
Dimana ini?
Aku bertanya kebingungan di sebuah tempat asing. Beberapa menit yang lalu aku baru saja tertidur pulas. Saat aku terbangun, aku menyadari diriku berada dalam sebuah bioskop.
[Arthur, mulai hari ini kau adalah pahlawan yang akan mengalahkan raja iblis]
Mataku terpana ke depan. Aku melihat wajah sang protagonis tertampil di layar bioskop. Menonton adegan dimana Arthur bertemu sang raja, aku duduk di salah satu kursi bioskop.
Aku terpaku pada layar. Aku belum pernah melihatnya dengan mataku langsung pertemuan sang raja dan Arthur. Jadi begini ya pertemuan yang author tuliskan?
Author ya..
"Apa kau juga ada disini? Aku ingin berbicara denganmu"
Hening. Aku tidak mendapatkan respon apapun darinya. Aku kira dia akan muncul jika aku memanggilnya.
Apa aku salah berpikir dia ada disi-
BZZZT... BZZT..
!!..
Aku menoleh pada kursi di sampingku. Aku menemukan sebuah hp yang sebelumnya tidak pernah ada disana.
Nomor tidak dikenal. Apa mungkin..
TUT!
[Halo? Siapa ini?]
—— Sang author!
[Apa ada orang disana?]
"Uhm... Apa kau bisa mendengarku? Aku adalah salah satu karakter sampingan yang kau tulis. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan"
__ADS_1
[... Apa? Siapa kau?]
Eh? Siapa.. aku?
Aku menggaruk kepalaku mendengar pertanyaan author. Sesaat, aku merasa suaraku tidak bisa keluar. Hatiku terasa berat.
... Aku pikir dia akan mengenalku.
"Aku.. adalah salah satu karakter sampingan yang kau tulis. Aku tidak memiliki nama. Di cerita pertamamu, aku adalah seorang penulis yang membantu sang protagonis menemukan kekasihnya.
Di cerita kedua, aku adalah ayah dari sang antagonisnya. Di cerita berikutnya, aku hanyalah murid sekolahan biasa yang tidak berperan banyak. Ada juga suatu saat dimana kau menempatkanku sebagai raja dari kerajaan tak bernama.
Kali ini pun aku hanyalah karakter sampingan yang tidak berperan penting selain menjadi seorang pengemis yang ditolong oleh sang protagonis.
Kau mungkin tidak mengingatku karena peranku tidaklah penting sama sekali dan aku tidak memiliki arti lebih penting dari sekedar kata-kata yang kau tulis.
—— Tapi tulisanmu adalah segalanya bagiku.
Author, apa kau baik-baik saja? Mengapa kau berhenti menulis?"
Arthur POV
Dengan bantuan sang dewi bulan, aku berhasil bertemu dengan peri danau yang tertidur. Aku berhasil mendapatkan Excalibur sesuai janjiku. Namun, begitu sebuah masalah selesai, masalah baru muncul lagi.
".. Apa ini darah?" Aku berlutut di tanah, tidak jauh dari tempat persembunyian pak penyihir. Aku menyadari ia telah menghilang lama saat aku sedang berdiskusi dengan peri danau.
Tempat ini terlihat berantakan. Apa yang terjadi disini?
Darah ini tidak terlihat seperti milik pak penyihir. Seingatku, darahnya bewarna lebih terang daripada ini.
"Tuan Arthur, apa ada masalah disana? Aku merasakan keberadaan iblis di dekat sini," kata sang dewi bulan yang melangkah mendekat.
"Jika ada masalah, aku bisa membantumu"
"T, Tidak.. Itu tidak diperlukan!"
__ADS_1
"Jangan takut. Kau sudah membantuku menemukan selendangku. Ambillah ini, tuan Arthur. Ramuan ini akan membantumu dalam keadaan kritis"
Sang dewi bulan memberikanku sebotol ramuan bewarna putih. Aku menerima ramuan itu dengan senyuman rasa bersalah.
Dia tidak perlu berterimakasih padaku. Malahan akulah orang yang mengambil selendangnya dan berpura-pura menjadi penyelamatnya. Tapi setidaknya ini lebih baik daripada mengancamnya kan?
Aku berterimakasih kepada sang dewi bulan. Dia sangat membantuku. Tetapi hanya setelah ia pulang ke kahyangan, aku baru bisa bernafas lega. Tentu saja itu sebelum aku mengingat kembali bahwa pak penyihir masih menghilang.
Aku mengikuti jejak darah yang ada di tanah. Dari kata dewi bulan, daerah ini penuh dengan hawa iblis. Pak penyihir pasti bertemu dengan salah satunya.
Apa dia mengalahkannya? Dia mengalahkan sesosok iblis sendirian dengan tangan kosong?
Aku tidak tahu dia sekuat itu-
'Ugh, sialan.. Bisa-bisanya aku ditipu oleh manusia bodoh itu?! Dimana dia?!!'
!!..
Aku bergidik merasakan sebuah amarah yang datang dari sampingku. Aku melihat pemandangan sesosok iblis rubah yang berdarah dari kepalanya sedang mengutuk mati-matian seorang manusia.
Aku langsung mengerti persepsi ku tentang pak penyihir lagi-lagi salah total.
Dia tidak mengalahkannya, dia membuatnya mengamuk!
Tunggu! Itu artinya pak penyihir pasti tidak jauh dari sini. Aku harus segera mencarinya sebelum-
'KETEMU!!'
—— Terlambat!!
TRANGG!!
Aku menghadang iblis rubah yang melesat cepat ke arah timur dengan pedangku. Melirik ke belakang, aku menemukan pak penyihir tergeletak pucat di tanah.
'Menyingkir dari jalanku! Aku harus membunuh manusia itu!!'
__ADS_1
Iblis itu mendorongku sekuat tenaga hingga punggungku terhempas ke batang kayu di belakang. Dia bukanlah iblis kelas rendah. Ini akan menjadi pertarungan yang panjang.