
Guinevere POV
Aku tahu ayah menyayangiku. Ia tidak ingin membahayakanku. Ayah ingin aku bahagia. Seperti kata gelandangan itu, ia tidak memiliki penyesalan. Makanya, aku tidak memiliki alasan untuk menangis lebih dari yang seharusnya.
Ayah meninggalkanku tanpa pesan atau warisan. Ia pergi dengan tangan kosong. Tetapi jejaknya masih tersisa disini. Ia telah memberikanku banyak hal yang tidak bisa diberikan orang lain.
Dan lebih dari apapun, ayah tahu bahwa aku ingin meninggalkan rumah ini. Ia meninggalkan sang gelandangan sebuah perintah untuk menjagaku pastinya.
Aku menghargainya. Aku menyayangi ayah. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan yang ia berikan. Namun mereka tidak mengerti bahwa aku memerlukan waktu sejenak.
Seberapa aku membenci statusku sebagai putri dari keluarga algojo, aku dipenuhi ribuan kenangan bersama keluargaku.
Dari dulu, aku sudah menyerah pergi ke dunia luar. Daripada pergi, aku lebih memilih menarik mereka masuk ke dalam duniaku. Aku telah memutuskan tidak ada jalan lain yang bisa kuambil selain ini. Jalan yang tidak akan menyakiti ku lebih dari penderitaan yang sudah kualami.
Kesempatan absurd yang datang tiba-tiba setelah ayahku meninggal terasa seperti ilusi. Aku ragu jalan yang kupilih akan menjerumuskan ku dan aku tidak akan bisa kembali.
Aku..
.
.
Guinevere, gadis kecilku..
"!!.." Aku tersentak mendengar suara seorang perempuan yang familiar memanggilku. Melihat keluar jendela, aku tidak bisa melihat apapun selain kabut hitam yang menutupi malam.
Atmosfernya terasa dingin. Aku samar-samar bisa mendengar suara ketukan. Aku tahu betapa bahayanya jikalau aku terus berada disini.
Namun, aku mematung saat melihat wajah kakakku berada dibalik kabut.
"M, Morgan.."
...****************...
Malam tiba lagi..
Aku tidak bisa tenang semakin lama aku berada disini. Rumah ini kalau dilihat-lihat lagi lebih menyeramkan tanpa tuan Ogyruan. Mungkin itu karena dialah pelindung rumah ini.
Duduk di ruang tamu yang remang, mataku tertuju pada satu-satunya pintu yang dicat merah. Kata Guinevere ini adalah kamar milik kakaknya yang sudah lama meninggal. Namun kata tuan Ogyruan, ruangan tersebut adalah sebuah laboratorium terlarang.
Tidak banyak yang kuketahui tentang anak pertama tuan Ogyruan selain ia meninggal cepat. Dia tidak banyak dibicarakan sama sekali.
'Dia adalah anak yang baik hati. Anak itu tumbuh mirip dengan ibunya. Dia memiliki rasa penasaran yang tinggi. Jadi aku membuatkannya sebuah laboratorium'
KRIETt..
Aku membuka pintu merah tersebut. Ruangan itu tidak dikunci tapi tidak ada orang yang berani membukanya. Aku penasaran mengapa.
Kamar itu sekilas terlihat normal. Ada banyak sekali benda-benda aneh yang bisa ditemukan disana. Buku-buku tersusun rapi di raknya dan terpajang kertas-kertas hasil penelitiannya di dindingnya.
—— Morgan. Nama yang kutemukan di kertas-kertas tersebut.
Nama tersebut terdengar tidak asing. Aku pernah mendengar nama ini di kehidupan sebelumnya. Berhubung sang author memilih latar Arthurian, kutebak nama ini berasal dari salah satu legenda raja Arthur.
Tapi siapa dia? Apa peran Morgan dalam cerita-
'—— Pergilah atau matilah disini'
"!!.. Eh?"
PSHH...
Kabut abu tiba-tiba menyelimuti ku. Sebelum kusadari, parasku telah berubah dan aku tidak bisa melihat apapun di depanku. Sesaat aku mendengar suara sesosok iblis dari dalam diriku berbicara.
__ADS_1
Tidak jelas apa yang ia katakan. Namun aku tahu itu adalah sebuah peringatan.
Seketika kabut di dalam ruangan mulai menipis, aku bergegas keluar dan mencari Guinevere. Anehnya, tubuhku tidak mau bergerak. Kakiku berhenti di depan kamar Guinvere. Seakan-akan ia menolak masuk kedalam sana.
Ada hawa tidak enak yang keluar dari kamar itu. Berjalan mundur, aku mempunyai firasat buruk. Tapi sebelum aku bisa kabur, pintu kamarnya sudah terbuka lebar, mengundangku masuk.
Seorang wanita yang menggunakan kulit Guinevere, menyambutku masuk. Merinding, aku teringat akan apa yang kulupakan dari cerita raja Arthur.
—— Morgan le Fay. Seorang healer yang berubah menjadi antagonis dalam legenda Arthurian.
Peri jahat yang menjadi permulaan kehancuran raja Arthur. Dan sosok yang di depanku adalah Morgan yang terinspirasi dari tokoh tersebut.
..."Masuklah, aku sudah menunggumu"...
...****************...
INTERVIEW
Ogyruan: Halo semuanya. Namaku Ogyruan dan.. kelihatannya aku mati lebih awal daei dugaanku. Jadi aku disini menjadi pewawancara untuk sang Author.
Author: Aku?!! Wawancara?!!
Ogyruan: Mengapa tidak? Author, pekenalkan dirimu dulu.
Author: Uh.. Halo semuanya, author disini. Pertama-tama, author minta maaf karena tidak upload chapter baru selama berminggu-minggu.
Ogyruan: Oh.. Author tidak upload? Author mulai malas.
Author: Yah.. Author lagi masuk mode liburan.
Ogyruan: Baiklah, kalau begitu kita akan masuk mode kerja hari ini. Kita akan mulai interview hari ini dengan topik: WHY AUTHOR?!!
Author: Ehhh?!! Topik macam apa itu?! Kau seriusan?!
Author: Haaa?!
Pertanyaan pertama: Apa alasan Author menulis cerita ini?
Ogyruan: Silahkan di jawab.
Author: Yah.. Jujur, ini adalah cerita pilot dari [JANGAN PERNAH].
Ogyruan: Apa itu cerita yang ditulis Author? Bukannya [JANGAN PERNAH] berbeda jauh dengan cerita ini?
Author: Percaya atau tidak, ini adalah versi paling awalnya. Author sudah lama membuat cerita ini dan baru coba-coba upload tahun lalu.
Sejujurnya, ini adalah chapter terakhir yang berada di draft Author sebelum Author berpindah ke konsep [JANGAN PERNAH] yang sekarang.
Ogyruan: Ah.. jadi begitu ya. Baiklah, kita akan lanjut.
Pertanyaan kedua: Bagaimana perasaan Author saat menulis cerita ini?
Ogyruan: Aku tidak terlalu tahu karena aku bukan Authornya. Tapi.. Author nge-roast dirinya sendiri pakai cerita ini bukan?
Author: Yah... harus kuakui Author memang memasukkan itu ke dalam konsepnya karena Author kesal pada diri sendiri yang biasanya ceritanya berhenti tengah jalan.
Ogyruan: Jadi Author belum pernah menamatkan sebuah cerita?
Author: Pernah. Sekali saja. Author menamatkannya bertahun-tahun lalu. Author ada memasukkannya sedikit dalam cerita ini.
Ogyruan: Oh, benarkah? Apa semua judul cerita yang Author masukkan-
Author: Nggak lah. Hanya satu. Sayangnya, Author sudah hapus.
__ADS_1
Ogyruan: Author menghapus ceritanya... Kalau pemeran utama cerita ini mendengarnya, dia pasti akan memarahi Author yang asli.
Author: Haha, itu benar. Tapi cerita itu tidak terlalu bagus jadi tidak membacanya juga tidak masalah.
Pertanyaan ketiga: Author memiliki banyak cerita tapi tidak pernah tamat. Mengapa?
Ogyruan: Author, bukankah kau adalah seorang penulis?
Author: Author.. tidak bisa mengakui diri author sebagai seorang penulis. Author tidak pantas disebut satu. Author menulis karena ada sebuah api di dalam.
Ogyruan: Api?
Author: Benar. Author menulis saat api tersebut menyala. Tapi api itu tidak selalu bertahan lama. Menulis seperti itu membuat Author terasa menyedihkan.
Ada beberapa cerita yang hampir Author tamatkan dan ada beberapa yang hampir sampai ke *******. Cerita pertama yang Author tulis di platform ini adalah salah satu cerita yang terkena skakmat.
Ogyruan: Apa itu artinya cerita ini menemui jalan buntu?
Author: Author tidak tahu bagaimana harus mengakhiri cerita itu. Author kehilangan arah akan apa yang ingin Author sampaikan.
Ogyruan: Mengapa Author bisa kehilangan arah? Seharusnya Author merencanakannya dari awal garis besarnya kan?
Author: Ketika seseorang terlalu ingin mengikuti trend dan membuat cerita mainstream, akan sulit kembali ke jalurnya karena sejak awal memang tidak pernah ada satu.
Ogyruan: Jadi cerita Author menghapusnya?
Author: Tidak. Cerita itu masih ada disini. Judulnya kepanjangan jadi Author juga tidak mengingatnya.
Ogyruan: Kalau begitu apa ada cerita yang Author sedang aktif sekarang?
Author: [JANGAN PERNAH] itu satu-satunya yang aktif untuk sekarang. Sebisa mungkin Author usahakan tetap dijalurnya.
Pertanyaan ketiga: Apa Author berniat melanjutkan cerita ini?
Ogyruan: Author tahu kan ada readers yang membaca cerita ini juga?
Ini mungkin adalah cerita pilot dan Author tidak mengembangkannya banyak. Apa author punya rencana untuk cerita ini kedepannya?
Author: ... Itu benar Author tidak mengembangkan banyak cerita ini. Setelah membuat konsep baru untuk [JANGAN PERNAH], ide untuk cerita ini secara literal berhenti di tempat.
Author sadar kalau Author tidak populer. Makanya, Author sebenarnya tidak menyangka akan ada yang membaca dan selalu mendukung cerita ini. Author sangat senang dan berterimakasih kepada readers.
Author minta maaf karena telah mengecewakan kalian. Maaf kualitas dan eksekusi cerita Author kaku dan tidak terlalu bagus.
Terus terang, Author tidak tahu untuk rencana cerita ini kedepannya. Ada kemungkinan Author akan melanjutkannya tapi mungkin tidak sekarang.
Ogyruan: Apa Author sudah pikirkan kapan?
Author: Maaf, Author belum memikirkannya. Akan Author kabarkan apabila waktunya datang.
Pertanyaan terakhir: Apa pesan Author kepada pembaca?
Ogyruan: Ini mungkin adalah terakhir kalinya akan ada interview ini. Author, bisakah kau memberikan pesan terakhir untuk hari ini?
Author: Readers... setelah membaca interview ini, Author hanya ingin mengatakan Author sungguh-sungguh berterimakasih kepada kalian yang setia menyupport cerita ini dari awal sampai pada chapter ini.
Author minta maaf dan terimakasih sudah membaca chapter ini. Semoga kalian sehat selalu dan tetap bersemangat.
^^^Pergi naik motor pulang berlari^^^
^^^Cari pom bensin tak ada ketemu^^^
^^^Readers, jangan terlalu sedih^^^
__ADS_1
^^^Sampai jumpa lagi di lain waktu^^^