
Aylin berada di rumah sang kakak, saat tiba Aiden merasa aneh dengan tingkah sang adik yang akhir akhir itu sangat sensitif dan gampang menangis.
"Bang, kalo ada Ooy kesini bilang ke dia kalo aku gak ada." Pesan Aylin, sebelum akhirnya dia masuk ke kamar dan mengunci diri.
Aiden merasa bingung di tambah benar apa yang di katakan oleh sang adik bila tak lama setelah itu Roy ke rumahnya dan sesuai pesanan Aiden menjawab bila Aylin tidak ada di rumah.
Aiden mendengar isak tangis Aylin di dalam kamar, gadis yang biasanya ceria dan penuh semangat itu kini nampak lain dari biasanya, Aiden tak ingin menganggu karena dia sangat yakin bila Aylin membutuhkan waktu untuk sendiri.
Sedangkan Aylin yang berada di dalam kamar merasa hatinya sangat hancur dan galau, mungkinkah apa yang di lakukan Amza selama ini bukan kenyataan? Apakah hanya dirinya saja yang terlalu bawa perasaan? Aylin memutar pertanyaan itu dalam kepalanya dan sebuah jawaban pasti akhirnya dia dapati, bila dirinya bukan siapa siapa Amza.
Malam itu Aylin tertidur dengan mata sembab dini hari, dan paginya Aylin mengompreskan es batu ke wajah dan bawah matanya yang nampak membengkak seperti tersengat tawon.
"De, jogging yo.." dengan wajah semangat sebisanya Aiden mentransfer energinya untuk sang adik, sifat Aiden yang pendiam itu seketika berubah saat melihat Aylin yang sangat menghawatirkan.
"Tumben lo mau jogging? Tapi oke deh!" Aylin dengan semangat seperti sedia kala mengiyakan ajakan kakaknya, Aiden dan Aylin akhirnya lari pagi dan mereka tertawa bersama bercanda bersama.
Aiden merasa senang melihat adiknya yang dalam waktu satu malam bisa berubah dengan cepat, Aiden tidak ingin mengusik ketenangan hati Aylin, baginya tidak perlu tau urusan dan kesedihan Aylin yang harus dia lakukan adalah membuat gadis itu ceria dan kembali pada jati dirinya yang semula.
"Bang, bawa duit gak?" Aylin dan Aiden yang sudah sampai di gedung sate merasa ngiler melihat weekend dengan berbagai makanan di KFD yang berjejal di sepanjang jalan.
"Jiah lo, dasar tukang ngurah dompet. Ada, tapi kita keliling dulu nyari yang pas. Gimana?" Mata Aylin berbinar dan mengangguk mereka menyelesaikan beberpa putaran dan sampai akhirnya Aylin memiliki keinginan untuk membeli es doger dan gehu.
Tidak ada yang mengira bila perpaduan keduanya adalah kombinasi sakral dan sangat di sukai oleh Aylin. Keduanya sekan melebur jadi satu dalam mulutnya.
Hari itu tekad Aylin sudah bulat, dulu tujuannya ke Bandung untuk bersekolah dan menggapai mimpinya dia tidak akan terganggu lagi dengan sesak seperti malam tadi.
"Eh de, gue yakin di dunia ini cuma lo satu satunya yang menganggap kalo gehu dan es doger adalah percampuran yang nikmat." Aiden berkomentar saat melihat bagaimana reaksi Aylin yang nampak sangat menikmati.
"Kak yang namanya jogging itu adalah sebuah hal yang harus di nikmati dengan sempurna dan harus di hiasi dengan kesempurnaan, ini dia yang paling sempurna es doger dan gehu." Aiden menggeleng melihat adiknya yang makan dengan lahap.
__ADS_1
"Cerpen lo udah masuk majalah ya de?" Aiden bertanya dengan wajah berseri.
"Iya Bang, keren gak tu?" Aylin nyengir lebar dan tak sengaja dia menelan satu buah cabe yang tidak sengaja terkunyah.
"Wah, cabe.. pedes.. bang minum.." Aylin gelagapan dengan bibir dan pipi memerah.
"Nih!" Seseorang tiba tiba berada di belakang Aylin sejak tadi pagi memang dirinya terus mencari sosok kecil Aylin namun tak kunjung di temukannya hingga dia melihat sosok lain dari diri Aylin yang keluar, dia melihat seorang gadis yang sudah tidak terlihat seperti anak SMP lagi tapi lebih terlihat sebagai remaja yang manis. Aylin meminum air itu dengan cepat dan menghembuskan nafasnya lega kemudian.
"Huh, eh Amza. Lo jogging juga?" Aylin tidak ingin mempermasalahkan hatinya dia tidak ingin memperkeruh suasana. Amza merasa sesal melihat Aylin ceria dan gembira, dia merasa ada sesuatu yang kini sangat berubah dari Aylin.
"Enggak." Amza menatap Aylin sendu, namun dengan santai Aylin menepuk pundak Amza dan tersenyum ramah.
"Udah dulu ya, oh iya gue hampir aja lupa. Kenalin ini abang gue Aiden." Aylin memperkenalkan kakaknya.
"Hai saya Amza." Dengan ramah tamah mereka bersalaman dan senyum nampak mengembang di wajah Aiden.
"Senang bertemu Kak Iden." Amza merasa bila Aiden sama seperti Aylin meski dandanannya tidak senyentrik Aylin.
"Gue sama Aylin mau cabut dulu ya, yo Ay!" Aylin mengangguk, sebenarnya dari tatapan Aylin dan Amza, Aiden sudah mulai mengerti kondisinya di tambah Aylin yang nampak tidak merasa nyaman.
"Bye Za, gue cabut dulu!" Aylin berjalan di samping Aiden dengan keadaan yang sangat berbeda dari sebelumnya Aiden merasa gemas dan mengacak acak rambut sang adik.
Amza mematung melihat siluet Aylin yang kian menjauh darinya, dadanya sekan sesak dan hatinya terasa hancur dia melihat cintanya pergi.
Sesampainya di rumah sepeti biasa Aylin mulai menulis dongeng selepas mandi dan dengan santai dan menikmati, Aylin seolah berada di dunianya yang dulu, berada di dunia asalnya di alam khayalan. Tidak perlu ada sosok pangeran untuk menggambarkan sebuah kisah, sebuah keluarga juga cukup memikat pikir Aylin.
Meski Aylin sendiri tidak bisa memungkiri perasaannya yang tertanam sangat dalam untuk Amza, dia begitu mencintai pria itu namun hanya sesal dan sesak saja yang dia dapati. Sudah tidak ada lagi harapan, yang ada kini hanya ucapan selamat tinggal dan awal yang baru.
Hari hari kedepannya Aylin mengambil segudang SKS dan pelajaran yang bertumpuk tumpuk, Aylin sibuk bukan main dirinya berencana akan menghadapi badai besar bersama para pasukan laut. Aylin akan memakan setiap pelajaran di hadapannya.
__ADS_1
Aylin belajar siang dan malam, Aiden yang melihat itu cukup risih di tambah kini kediaman itu lebih nampak seperti perpustakaan dengan buku buku yang berjejal meski sangat rapi.
"De, Keisya tadi nelpon katanya mau ikut midnight gak?" Aylin tersenyum, memang sudah cukup lama dirinya tidak ikut gabung dengan para sahabatnya.
"Lo mau ikut gak?" Aylin malah balik bertanya, Aiden menggeleng.
"Itu kegiatan anak muda toh de, gue yang cetuk gini gak mau ikut ikut gituan." Aylin terkekeh mendengar alasan kakaknya.
"Yaudah kasih alasan itu ke Keisya, bilang aja kita udah cetuk." Amza terkekeh dia benar benar selalu kalah dari gadis itu dalam segala hal.
"Dasar ya, kamu juga harus punya waktu untuk diri Kamu sendiri de, bukan cuma buat buku tapi buat diri kamu sendiri." Aylin merengut mendengar penuturan kakaknya.
"Ah, males ah. Mumpung muda harus banyak belajar biar tua gak menyesal, gue lebih suka sama buku buku gue dari pada film. Soalnya novel itu lebih terasa ke hatinya gitu." Aylin berdalih dan sudah Aiden tidak ada lagi kesempatan bersuara.
Aylin menghabiskan malam minggunya dengan buku Novel, beberpa novel beken dia baca berulang dan mulai mengerti setiap konsep dan cara penyampaian penulisnya.
Aiden si siluman kampus itu kini lebih sering nongkrong di kampus dan selaku berharap dapat bertemu Aylin namun berminggu minggu hingga dua bulan dirinya mencoba mencari sosok itu Aylin seakan lenyap.
Aylin memang sering menghindari Amza, hatinya akan terasa sakit bila melihat pria itu dia sudah tidak sanggup bertemu. Pertemuan terakhirnya di depan gedung sate adalah pertemuan paling tidak terduganya dan tidak akan terulang.
Tahun baru sudah berlalu beberapa bulan yang lalu saat ini Aylin seolah tak ingat tanggal dan hanya ingat hari untuk dirinya ke kampus dan mengumpulkan tugas saja.
Sesuatu yang tidak di harapkan Aylin benar benar terjadi di sore hari setelah pelajarannya selesai seorang pria nampak berdiri di dekat pintu dan memperhatikan dirinya yang sedang merapikan barang barangnya ke dalam tas.
"Ay?" Aylin tersenyum menatap Amza dia tidak ingin memperlihatkan kesulitannya.
"Ay, bisa kita bicara dulu gak berdua?" Aylin menelan ludahnya, sanggupkah dirinya berhadapan dengan pria itu?
Bersambung...
__ADS_1