
"Ay, itu abang lo di bawah. Katanya mau pulang sore ini ya?" Seorang temannya berada di ambang pintu seraya menunjuk ke bawah ke arah sang kakak berdiri.
"Oh iya, tunggu bentar. Bilangin ke abang gue bantaran aja gue lagi beresin buku." Aylin berteriak dengan senyum di wajahnya seakan lepas dari cengkeraman yang semula menekannya. Nafas Aylin seolah kembali seperti semula dadanya terasa plong dan lega.
"Sorry banget ya Za, gue mesti turun. Abang gue nunggu di bawah, bye.. semoga liburannya menyenangkan!" Aylin melambaikan tangan dan segera berlalu meninggalkan Amza sendirian yang masih mematung, Aylin keluar dengan langkah ringan seakan melayang dan meninggalkan Amza seolah meninggalkan luka.
Hati Amza merasakan kesakitan yang dalam tak terasa dua kertas di tangannya yang semula dia pegang langsung di remas tak berbentuk. Dadanya seolah sesak dan ruangan yang kini kosong itu berubah menjadi pengap, tubuh Amza terasa bergetar dengan mata sayu tak bersemangat.
Amza melemparkan dua kertas itu ke tong sampah, awalnya Amza berencana mengajak Aylin berlibur ke Bali, namun keinginannya harus kandas tak kala mendapati penolakan seperti itu, sebenarnya itu bukan bentuk penolakan liburan karena Amza sendiri belum menawarkannya melainkan itu adalah sebuah bentuk penolakan Aylin terhadap dirinya dan tidak ingin melihatnya.
Mata Amza berubah kabur saat melihat Aylin tertawa di bawah sana melalui jendela dan tampak Aiden yang mengacak rambut Aylin dengan tawa yang sama, benar Aiden memang orang yang introver namun di samping Aylin pria itu bisa berubah drastis. Aylin adalah energi banyak orang dan seolah tawanya itu memeberikan kehangatan yang tidak bisa di berikan orang lain. Amza meremas dadanya yang terasa sesak.
"Za?" Budi melongokkan kepalanya ke dalam ruangan dan mendapati Amza yang tengah murung.
"Lo kenapa Za?" Amza tersenyum kaku saat ini dirinya memang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya, agaknya Budi adalah orang yang tepat.
"Lo suka sama Aylin?" Budi mulai menebak apa yang di rasakan Amza melihat ekspresi pria itu yang nampak patah hati.
"Gue bego ya?" Amza tidak berusaha mengelak dan kini cairan bening mengalir di pipinya.
"Za, gue gak bisa bantu apa apa Za, dan kayanya kesempatan lo juga udah abis. Aylin bakal pindah." Amza melotot mendengar penuturan sahabatnya.
"Kemana?" Amza langsung beranjak, tidak mungkin dirinya sanggup kehilangan Aylin.
"Gue juga gak tau si, tapi yang jelas dia mau mulai belajar di luar negri." Amza melotot hampir tak percaya.
__ADS_1
"Terus di sini gimana?" Amza menatap dengan sorot mata tajam.
"Gue denger si kata Keisya yang kemarin bantuin Aylin beres beres katanya dia mau belajar ke Amsterdam dan di sini dia juga dapat rekomendasi makannya dia gak perlu memusingkan keadaan pelajaran di sini." Amza melotot hatinya belum percaya, dengan langkah cepat Amza langsung berlari menuju parkiran.
Nampak sebuah taksi sudah berangkat membawa Aylin, sedangkan Aiden tengah melambaikan tangan mengucap selamat jalan.
"Kak, Aylin.. Dia.." Aiden mengangkat alisnya melihat seorang pria yang nampak kusut dengan mata dan hidung memerah.
"Dia mau pulang ke Jakarta, soalnya.." belum selesai Aiden berucap Amza langsung memberhentikan taksi dan langsung bergegas.
"Amza melihat taksi Aylin yang berhenti di stasiun dan gadis kecil dengan koper itu nampak berjalan menuju ke dalam stasiun." Amza langsung membayar taksi namun Aylin sudah masuk gerbong dan Amza tertinggal.
Amza mulai mencari gerbong mana yang di tempati gadis itu satu demi satu Amza berjalan dan sebuah jendela dengan seorang gadis di dalamnya tengah mengenakan earphone dan menganggukan kepalanya di lihat Amza.
"Buka earphone-nya." Aylin mendengar kereta akan berangkat dan mesin sudah menyala.
Aylin melepas earphone yang semula tergantung di telinganya dan menatap Amza dengan wajah yang kusut, selama ini Aylin tidak pernah melihat pria itu sekusut hari ini.
Kereta sudah melaju perlahan nampak seorang petugas memperingatkan Amza, Aylin mulai merasa penasaran dengan apa yang akan di lakukan pria itu.
"Aylin, aku cinta kamu.. Aylin!" Amza berteriak sekeras mungkin hingga beberapa orang di sana nampak menatap Amza. Aylin melongo dia merasa telinganya berdengung keras.
Aylin tersenyum lembut dan meninggalkan Amza yang masih berusaha mengejarnya, inilah jalan terbaik yang di lakukan oleh Aylin. Hal terbaik untuk Amza dan dirinya, hatinya merasa sakit namun kini terlambat pilihannya sudah bulat.
Amza menunduk lesu saat kereta melaju cepat dan meninggalkannya sendiri, Budi dan Keisya di belakang nampak memperhatikan mereka, rasa sesal di hati Keisya mulai terasa.
__ADS_1
Jadi inilah sebab mengapa selama ini Aylin seolah menghindar darinya dan geng itu, dan kini dia juga bisa merasakan apa yang di rasakan sahabatnya. Air matanya menetes dengan deras Keisya memeluk Budi di sampingnya.
"Mereka bego banget si..!" Keisya memeluk sebuah boks yang tidak sengaja dirinya temukan kemarin sore saat beres beres. Dia sengaja menyembunyikan itu saat Aylin memintanya untuk membuang barang itu.
Dengan langkah pelan Budi dan Keisya mendekati Amza yang tertunduk lesu, Budi menepuk pundak Amza.
"Sorry, tapi gue pikir dia juga punya perasaan yang sama kaya lo Za." Keisya memberikan sebuah boks itu ke hadapan Amza, sebuah pita kecil terukir di pinggirnya.
"Itu Aylin yang tulis." Amza tertegun dan mengambil boks itu dengan cepat Amza bergegas pergi. Saat ini dirinya tak ingin di ganggu dia butuh sendiri.
"Dia gak akan apa apa kan?" Keisya meragu bertanya pada Budi.
"Gak usah khawatir, dia sekarang palingan balik ke rumahnya." Keisya mengangguk setuju. Merekapun akhirnya kembali dengan perasaan yang seolah ikut terbawa oleh sahabatnya.
Amza benar benar pulang, dia mengunci rumah dan kamarnya. Amza dengan hati berdetak amat cepat membuka kotak itu. Sebuah kertas dan buku kecil nampak di sana. Sebuah buku harian Aylin.
Tertera dengan jelas sebuah tulisan tangan yang di tulis langsung oleh Aylin yang menyuratkan namanya, hati Amza seolah lebur. Kata itu sungguh menghancurkan hatinya dalam sekali lihat.
Aku membencimu Amza
Itulah kata yang tertera dalam bait pertama buku itu, perlahan Amza membuka buku kecil itu hati Amza berubah menjadi kian kacau. Mungkinkah apa yang di rasakannya selama ini salah terhadap Aylin, dan mungkinkah Aylin memutuskan Ooy karena memang keinginan hatinya? Bukan karena dirinya? Amza kian pasrah dia membuka lembaran bait ke dua dan lagi lagi kata yang hampir sama tertera disana.
Apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Aylin? Dan mengapa Keisya memberikan buku itu pada Amza?
Bersambung...
__ADS_1