Langkah Bodoh Menuju Tamat

Langkah Bodoh Menuju Tamat
Chapter 12: Kebaikan Ogyruan


__ADS_3

"Apa putrimu sudah pernah mengalaminya?"


"Iya.. dulu sekali. Ini bukan masalah besar. Tolong jangan beritahu putriku tentang ini"


Aku membawa tuan Ogyruan ke atas kasur. Terbaring lemah, kentara ia melalui masa kritisnya. Aku menempelkan punggung tanganku di dahinya yang terbakar. Ternyata ia terserang cacar air dari 3 hari yang lalu.


"Kau harus beristirahat dan minum banyak air. Apa kau memiliki Paracetamol?"


"Apa itu sejenis obat? Kami tidak memiliki jenis obat-obatan itu di rumah"


"Kalau begitu, biarkan aku mengompres mu. Ini akan membantu menurunkan demam"


Tanpa membuang-buang waktu lebih, aku turun ke dapur untuk memasak air dan menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan.


Tuan Ogyruan tidak mungkin baik-baik saja. Dia terlalu meremehkan penyakit ini sampai-sampai ia hampir limbung dari kursi. Ditambah, ia tidak menyimpan obat-obatan untuk penyakit umum. Bukankah untuk menjadi dokter spesialis kau harus menjadi dokter umum dulu?


Speechless—— Satu-satunya kata yang bisa menjelaskan apa yang kurasakan sekarang.


...****************...


Ogyruan POV


Pada suatu malam, putriku membawa seorang pemuda sekurus barang kayu dan seputih kertas ke dalam rumah ku. Katanya, ia menemukannya di depan pintu rumahku. Ia mengatakan pemuda tersebut memakan jantung iblis gara-gara kelaparan.


Sebagai seorang ayah, aku tahu putriku berbohong dan tidak seharusnya aku membiarkan ia mendekati orang tak dikenal. Namun sebagai seorang dokter, itu adalah kewajibanku untuk memberikan seluruhku pada mereka yang membutuhkanku.


Jadi aku menbalut tubuhnya dengan pakaian baru dan memandikannya di tepi kali. Memeriksanya, ini pertama kalinya aku tidak bisa mendiagnosa seorang pasien. Jantung berdetak lemah. Pemuda tersebut mengeluarkan miasma busuk. Firasatku tidak pernah baik setiap kali aku melihat asap gelap di sekitar tubuh pasienku.


—— Dia tidak akan bertahan lama di dunia ini.


'Aku menemukan surat dari temannya yang menjelaskan kondisinya. Dia adalah seorang penyihir dari kerajaan tetangga yang datang untuk mengalahkan raja iblis. Aku tidak melihat senjata padanya. Dia seharusnya tidak berbahaya.'

__ADS_1


Putriku melontarkan bualan itu. Kata-katanya membuat hatiku lemah. Siapapun bisa melihat pemuda ini bukanlah seorang penyihir. Pakaiannya tidaklah mewah, dia tidaklah bijak, bebal tanpa batas, kurus kecil seperti batang kayu..


Dia hanyalah pria biasa yang berada dalam keadaan terjepit.


'Ayah- Kau akan membawanya kemana?! Apa yang kau lakukan?!'


Di suatu malam, aku menemukan seorang pemuda yang begitu menyedihkan. Dia bukanlah orang yang hebat ataupun terkenal. Jikalau itu benar dia datang untuk mengalahkan raja iblis tanpa membawa senjata, dia tidak lain adalah seorang pejuang perdamaian.


Dan mungkin itulah yang dibutuhkan kerajaan korupsi ini. Bukan hanya sekedar pemimpi konyol yang mematung atau politikus dengan mulut besar. Bangsa ini tidak memiliki masa depan meskipun raja iblis dikalahkan.


Mereka dicuri oleh sekelompok koruptor yang berpura-pura menjadi raja dan orang-orangnya!


"Tuan, apa kau sudah mendingan? Kau tidur cukup lama tadi"


".... Aku tidak apa"


Aku menoleh pada pemuda di sampingku. Dia adalah pemuda yang baik. Sepanjang sejarah, tidak pernah ada yang mau menunjukkan keramahan pada keluarga algojo ini. Dia mungkin adalah orang pertama yang kutemui yang memperlakukan kami selayaknya manusia.


"Nak, ada sesuatu yang harus ku sampaikan padamu"


Namun ia harus pergi. Yang bisa kulakukan hanyalah melihat perjalanannya dari tempat yang jauh. Setidaknya aku harus memberitahu apa yang terjadi malam itu.


"Nak, aku mempertaruhkan nyawaku untuk menyelematkan mu... aku membuat perjanjian dengan 'dia' untuk menukar waktuku di dunia dengan milikmu malam itu "


"!! 'Dia?' S, Siapa?"


"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang.. Dalam perjanjian itu, ia meminta nyawamu sebagai balasan karena sudah menyelamatkanmu di ambang kematian. Aku tidak bisa menolaknya"


—— Jadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah bertaruh dengannya.


Aku harap ia tidak memarahiku karena mempermainkan nyawanya sebagai sebuah permainan. Ini adalah langkah paling menyedihkan yang bisa ku ambil. Sebagai seorang algojo, aku harusnya malu pada diriku sendiri karena membuat perjanjian ini.

__ADS_1


Sayangnya aku tidak mempunyai waktu selain hari ini. Begitu jam menunjukkan pukul 12 'dia' akan menjemputku. Aku telah memberitahunya sesuatu yang tidak seharusnya ku beritahu. Aku telah melanggar perjanjian yang kubuat dengan 'dia'.


"Nak, maaf aku tidak bisa memberikanmu Order terakhir.. Order itu bisa.. saja menyelamatkanmu dari 'dia'... dan aku bahkan belum mebuatnya sama sekali"


"Kau tidak perlu meminta maaf. Aku sudah sangat berterimakasih padamu"


Pemuda itu tersenyum lembut sembari tangannya mengangkat tangan kananku. Mengucapkan kata terimakasih, ia memberikan sebuah salim di punggung tanganku dan berlutut di sampingku.


".. Tuan, sejujurnya aku hanyalah seorang gelandangan di tepi jalan. Maafkan aku sudah menipumu"


"Aku.. tahu.. Aku sudah tahu dari awal"


"Lalu mengapa kau masih memutuskan untuk mempertaruhkan nyawamu dengan iblis demi gelandangan ini? Kau berhak hidup lebih panjang dan baik daripada siapapun "


"Begitu juga denganmu"


Aku sadar langkah pertamaku keluar dari rumah untuk mencari 'dia' adalah kesalahan fatal. Aku bukanlah orang yang baik. Tubuhku diselimuti bau darah.


Membawamu pada 'dia' akan membunuhku. Bukannya aku tidak tahu konsekuensinya. Aku menghancurkan hidupku demi seorang pemuda asing.


Walaupun begitu, aku tidak menyesal. Mempercayai kebohongan putriku membawaku pada harapan dunia ini bisa berubah. Mungkin dunia ini akan lebih ramah dan terbuka. Entahlah, hanya Dia yang tahu.


"Di tempat pertama, aku tidak bertanya mengapa aku menolongmu.. Aku percaya seseorang tidak memerlukan alasan untuk membantu orang lain"


Aku hanya memberikan yang terbaik untuk membantu yang sedang kesusahan. Itu tidak salah.


"Aku sudah tua dan kau masih muda.. Kau harus melihat.. bahwa dunia lebih luas... dari sekedar hutan ini..."


Mataku menggelap. Telingaku menangkap detak jarum jam yang bergerak statis. Memejamkan mataku, sebuah kilas balik tentang hidupku berputar di benakku.


Aku tidak akan pergi ketempat dimana istriku tercinta berada. Maafkan aku karena membuatmu menunggu sia-sia. Pria ini terlalu kotor untuk bisa bersamamu di akhirat.

__ADS_1


Guinevere, putriku terkasih. Maaf ayah tidak bisa mengucapkan perpisahan padamu. Ayah tidak bisa memberikanmu hidup yang kau inginkan. Ayah tidak mengharapkanmu memaafkan ayah. Ayah harap kau bisa baik-baik saja tanpaku di dunia.


"Putriku.. jagalah putriku... Katakanlah padanya.. ayah menyayanginya.."


__ADS_2