Kutub Cinta

Kutub Cinta
Kuli Dorong Mobil


__ADS_3

Bandung, Agustus 1999 ...


Di dunia ini tidak ada sebuah gabungan paling istimewa selain hujan gerimis di luar dan selimut hangat di dalam kamar, itulah prinsip Aylin.


Saat itu Aylin tengah membungkus tubuhnya dalam selimut tebal dan tertidur dengan sangat nyamannya, namun dirinya melupakan sesuatu yang sangat penting kala itu yaitu mengunci pintu kamar kosnya.


Dari luar nampak seorang wanita berjingkarank sekaligus setengah berteriak memanggil nama Aylin dengan suara cempreng dan nada tingginya.


"Aylin, bangun wooi..." Namun Aylin malah mempererat selimutnya dan bergumam tidak jelas. Membuat wanita yang semula memanggil namanya kian gemas dengan tingkah sahabatnya itu.


"Aylin..!" Merasa tidak berhasil akhirnya Keisya melakukan sebuah serangan lanjutan, Keisya menarik selimut tebal Aylin hingga tubuh mungil itu nampak malas dalam tidurnya seraya bergumam tidak jelas, Aylin benar benar syurga yang dirinya bangun sore itu seketika runtuh.


"Ay, jemput sepupunya Budi yo ke stasiun." Aylin berdecak.


"Ck, kenapa gue mesti ikut diakan sepupunya si Budi lah lo yang pacarnya si Budi ngapa gue juga harus ikut." Aylin menarik lagi selimutnya.


"Pokoknya lo harus ikut, mau pake baju yang mana?" Aylin kembali bangun.


"Wahai Keisya, kamu harus tau satu peraturan yang tidak bisa di ganggu gugat dalam hidup Aylin, kebetulan kita akan bertetangga selama empat tahun ke depan mohon lo memenuhi aturan yang gue ajukan. Dilarang keras membangunkan Aylin Sagitarion saat sedang dalan momen sakralnya yaitu tidur siang di tambah gerimis lagi ..."


"Ay, udahlah gak usah berlaga segala, ayo cepet bangun!" Keisya nampaknya tidak begitu perduli dengan apa yang akan di katakan oleh Aylin.


"Kebangetan lo Kei. Pokoknya kedepannya mohon jangan melakukan lagi penyergapan saat tidur siang, dan sekarang di tambah momen gerimis pula lo gak tau ya bertapa berharganya itu? Lo juga masuk ke sini jangan jingkrak jingkrak kaya yang mau nangkap maling. Harusnya lo masuk juga jalannya pakek lutut terus sungkem dulu ke kaki tempat tidur. Ngerti!" Aylin sudah tersulut amarah akibat kehormatannya untuk menikmati siang dengan gerimis hujan dan misi tidur siangnya kala itu akan gagal total.


"Lo mau pakek baju yang mana?" Bukannya mendengarkan khotbah penting yang di kumandangkan oleh Aylin, Keisya justru bertanya pada Aylin, Aylin merasa bingung dengan sikap keras kepala sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bentar, bentar.. Lo kan mau jemput sepupunya Budi lah terus apa hubungannya sama gue?"


"Jiah, kan si Tarzzan suka ngadat di jalan jadi saat dia mogok kita membutuhkan tenaga buat dorong. Jadi gue minta bantuan lo, ngerti?" Aylin melongo hampir tak percaya dengan apa yang di katakan sahabatnya.


"Tunggu? Jadi lo bangunin gue, dari tidur suci gue cuma buat nge dorong si Tarzzan?"


"Ya iyalah emangnya apa lagi?" Sekan tidak merasa berdosa Keisya mengangguk.


"Bener bener lo Kei, Lo bangunin mimpi indah gue cuma buat dorong mobil." Aylin menggelengkan kepalanya.


"Udahlah, lo mau pakek baju yang mana?" Keisya kembali bertanya.


"Yang ini." Aylin menunjuk baju yang di kenakannya.


"Enggak, gue cuma menyadarkan diri gue kalo gue hanya sebatas kuli dorong mobil. Dah ah yo cus kita berangkat." Aylin dengan baju keriut dengan gambar barong, cela gombrang dan sandal plastik dengan warna biru electric nampak menutupi tubuh Aylin. Rambut panjang yang nampak awut awutan dan bagian ke atas seperti di sasak dan naik menyempurnakan penampilan ajaib Aylin.


Di luar nampak Budi yang terkikik kikik tak kuasa menahan tawanya yang akan meledak menyaksikan penampilan Aylin yang begitu Ajaib.


"Lo keren Ay, mantaaap!" Budi berteriak mengacungkan dua jempolnya ke arah Aylin. Aylin nampak tertawa dan tidak memperdulikan hal itu malah dia cenderung bangga. Karena itulah Aylin dirinya berani keluar dengan penampilan sedemikian rupa dan berani menghadapi kenyataan dunia dengan keanehannya.


Melihat itu Budi juga mulai sedikit khawatir terhadap sahabatnya satu itu, mau bagaimanapun kini mahluk aneh itu akan pergi bersama mereka.


"Ay, lo tau kan bertapa gue menghormati dan menghargai setiap liter bensin di mobil gue? Dan gue juga gak bisa matiin mesin mobil si Tarzzan karena takut mogok. Ay, gue juga menyesal bilang ini. Tapi, sebagai seorang teman gue bakal relakan waktu lima menit bensin gue buat lo bisa ganti baju, Kalau lo mau." Budi mengatakan itu dengan penuh penekanan berharap sahabatnya itu bisa berubah pikiran, namun ternyata ramalan dalam kepalanya yang semula sudah melintas benar terjadi.


"Dari pada bensin lo yang berharga dan lo hormati itu di buang buang buat gue ganti baju, mendingan lo konversi jadi duit dan beliin gue minum. Jadi kuli gampang haus, yo ah cabut!"

__ADS_1


Jawaban itu menuntaskan kontroversi sore itu dan merekapun pada akhirnya berangkat ke stasiun dengan rintik hujan memecah air di jalanan Kota Bandung.


Lautan penumpang kereta api sudah melintasi tiga sekawan itu sejak sepuluh menit lalu, namun mereka masih belum menemukan orang yang mereka cari. Aylin dan Keisya sudah merasa resah dan tidak betah diam saja.


"Bud, lo yakin sepupu lo itu pake kereta jam empat? Kita udah di sini lama nih tapi belum nongol nongol juga tuh objek." Tanya Aylin yang mulai merasa resah dan tidak nyaman, bukan apa apa tapi kursi duduk penuh dan mereka kini berdiri. Sedangkan budi yang di tanya sejak tadi celingak crlinguk mencari mahluk yang dirinya cari.


"Gue, yakin lah ay. Gua yakin dia pakek kereta jam empat tapi masalahnya gue lupa mukanya."


"What?" Aylin dan Keisya berbarengan berteriak dan menganga hampir tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Budi. Sedangkan budi malah nyengir masam merasa ada sebuah hal yang akan dua gadis itu lakukan padanya.


"Bud, kok lo gak bawa tulisan atau apalah gitu sebagai penanda kalo kalo kita jemput dia sekarang? Bener bener lo!" Keisya mulai berceramah merasa geram dengan pacarnya sendiri.


"Heheh ketinggalan sayang.." Keisya memutar bola matanya.


"Bilang kek dari tadi biar gue nyari pulpen sama kertas, ampun deh!" Keisya sudah benar benar tidak habis pikir dengan otak pacarnya.


"Tenang aja sayang, muka sepupuku itu unik banget kok. Pokoknya kamu gak usah khawatir pasti dia bakal di ketemukan. Dia itu hem..."


"Kapan terakhir kalian ketemu?" Aylin bertanya agar bisa percaya dengan ucapan Budi.


"Waktu SD," Budi mengecilkan volume suaranya dan hampir tidak mendengar namun Aylin dan Keisya bisa mendengarnya dan saling berpandang pandangan.


Keisya akhirnya melanjutkan omelannya pada Budi sedangkan Aylin mulai berjalan ke arah muka stasiun.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2