
Sang author tidak menjawabku. Dia terdiam selama beberapa detik dan membuatku menunggu. Suara nafasnya terdengar lelah dari balik panggilan. Seakan-akan ia tidak ingin menjawab pertanyaan ini.
[Iya.. Aku mengenalmu. Tentu saja aku mengingat karakterku sendiri. Apa kau datang menonton The hero's journey juga?]
"Author, mengapa kau berhenti menulis? Apa kau sedang ada masalah?"
[... Tidak. Aku baik-baik saja. Mengapa kau bertanya?]
Sang author menghela nafas panjang. Mendengar nadanya yang sendu, aku merasa semakin gelisah.
"Kapan kau akan melanjutkan ceritanya?"
[Aku akan memikirkannya kapan-kapan. Jika itu saja yang ingin kau tanyakan-]
"Author, kau.."
—— Tidak akan berhenti selamanya kan?
[Halo? Apa yang kau bilang tadi?]
Aku membungkam mulutku. Aku tidak berani menanyakannya karena aku tahu jawabannya akan menyakitiku lebih dari ini.
Kupikir aku mengenal sang author. Itu konyol bagiku berpikir begitu. Sebagai seorang penulis, aku pikir dia menuangkan segalanya pada karyanya. Karena ia membuatku begitu dalam ceritanya.
"Author, dunia ini hancur saat kau berhenti menulis. Apa kau tahu itu?"
[... Iya, aku rasa. Cerita yang tidak update selama 6 bulan akan dihapuskan dari platform. Tapi aku tidak tahu semua karakterku ternyata hidup di dalam cerita itu]
"Jadi kau tahu.. Lalu mengapa kau tidak melakukan sesuatu? Semua karaktermu hidup dan mempunyai kehidupannya sendiri! Jadi kau harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kami!!"
Aku tidak pernah merasakan emosi yang begitu menyesakkan. Tenggorokanku kering. Menunggu jawabannya, aku bisa merasakan mataku mulai berkaca-kaca.
Kenyataannya, ia sudah menyerah menamatkan cerita ini.
"—— Author, sejak kapan kau kehilangan motivasi untuk menulis?"
[... Entahlah. Aku tidak mengingatnya.]
"Apa kau benci menulis ceritamu?"
__ADS_1
[Aku tidak akan pernah! Jika aku tidak menyukainya, aku tidak akan mulai menulis di tempat pertama!!]
Aku terdiam mendengar bantahan author. Menahan nafasku, aku memandang ke layar bioskop yang memainkan cerita novel pertamanya.
Cerita pertama mengisahkan sebuah cinta terlarang tentang antara seorang pangeran dan gadis buruk rupa yang tinggal di dalam gereja. Sang pangeran adalah tokoh yang lebih gagah dan pemberani daripada siapapun di dunia itu.
Ia mengayunkan pedang dengan gesit dan tanpa ragu menantang langit dan bumi saat keduanya tidak ditakdirkan bersama.
Ini adalah cerita pertama author yang hampir tamat. Bab terakhirnya berakhir dengan aku mempertemukan keduanya setelah perang selesai.
"Edmond and Liana. Ini adalah cerita pertama yang kau terbitkan"
Ini adalah cerita favoritku. Karena dalam ceritabini, sang author menuangkan hampir segalanya hingga ke akhir.
Aku melihat diriku tertampil di layar. Kemeja rapi dan rambut pirang yang diikat satu ke belakang. Penampilanku berbeda jauh dari penampilan kumuhku saat ini. Meskipun begitu, jiwaku tetap tidak pernah berubah.
"Apa ini cerita favoritmu?"
[Ini adalah cerita yang paling berkesan bagiku. Aku.. sangat menyukai cerita ini]
Kehangatan ucapannya membuatku tersenyum tipis. Memandang akhir bahagia sang protagonis dan heroine di layar, aku senang sang author masih mencintai cerita yang ia buat.
"Cerita ini sudah dihapuskan dan kita bisa saja.. mencegahnya dengan memberikannya sebuah epilog"
Sang author pada saat itu bisa saja memberikan akhir bahagia selamanya dan ia memutuskan untuk tidak melakukannya. Aku merasa rasa sakit yang mengenaskan untuk yang pertama kalinya.
Kesadaran yang kimiliki menjadi sebuah kutukan. Dalam dunia yang berubah menjadi abu perlahan-lahan, aku berusaha menyadarkan semua orang. Tetapi tindakanku malah membuatku telihat seperti orang gila.
Pada akhirnya semua orang di dalam sana mati tanpa pernah mengetahui kematian mereka sendiri.
Saat ia memulai cerita baru, aku berharap seperti orang bodoh dia tidak akan mengulangi hal yang sama hanya untuk mengulangi tragedi yang tak pernah berakhir sekali lagi.
"Apa alasanmu? Aku ingin mencoba memahamimu"
[... Kupikir sebagai penulis kau akan mengerti mengapa aku berhenti melakukannya]
"Apa maksudnya itu?"
.
__ADS_1
.
.
[—— Tidakkah kau sadar kursi penonton dalam bioskop ini kosong semua?]
...****************...
Aku melihat layar putih polos. Terduduk diam, aku menertawakan diriku yang dibasahi kenyataan.
Selain kau dan aku, tidak pernah ada pembaca yang membaca cerita ini. Bukankah itu mengartikan ceritaku tidak begitu bernilai dan bagus?
Itu menyedihkan bagaimana aku menuangkan semuanya tetapi tidak pernah ada yang membacanya. Aku mulai menulis untuk melepaskan diri dari dunia nyata. Aku tahu aku seharusnya tidak mempedulikan itu.
Namun ketika aku serius menulis, aku merasa lebih kecewa dan menyedihkan di dunia maya.
Aku mengagumimu bagaimana kau bisa memiliki semangat karena kau menulis dengan nyawamu sebagai taruhan. Kau adalah idealku. Tetapi kau tahu sendiri bahwa aku tidak akan pernah bisa menjadi dirimu.
Jika saja aku tidak pernah menyadarinya, aku mungkin tidak akan tersiksa begini. Aku seharusnya terus berharap dengan buta sang author akan kembali menulis lagi.
Ternyata aku tidak mengenalmu. Tenyata kau berbeda dariku. Meski kau mengatakan alasanmu, aku pun tidak bisa memahamimu karena aku tidak dibuat untuk mengerti dirimu.
Aku... hanya sesuatu yang kau buat untuk kesenangan mu sementara. Aku membuatmu tersenyum kecil karena cerita lah tempatmu kabur dari realita.
Jika perbuatanku terlalu berat bagimu, aku bisa menghapusnya?
Kau menganggap ku sebagai sebuah karakter. Kau menganggapku sebagai sebuah badut yang menghibur harimu.
—— Tetapi aku tidak akan pernah membuang perasaan pahit dan sesak ini yang membuktikanku masih hidup di duniamu.
Aku akan membawa semua perasaan yang kau berikan dalam hidupku tidak peduli seberapa kau menyakitiku.
.. Mengapa kau peduli pada cerita ini? Itu tidak masuk akal. Cerita ini tidak lebih dari sekedar benda sekali pakai.
Tidak. Ceritamu adalah segalanya bagiku.
Kau bisa memanggil gila dan konyol. Karena kau tidak salah. Author, kaulah yang membuat penulis bodoh ini tidak bisa menyerah. Akulah orang bodoh yang mempertaruhkan nyawanya untuk melihat akhir ceritamu.
Aku adalah seorang penulis bebal. Selama masih ada pembaca yang membacanya baik itu hanya kau dan aku dalam bioskop itu, aku tetap akan menulis tidak peduli seberapa jelek karya itu.
__ADS_1
—— Aku berjanji akan menamatkan ceritamu.