
Aylin mengunci kamarnya dan tak terasa air garam kembali menetes di sudut matanya.
Di sebuah bioskop nampak Amza sudah menunggu teman temannya namun dia tidak menemukan yang dirinya cari hanya dua orang dan seorang wanita menjengkelkan yang di kenalinya.
"Mana Aylin?" Amza bertanya pada Keisya.
"Dia demam, tubuhnya panas banget terus kepalanya pusing kayanya dia kena penyakit tahunan jadi gak bisa ikut kita."
"Oh ya Bud, gue juga ada tugas dari kampus belum kelar. Sorry ya midnight kali ini gue juga gak bisa ikut." Amza menepuk pundak Budi.
"Amza, aku disini tau. Gak liat apa ya?" Amza memutar bola matanya malas.
"Eh, dari ujung sana gue udah bisa liat lo. Dah minggir gue ada tugas!" Amza dengan gerakan cepat melakukan langkah seribu namun sayang tangan Eri sudah melingkari tangan kananya.
"Sayang, kita itu udah terikat kontrak pernikahan lo. Masa mau ninggalin aku demi tugas, nanti apa kata Papa kamu?" Eri bergelayut manja.
"Eh, filmnya udah mau mulai nih, kita cepet cepet yo!" Budi menarik Keisya merasa bila posisi mereka kurang tepat.
"Maaf banget, tapi mau bilang berapa kalipun aku gak perduli. Aku harus ngerjain tugas!" Eri mengangkat ponselnya dan sekan mengancam hendak menelpon sang Papa. Amza mendesah tajam dan akhirnya mengalah pada wanita itu dan pergi bersama mereka.
Malam yang di pikirkan Amza akan indah itu berakhir hancur dan benar benar di luar kendalinya, dia merasa gedek dengan wanita di sampingnya itu.
Di lain tempat Aylin tengah berusaha dengan keras memendam kesedihannya, dia membaca buku buku dongeng dan novel berharap dia bisa melupakan segalanya namun sayang dia tidak bisa dan air garam terus meleleh di ujung pipinya. Satu minggu berlalu dan Aylin melakukan hiatus cukup lama di kamarnya dan di hari senin minggu berikutnya akhirnya Aylin memaksakan diri untuk bangkit. Aylin ke kampus dengan wajah murung, tidak ada ceria yang biasa dirinya bawa bahkan teman sekelasnya pun merasa heran dengan Alien satu itu, dia tidak membawa UFO yang selalu melingkari tangan kananya yaitu jam tangan bentuk kapal luar angkasa ataupun bahasa bahasa dan penampilan anehnya, kini hanya terlihat seorang Aylin yang sakit.
Semua orang berpendapat bila Aylin sedang tidak enak badan itulah yang membuat sifatnya berubah drastis karena memang dari kejauhan Aylin malah nampak seperti mayat hidup.
Siang, sore hingga akhirnya malam hari datang. Kini Aylin berada di atap gedung kampusnya dia memiliki misi malam ini untuk mencurahkan hatinya, dengan sebuah benda menyala di hadapannya sebuah lampion dengan surat di atasnya dengan tulisan tangan.
Langit nampak cerah dan bintang bertaburan, Aylin membiarkan lampion itu terbang ke angkasa dengan sebuah surat yang cukup panjang.
Tang
Aku gak tau dengan perasaanku sekarang, aku tidak tahu harus apa? Aku akan melangkah mengambil pilihan minggu besok, aku berharap pilihanku itu tidak salah.
Aku akan diam dalam keheningan dan rusuh dalam kesibukan, kau benar tang sebuah debupun bisa membentuk bumi yang subur dan makmur, aku akan berjuang untuk diriku sendiri.
Tulis Aylin dalam suratnya. Aylin menerbangkan lampion dan menatap dari sana Lampion itu terbawa angin dan terbang menjauh dan entah kemana lampion itu menuju namun Aylin berharap bila lampion itu terbang setinggi mungkin.
"Ay..?" Seseorang tiba-tiba mengejutkannya dan sekarang nampak jelas Aiden di sana.
__ADS_1
"Bang? Kok lo di sini si?" Aylin memeluk sang kakak dan mendekap pria itu dengan tangis yang tumpah, seakan dirinya di kirim seseorang Aylin meluapkan emosinya. Dirinya menangis sejadi jadinya dan merasakan pelukan hangat sang kakak yang seolah memberinya kekuatan.
"Gue akan S2 disini Ay, tadi gue cari cari lo tapi kata temen di sebelah lo katanya lo masih di kampus." Aylin mengangkat wajahnya menatap sang kakak.
"Terus kerjaan lo gimana Bang?" Aylin bertanya dengan segukan yang bercampur di tenggorannya.
"Gue kerja-kan demi S2, besok lo pindah aja ya ke tempat gue, gue sewa rumah dan ada dua kamar. Jadi kita bisa tinggal seatap dan gak terlalu jauh juga dari kampus." Aylin mengangguk setuju dengan keinginan kakaknya.
Malam itu Amza menunggu Aylin di depan kosannya namun sudah lama menunggu Aylin tidak kunjung datang, sedangkan waktu menunjukkan jam satu dini hari. Amza akhirnya mencari Aylin ke kampus dan di atap Amza melihat Aylin tengah memeluk seseorang.
Amza mengenali pria itu yang tidak lain adalah kakak Aylin, nampak Aylin yang seperti tengah membutuhkan waktu bersama sang kakak. Amza akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Aylin. Tanpa di pikirkannya ternyata malam itu adalah malam terakhir kesempatan yang akan hadir dalam tahun itu untuk menemui Aylin.
Aylin akhirnya menginap di rumah yang di sewa sang kakak. Aylin memiliki misi besar ke depannya yaitu, cepat lulus.
Aylin pindah dan sangat di sayangkan oleh Keisya dan Budi, namun dengan segala bentuk pertimbangan akhirnya mereka mengerti selain Aylin bisa ngirit Aylin juga ingin memiliki sandaran dan Aiden adalah orang yang tepat untuk itu.
Aylin melihat sebuah kotak yang semula hendak di berikannya untuk Amza, namun dirinya kembali mengurungkan niatnya. Aylin mengambil kotak itu dan membawanya pindah.
Malam minggu kembali tiba, Aylin tahu malam itu Ooy akan datang menjemputnya.
Sedangkan di tempat lain Eki nampak berada di depan sebuah gerbang rumah mewah dan menunggu seseorang.
"Ih, di tunggu dari tadi juga." Eri dengan manja menggandeng tangan Amza.
"Kita mau kemana malam ini?" Amza menghembuskan nafasnya kasar, dia tidak bisa menolak ataupun memberi penjelasan pada wanita itu bila dirinya tidak ingin pergi kemanapun malam itu karena Eri mengancam akan memberi laporan pada sang Papa.
"Terserah." Amza menjawab singkat, dirinya benar-benar sudah hilang kesabaran menghadapi wanita itu.
"Ada restoran baru di pinggir kota. Kesana yu!" Amza tidak berkomentar dan langsung memesan taksi saja.
Mereka berdua menuju sebuah restoran di pinggir kota bandung. Amza melihat penampilan Eri dari rambut yang beraroma kuat bau salon, kulit putih terlihat tipis pakaian terbuka dengan rok pendek dan bagian belahan dada terlihat sedangkan mata yang di hiasi lensa dan dandanan yang nampak memikat namun entah mengapa Amza malah merasa tidak suka melihat itu, Amza sendiri tidak tahu jawabannya.
Amza sampai di sebuah restoran terbuka dengan pemandangan indah kota Bandung dan lampu yang menyala di sana sini, menambah kesan romantis di tambah hiasan hiasan bunga di sekeliling restoran itu.
Amza melihat pemandangan indah itu namun nahas pemandangan indah itu seketika runtuh saat dirinya melihat seorang gadis dengan jaket dan rambut yang nampak rapi dengan sebuah jepit rambut kecil, celana panjang berwarna hitam dengan sepatu Nike yang di kenakannya bersanding dengan seorang pria berwajah tampan dengan jaket, celana jins dan sepatu Nike yang hampir seperti selaras dengan si wanita ya itulah Aylin dan Roy.
Sore itu Aylin memang sudah Siap berangkat dengan penampilan biasanya namun tiba tiba Ooy memohon dan meimtanya mengenakan pakaian yang di belikannya. Aylin sudah menolak berpuluh puluh kali namun pria itu tetap memaksa, alhasil jadilah seperti itu.
Pembicaraan awal pertemuan dirinya dengan Ooy terjalin cukup baik meski hanya basa basi menanyakan kabar dan sejenisnya namun kelamaan akhirnya Aylin membulatkan tujuannya bertemu dengan Ooy malam itu.
__ADS_1
"Sayang, kok kamu diem aja si?" Ooy berkomentar menyaksikan Aylin yang hanya diam itu. Namun melihat penampilan Aylin jelas Ooy nampaknya tidak salah memilih seorang gadis.
"Oy, aku mau bicara baik-baik, aku ngerasa kerenggangan di antara kita kian jauh." Ooy mendelik mencari kata selanjutnya yang hendak Aylin katakan.
"Apa maksud kamu sayang? Apa aku kurang perhatian akhir akhir ini?" Aylin menggelengkan kepalanya, jelas bukan itu alasannya.
"Oy, aku gak mau hubungan kita berubah menjadi pahit setelah hari ini." Aylin menarik nafasnya dalam.
"Apa maksud kamu sayang?" Aylin mengigit bibir bawahnya.
"Kita udahan aja ya? Aku ngerasa kalo kita berada di daerah yang jauh berbeda kita sekan berada di tempat yang salah, meski di paksakan tapi kita mustahil bersama." Ooy terbelalak.
"Apa maksud kamu sayang?" Aylin menelan ludahnya melihat ekspresi Ooy yang tiba tiba berubah.
"Aku mau kita put..." belum selesai Aylin mengatakan kalimat terakhirnya Ooy sudah mengecup bibirnya lembut.
Aylin melotot dan mendorong pria itu.
Amza yang duduk cukup jauh dari mereka namun bisa menyaksikan apa yang mereka lakukan mendelik kesal. Dia merasa bila Aylin sudah mempermainkan hatinya, dia sudah memberikan penjelasan tapi kenapa Aylin seperti itu?
Aylin mendorong tubuh Ooy namun ciuman mereka dipererat membuat Aylin menangis dan bisa di rasakan Ooy. Ooy akhirnya melepaskan kecupannya.
Amza benar benar kesal dirinya melihat Eri di sampingnya bila di lihat oleh pria lain mungkin Eri juga tidak begitu buruk, Amza menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
Cup, Amza memberikan sebuah ciuman pada bibir Eri, Eri melotot dan kemudian menutup mata. Dirinya melingkarkan tangannya di pundak Amza. Aylin berbalik dan melihat pemandangan memilukan itu. Hatinya seolah tercabik, beberapa kilas balik sekan menghantuinya. Aylin tidak sanggup dia ingin melarikan diri.
"Sayang..!" Ooy menggenggam tangan Aylin namun di lepas oleh Aylin dan dengan nada keras dan tegas dengan air mata berlinang Aylin berucap.
"Roy apa kurang jelas? Kita putus!" Kata itu mampu terdengar oleh telinga Amza dan seketika melotot dan melihat mata yang tertutup di hadapannya.
Amza berbalik dan menatap Aylin yang sudah berlalu dari sana, Amza mendorong Eri dengan kuat dan melihat Aylin. Namun jejak gadis itu seolah menghilang di kegelapan.
Hingga sebuah taksi nampak lewat dengan seorang gadis yang nampak menangis di dalamnya.
"Aaarrgh.. sial..!" Amza langsung mencari taksi namun daerah pegunungan seperti itu membuatnya kesulitan Amza akhirnya bisa dapat taksi namun terlambat Aylin sudah menghilang dan tidak ada.
Di sisi lain Roy juga bergerak cepat meski tidak terlihat namun Roy langsung melajukan kendaraannya menuju kediaman kakak Aylin yaitu Aiden, namun Aiden bilang Aylin belum pulang ke rumah.
Sedangkan Amza langsung menyusul Aylin ke kosannya, dan nampak kosong sedangkan Budi dan Keisya tidak ada di tempat karena memang malam minggu.
__ADS_1
Amza menjambak rambutnya, Amza ingat saat malam itu dirinya melihat Aylin di atap Kampus Amza akhirnya pergi ke Kampus. Sayang Aylin juga tidak ada di sana, kemana sebenarnya Aylin pergi? Apa di culik UFO?
Bersambung...