Kutub Cinta

Kutub Cinta
Sahabat


__ADS_3

Pintu di hadapan Ainun terbuka dan nampak Aylin menengok dengan sebuah earphone-nya menjuntai. Ainun mulai melongo menyaksikan kakaknya yang sejak beberapa menit lalu sudah ingin dia banting itu.


"Ada telpon tuh!" Ainun mulai merasa gatal pada tangannya, Aylin mengangkat alisnya tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh adiknya.


"Apa?" Dengan setengah berteriak Aylin bertanya pada adiknya.


"Dasar budeg!" Aylin menarik earphone tersebut dan melotot menatap kakaknya yang sudah sangat membuatnya gerah itu, penampilan Aylin yang sangat luar biasa ajaib itu sungguh membuat Ainun geleng geleng.


"Ada telpon tuh." Aylin akhirnya mengangguk dan setengah berlari ke bagian lantai satu dan hampir bertabrakan dengan Mamanya.


"Aylin speaking, who is this?" Ada beberapa kosong tidak terdengar suara sepatah katapun hingga terdengar jawaban dari ujung telpon.


"Ay, Keisya nih. Emang siapa yang lu sangka telpon? Ratu inggris?"


Mendengar suara Keisya mata Aylin langsung berbinar. Keisya adalah sahabatnya sejak kecil dan bisa di katakan mereka adalah sahabat sejak kecil. Di antara seluruh mahluk dan manusia di bumi ini Keisyalah mahluk yang paling menanti Aylin selesai berkemas dan bisa langsung cabut ke Bandung.


Di antara mahluk dan manusia terdekatnya Aylin mungkin Keisyalah orang yang paling repot karena Keisya persis sekali seperti seorang panitia di sebuah acara besar di kampung kampung yang akan kedatangan aktris ternama. Keisyalah yang mengatur segala hal yang di butuhkan oleh sahabatnya itu. Dari mulai tempat tinggal atau kos untuk Aylin atau jemputan dan sebagainya. Singkatnya Keisya adalah seksi sekaligus panitia sibuknya Aylin.


"Jadi ke sini gak lo? Entar kamar kos lo keburu gue lelang ke orang lain!" Suara Keisya terdengar melengking dan cempreng.


"Ya ampun, santailah sedikit Bu, gue Legalitas STTB aja belum...."


"What? Orang lain tu Legalitas STTB itu udah berabad-abad lalu, lah lo belum.. Aylin...!" Terdengar lagi suara melengking Keisya yang melengking memanggil nama Aylin.

__ADS_1


"Wah, Bu Keisya ngadi-ngadi nih, yang namanya STTB itu baru adanya pas angkatan abang gue sekolah, mana ada dari berabad abad lalu."


"Kapan mulai beres beres Ay? Buku lo yang super duper banyak itu lo gak usah bawa, biar nanti di paketin aja, bagasinya si Budi kecil, nanti takutnya gak bakal muat. Lo bawa baju baju lo aja ya? Tiket kereta api udah di pesan belum? Cepet pesen kalo enggak nanti lo harus beli ke calo, sayang duit."


"Eh Kei, lo tuh lebih cerewet dari tiga adek gue di satuin tau."


"Minggu depan gue gak mau tau pokoknya lo harus udah sampe di Bandung, Mobil si Budi udah gue suruh masuk bengkel dulu biar kagak ada mogok mogokkan lagi, terus kita juga harus keliling buat nyari kebutuhan lo. Kamar lo udah gue sapu sapu dari seminggu yang lalu, pokoknya lo tau rebes aja deh."


"Tapi Kei, lo juga lebih rajin dari tiga Mama gue di jadiin satu."


"Sinting!"


"Dih, kurang ajar..."


"Iya, emang kurang ajar!"


Keisya tiba tiba tertawa lepas. "Kok lo makin aneh si Ay, lo sehat kan?"


"Iya, ya?" Aylin ikut tertawa. "Nih ya Kei, lo kan udah nyiapin segala serba serbi kebutuhan gue udah ngurusin si Budi dan si Tarzzannya yang ngadat melulu itu...."


"Emang! Kadang kadang gue mendingan jalan kaki dari pada bawa tu Fiat ijo. Lebih saringan si Tarzzan ngadat dari pada ngapelnya."


"Huahahahah, parah banget dong?" Aylin ikut tertawa mendengar celotehan itu.

__ADS_1


"Ya udah pokoknya minggu depan gue tunggu lo di Bandung, gak ada tapi tapi lagi, ingat! STTB, pesan tiket kereta apinya dari sekarang sekarang soalnya lagi penuh ya, buku buku lo paketin dan jaket gue juga lo bawa masih di lo kan ya? Terus..."


Aylin sudah tidak mendengar lagi apa yang di katakan sahabatnya itu dan lebih memilih mendengarkan alunan musik dari earphone yang sedari tadi masih menyala dan di jejalkan lagi ke dalam telinganya.


"Ay, udah di catat ya? Ay?" Aylin terkejut.


"Siap Bu, sampai ketemu minggu depan semuanya sesuai pesanan Ibu." Aylin terkikik kikik saat pembicaraan itu usai.


Aylin sungguh merasa beruntung memiliki sahabat seperti Keisya, Keisya menyiapkan hampir seluruh keperluan Aylin bahkan keluarganya sendiri tidak perlu repot repot mempersiapkan segala sesuatunya dan sudah disiapkan hampir keseluruhan oleh Keisya. Sejak kecil mereka memang seperti itu, Keisya seolah menjadi seorang ibu yang super duper cerewet saat menyangkut segala sesuatu mengenai Aylin.


Persamaan dan perbedaan mereka seolah menyatu dengan sempurna, Keisya yang berasal dari keluarga yang hanya memiliki anak tunggal yaitu dirinya sedangkan Aylin yang berasal dari keluarga besar tidak menjadikan mereka saling menyinggung. Namun hal itu justru membuat mereka kian dekat. Selain hubungan mereka yang terjalin akrab hubungan dua keluarga itu juga terkesan sangat baik dan bersahabat sejak awal pertama mereka bertemu.


Ayah mereka yang memang merintis karir dalam bidang yang sama seolah di sengaja pula mereka selalu di tugaskan bersama ke manapun mereka pergi.


Aylin dan Keisya selalu bersama sejak kecil dan selalu dalam kompleks perumahan yang sama pula, dan saat berpindah dari kota ke kotapun selalu bersamaan.


Hingga akhirnya saat mereka menginjak kelas 1 SMP mereka terpisah karena ayah Keisya yang labil memilih pensiun muda dan menghabiskan waktunya di Subang, kampung halamannya sedangkan ayah Aylin berada di Jakarta. Sejak saat itulah perpisahan mereka bermula namun tidak membuat renggang hubungan persahabatan mereka berdua.


Meski dalam beberapa hal Keisya nampak lebih dewasa dari pada Aylin namun dalam sebuah hal yang di sebut keras kepala dan menggapai mimpi dan meriah keinginan agaknya Aylin lebih unggul. Sejak kecil Aylin sudah tahu apa yang dirinya inginkan dan apa tang akan menjadi tujuannya suatu saat nanti. Saat Aylin berhadapan dengan apa yang dirinya inginkan Aylin seolah menjadi power rangger yang berubah dan seolah berbeda dari sebelumnya.


Pilihan Aylin yang mengambil jurusan sastra adalah dari buah mimpi dan cita citanya untuk menjadi seorang penulis dongeng.


Sedangkan memilih bersekolah di kota lain adalah buah dari khayalannya untuk bisa hidup mandiri, di luar penampilannya yang selalu tidak normal dan kelakuannya yang seba spontan Aylin adalah sosok yang merencanakan kehidupannya dengan sangat matang.

__ADS_1


Aylin selalu tau apa yang harus dirinya lakukan dan apa yang sudah dirinya lakukan dan Aylin selalu serius dalam menjalani hidupnya terutama dalam menggapai asa dan mimpinya yang terdengar sangat aneh dan sesuai dengan penampilan Aylin.


Bersambung...


__ADS_2