
Amza aku sangat membencimu! Wajahmu membuatku sesak saat mengingatnya. Kamu membawaku pada lubang tak bertepi pada cinta yang sama sekali tidak mungkin aku miliki.
Amza aku mencintaimu
Seketika air mata Amza berlinang selama ini dirinya dan Aylin saling mencintai namun dinding di antara mereka cukup besar, malam itu ternyata benar Aylin sudah membuat keputusan untuk berpisah dengan Ooy karena hatinya sudah menjadi milik orang lain. Meski bintang itu tak bisa di gapai setidaknya Aylin bisa melihatnya dari kejauhan, itu sudah lebih dari cukup untuk Aylin.
Amza dan Aylin adalah mahluk yang sama sama aneh yang satu memiliki mimpi menjadi seorang Novelis besar dan satu berharap hanya ingin menjadi seorang Komikus kecil.
Aylin demi mimpinya mengejar asanya sampai ke negri orang, dan Amza yang sama sekali tidak memiliki kesempatan hanya bisa terdiam dalam hening.
Amza merasa mimpi Aylin sudah dekat sedangkan dirinya, kesempatan sekecil apapun tidak dia miliki karena tekanan orang tuanya. Amza menjadikan Aylin sebagai bentuk acuannya. Sudah cukup dirinya diam dan mengabaikan mimpinya, dia ingin bangkit dan mengejar bintangnya.
Amza tersenyum, benar meski jauh dia masih bisa merasakan Aylin di hatinya. Amza mengangkat tangannya ke atas nampak langit langit kamarnya yang putih, Amza tersenyum dan mengepalkan tangannya, Amza akan memberontak.
Semester itu Amza tidak pulang dirinya lebih memilih diam di Bandung dengan komputer dan buku Aylin, sang Pangeran Amza sudah Siap menyelamatkan Peri Laut.
Amza mulai menggambar komiknya, tak akan ada yang bisa menghentikannya menggambar kala itu. Menjadi diri orang lain dulu sebelum menjadi diri sendiri, kenapa tidak bila memang harus begitu.
Amza tidak perduli waktu hingga semester kembali di mulai dan dirinya mulai kuliah dengan sketsa di tangannya setiap hari kegiatan Amza hanya Kuliah dan menggambar.
Di sore hari yang cerah Amza merasa sangat terganggu dengan suara bel rumahnya yang terus menyala selama satu jam terakhir.
Amza akhirnya membuka pintu dan nampak Eri dengan dandanan yang tebal hils yang tinggi dan baju kekurangan bahan berada di ambang pintu.
"Kamu kenapa sih Za? Aku udah nunggu kamu dari tadi tau!" Amza membuka pintu rumahnya sedikit.
"Ngapain lo disini? Pergi sana! Ganggu orang aja." Eri merengut.
__ADS_1
"What? Kamu tanya ngapain? Denger ya. Aku itu calon istri kamu!" Amza memutar bola matanya.
"Tapi gue gak pernah ngerasa kalo lo itu calon istri gue. Pergi!" Eri marah, dia mengangkat ponselnya. Namun Amza sudah tidak perduli dengan apapun yang akan di lakukan wanita itu.
Rumah yang di tinggalnya adalah rumah yang di berikan Omanya, milik dirinya. Hanya uang sekolah saja, namun Amza sudah bulat tekadnya tidak mungkin bisa di ganggu gugat lagi.
"Kalo lo mau lapor, lapor aja sana. Gue gak perduli dengan apapun yang bakal lo lakuin. Ngerti!" Amza menutup pintu rumahnya dan menguncinya dengan cepat.
Agar tidak ada yang mengganggu Amza memutus kabel menuju bel rumahnya. Sudah, sekarang hanya ada dirinya dan dunianya.
Tak ada bedanya siang dan malam Amza akan menggambar saat dirinya ingin dan tidur saat dirinya ingin, tidak ada sama sekali yang menghalanginya sedikitpun untuk melangkah.
Amza satu minggu terakhir seolah teringat akan sesuatu, Amza menatap buku kecil Aylin dan benar sebuah hati yang tersimpan dengan nomor yang tertera, angka angka itu laksana malaikat untuknya.
Amza menekan beberapa nomor pada telponnya dan sebuah dentuman terdengar dan seseorang mengangkatnya dengan suara yang sangat dia rindukan.
"Hai Ay. Apa kabar?" Amza bertanya dengan nada yang rindu, Amza duduk di bawah.
"Hai Za, aku baik. Aku pikir kamu akan ke Jakarta!" Aylin to the poin.
"Aku juga punya mimpi Ay, aku juga akan berjuang." Hati Aylin menghangat merasakan desingan nyaman di dadanya.
Ponsel yang berada di telinganya seolah berada paling berharga saat itu, hingga akhirnya kini baik Aylin ataupun Amza bisa saling mengerti.
"Aku akan ke Bandung sore ini. Apa bisa ketemu?" Amza melotot, tapi bukankah Aylin sudah berangkat ke Amsterdam?
"Ay, bukankah kamu sudah di Amsterdam?" Amza bertanya seolah merasa mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Aku akan berangkat minggu depan ke Amsterdam, sekarang aku masih di Jakarta." Amza melotot seolah seluruh sendi yang semula melumer kembali bertenaga. Amza berdiri dan menekan dadanya yang bergetar hebat dan penuh asa.
"Apa ada hal lain yang membuatmu harus kemari?" Amza bertanya dan dia berharap jawaban yang akan di berikan Aylin adalah jawaban yang akan menguatkannya.
"Ya, Aku harus mendengar dengan jelas kata katamu saat di Stasiun. Aku akan ke Bandung untuk mendengar itu." Amza merasakan hangat di dadanya.
"Aku akan ke Jakarta, baik baik di sana." Amza mulai merasakan kekuatan memenuhi sanubarinya.
"Aku akan menunggumu Za." Amza mengangguk dan tak lama pembicaraan mereka berakhir. Amza langsung bergerak cepat mengemasi koper dan pakaian serta buku bukunya. Amza sudah memiliki tekad bulat.
Meski dirinya tidak akan bisa mengejar mimpinya setidaknya Amza memiliki asanya yaitu Aylin, Amza akan berjuang sekuat sekemempuannya.
Jakarta, Juni 2000...
Aylin berada di depan cermin selama ini dia selalu menjadi alien aneh, namun agaknya hari ini dia akan berubah menjadi lebih aneh. Aylin ingin berada di zona aman dia sudah tidak bisa seenaknya karena kini dia sudah memiliki mimpinya yang berada di depan mata.
Aylin memotong rambutnya dan merapikan setiap inci tubuhnya, Aylin membeli pakaian yang cukup aneh bila di kenakan Aylin karena pakaian itu cukup normal bagi orang lain dan membuat Aylin nampak sangat elegan.
Baju rajutan, Rok yang tidak panjang namun juga tidak pendek yang memperlihatkan betis Aylin yang indah, Rambut dengan poni dan wajah manis Aylin yang nampak manis. Aylin mengangguk mantap melihat dirinya di depan cermin nampak seorang gadis yang sangat cantik.
Amza langsung cabut dengan Koper dan sebuah ilustrasi yang semula belum sempat dirinya berikan untuk Aylin, dia tidak akan pernah bisa tanpa Aylin pikir Amza.
Kereta mulai melaju dengan sangat pelan menurut Amza, Amza benar benar tidak sabar ingin bertemu gadis itu, Amza bisa merasakan hatinya yang kian bergetar sore yang cerah dengan siluet jingga indah seolah memberikan isyarat akan keindahan hatinya sore itu.
Amza menatap langit yang selama ingatannya tak pernah seindah hari itu, Amza sudah membayangkan wajah manis Aylin yang berdandan seperti biasanya. Rambut panjang yang awut awutan, Kaos longgar dan celana besar menggendong tas yang kecil. Amza tersenyum sendiri dalam dunia khayalnya.
Tak ada bayangan lebih baik dari pertemuan itu, Bagaimana mereka akan bertemu?
__ADS_1
Bersambung...