
Tenggorokanku sakit. Aku lupa bagaimana caranya bernafas. Aku mendengar suara seseorang berteriak kencang di telingaku. Tangisan histeris memecahkan keheningan ruangan di bawah langit senja yang menghitam.
Aku menundukkan kepalaku melihat anakku di pelukanku yang berdarah. Diam sunyi tanpa suara. Mata emasnya menatapku tak bercahaya. Aku ditinggalkan sendirian di dalam ruangan.
'Apa yang baru saja kulakukan?! Aku telah membunuh putraku sendiri!!'
Aku menatap pada kejauhan dengan mata terbuka lebar. Aku menyadari aku telah berbuat kesalahan. Tiada kata-kata yang bisa menjelaskan penyesalan hatiku yang campur aduk di tengah ruangan.
Aku memeluknya erat. Tangan kananku memegang luka di kepalanya, berharap darah yang mengalir akan berhenti. Mencium tangan pucatnya yang dingin, aku membaringkannya di atas kasurku.
'Semuanya akan baik-baik saja.. semuanya baik-baik saja.. Ayah disini..'
Tatapanku tertuju pada tombak berkain merah yang berdarah. Tombak yang menikam putraku karena amarahku yang kekanak-kanakan. Meraihnya, aku berdoa untuk pertama kalinya pada ia yang menciptakan ku sebelum menancapkannya pada jantungku.
Author, ceritamu hancur sekali lagi dalam kegelapan. Aku telah memainkan peranku sebagai ayah dari seorang antagonis hingga akhir dunia ini. Tirai di panggung akan segera tertutup.
—— Bawalah aku dan anakku bersamamu menuju kehidupan selanjutnya di dunia yang lebih baik.
...****************...
Aku terbangun di atas sofa ruang tamu. Menyentuh ekor mataku, tanganku dibasahi air mata yang mengalir. Sudah lama aku tidak memimpikan sebuah kenangan dari masa lampau. Terlebih lagi dari kehidupan keduaku.
".. Kau sudah bangun?"
"Iya.. Apa kau menungguku bangun?"
"Tidak. Aku barusan ingin membangunkanmu," jawab Guinevere, duduk di kursi seberang. "Ada.. sesuatu yang ingin kukatakan padaku"
Seminggu sudah berlalu semenjak pemakaman tuan Ogyruan. Semua orang masih tidak mempercayai kepergiannya yang mendadak. Guinevere, saat pertama kali mendengar beritanya, pingsan saking shock nya. Ia menangis tersedu-sedu esoknya di pemakaman.
Meskipun menyakitkan, Guinevere tetap menerima kematiannya. Dia adalah wanita yang kuat.
'Kematian bukankah sesuatu yang jahat. Kematian membiarkan kita beristirahat setelah semua yang kita lalui dalam hidup— proses akhir dalam hidup yang akan dijumpai setiap makhluk hidup.'
Tuan Ogryruan, kau memiliki anak yang luar biasa.
__ADS_1
"Pak penyihir, apa kau berencana pergi dari rumah ini?"
"Benar. Aku akan berangkat besok. Apa kau sudah memutuskan pilihanmu?"
Guinevere memalingkan kepalanya bimbang. Ia tidak berani menatap mataku ataupun menjawab pertanyaanku.
Beberapa hari yang lalu, aku mengajaknya untuk pergi ke Sein bersamaku. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus mengejar Arthur. Terutama, 'dia' akan menangkapku. Tuan Ogyruan mengatakan ia berjudi dengan sang iblis untuk menyelamatkan ku.
Permainannya masih berlanjut. Aku tidak bisa menjamin keselamatanku sebelum mendapatkan Order terakhir. Aku membutuhkan bantuan Guinevere untuk membuatnya.
"... Aku sudah biasa dimaki-maki. Itu bukan masalah bagiku. Tapi.. aku tidak memiliki tempat diluar sana. Rumah ini adalah tempatku yang seharusnya. Aku harus menjaga apa yang ditinggalkan ayah"
"Ayahmu tidak meninggalkan apapun termasuk rasa menyesal. Aku yakin dia tidak menginginkanmu terkunci di rumah ini terus menerus selama bertahun-tahun"
"Apa yang kau tahu tentang ayahku? Jangan berbicara sembarangan tentangnya! Ayah menginginkanku aman dari bahaya- aku yakin dia tidak menginginkan ku pergi ke medan perang juga!"
Skakmat. Akh tidak bisa mengatakan apapun lagi jika dia membahas tentang bahaya dunia luar. Dia ada benarnya. Tuan Ogyruan tidak akan mau membahayakan putrinya.
Tapi itu bukan berarti dia tidak ingin pergi dari rumah ini. Jikalau dia memang ingin berada disini, ia seharusnya sudah menolakku dari awal.
Guinevere mengulum bibirnya. Mengernyitkan dahinya, ia menghembuskan nafas panjang. Ia mengeluarkan sebuah keetas dari sakunya dan menunjukkannya padaku.
"Ayah bilang kau fleksibel dengan semua Orde jadi kurasa kau bisa cocok dengan Order tinggi apapun. Aku memilih resep yang paling mudah untukmu"
"!!.. Oh, apa artinya kau akan ikut-"
"Berikan aku waktu sampai malam ini. Aku akan memberitahu jawaban pastinya padamu"
Guinevere beranjak dari kursi dan berjalan naik dengan ketus ke kamarnya. Tersenyum masam, aku menopang daguku, mencoba mengerti dimana kesalahanku sampai-sampai membuatnya kesal.
Apa dia takut akan dunia diluar rumah ini? Apa dia takut apa yang akan terjadi tidak sesuai keinginannya? Apa dia dia takut pada masa depan diluar rumah ini? Mungkinkah ia takut tidak bisa mengikuti sistem dan peraturan dunia?
Entahlah. Aku tidak benar-benar tahu apa yang ia pikirkan. Itu benar kau tidak bisa memprediksikan semua yang ada di dunia. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dan terkadang kau pun tidak memahaminya.
Menurutku, itu adalah hal paling menakutkan dari dunia yang dibuat Author.
__ADS_1
Dalam kehidupan pertamaku, pemahamanku tentang sistem cerita masih bagai ikan yang baru keluar dari air. Aku yang saat itu, meski tahu keberadaan sistem, tidak benar-benar mengetahui dunia di luar cerita. Semua disekelilingku masih terasa seperti dongeng.
Pada kehidupan keduaku, aku menyadari kenyataan terlalu lambat. Sebelum aku menyadarinya, dunia di depan mataku sudah terpecah berkeping-keping. Aku berusaha mati-matian menyadarkan semua karakter yang bisa kutemukan dalam kastil. Namun mereka menganggapku gila melihatku panik.
Saat semuanya perlahan-lahan terampas oleh sistem, harapan selamat pun terlihat mustahil. Langkahku menjadi berat saat aku berjalan ke ruangan terakhir yang belum ku kunjungi. Membuka pintu kamar tidurku, pandanganku bertemu dengan sang antagonis yang sedang bersiap-siap membunuhku.
Dia adalah anakku. Pangeran jahat yang berusaha membunuh saudara tirinya— sang protagonis.
Waktu itu, karena rasa putus asa, aku memaksanya menyadari situasi di sekelilingnya. Tentu saja usahaku sia-sia. Ia tidak bisa melihat langit yang runtuh maupun gedung-gedung yang berubah menjadi abu.
Ia tertegun melihat betapa kacau ayahnya. Lagipula dalam cerita, aku dikisahkan sebagai raja yang dingin dan tegas sedangkan anakku adalah pangeran keras kepala yang licik.
Anakku tidak mendengarkan satupun hal yang kukatakan. Malahan, ia menyindirku tajam dan mencemoohku dengan kata-kata menyakitkan.
Hal itu membuatku marah. Berada di batas kegilaan, aku mengambil tombak di ujung ruangan dan menyergapnya di kepala. Aku termakan api amarah dan berubah menjadi monster yang buta.
Kehidupan keduaku berakhir tragis dan berdarah-darah. Penyesalan dan rasa pahit yang diberikan author terasa nyata. Perasaan itu membangunkanku dari karakter dunia dongeng fantasi menjadi manusia yang diwarnai jutaan perasaan.
Kehidupan kala itu bisa diibaratkan sebagai hari-hari bersalju tanpa matahari. Berbeda dengan kehidupan pertamaku dimana mentari hangat memekarkan bunga-bunga di musim semi.
Aku tidak membenci kedua cerita author. Tidak setiap cerita memiliki akhir yang bahagia. Sebagai seorang penulis, aku memahaminya lebih dibandingkan orang lain. Tragedi bukanlah sesuatu yang terlarang.
Tragedi membuat kita menyadari betapa rapuhnya hidup ini. Semua yang kita lakukan bisa saja berakhir buruk. Kita bisa saja salah total meski kita melakukan hal yang benar.
Jikalau begitu, bukankah itu lebih baik hidup sepenuh hati dalam keadaan apapun daripada mengurung diri dengan berbagai alasan?
.
.
Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengomentari Guinevere. Hanya dialah yang bisa membuat keputusannya sendiri. Aku tidak bisa memahami pikiran anak itu secara sempurna. Aku tidak pernah pandai mengurus anak-anak.
'Ayah... Mengapa.. kau...'
—— Yah.. di tempat pertama, aku bukanlah ayah yang baik.
__ADS_1