
Dari jauh Aylin mulai membelikan wajahnya lagi dan berteriak.
"Bud! Siapa nama sepupu lo?"
"Amza!"
"AMZA?"
Bersamaan dengan hal itu segerombolan orang berjejal dan menghalangi pandangan mereka tubuh mungil Aylin sudah terperangkap dalam rimbunan orang orang, Aylin berharap bila apa yang di dengarnya tidak salah, Aylinpun mulai menyusuri lorong itu dan berteriak.
"Amzaaa... Amzaaa..." Aylin terus mengulangi nama yang sama sambil terus melangkahkan kakinya.
Tidak jauh dari sana, sesosok pria yang merasa namanya di panggil. Amza merasa bila sumber suara itu adalah seorang perempuan yang kini tengah berjalan ke arahnya, Amza mengamati dengan seksama perempuan itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, Amza yakin bila dalam hidupnya itu dirinya belum pernah melihat perempuan itu. Lebih jelasnya Amza tidak pernah melihat wanita dengan penampilan seaneh itu.
"Permisi.." akhirnya Amza memberanikan diri untuk menjajari langkah wanita itu.
Aylin menengok ke samping dan menatap sesosok pria dengan penampilan yang tinggi dan berwajah tampan, kulit putih dan rambut hitam dengan sorot mata lembut namun tajam bibir manis dan hidung mancung.
Amza mengamati sekali lagi perempuan yang kini berada di hadapannya itu. Perempuan mungil setinggi dagunya, bila di perhatikan secara seksama nampak seperti gadis yang barus sekolah SMP. Gaya busana yang tidak ada juntrungnya, rambut awut awutan seperti baru kesetrum, mata yang membelalak yang sekan tengah mengancam. Mendadak Amza merasa menyesal telah memanggil wanita itu.
"Ada apa ya?" Aylin bertanya dengan suara di besar besarkan. Berusaha menjadi sangar.
Setengah mati Amza berusaha menahan senyum gelinya yang spontan ingin terbersit. Ternyata kini dirinya berhadapan dengan seekor anak kucing manis yang tengah berusaha menjadi singa.
"Ngak papa, saya salah mengenali orang saya kira tadinya, em.. saya permisi ya.. maaf.." Amza merasa bingung hendak menjelaskan apa akhirnya dia tersenyum lebar dan dengan cepat mengambil langkah seribu meninggalkan gadis yang nampak masih mematung itu.
Sejenak Aylin merasa sesak namun dirinya merasa lebih baik sat pria itu sudah menghilang, Aylin segera menuju pusat informasi yang kini menjadi tujuannya itu.
__ADS_1
Sebenarnya, Aylin tidak keberatan bila salah di kenali orang. Laki laki tadi adalah mahluk tertampan yang pernah dirinya lihat di dunia. Namun dirinya juga harus tetap hati hati pada orang asing yang sok akrab. Kini dirinya kembali fokus mencari sepupu Budi yang malang itu.
Keisya dan Budi yang sudah merasa khawatir mulai menunggu di tempat semula mereka berpisah, suasana di sana sudah nampak lengang hanya tinggal segelintir orang yang tersisa.
"Aku mau coba telpon ke rumah tanteku deh siapa tahu bener dia pakek kereta yang lain, penjem HP ya sayang, pulsaku cekak nih." Sambil merengut akhirnya Keisya menyerahkan ponselnya namun saat ponsel itu masing menggantung di tangannya terdengar suara yang begitu familiar bagi mereka.
Suara itu terdengar hingga seantero stasiun melalui speaker.
"Panggilan untuk saudara Amza penumpang KA Parahyangan dari Jakarta, sekali lagi saudara Amza. Sepupu dari Budi, di tunggu oleh saudara Budi yang ciri cirinya sebagai berikut: rambut cepak, tinggi 175 cm, kulit coklat, mata besar dan bulu mata lentik. Pakek kaos putih, di temani oleh dua cewek cakep..."
Keisya dan Budi melongo. Keduanya menoleh ke belakang melihat Aylin berada di bilik informasi sedang menguasai mikrofon. Tidak lama seorang petugas datang dengan terpogoh-pogoh guna mengendalikan situasi. Seorang anak kurang ajar rupanya sudah menjajah daerah kekuasaannya saat dirinya pergi ke kamar mandi barusan.
Di sana rupanya bukan hanya Keisya dan Budi yang ikut menoleh namun seorang pria yang berdiri tak jauh dari merekapun ikut menoleh. Pemuda itupun yakin bila wanita aneh yang di temuinya tadi adalah wanita yang sama dengan wanita yang memanggil manggil namanya tadi.
Sambil tertawa riang Aylin menghampiri dua sahabatnya Keisya dan Budi. "Hahaha.. salah sendiri posnya di tinggal.."
Dari kejauhan nampak seorang pria menghampiri mereka saat mereka beradu pandang Budi dan Amza merasa ragu satu sama lain.
"Amza?" Budi berbalik bertanya dan ingatan merekapun sekan tergusur dalam lorong waktu ke beberapa tahun ke belakang.
Amza mengenali sosok budi sebagai seorang pria yang memiliki wajah imut dengan muka bulat dan pipi tembem namun Budi memilik bulu mata panjang dan mata yang cantik sehingga dulu Budi sering kali di sebut sebagai bocah cantik. Tapi kini Budi nampak jauh berbeda tubuhnya atletis dan satu hal yang masih ada dalam diri Budi adalah matanya yang cantik.
Sedangkan Budi mengenal sosok Amza sebagai anak bule yang memiliki kulit putih dengan rambut pirang dan pendiam. Tapi kini Amza sudah berbeda Amza kini tumbuh dengan wajah asia namun sisi bule yang tidak hilang dan rambut yang kini menghitam.
Merekapun tertawa dan berpelukan saling merasakan dan membaurkan kerinduan yang sudah lama terpisah.
"Bener kata tante Lusi sekarang lo udah beda banget bro.." Budi menepuk nepuk punggung Amza dan tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh ya, kenalin ini cewek gue Keisya, dan ini sahabat gue dan Keisya..."
Nampak hanya Aylin yang menyimpan seribu kepanikan saat berkenalan itu, wajah Aylin bersemburat merah saat mengulurkan tangan. "Aylin.."
Amza tersenyum menyambut uluran tangan mungil itu yang kini wajahnya merunduk malu, betul pikir Amza seperti anak kucing.
"Hai, akhirnya kenalan juga.." Amza tersenyum penuh kemenangan.
"Emangnya kalian udah pernah ketemu?" Budi berkomentar melihat pemandangan ganjil itu.
Aylin yang nampak melempem seperti kerupuk tersiram air sedangkan Amza yang nampak senang sekan menangkap basah seseorang.
"Belum!" Keduanya menjawab hampir berbarengan dan kemudian tertawa.
"Sudah!" Lagi lagi mereka tertawa.
"Gimana sih?" Budi dan Keisya mulai merasa ada konspirasi saat itu.
"Hahah, mungkin kayanya kita udah ketemu di kehidupan sebelumnya. " Keisya menatap Aylin tidak yakin.
"Dulu si Aylin udah gini belum dandanannya?" Budi bertanya pada Amza, Amza tertawa.
"Oh kalo itu selalu, dan dulu dia galak banget." Merekapun tertawa dan akhirnya kepercayaan diri Aylin kembali. Seolah sahabat lama yang kembali bertemu mereka bercanda sekan mereka sudah bertemu sangat lama dan bukan sore itu.
Tidak beberapa lama kemudian gerimis yang semula mengguyur kota bandung berubah menjadi hujan yang besar.
Di sebuah parkiran nampak tiga orang manusia tengah mendorong sebuah mobil dimana seorang gadis mungil nampak di apit oleh dua pria besar di samping kiri dan kanannya.
__ADS_1
Aylin berteriak teriak membakar semangat dua orang pria yang kini tengah mendorong dan di depan Keisya berada di belakang kemudi. Hingga akhirnya mobil itu bisa melaju menggunakan tenaga mesin, bukan manusia.
Bersambung...