
Malam minggu tiba dengan desakan kendaraan di sepanjang jalan kota Bandung, di sebuah bioskop berdiri empat orang sekawan yang masing masing memegang sebuah tiket bioskop namun mereka harus berpencar tempat karena memang film yang akan mereka tonton berbeda.
Aylin dan Amza yang menyerobot alhasil mendapatkan filem yang mereka inginkan sedangkan, Keisya dan Budi nampaknya tidak kebagian dan hasilnya mereka mengambil tiket yang tersisa di filem lain, yah dari pada manyun pikir mereka.
Amza dan Aylin tertawa penuh kemenangan dan seseorang petugas nampak menyapa mereka.
"Wah kalian jadi geng Midnight ya, sering sekali bersama. Mas Budi dan pacarnya yang cantik dan Mas Amza dengan pacarnya yang unik nampak sangat keren." Budi dan Keisya seketika tertawa mendengar celotehan tersebut.
Petugas itu merasa bingung namun samar terdengar suara Amza di samping Aylin dengan berkata. "Aamin"
Aylin merasa telinganya sudah tersumbat air sehingga mendengar sesuatu yang sangat ganjil itu.
"Yo ah cus nonton." Budi menarik tangan kekasihnya namun kata yang semula samar terdengar oleh telinga Aylin seolah terus terngiang di telinganya.
"Ayo kita juga Ay!" Amza menatap Aylin yang masih menunduk nampak semburat merah menghiasi pipi Aylin.
"Ay?" Aylin terperanjak dan buru buru mencari objek yang bisa di gunakan pelampiasan oleh dirinya.
"Beli popcorn yu!" Ajak Aylin dan di angguki oleh Amza, melihat ekspresi Aylin. Amza merasa bila tujuannya sudah dekat sungguh dirinya benar benar telah jatuh cinta pada Aylin.
Mereka menonton bersama namun pikiran dan hati Aylin seolah tidak berada di sana, saat ini Aylin berada di dua jalan yang akan sangat sulit di tempuhnya. Dua jalan yang akan membuatnya sakit atau membuat orang lain terluka, dua hal yang sulit kini membentang di hadapannya.
Beberapa hari ke depan seolah Aylin berada di dunia lain dirinya merasa bingung akan perasaanya sendiri. Satu minggu berlalu dan akhir semester datang. Aylin akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta.
Di perjalanan yang penuh sesak dengan orang Aylin akhirnya menemukan kursi tempatnya duduk dan entah di sengaja atau takdir Amza berada di dekatnya.
"Hai kita ketemu di sini?" Amza tersenyum menatap Aylin.
"Hai juga Za, iya ya terkadang takdir juga memberi banyak kejutan." Amza tersenyum mereka duduk dan bercanda sebelum akhirnya Amza tertidur dan Aylin masih terjaga menatap ke arah luar jendela kemudian berbalik melihat Amza dengan nyaman tertidur di pundaknya. Aylin merasakan hatinya gaduh oleh dua hal yang sangat sulit.
'Maafin aku Za.' Bisik Aylin dalam hati namun dia juga harus memulai sesuatu dengan baik sehingga dia tidak takut sesuatu akan menghalangi langkah mereka di masa depan.
Kereta itu berhenti di sebuah stasiun Amza terbangun dan tidak mendapati Aylin di sampingnya Amza celingukan mencari sosok gadis mungil itu.
Amza turun dari stasiun dan nampak belum sampai di Jakarta. Amza bertanya pada salah satu petugas di sana.
__ADS_1
"Pak, permisi. Tadi bapak melihat wanita setinggi ini dengan penampilan aneh gak?" Amza bertanya memberikan sedikit informasi.
"Oh iya cep, tadi keluar katanya mau beli kopi." Amza terkekeh dengan jawaban itu dan bergegas menyusuri tempat itu hingga seorang gadis mungil dengan sebuah kopi dan gehu di hadapannya tengah merenung.
"Hai Ay? Sendirian aja kok gak ngajak ngajak?" Aylin terkekeh dan beringsut memberi tempat Amza agar bisa duduk.
"Takut gehunya di habisin Za." Amza tertawa mendengar jawaban spontan Aylin.
"Za, lo tau gak kalo terkadang demi sesuatu hal kita harus mengorbankan sesuatu yang sangat kita inginkan dan terkadang kita harus memilih apa yang tidak kita inginkan dengan mengorbankan perasan, gue selalu berharap orang di sekeliling gue merasa bahagia." Amza tertegun sejenak ada sebuah kalimat itu sekan menjelaskan tentang sesuatu yang kini berada di antara keduanya.
"Pilihan terbaik dalam beberapa hal terkadang kuncinya hanya bersabar." Amza menambahkan, Aylin mengangguk setuju mereka berada dalam keheningan masing masing hingga keduanya mendapat panggilan dan kembali ke dalam kereta.
Mereka kembali berdesakan, dan Aylin bisa merasakan dengan jelas Amza seolah memeluknya dan melindunginya dari orang orang di sekelilingnya hingga sebuah bisikan bisa terdengar jelas di telinga Aylin.
"Kereta, Perjalanan, Bulan dan Kita." Aylin terdiam hingga beberapa lama dirinya menatap keluar jendela kereta dan nampak bulan tengah purnama.
Mereka duduk bersebelahan Amza menatap mata sendu Aylin seolah gadis itu tidak ingin pulang.
"Ay, bintang memang tidak bisa di petik, namun pasti ada bintang yang di takdirkan untuk bersama kita." Amza mengeluarkan keluhannya yang terasa sejak tadi, membuat Aylin menyembunyikan wajahnya merasa bila yang di katakan Amza benar, terkadang kita hanya perlu terus menjalani hidup dan meski tidak bisa di raih namun akan tetap bersama itulah makna cinta sesungguhnya.
Ooy menatap Aylin dan bergantian menatap orang di samping Aylin, radar Ooy mengatakan bila posisinya kini dalam bahaya dan terlihat itu bukan hanya satu arah tapi dua arah.
"Hai beybe.." Ooy merangkul pinggang Aylin dan memeluknya erat menghujani1 kecupan di lontarkan Ooy di kepala Aylin.
Hati Amza seolah tersayat menyaksikan hal sedemikian rupa namun kemudian dirinya teringat dengan kata kata Aylin sebelumnya, bila sesuatu hal yang di maksudnya ternyata benar harus menyakiti perasaan sendiri demi kebahagiaan orang lain dan itulah yang kini menjadi jawabannya.
"Oy, kenalin ini Amza sepupunya Budi." Ooy mengulurkan tangan namun matanya kurang bersahabat.
"Gue Roy pacarnya Aylin." Ooy menjelaskan statusnya agar Amza bisa sadar diri akan keadaanya.
"Saya Amza temannya Aylin." Amza tersenyum ramah Amza mati matian berusaha menyembunyikan kesakitan di hatinya.
"Oh ya, bulan Desember. Mau hadiah apa?" Amza bertanya dengan senyum yang tak luntur di wajahnya.
"Hmmm... sesuatu yang di buat dan tidak di beli." Aylin tersenyum lebar ternyata Amza sudah tahu apa yang harus dirinya lakukan.
__ADS_1
"Siap, selamat menulis Ay.." Amza berbalik dan pergi meninggalkan Aylin dan Roy. Roy tak lepas memeluk Aylin.
Liburan mereka tidak kurang dan tidak lebih hanya mereka habiskan di rumah, Amza dengan teliti menggambar sosok ilustrasi yaitu sosok dirinya dan Aylin bersanding dalam kebahagiaan. Sedangkan Aylin membuat sebuah dongeng dengan tokoh utama Amza, Aylin berencana memberikan itu pada Amza saat pria itu berulang tahun.
Semester kedua tiba Aylin dan Amza seolah sudah tahu perasaan masing masing namun sebuah ide gila malah di pikirkan oleh Keisya.
Sore itu Aylin melihat Keisya tengah menunggu dirinya di depan kosan Aylin merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu.
"Ay, gue punya kabar baik." Aylin mengangkat alisnya merasa bingung.
"Apa?" Aylin mendekat dan membuka pintu kosnya.
"Lo tau Eri kan? Itu temen kita pas di SD dulu yang dari Amsterdam?" Aylin mengangguk mengiyakan bagaimanapun sosok Eri adalah wanita yang paling cantik seangkatannya dan pasti tidak akan pernah dilupakannya.
"Dia mau ke sini, dan eheeem.. lo tau gak si ternyata Eri sama Amza itu udah punya kontrak perjodohan tau?" Aylin melotot dan merasakan hatinya yang sekan tersayat.
"Jadi gini, rencananya minggu depan di acara midnight kita dia bakal hadir, ah gue seneng juga soalnya di antara kitakan cuma Amza yang jomblo." Aylin tersenyum kikuk bingung dan merasa sakit di hatinya sekan berdarah dan bernanah.
"Lo juga sekalian ajak si Ooy biar triple pasangannya." Aylin mengangguk, dalam hatinya berkata seribu persen dirinya tidak akan datang.
Setelah Keisya masuk ke kamarnya dan Aylin sendiri di kostan itu dirinya merasakan hatinya yang terusik dan tak terasa air mata mengaliri upuk matanya. Sedangkan tak lama kemudian terdengar segukan dan air mata yang kian semakin deras.
Malam itu Aylin tidak tidur dan matanya membengkak merah bahkan dia harus mengompres matanya dengan es batu saat pagi hari.
Aylin merasa hatinya yang sekan mendidih hingga berhari hari dirinya mengurung diri di kamar dan tidak keluar sama sekali kepalanya terasa pusing dan demam menyerang tubuhnya.
"Ay lo di dalem?" Terdengar suara Keisya menggedor pintu kos dan memanggil nama Keisya.
Dengan langkah gontai dan rambut semerawut Aylin membuka pintu dan nampak Keisya yang sudah cantik dan siap midnight sedangkan samar samar nampak seseorang di belakang Keisya dengan penampilan sangat cantik tubuh yang sangat bagus dan setiap inci penampilannya seolah sudah terencana.
"Hai Aylin.." wanita itu melambaikan tangan, Aylin mengangguk lesu bila di bandingkan dirinya Eri memang seperti malaikat sedangkan dirinya sekan hanya sebutir debu.
"Eh Kei, kayanya gue gak bisa ikut midnight deh, kapal gue pusing terus nih.." Aylin menyodorkan keningnya Keisya menempelkan tangannya dan terasa sangat panas.
"Panas banget, yaudah lo tidur aja lagi. Baik baik ya Ay?" Aylin mengangguk dan menutup pintu, kakinya seolah meleleh seperti jeli. Aylin berusaha menggusur kakinya ke atas kasur dan tidur.
__ADS_1
Bersambung...