperlihatkan hasil buah tangannya.


"Gimana? Aylin si Alien bisa kan jadi penulis betulan?" Dengan bangga Aylin tersenyum.


"Iya, selamat ya!" Amza merasakan sesuatu yang menggertak hatinya sekan retak. Namun dirinya juga senang saat melihat orang lain berhasil meraih sesuatu yang diinginkannya.


"Oh ya, saya juga punya sesuatu buat kamu." Aylin dengan mata berbinar langsung mendekat.


"Apaan tuh?" Aylin mendekat ke arah Amza hingga jarak di antara keduanya sangat dekat membuat Amza nampak salah tingkah dan memalingkan wajahnya.


"Nanti ikut saya ke kosan saya akan tunjukan." Aylin mengangguk penuh semangat.


Dan siang itu juga Aylin dan Amza menuju sebuah tempat yang sangat asing bagi seorang Aylin, sebuah perumahan besar dengan banyak rumah mewah. Aylin dan Amza jalan kaki mengikuti trotoar jalan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang sangat besar dan sangat mewah.


"Wah, gila ini di huni berapa orang?" Aylin bertanya dengan mata yang menatap kagum.


"Sendirian, hanya saya saja , ini rumah saya." Aylin mengangguk dan menelan ludah, dirinya sama sekali tidak menyangka bila Amza adalah seorang yang kaya raya, karena kepribadian baik, tutur kata yang halus dan sangat rendah hati membuat Aylin sulit menebak siapa Amza sebenarnya.

__ADS_1


"Ayo masuk!" Amza membuka pintu dan nampak rumah yang asri dengan taman dan bunga bunga bermekaran terawat dengan baik sebuah kolam ikan mas juga membuat Aylin terkagum kagum.


"Za, kok gue gak tau lo orang kaya si?" Amza terkekeh mendengar penuturan Aylin.


"Memangnya kenapa? Yang penting kamu mengenal saya dengan diri saya yang sebenarnya tidak perduli dengan latar belakang saya." Amza menuturkan dan membuat Aylin merasakan sesuatu yang nyaman di hatinya.


"Lo bener Za." Aylin berbisik dan melihat punggung Amza yang berada di depannya. Dirinya sekan terbawa dalam alunan hatinya, mampukah dirinya menggapai sesuatu yang jauh seperti Amza? Aylin kembali menggeleng dan berjalan mengikuti langkah Amza.


Rumah yang minimalis dan terlihat sangat mahal itu kontras dengan tempat tinggalnya di kosan yang penuh sesak.


"Ayo!" Amza mengajak Aylin ke lantai dua ke kamar Amza, Aylin mengangkat alisnya saat melihat begitu banyak ilustrasi komik dan gambar gambar 3D yang mengagumkan.


"Wah, gila ini karya lo? Ini si gak bisa di katakan kamar tapi lebih cocok di sebut toko komik." Amza tertawa sedangkan Aylin kembali melihat sekeliling dan menatap sebuah gambar yang seolah di kenalinya.


"Eh itu belum selesai, nih!" Amza buru buru menyembunyikan ilustrasi yang begitu rahasia baginya itu. Itu adalah ilustrasi Aylin. Amza memberikan beberapa ilustrasi yang di buatnya beberapa malam ini.


Aylin melotot hampir tak percaya dengan apa yang di lihatnya air matanya meleleh dan jatuh menimpa ilustrasi itu. Buru buru Aylin mengusap air matanya dan kembali tersenyum dengan tangisnya.


"Maaf jadi basahkan, bagus banget.."


Aylin mengusap setiap ukiran yang sudah di print itu dan melihat sekan dunianya hidup di sana.


"Gak pa-pa. Justru kamu gak apa kan?" Amza menatap Aylin dan melihat bagaimana haru gadis itu.


Aylin mengangguk mengiyakan dirinya benar benar sangat bahagia.


"Boleh aku pinjem dulu gak?" Aylin bertanya dengan penuh harap.


"Itu memang untuk kamu Ay, aku buat itu buat kamu." Aylin seketika menangis dan tidak ada yang bisa menghentikan pelukannya untuk Amza, tidak dirinya juga. Pelukan spontan itu sekan menggambarkan bagaimana perasaanya.


Namun pelukan itu hanya berlangsung dua menit saja karena Aylin langsung sadar dan beringsut mundur, Aylin menyeka air matanya dan menatap sekali lagi ilustrasi itu.


"Maaf, tadi itu.. maaf.." Amza tersenyum canggung begitupun Aylin, tiba tiba ruangan itu sekan berubah menjadi sepi dan hanya kecanggungan yang menghampiri keduanya.


"Nih." Aylin mengeluarkan sebuah permen rasa jahe dan memberikannya pada saat ini.


"Terimakasih, aku anggap impas." Amza tersenyum dan lagi lagi kecanggungan tertuang membuat keduanya hanyut dalam pikiran mereka masing masing.


"Mau makan gak?" Amza menawarkan Aylin nyengir.

__ADS_1


"Barusan udah." Amza merasa otaknya mulai melantur dalam kondisi semencekam itu memang terkadang otak juga tidak akan berfungsi dengan baik, hanya hati yang tau apa yang bisa dirinya katakan meski bibir merek seolah kalu dan tidak tahu harus berbuat apa meski kesempatan terbuka sangat lebar.


Bersambung...


__ADS_2