Langkah Bodoh Menuju Tamat

Langkah Bodoh Menuju Tamat
Chapter 2: Sebuah perjalanan


__ADS_3

Untuk mempertahankan dunia ini, cerita ini harus bergerak. Untuk cerita ini bergerak, aku harus membantu sang protagonis untuk mengalahkan raja iblis.


Tapi sejujurnya aku tidak mau pergi ke hutan terkutuk itu. Ini bukan tanggung jawabku untuk menyelamatkan dunia ini kan? Mengapa aku harus pergi kesana?


Maksudku ini bukan pertama kalinya. Setiap kali sang author menulis, pada satu titik ia akan mengabaikan karyanya. Sang author, tidak pernah menamatkan ceritanya.


Lagian, bukankah aku hanya seorang karakter sampingan? Jikalau aku hancur, dia pun akan mendaur ulang kembali diriku. Aku yakin dalam waktu yang singkat ia akan menulis cerita baru.


Semuanya akan baik-baik saja, benar?


.


.


.


Lalu mengapa aku merasa sangat gelisah? Aku tahu aku tidak pernah hidup tetapi jantungku terasa sangat sesak setiap kali aku menyadari ia telah mengabaikan ku lagi.


Aku...


—— Aku disini! Kumohon jangan hapus 'aku' lagi!


Dan untuk sekali saja aku ingin melihat akhir dari ceritamu. Aku bertekad pergi ke hutan Montein meskipun aku tidak mau.


Tidak peduli seberapa buruk aku sebagai narator cerita ini, aku bersumpah akan menamatkan cerita ini untukmu.


KRAK..


Pecahan di langit semakin melebar. Langkah kakiku semakin cepat. Sudah 3 hari aku berjalan tanpa henti. Badanku sakit semua. Sayangnya, aku tidak bisa berhenti. Sebentar lagi, aku yakin aku bisa bertemu sang protagonis.


...****************...


Arthur POV


Malam ini adalah malam yang panjang. Aku merasa sangat lelah hari ini. Anehnya, aku tidak bisa tidur. Ada sebuah benang kusut yang menggumpal di benakku.


Ketika sang raja mengirimku kemari, apa ia sebenarnya mengirimku untuk bunuh diri?


Tidak, tidak mungkin. Sang raja memang ada mengirimkanku bantuan saat aku mencapai luar hutan. Aku hanya perlu bersabar.

__ADS_1


Tidak mungkin dia-


KRAASH.. TAP, TAP...


Aku mendengar suara semak-semak dan langkah kaki. Beranjak dari posisiku, aku meraih pedang Caliburn yang diberikan raja padaku dan bersiap dalam posisi menyerang.


"Tunggu, tunggu- Aku tidak bermaksud buruk!!" Seru sebuah suara. Aku mengernyitkan keningku, berusaha melihat dalam kegelapan. Namun aku tidak bisa melihat apapun selain tangan kurusnya yang terangkat di udara.


Aku berjalan mendekat ke arahnya. Perlahan-lahan aku bisa melihat jelas paras wajahnya yang berantakan. Tubuhnya sangatlah kurus dan aku bisa melihat kakinya penuh luka dan darah.


"Siapa yang mengirimmu kemari? Siapa kau?"


"Aku datang kemari untuk menemuimu atas keinginanku sendiri"


"Menemuiku?"


Pria itu mengangguk cepat. Melangkah mendekat ke api unggun, ia berjalan sempoyongan seperti tulang yang bergerak. Aku menatapnya dengan ngeri, takut ia akan tumbang sewaktu-waktu di dekat api.


Mengantarnya duduk di dekat tenda, aku menanyakan apa yang ia perlukan sampai ia harus menemui diriku dalam kondisi ini.


"Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi pertama-tama, apa kau percaya bahwa kita adalah sebuah karakter yang ditulis seseorang?"


Apa dia datang kesini hanya untuk menanyakanku itu? Apa yang ia maksud adalah dewa pencipta yang telah menentukan takdir kita sebelum kita lahir?


"Aku percaya setiap orang adalah penulis dari hidupnya-"


"Tidak- Maksudku, apa kau percaya bahwa kita ini sebuah karakter novel?"


Aku mengerutkan keningku. Menggosok belakang leherku, aku berusaha memahami apa maksud dari perkataannya. Apa itu sebuah perumpamaan?


Dari nadanya, kurasa tidak. Aku tahu aku tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya tapi...


Dia mungkin SEDIKIT tidak waras.


"Entahlah. Jika kita ini sebuah karakter novel, tidak mungkin aku bisa merasakan sakit dan lapar bukan?"


...****************...


Sudah kuduga. Dia tidak mungkin percaya. Kupikir dia memiliki kesadaran juga sepertiku. Setidaknya sedikit sadar setelah langit tidak berubah selama 12 hari berturut-turut.

__ADS_1


Hei, itu aneh bukan hanya aku satu-satunya orang yang menyadari retakan di atas langit? Aku mulai bertanya-tanya mengapa tidak pernah ada yang menyadari dunia ini benar-benar akan hancur.


"Apa kau bisa melihat retakan di langit juga?"


"Retakan di langit?" Arthur menengadah ke arah langit yang ku tunjuk di bagian barat. Matanya melebar dan ia mematung sejenak. Menutup mulut, aku bisa melihat rasa ngeri terpampang jelas di matanya.


... Jadi ia bisa melihatnya kalau ia disadarkan. Apakah itu karena sang protagonis masih terlalu melekat pada plot sehingga ia tidak bisa bergerak leluasa diluar dari yang sudah ditetapkan?


Kalau begitu, aku harus mengambil cara lain untuk membantunya bergerak maju.


"A, Apa itu? Apa itu perbuatan sang raja iblis?"


"Iya. Aku datang kesini untuk memperingatkanmu kalau kita mulai kehabisan waktu"


Arthur memucat. Ia menyalahkan dirinya karena tidak berusaha cukup untuk mengalahkan sang raja iblis. Jadi ini adalah protagonis yang ditulis sang author.


Dia bukanlah lambang keberanian yang gagah dan tipikal pahlawan yang kubayangkan. Ia memang mempunyai potensi jika diasah.


Sialnya, karakter seperti ini biasanya memerlukan karakter development yang panjang dari zero to hero. Aku tidak yakin aku bisa membangun Arthur menjadi pahlawan sebelum dunia ini hancur.


Apa yang ia perlukan untuk menjadi seorang pahlawan?


Dari pengalamanmu membaca cerita author, pertama-tama ia akan membutuh sebuah senjata yang Overpower. Ini akan sangat membantunya.


Kedua, karakter support yang baik untuk membantu perkembangannya.


Ketiga, sebuah kisah cinta. Walaupun ini hanya bonus.


Keempat, sebuah mentor yang membantunya berkembang dalam kekuatan.


Untuk sekarang, 4 itu saja sudah cukup untuk kisah pahlawan yang singkat. Dikarenakan, author tidak banyak membangun dunia ini, aku rasa kita harus mengandalkan apa yang ada.


Mulai dari langkah pertama kita, Arthur harus melakukan sesuatu yang berguna bagi karakternya agar menghindari retakan itu mulai bertumbuh.


Kita beruntung sang Author pernah menuliskan bahwa di hutan ini terdapat sebuah pedang legendaris. Untuk mendapatkannya, ia perlu berjalan menemui peri yang menjaga danau Lyon.


"Arthur, jangan menyalahkan dirimu. Aku yakin kita masih memiliki cukup waktu. Pertama-tama, kau harus upgrade pedangmu dulu"


Excalibur—— Senjata yang akan mengalahkan sang raja iblis.

__ADS_1


__ADS_2