Kutub Cinta

Kutub Cinta
Mimpi


__ADS_3

"Aylin suka nulis surat buat bintang." Keisya memberikan informasi, semua orang melongo.


"Loh, kok bisa?" Amza penasaran dengan apa yang di lakukan Aylin.


"Bisa banget! Za, semua orang tentu punya alasan kenapa dia hidup dan tinggal di bumi ini. Kalian pernah mikir gak kenapa kita gak bisa terbang kaya bintang? Karena kita terikat pada tanah jawabannya. Simplenya gini kita di dunia ini pasti punya rahasia masing masing tapi sesuatu rahasia apapun pasti akan terbongkar oleh waktu, dan gue memilih memberikan rahasia-rahasia gue ke bintang dengan cara kirim surat lewat lampion terbang." Semua orang hening sebelum akhirnya Amza bertepuk tangan.


"Kok gue ngerasa berada di tengah orang orang aneh, Amza ngapain lo tepuk tangan buat orang aneh ini?" Budi menggelengkan kepalanya dirinya seakan berada di perkumpulan orang aneh.


"Bud, Aylin mengatakan itu, karena dia ngerasa gak punya sahabat. Kamu sebagai temannya kenapa gak sadar?" Aylin melotot meski benar maksudnya demikian namun dia tidak menyangka bila Amza akan mengerti dan selama delapan belas tahun baru Amza mahluk yang bisa tau maksudnya.


"Waahhh, lo salah banget Za. Gue gak bilang gitu!" Aylin melempar bantal yang sedari tadi dirinya peluk.


"Jiah gak ngaku lagi." Amza menerima bantal itu dan tertawa penuh kemenangan.


"Asem lo, gue jadiin dendeng juga lo, sini!" Aylin mengambil paksa bantalnya namun malah tertarik ke arah Amza hingga sebuah pelukan yang tidak sengaja itu terjadi, dua detik mata mereka bertatap-an dengan intens.


Senyum nampak di bibir Amza dan membuat pipi Aylin memerah, Aylin memasangkan kuda kuda di jarinya hingga sebuah capitan mengenai tangan Amza.


"Aw..ssssst... Sakit tau!" Aylin tertawa sedangkan Budi dan Keisya yang melihat kelakuan aneh Aylin dan Amza merasa ada yang aneh di antara keduanya.


"Sudah sudah, sebelum perang dunia ke-tiga berlanjut mendingan sekarang lanjut sama kamu sayang.." Keisya menghentikan pertarungan sengit antara Amza dan Aylin.


"Iya, sekarang giliran lo." Aylin menunjuk Budi hingga keadaan sunyi cukup lama, terdengar Budi yang menarik nafas kasar.

__ADS_1


"Hal paling aneh yang pernah gue lakukan adalah... Naksir Aylin." Diam sejenak, hingga terdengar gelak tawa Aylin yang terpingkal-pingkal hingga sampai mengguling-guling di keramik. Amza ikut tertawa namun dirinya merasa apa yang di rasakan oleh Budi bukanlah hal aneh melainkan hal yang wajar. Sedangkan Keisya melongo hampir tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar.


"Loh, kamu pernah naksir Aylin? Kapan?" Keisya bertanya seolah ingin tahu lebih lanjut dengan apa yang ingin dirinya ketahui lebih lanjut.


"Ya waktu aku sama si semprul itu tetanggan kelasnya, ah.. sayang untung saat itu kamu sudah pindah jadi tidak tau aib ini. Dulu gue pernah jadi salah satu anggota komunitas menulisnya Aylin dan saat di kelas Aylin selalu serius dan selalu memberikan ide ide segar dan keren tapi setelah di luar kelas sudah bubar jalan grak." Aylin kembali tertawa mendengar penerangan dari Budi, sedangkan Keisya masih tetap melongo.


"Terus kalian bisa jadian? Aylin yang comlangin ya?" Amza bertanya kembali pada Budi.


"Sorry, gue adalah orang yang sangat anti dengan segala bentuk pencomlangan dan perjodohan." Aylin menjawab seraya menyilangkan tangan di dada.


"Boro boro, malah ni ya Za, mahluk asem dan alien satu ini itu yang paling menghalang halangi hubungan kita. Masa iya gue di katain spesies berbahaya dan di bilangin ke Keisya." Budi menambahkan.


"Dan sekarang lo masih suka?" Keisya menatap Budi dengan tatapan menyelidik dan penuh kecurigaan.


"Ok, jadi karena gue memang mahluk aneh dan itu udah gak aneh, Keisya dan Budi malah lebih aneh dari gue karena dia bisa suka dan percaya sama orang aneh model gue. Jadi pemenang lingkaran kejujuran ini adalah..." Diam sejenak hingga suara mereka berbarengan menunjuk satu orang.


"Amza.." Amza melongo dan acara itupun di akhiri dengan Amza yang menari break dance ala Korea.


...----------------...


Malam itu Aylin berada di depan komputernya setelah melakukan perkumpulan itu Aylin memilih mengetik dan membuat sebuah dongeng.


"Hai.." Amza melongokkan kepalanya karena memang pintu kamar Aylin terbuka.

__ADS_1


"Hai Za, ayo masuk!" Aylin berbalik dan melihat Amza berada di ambang pintu dan memasuki wilayah kekuasaannya.


"Kamar gue rapih ya? gak mecing sama yang punya kamar?" Amza tersenyum pandangannya menatap sekeliling dimana begitu banyak buku dan pandangannya kini mengarah pada sebuah foto keluarga.


"Itu keluarga besar gue The A lima bersaudara dengan huruf awal A namanya. Ini abang gue yang paling gede namanya Aiden, yang ini abang kedua gue Atta, ini abang ketiga sekaligus paling deket usianya sama gue Arkan dan ini adek gue yang kecil Ainun." Aylin menjelaskan nama nama saudaranya.


"Meski keluarga besar tapi kamu paling cantik ya?" Aylin terperanjak sebisanya Aylin berusaha mengalihkan pandangan Amza agar tidak bisa melihat rona merah di pipinya.


"Nah ini sebagian buku buku koleksi gue, di rumah lebih banyak lagi." Aylin menunjuk buku bukunya yang berjajar rapi di sebuah rak yang tersusun dengan baik.


"Wah banyak juga bukunya, buku dongeng?" Amza menatap salah satu buku dan mengangkat alisnya.


"Hahah iya, gue emang punya mimpi pengen jadi seorang penulis dongeng. Waktu kecil gue ngerasa kalo menulis dongeng itu sesuatu yang aneh dan saat menjelang besar mimpi itu terdengar konyol karena menulis dongeng itu bukan sesuatu yang menjanjikan, gak bisa makan." Aylin menjelaskan mengenai mimpi dan asanya.


"Sekarang bukankah kamu juga belajar di jurusan sastra? Kenapa mesti takut meraih mimpi? Dan urusan makan bukankah tadi juga kamu bisa makan gratis kenapa harus mempersoalkan hal itu?" Amza menatap Aylin merasa bila gadis yang sering di katai aneh itu sejatinya adalah sosok yang di luar ekspektasi mereka.


"Eh bro, di dunia yang di namai realistis ini segala sesuatu mesti dengan tujuan dan sesuatu yang pasti, meski gue hidup di dunia khayalan tapi gue sadar diri." Amza merasa sesuatu yang jauh dari lubuk hatinya merasa tersinggung.


"Meski mimpi gue pengen jadi seorang penulis dongeng tapi gue juga harus tau pasarannya, gue seenggaknya bisa mulai dari menjadi penulis serius dulu baru nanti bisa menjadi penulis dongeng. Emang si kedengaran gak enak tapi itulah realita." Amza terdiam apa yang di katakan gadis itu memang benar.


"Jadi kamu mau jadi diri orang lain dulu sebelum kamu memperkenalkan diri kamu? Bukankah itu kedengarannya yang gak enak?" Aylin tertawa.


"Aduh Za, selama ini lo hidup di planet mana si. Gue kasih tahu satu aturan baku bila sesuatu harus ada sebab dan alasannya. Kalo gue mesti jadi diri orang lain dulu baru jadi diri gue pada akhirnya, gue gak keberatan karena yang jelas dan pasti gue pengen membangun mimpi gue dan orang orang bisa kenal diri gue setelahnya, gak perduli pada awalnya mereka mengenal gue sebagai apa." Amza tersenyuh hatinya tersentuh. Keegoisannya selama ini seolah lebur seketika mendengar kata kata aneh namun sangat dalam yang di lontarkan oleh Aylin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2