Langkah Bodoh Menuju Tamat

Langkah Bodoh Menuju Tamat
Chapter 7: Jantung


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan-lahan. Tidak lama setelah author meninggalkan alam mimpi, aku pun ditarik keluar dengan paksa setelah mendengar suara Arthur.


Hal pertama yang menyapaku saat aku terbangun adalah atap kayu yang disinari sinar mentari yang sudah lama tidak kulihat. Arthur pasti berhasil mendapatkan pedang Excalibur.


Berbicara tentang keberhasil protagonis, aku sebaiknya lebih mengkhawatirkan diriku yang selalu terbangun di tempat asing sehabis aku tidak menyadarkan diri sesaat.


Badanku mati rasa. Aku tidak bisa menggerakan badanku sama sekali. Mulutku pun terasa aneh. Lidahku bisa mengecap rasa besi di lidahku.


Padahal aku hanya tidur sejenak. Bagaimana bisa aku dalam kondisi sekarat?


PING!!


[Anda memiliki 2 bab baru yang belum dibaca]


2 bab?! Seberapa lama aku tertidur sampai-sampai ada 2 bab?


Aku tergesa-gesa membuka layar biruku. Membaca bab yang terlewat, aku mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Otakku berusaha menyimak setiap paragraf cerita yang muncul. Disaat yang bersamaan, aku juga menolak apa yang kubaca benar-benar terjadi.


Dari yang ku pahami, sementara aku mengalami out-of-body experience, Arthur dan sang iblis rubah bertengkar memperebutkan tubuhku yang tak bernyawa. Gara-gara itu, Arthur terluka parah.


Aku rasa jika ia menggunakan Excalibur, semuanya akan lebih mudah diselesaikan. Sayangnya, ia ternyata tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.


Siapa yang sangka ternyata Excalibur bukanlah sebuah pedang. Melainkan sebuah benda aneh berbentuk seperti huruf L. Atau bisa disebut pistol di dunia modern.


Aku bisa membayangkan bagaimana jalur pertarungannya. Yang tak ku prediksikan adalah bagaimana pertarungan tersebut bisa membuatnya hampir sekarat.


Jika bukan karena ramuan yang ia dapatkan dari dewi bulan, ia pasti tidak akan selamat.


[Arthur menjadi ketakutan dan panik saat menemukan jantung pak penyihir tidak berdetak. Ia tidak bisa mempercayai adegan yang terjadi di depan matanya.

__ADS_1


Apakah itu karena lukanya tidak menutup? Atau karena ia tidak makan berhari-hari? Karena dia kelelahan?


Arthur tidak bisa menerima kematiannya. Dan ia tidak mengerti mengapa. Mereka bahkan belum bertemu selama satu hari. Namun, ia merasa sesuatu mencekam hatinya dengan kematian seorang pria asing.


"K, Kau.. kau tidak bisa meninggalkan ku seperti ini..." Arthur memeluk badan pria yang sedingin salju dengan erat. Tak mampu menahan perasaan hati, kesedihan pun meluap dari matanya.


"Itu misterius.. bagaimana aku bisa menangis seperti orang bodoh... untuk.. orang gila sepertimu.."


Mungkin itu karena dialah satu-satunya orang yang rela menemui dan menemaninya dalam perjalanannya. Satu-satunya orang yang berada di sisinya saat ia di titik terendah.


Kedatangannya adalah sebuah berkah dan kutukan bagi Arthur.]


... Ah


Aku.. benar-benar membuatnya khawatir. Aku tidak tahu ia menganggapku penting dalam hidupnya.


—— Kurasa itu artinya aku sudah mengacau.


[Arthur tidak ingin menyerahkan pria ini kepada surgawi. Ia menginginkannya hidup tidak peduli takdir berkata lain.


DEG.. DEG..


Arthur melirik jantung iblis rubah yang tergeletak ditanah. Alangkah kagetnya ia mendengar suara detakan pelan masih terdengar dari jantung yang rusak. Seperti sedang bertahan sekuat tenaga di ambang kematian dengan harapan ia memiliki kesempatan hidup.


'****Aku akan.. membalasmu suatu hari****..'


".. Aku tidak ingin berurusan lagi denganmu"


Arthur menatap sinis jantung tersebut. Menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil, ia memastikan iblis tersebut sudah sepenuhnya mati.

__ADS_1


Pada saat itu, sebuah pikiran terlintas di kepalanya. Ia menemukan sebuah cara yang putus asa untuk membuat jantung pak penyihir kembali berdetak.]


!! C, Cara yang putus asa.. Dia tidak mungkin..


Aku memegang mulutku yang terasa aneh sedari tadi. Tiba-tiba aku merasa jijik dan mual. Aku memasukkan jariku ke dalam mulut. Menggosok permukaan lidahku, tanganku bergetar hebat sewaktu bekas darah terlihat di jari telunjukku.


[Arthur memanfaatkan kemampuan regenerasi para iblis. Iblis per iblis di dalam hutan, ia memburu jantung mereka untuk diberikan kepada pak penyihir.]


Jantungku berdegup kencang. Aku bisa merasakan tubuhku mulai berubah. Kepalaku merasa sedang diteriaki suara-suara aneh. Ini adalah suara jantung tak berpemilik dalam tubuhku.


Satu, dua.. empat..


Berapa banyak jantung iblis yang sang protagonis berikan padaku?!


...****************...


Arthur POV


Sudah hampir sebulan sejak insiden di hutan Montein. Hari itu, aku hampir kehilangan dirimu. Mati-matian aku mengusahakanmu bernafas. Meski demikian, aku tidak berhasil membangunkanmu.


Semenjak kejadian itu, aku memutuskan untuk menjadi lebih kuat agar kejadian yang sama tidak terulang lagi. Aku sangat menghargai dan senang saat kau ingin membantuku.


Kau adalah orang pertama dan satu-satunya yang bersedia jalan kaki ke hutan Montein untuk memperingatiku. Harus kuakui kau sedikit gila dan pola pikirmu bisa melebihi dugaanku.


Makanya, aku tidak bisa membiarkanmu ikut dalam perjalanan berbahaya ini. Aku tidak mengharapkan mu datang menemuiku. Aku takut aku tidak akan bisa melindungi mu lagi jika kau ikut bersamaku. Maaf aku meninggalkanmu sendirian.


Aku kini dalam perjalanan menuju kota Sein bersama bala bantuan yang dikirim raja. Aku sudah menitipkan surat pada putri seorang algojo yang membantuku menjagamu selama kau tidur panjang.


—— Jika kau sudah bangun, bisakah kau mengirimkan ku sebuah surat?

__ADS_1


__ADS_2