Langkah Bodoh Menuju Tamat

Langkah Bodoh Menuju Tamat
Chapter 11: Mencari penyakit


__ADS_3

Guinevere POV


Pria ini bukanlah pria ideal para wanita. Iya, dia baik dan wajahnya di atas rata-rata. Sayangnya dia terlalu tidak peka. Aku ingin bebricara pribadi dengannya.


Tetapi aku malah berakhir bersamanya mencuci piring di dapur.


"Kudengar kau adalah penyihir tanpa sihir."


"Iya walau aku tidak ingin mengakuinya. Apa yang ingin kau tanyakan?"


Pria ini blak-blakan. Dia tidak bisa bersikap halus seperti Arthur. Dia tidak memiliki pengalaman dengan perempuan. Itu bodoh bagiku mengira ia bisa setimpal dengan sang pahlawan.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Aku akan pergi menemui Arthur"


"Dia tidak menginginkanmu dalam bahaya lagi. Ia menginginkanmu hidup-"


"Aku tidak peduli. Aku memiliki tujuanku sendiri untuk menemuinya"


Aku mengerutkan keningku. Sikap keras kepalanya menjengkelkan ku. Dia seharusnya tahu lebih baik betapa sikapnya merepotkan orang-orang disekitarnya. Ia seakan-akan tidak bisa hidup tanpa mengganggu orang lain.


Ia tidak berniat membaca ataupun membalas surat Arthur. Dia bebal dan tidak berguna. Mengapa Arthur mementingkan orang sepertinya? Dia pasti terlalu baik untuk meninggalkan pemulung ini dihutan.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian berdua bisa bertemu? Kalian berdua terlihat dekat"


"Aku dan Arthur?" Pemulung itu mengedipkan matanya 2 kali. Mengeluarkan tawa geli, ia menggelengkan kepalanya sambil menyusun piring-piring bersih di rak.


"Aku baru mengenalnya selama 8 jam"


!!.. 8 jam?!


Apa Arthur memang senaif itu untuk mempercayai orang yang baru dikenal? Dan diantara semua orang, dia mempercayai kebohongan gelandangan ini sebagai seorang penyihir?!


Pertama kali aku bertemu dengannya, aku bahkan tidak tahu kalau gelandangan ini adalah seorang manusia saking kurus badannya. Jika aku berada dalam posisi Arthur, aku mungkin akan mengiranya sebagai salah satu iblis di hutan.


KLAK..


Aku melirik pria jangkung disampingku yang telah menyelesaikan cuciannya. Mengamatinya siluetnya, aku tiba-tiba teringat sosok monster yang kulihat kemarin.


Ayah bilang kalau pemulung ini adalah pria yang aneh. Ia memiliki tubuh yang fleksibel untuk bisa menerima Order apapun. Makanya, Order menengah yang kemarin diberikan bisa langsung cocok dengannya.


Kasus miliknya tidaklah sesulit yang terlihat. Masalahnya adalah gara-gara kebodohannya memakan terlalu banyak jantung iblis tanpa memilahnya, diantara kelas atas dan menengah, ayah menemukan sebuah jantung iblis yang masih hidup di tubuhnya.

__ADS_1


Oleh sebab itu, ia memerlukan Order kelas atas supaya jantung tersebut bisa dipastikan mati.


"Ada apa? Kau menatapku selama beberapa saat"


"!!.. T, Tidak. Bukan apa-apa" Aku berjalan mundur selangkah saat pandangan kami bertemu. Kami berdua terdiam di depan wastafel selama beberapa menit.


Memecahkan kecanggungan, gelandang itu menanyakan keadaan keluargaku tiba-tiba. Pertanyaan mendadak itu membuat lidahku mendecak sekali, enggan menjawabnya. Memberikan jawaban singkat, ia kelihatannya menangkap apa maksudku dan kembali terdiam.


Pada akhirnya, aku menyerah berusaha berkomunikasi dengannya. Ini benar-benar diluar kendaliku. Belum pernah aku berbicara dengan lelaki yang kaku sepertinya. Dia peka pada hal yang tidak perlu dan buta pada hal yang penting. Andai saja dia bukan tamu di rumah ini, aku mungkin tidak akan mau berbicara dengannya di luar dari sini.


"Bagaimana kondisimu?" Tanyaku secara terpaksa. "Apa kau masih kesulitan mengendalikan warisan iblismu?"


"... warisan iblis?" Gelandangan itu memiringkan kepalanya dan menanyaiku istilah yang baru ia dengar.


Mengejutkanku, aku tidak tahu ayah belum menjelaskannya tentang warisan iblis. Dengan mengenakan topeng, seseorang dapat menjadi lebih dekat dengan pemilik jantung sehingga ia mewarisi kemampuan dan karakteristiknya. Ini adalah keuntungan dari setiap orang yang memakan jantung iblis.


Aku menjelaskan secara singkat apa yang butuh ia dengar namun tidak secara detail. Pasti ada sebuah alasan mengapa ayah tidak memberitahukannya.


Aku mengobservasi raut wajahnya yang datar. Aku tidak tahu apakah ia mendengarkanku atau hanya berpura-pura saja. Gelandangan itu hanya menatap pada baskom yang ada di depannya seperti patung selama aku menjelaskan.


"... Apa kau mengerti sejauh ini?"


"..."


SHH..


"!! Apa yang-"


Tanganku segera mengambil pisau dapur di rak cucian saat melihat sebuah kabut abu keluar dari tubuhnya. Melihat seisi ruangan terselimuti kabut tebal, mataku menangkap sebuah siluet asing dari kejauhan yang sedang menatapku.


Aku menjadi siap-siaga. Berjalan mendekatinya, aku bersiap-siap menancapkan pisau ku pada sosok di balik kabut.


"—— Hei, Jadi ini warisan iblis yang kau maksud?"


.


.


.


Hah?! Bukankah itu suara sang pemulung?


Aku menurunkan pisauku dan berjalan menuju suara yang familiar. Melebarkan mataku, aku tercengang melihat penampilan gelandangan yang berubah setengah lingkaran.

__ADS_1


"Kau adalah.. orang yang sama kan?"


"... Apa maksudnya itu? Apa kau barusan menghina wajahku?"


...****************...


Rambut hitam, mata emas, hidung mancung, dan badan setinggi 2 meter. Terkecuali matanya yang hipermetropi, aku rasa iblis ini memiliki tubuh yang lumayan. Ini adalah penampilan manusia iblis bernama Nóe.


Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai pada titik ini. Yang kutahu, aku hanya mencoba memvisualisasikan Nóe dalam kepalaku dan berandai-andai bagaimana ia bersikap di dunia nyata.


Lantas, aku mendapatkan sebuah respon darinya. Nóe adalah iblis yang tinggal di laut selatan. Alasan mengapa ia bisa ada di daratan tidak lain karena ia sedang mencari saudaranya yang ditangkap oleh manusia.


'—— Bisakah kau membantuku?'


Aku tidak menjawab pertanyaannya. Tetapi jika ada kesempatan, aku mungkin akan mencoba mencari tahu detailnya.


TAP, TAP, TAP..


"Nak, kudengar kau sudah mewarisi kekuatan iblis. Apa kau baik-baik saja?"


Aku membalikkan badanku ke arah pintu dan segera melepaskan topengku. Di depan kamar tamu, aku melihat bayangan tuan Ogyruan. Hidungku mencium bau pekat darah dari pakaiannya. Dia baru saja pulang kerja dari luar kota.


Aku mengambil kain bersih yang bertengger di ujung meja rias. Berjalan membawa lentera yang menerangi ruangan, kakiku melangkah mendekatinya.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana harimu?" Tanyaku sambil menyodorkannya kain bersih.


Tuan Ogryuan megangkat alisnya sebentar. Meraih kain di tanganku, ujung bibirnya terangkat sedikit. "Aku bersyukur diberikan hari yang baik hari ini"


"Itu bagus. Apa tuan sudah makan malam?"


"Aku sudah lama mengisi perutku. Aku datang untuk menanyakan kabarmu. Kau ternyata memiliki bakat menjadi iblis"


Aku tertawa kaku mendengar pujian sarkastik nya. Ini bukan salahku aku memiliki bakat ini.


Aku mempersilahkannya masuk ke dalam kamar. Aku membiarkannya mengambil waktu untuk membersihkan diri di kamar. Sementara itu, aku menyiapkannya tempat duduk dan mengambilkannya pakaian bersih yang ada di lemari.


"Nak, bisakah kau mengambilkanku kain lebih?"


"Tentu saja. Aku akan-- !!"


Kata-kata ku berhenti di tengah jalan. Bercak-bercak merah tersebar di seluruh tubuhnya. Aku melihatnya berkeringat berlebihan dan bernafas tidak beraturan.


Dia berada dalam usia yang buruk untuk terserang penyakit ini.

__ADS_1


"Tuan, sudah berapa lama kau terserang penyakit cacar?"


__ADS_2